ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Sahabat DeMo Bersatu, Om DeMo Over Quota di Pileg 2019

Bagikan Artikel Ini:
foto : facebook/dennymokodompit

SIAPA orang di jazirah Mongondow mulai dari yang aktif di majelis masjid hingga para penunggu beranda fesbuk, yang tak mengenal sosok Denny Mokodompit? Wabil khusus mereka yang pernah berdebat sengit lalu didepak dari keanggotan sebuah grup fesbuk paling panas di Mongondow; Sahabat DeMo (Dari BolMong Raya) Untuk Indonesia. 

Ya, dialah Denny Mokodompit, sosok populer, kritis dan vokal, orang baik, yang bisa juga menjadi sangat responsif dan reaksioner ketika bersinggungan paham dengan beliau, terlebih ketika terlibat debat panas di fesbuk. Nah, saya yakin 100 persen, para pembaca, terutama yang familiar dengan dekstop dan linimasa fesbuk, pasti kenal sosok relijius yang satu ini. Seorang penggiat fesbuk, dikenal juga sebagai ustadz yang sudah barang tentu anti maksiat, dan seorang pulitisi Partei Demokrat setelah Partai Bintang Reformasi yang pernah mengantarkannya duduk sebagai Anggota DPRD Kota Kotamobagu, tinggal cerita yang mengisahkan kehebohan soal ‘batu nisan’ di ruang komisi. Namun jangan nyinyir dulu untuk mengatakan bahwa itu hanyalah satu-satunya prestasi gemilang dari Denny Mokodompit saat menjabat sebagai wakil rakyat di parlemen. Sebab pastilah bukan tak ada sumbangsih dan ragam prestasi gemilang yang lahir dari tangan beliau. Kita aja yang nyinyir karena belum tahu.

Pertemuan dengan Om DeMo

Sebelum bertemu langsung dan bertegur sapa untuk pertama kali dengan Om DeMo—demikian saya biasa menyapa beliau—saya sudah duluan berkenalan dengan alumni 212 ini lewat tulisannya di sebuah tabloid. Saya lupa tabloid apa namanya, tapi kalau diingat-ingat, judul tulisan Om DeMo waktu itu adalah; Oya’ In Mongondow. Jujur, saya terkesan dengan tulisan itu.

Selanjutnya, pertemuan secara face to face dengan Om DeMo, terjadi pada tahun 2001.  Bisa jadi Om DeMo sudah lupa akan pertemuan itu. Terlebih siapa sih saya ketika bertemu dengan Om DeMo ketika itu, sehingga perlu direkam dalam memori ingatan? Maka lewat tulisan ini pula saya mencoba mengembalikan memori ingatannya,

Ya, di Ibukota Republik, Jakarta tahun 2001. Ketika itu saya menghadiri undangan kawan-kawan mahasiswa di Universitas 45 terkait pembentukan Asosiasi Mahasiswa Ilmu Politik. Kebetulan saya kuliah di FISIP Unsrat ketika itu, dan sedang dalam proses kuliah akhir, sehingga bisa punya waktu ‘bolos’ untuk anjang sana-sini. Terlebih bagi seorang mahasiswa yang merupakan pula anggota Mapala, tidak asing bagi saya sering bolos kuliah. Maka jangan heran jika proses menyelesaikan studi S1 ditempuh dalam hitungan 6 tahun.

Beruntung, usai acara pembentukan asosiasi itu, saya tidak segera kembali ke Manado. Sebab jika saya kembali, pastilah pertemuan dengan Om DeMo entah bakalan terjadi kapan.

Mumpung ada di Jakarta, maka konsep sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, benar-benar saya terapkan. Selain temu kangen dengan beberapa kawan, saya menghadiri beberapa kegiatan dan agenda yang menurut saya penting diikuti selama berada di Jakarta. Mulai dari mengikuti diskusi di TIM yang akhirnya membuat saya bisa bertemu Sitor Situmorang seorang penyair yang saya kagumi, Frans Magnes Suseno, dan beberapa tokoh berpengaruh. Pun demikian dengan kawan-kawan seniman dan pergerakan dalam acara Tenda Anti Perang di Taman Ismail Marzuki.

Berlama-lama di Jakarta, membuat saya akhirnya mampir di rumah sanak saudara. Itu adalah rumah (saya sebut) salah seorang tokoh pendidikan di Kotamobagu. Dialah Welly Fujiwara, salah seorang pendiri Universitas Dumoga Kotamobagu.

Maka di rumah keluarga itulah, saya bertemu Om DeMo untuk pertama kalinya. Kami adalah tetamu yang sama-sama menginap beberapa hari di rumah Om Welly. Ketika itu Om DeMo berada di Jakarta dalam rangka urusan Bintang Reformasi.

