ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Cerita Mario Sengkey, Warga Manado yang Selamat dari Gempa dan Tsunami Palu

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM, PALU – Mario Sengkey (34) alias Rio, adalah salah satu warga Manado yang selamat dari peristiwa Gempa dan Tsunami di Kota Palu,  Jumat 29 September 2018.  Kepada ARUSUTARA.COM, Rio yang beberapa waktu belakangan sempat lama berdomisili di Kotamobagu sebelum bertolak ke Palu, menceritakan bagaimana ia bisa lolos dari ancaman maut.

“Saya sedang berada di Warnet Galaksi saat itu. Saat tiba-tiba gedung warnet berlantai empat berguncang keras, secepat kilat saya langsung berlari ke arah pintu keluar,” tuturnya via ponsel. Saat berlari menuju pintu keluar itu, tutur Rio, ia sempat menabrak dinding dan pintu karena gempa sedang berlangsung. Dalam keadaan seperti itu ia terus menerobos mencari pintu keluar hingga akhirnya ia menemukan dirinya sudah di halaman gedung,  terhimpit di antara deretan motor yang di parkir.

Beberapa detik saat sudah di luar gedung, lanjut Rio, ia yang mengetahui beberapa kawannya masih ada di dalam, berteriak memanggil agar segera keluar. Beberapa orang nampak olehnya sedang menuruni tangga, sebagian yang di lantai dasar juga sudah berada di pintu keluar termasuk beberapa kawannya. Namun malang, ketika mereka tinggal berjarak kira-kira 2 meter dari tempat dia berada, gedung roboh menimpa orang-orang di lantai dasar. Ia masih menyaksikan bagaimana sekumpulan orang itu tertimpa reruntuhan gedung. Ia juga menuturkan kalau seorang pemilik gedung akhirnya memilih loncat dari lanta 2 sehingga sempat selamat.

Setelah gedung itu runtuh, cerita Rio lagi, ia berlari mengarah ke pantai. Ia berpikir harus menjauh dari bangunan di sekitarnya yang mulai roboh satu persatu. Tak ayal, saat dirinya mendekati pantai, nampak di hadapannya adalah gedung dan rumah-rumah yang sudah roboh. Beberapa saat kemudian, tak seberapa jauh dari pantai, ia melihat gelombang tsunami datang, sontak ia berlari lagi mengarah ke Jalan Ahmad Yani mencari dataran yang lebih tinggi. Dari situ ia menyaksikan bagaimana geombang Tsunami menerjang pemukiman di pesisir pantai Kota Palu.

Evakuasi di Hotel Roa-Roa oleh Tim SAR. (Foto : Ronny Buol/Facebook)

“Susah saya melukiskan bagaimana peristiwa itu terjadi. Suara gemuruh, bunyi bangunan roboh, dan teriakan orang-orang yang tengah panik,” tutur Rio. Ia berada di Palu sejak beberapa bulan lalu sebagai seorang seniman tato. Di Kota Palu, ia berpindah-pindah tempat dari studio tato ke studio tato. Termasuk mendapat suaka dari teman-temannya sesama komunitas Punk.

Mendapat informasi dari kawan-kawan soal keberadaan atlit paralayang asal Manado yang menginap di Hotel Roa-Roa, tak jauh dari tempat ia tinggal, Rio segera menuju kesana hendak mencari informasi sekaligus melihat langsung kondisi terkini. Tatkala ia sampai di sekitar hotel, perasaan sedih sontak merayapi sekujur tubuhnya ketika ia melihat Hotel Roa-Roa sudah rata dengan tanah.

“Sedih rasanya melihat kondisi bangunan yang sudah rata dengan tanah,” kenang Rio saat sudah bisa dihubungi lagi melalui sambungan ponsel. “Bisa saya pastikan, minim kemungkinan orang-orang yang menginap di hotel ini bakal selamat, karena kondisi hotel yang sudah rata dengan tanah,” kata Rio kepada wartawan ARUSUTARA.COM.

Ia juga mengaku ketakutan dengan kondisi keamanan Kota Palu beberapa saat pasca bencana. Terlebih soal penjarahan di sejumlah warung, toko, kios-kios, bahkan di Mall. “Ya, saya melihat langsung bagaimana penjarahan itu terjadi,” ceritanya.

Mulanya, lanjut dia, masyarakat korban gempa hanya menjarah bahan makanan dan minuman untuk bertahan hidup. Namun situasi menjadi tak terkendali lagi sehingga merembet ke penjarahan dalam bentu lain sebagaimana yang viral di linimasa.

Di sekeliling dimana ia berada, lanjut Rio, mayat korban gempa dan Tsunami bergelimpangan. “Ini pemandangan yang benar-benar menyayat nurani,” tuturnya. “Beruntung tuhan masih sayang dan saya bisa selamat,” kata Rio bersyukur. Saat gedung warnet bergoyang keras, kenang Rio lagi, instingnya cepat membuat ia mengambil keputusan untuk berlari secepatnya menuju pintu untuk keluar agar terhindar ambruk. Setahu dia, kata Rio, gempa terasa keras sekali seumur hidupnya,  dan keputusan yang ada saat itu adalah ia harus bisa secepat kilat keluar dari gedung. Tak terlintas olehnya untuk melindungi diri dari ambruk dengan cara masuk ke kolong meja atau apa, melainkan keluar ruangan. 

Di hari ketiga, lanjut dia, aparat keamanan mulai tegas menindak para penjarah dan situasi perlahan-lahan mulai dapat dikendalikan, meski suasana panik masih begitu terasa. Dirinya juga mengaku kalau bantuan berupa bahan makanan, minuman, peralatan tidur dan obat-obatan sangat dibutuhkan masyarakat korban gempa dan tsunami.

Kepada wartawan, Rio mengaku kalau dirinya saat ini berlindung bersama korban gempa lainnya di Posko Gempa yang berada di Kantor Gubernur Sulawesi Tengah. (Uwn)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.