Sesudah dari Jakarta, pertemuan selanjutnya dengan Om DeMo adalah apa yang saya sebut sebagai sebuah pertemuan yang sarat nuansa pergolakan; corong megaphone, konsentrasi massa, selebaran, orasi, dan demonstrasi yang chaos; kawan Onting tertembak; darah mengucur; kami kocar-kacir dipentung dan dipopor senapan aparat; tersalto di aspal jalur dua, terperosok di kobong pece; sebuah gelombang demonstrasi terkait Pra dan Pasca Pemilihan Bupati Bolaang Mongondow pilihan DPRD yang memenangkan Marlina Moha Siahaan. Ya, harus diakui, kami pernah sama-sama terlibat di barisan demontrasi tahap II, dan III tersebut.

Baik, hentikan semua busa-busa ini. Mari menuju pokok soal yang hendak dikemukakan.

Jadi begini, berhubung saat ini adalah apa yang kata kalangan netizen di Mongondow sebagai musim bacari sudara—para netizen memang nyinyir dan kreatif dalam membuat istilah—maka setelah sempat mengetahui secuil bocoran beberapa nama pulitisi yang akan maju di Pileg 2019 (bukan #2019gantipresiden), saya yang sudah kembali diundang sebagai anggota grup fesbuk Sahabat DeMo belum lama ini setelah 2 kali di beri kartu merah, entah kenapa pikiran cepat mengembara ke Om DeMo.

Saya pikir ini juga terjadi karena seorang kawan yang biasa menjadi timses tiap kali musim pemilu, pagi tadi mampir ke rumah. Saat duduk menikmati kopi dan saling lempar kata, kawan ini bertanya kepada saya setelah menyodorkan sebuah nama yang disokongnya; “Menurut ngana, kita pe calon ini boleh gol di DPRD Sulut?”

Tentu saya tidak segera mengiyakan. Lagian apa kapasitas saya untuk mengiyakan. Terlebih saya punya pakem sendiri ketimbang asal bunyi untuk soal-soal beginian.

Diskusi lantas berlanjut. Kawan ini sangat mendominasi. Beberapa nama lain ia sodorkan lengkap analisa, alasan, dan pertimbangan terkait keterwakilan orang Mongondow di DPRD Sulut yang menurut kawan ini, harus diganti oleh pulitisi-pulitisi baru yang lebih punya kapasitas dibanding yang sudah pernah.

Tapi tak ada nama Om DeMo yang ia sodorkan. Inilah yang lantas memantik saya untuk bertanya.

“Kiapa ngana ndak jadi timses pa Om DeMo jo?” tanya saya sekaligus memberinya tawaran alternatif.

“Kiapa kong Om DeMo? Brat kalu beliau. Mo kerja bagimana kita?”

Pernyataan bernuansa pesimis ini cepat saya potong. “Salah satu yang ente bilang tadi kan, caleg itu musti dikenal alias populer, noh Om DeMo dang kurang populer apa lay?”

Pembahasan panjang dan agak off the record tentu tidak akan mungkin saya kemukakan disini, bukan karena kekhawatiran bahwa pembaca akan bosan, tetapi ruang memang membatasi, agar tulisan ini bisa lebih hemat setelah terlanjur boros.

Maka dari itu, sebenarnya tulisan ini saya alamatkan juga buat kawan saya yang biasa menjadi timses tiap musim pemilu.

Selanjutnya, mari segera kita akhiri tulisan ini dengan sebuah pertanyaan; kenapa harus Om DeMo?

Pembaca setia ARUS UTARA, ada beberapa alasan dan analisa, tapi saya akan berangkat dari konsep yang dijelaskan kawan saya ini.

Pertama, menurut kawan yang datang pagi tadi, seorang caleg itu harus populer. Maka mengikuti mindset berpikirnya, tanggapan saya adalah; Om DeMo justru masuk kriteria ini. Seperti yang sudah saya singgung di awal tulisan, siapa di Mongondow ini yang tak kenal Om DeMo? Sembari berhati-hati dan keras-kerasan untuk menjaga independensi, saya berhemat menganalisa sehingga hanya berangkat dari satu indikator saja untuk soal ini. Dan indikator itu adalah; siapapun yang menurut kaca mata pembaca, (terutama kawan saya tadi), adalah caleg popuer dan potensial meraih kursi DPRD Sulut Dapil Bolmong Raya, maka coba kalian suruh bikin fanpage atau group mengatasnamakan dirinya sendiri. Lalu lihat, ada berapa orang yang bakalan Like atau ngantri masuk jadi anggota? Kalau tembus 1.000 anggota, maka itu sudah sebuah prestasi.

Tapi lihatlah Om DeMo lewat grup atas nama dirinya sendiri. Ada berapa anggota di dalam? Dan perlu diingat, Sahabat DeMo Bolmong Raya ini adalah grup paling aktif dan tanpa tidur. Ada  61.835 anggota di dalam, pe’. Semua kenal betul siapa Om DeMo. Mulai dari kelompok pengajian, ruqiah, hingga inde-inde’ di Pasar Serasi, kenal betul siapa Om DeMo.

Kedua, menurut kawan saya, seorang caleg itu harus memiliki ahlak mulia dan taat kepada agama yang dianut. Karena dengan ahlak mulia, kata kawan ini, maka setelah caleg berhasil meraih kursi dan duduk sebagai wakil rakyat, praktek korupsi tidak akan terjadi karena yang bersangkutan memiliki ahlak mulia dan takut akan tuhan alias tunduk pada ajaran agama yang ia anut.

Maka, bukankah Om DeMo masuk dalam kategori ini. Beliau selain dikenal kalangan mama’-mama’ sebagai sosok ustadz, di mata Om-om dan Papa’-Papa’, Om DeMo dikenal sebagai insan berahlak mulia yang tidak pernah tersangkut kasus yang menodai iman dan agamanya. Ini bukan berarti tidak dibuktikan Om DeMo yang anti maksiat dan penistaan agama. Kasus Gubernur Ahok dan Surat Al-Maidah adalah rujukannya. Bayangkan, karena pidio Ahok diedit dan dipelintir Buliani sehingga terjerumuslah Gubernur DKI ini ke pasal penistaan agama, Om DeMo harus bersusah-payah mencari tiket pesawat dan terbang ke Jakarta karena panggilan jihad fisabilillah membela agama yang dinistakan Ahok. Maka terjun dan mendaratlah om DeMo bergabung dengan pasukan habib Rizieq lewat aksi 212 yang fenomenal itu. Sudah barang tentu beliau harus secara ikhlas meninggalkan segala urusan dan pekerjaannya di Mongondow yang membutuhkan perhatian dan kekritisan beliau. Tapi demi membela agama dan takut akan tuhan beserta kemuliaan ahlaknya, Om DeMo berangkat dengan Allahu Akbar.

Ketiga, menurut kawan saya, seorang caleg apalagi wakil rakyat, harus kritis, tegas, dan vokal. Tidak hanya sekadar duduk, diam, dan duit. Tetapi harus pintar berkicau dan ahli debat demi membawa amanah rakyat dan prinsip.

Nah, 61.835 anggota grup Sahabat DeMo sudah khatam betul dengan syarat ini. Bayangkan ada enam puluh ribu lebih yang tahu kalau Om DeMo adalah sosok kritis, ahli debat, dan kuat memegang prinsip perjuangan. Rekam jejaknya di fesbuk adalah salah satu rujukan. Dan ini dilakukan beliau tanpa tedeng aling-aling, tanpa pandang bulu, tanpa kolusi dan nepotisme. Bayangkan, seorang Djelantik Mokodompit, seorang Wali Kota Kotamobagu ketika itu, dan bisa dikata sekampung dengan Om DeMo—bahkan konon memiliki pertalian saudara dan minimal satu marga—tetap saja dihajar habis-habisan oleh om DeMo. Beliau memang tak pandang bulu. Mau sahabat, mau satu kampung, satu kawan, satu marga, atau satu apapun itu, kalau salah di mata Om DeMo, ya siap-siap terima konsekuensi untuk dihajar habis-habisan.

Lalu soal ahli debat, ya ampuuun pembaca. Apakah harus di posting disini hasil screenshoot bagaimana gigihnya Om DeMo berdebat di fesbuk? Apakah perlu pooling pendapat bagaimana gigihnya beliau berdebat? Bagi Om DeMo, berdebat adalah makanan sehari-hari. Bahkan sudah semacam panggilan salat. Sedangkan soal prinsip, ayo siapa para pembaca yang merupakan anggota grup atau yang diam-diam selalu memantau sikap Om DeMo di fesbuk dalam mempertahankan prinsipnya? Beliau adalah yang paling kuat memegang prinsip. Paling ekstrim adalah ketika lawan beda prinsip tetap bersikeras, Om DeMo akhirnya mengambil hak veto dan hak wasit untuk mencabut kartu merah kemudian bakalan menyepak lawan debat keluar forum. Ini tentu modal bagus ketika beliau duduk di kursi DPRD Sulut. Dan memang inilah yang diharapkan. Percayalah, jika akhirnya pulitisi-pulitisi daong lemong yang lebih banyak di DPRD Sulut, maka siap-siap bakal dikeluarkan Om DeMo dari forum atau sidang paripurna jika keras-kerasan berdebat dengan beliau, terutama dalam membela dan mempertahankan prinsip masing-masing. Ayo, siapa anggota grup disini yang pernah merasakan dampak ketegasan Om DeMo?

Pendek kata, Om DeMo sebenarnya sudah memiliki bergudang kriteria yang diharapkan konstiuen sebagai modal menuju DPRD Sulut. Selain hafal Pancasila, sang alumni 212 ini sudah teruji dalam membela kebenaran. Tanyakan kepada anggota grup Sahabat DeMo kalau tak percaya.

Jadi, kenapa 61.835 anggota Sahabat DeMo tidak akan mendukung pencalonan beliau? Padahal Om DeMo bisa diandalkan dalam mengurus kemaslahatan rakyat Sulawesi Utara yang heterogen dan multikultur ini? Om DeMo yang sudah barang tentu lulus Penataran P4 dan konsep Bhineka Tunggal Ika sudah di luar batok kepalanya, pasti sangat dibutuhkan rakyat Sulawesi Utara.

Tetapi, ada kelebihan tentu juga ada kelemahan. Itu memang manusiawai. Dan untuk mengukur kelemahan atau kekurangan beliau, saya tak perlu jauh-jauh cari bahan. Cukup ambil di Info grup Sahabat DeMo Daru Bolmong Raya Untuk Indonesia, dan perhatikan beberapa hal berikut ini terkait aturan grup, terutama deretan ketentuan berikut ini (kutipan asli);

Anggota Grup DIWAJIBKAN utk :

  1. Bertanggung jawab sepenuhnya atas Topik/Status/Komen yg dibuat dan disampaikan.
  2. Santun, Beradab dan Beradat dlm menyampaikan Pendapat.
  3. Tidak Menebar Fitnah, Gibah, Hasut, Hujat, Hina, Caci-Maki dan Foto/Video/Cerita Porno, Sadis, Kekerasan, dan sejenisnya.

Pasal 7.
Keanggotaan Grup ini Dibolehkan Gunakan AKUN KALABUR (Sembunyi Identitas), dgn Catatan, Diwajibkan HANYA UTK MELIHAT Aktifitas Grup, TIDAK DIBOLEHKAN alias DIHARAMKAN Membuat Topik dan/atau Berkomentar.

Pasal 8.

Sanksi Terhadap Pelanggaran Aturan;

a). Anggota yg tdk mentaati Kewajiban tersebut pada poin 6 dan 7 diatas, akan diingatkan oleh Admin, dan bilamana peringatan tidak diindahkan, maka Admin Berkewajiban Mengeluarkan Anggota tersebut.

b). Dalam hal terjadi Pelanggaran Fatal berupa Penyebaran Provokasi yg bisa lahirkan Pertikaian SARA, Porno dan Sejenisnya, maka Admin Diwajibkan Langsung Mengeluarkan Pelaku.

***

Pembaca, dari ketentuan di atas, saya hendak mengkritisi point B. Sebab setelah memeriksa kembali isi konten, tak sedikit menyampaikan pendapat lewat postingan yang tak berkesesuaian dengan amanta point B, yakni harus santun, beradab dan beradat. Coba periksa sendiri.

Selanjutnya adalah pada poin C. Apakah grup yang dikelola Om DeMo itu bersih dari penyebaran fitnah, gibah, hasut, hina, dan caci-maki? Pembaca bisa memeriksanya sendiri dalam grup.

Sedangkan pada Pasal 7, yang disayangkan adalah, justru banyak akun kalabur, palsu, alias akun fake yang justru diperbolehkan membuat topik atau berkomentar. Ini jelas bertentangan dengan ketentuan yang bahkan mengharamkan akun fake berkomen apalagi membuat status/topik.

Selanjutnya lagi adalah pada Pasal 8 poin C. Sebuah pelanggaran fatal adalah penyebaran provokasi yang bisa melahirkan dan memicu pertikaian SARA. Sila periksa sendiri konten-konten di dalam grup.

Nah, dari semua ketentuan di atas, apakah Om DeMo yang jelas-jelas si pembuat aturan tersebut, telah benar-benar melaksanakan apa yang diamanatkan sebagai ketentuan atau aturan grup?

Jika tidak, maka bagaimana mungkin untuk urusan remeh temeh di halaman fesbuk sendiri yang bisa beres dengan sekali klik, sulit ditegakan Om DeMo  sebagaimana ketentuan yang dibuat sendiri oleh Om DeMo?

Jika jawabannya ya (tentu perlu pembuktian), maka  61.835 konstituen Sahabat DeMo sudah tak perlu banyak alasan lagi untuk membuat Om DeMo over quota dalam meraih kursi DPRD Sulut. Badimana? Maso jo pe’?

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.