ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Selamat Jalan Filsuf Penerjun

Bagikan Artikel Ini:

BAGAIMANA saya pertama kali mengenal Frangky Kowaas alias Kengkang alias Tuama, alias apapun yang masing-masing dari kita biasa jadikan sebagai sapaan akrab dan hormat kepada beliau.

Kira-kira di tahun 1998, saat saya masih berstatus sebagai Calon Anggota Mapala Avestaria Fisip Unsrat Manado, sering saya mendengar obrolan para senior dan mentor di Mapala Avestaria, menyebut nama Kengkang di beberapa kali kesempatan.

Pendek kata, ia adalah buah bibir di kalangan petualang  alam bebas Sulawesi Utara, mulai dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), Komunitas Pecinta Alam (KPA) dan individu yang punya hobi yang sama.

Dalam obrolan, hal-hal yang menonjol dari sang Tuama adalah bakat, skill, leadership, bahkan kegilaan dari seorang Kengkang di dunia petualangan alam bebas. Beruntailah kisah tentang keberanian, nyali, keuletan, disiplin, dedikasi, kekuatan, atau bahkan hal – hal lucu dan mengembirakan dari Kengkang.

Cerita tentang Kengkang pertama kali saya dengar dari Cahyadi Djola, seorang sahabat sekaligus senior saya di Mapala Avestaria. Selanjutnya adalah deretan cerita dari  Hero Runtunuwu, Bui Sondakh, Bob Matutina, dan senior-senior di Mapala Avestaria, tak terkecuali dari komunitas Mapala se-Unsrat.

Kira-kira di penghujung tahun 1999 atau kemungkinan di awal tahun 2000, ketika Sekretariat Mapala Avesatria Fispol Usnrat Manado pindah tempat untuk kesekian-kalinya (adalah hal biasa dalam organisasi Mapala), di lantai 2 gedung C pada suatu siang, saya sedang berada di sebuah ruangan yang sebut saja itu kamar bersama. Saya sedang tidur ketika itu. Dari dalam kamar, sontak saya terbangun. Penyebabnya adalah obrolan di regel dengan volume yang bisa dikata maksimal.

Bob Matutina. Itu adalah senior kami di Mapala Avestaria. Rupanya ia sedang menerima seorang tamu dengan tipe suara tegas menggelegar.  Tamu itu tak lain adalah Kengkang. Kepada Bob, Kengkang menceritakan rencananya ke Cartenz Pyramid di Papua dan hendak mengajak senior-senior kami di Avestaria untuk ikut bergabung dalam ekspedisi yang akan dipimpinnya.

Dari gestur dan nada bicaranya yang khas, benarlah omongan senior-senior saya di Avestaria tentang sosok Kengkang. Itu saya simpulkan saat keluar kamar hendak membuatkan kopi pada tamu. Tapi di regel, di kursi yang diapit kedua orang ini, saya lihat sudah ada kopi tersaji. Saya lantas kembali masuk kamar berleha-leha sembari membaca majalah petualangan edisi terbaru kiriman Pak Pos untuk Mapala. Dari dalam kamar, obrolan dua orang senior ini masih terdengar, sampai pada akhirnya Kengkang pamitan.

Pada kesempatan berikut,  Kengkang kembali main ke sekret Avestraia. Ketika itu ada Bui Sondakh senior sekaligus mantan Ketua Mapala Avestaria, bersama Ramli Supit simpatisan Avestaria. Mereka terlibat pembicaraan. Seingat saya masih seputar ekspedisi Cartenz Pyramid. Kengkang begitu semangat menceritakan kepada Bui. Di sela-sela perbincangan itu, saya sempat bersalaman, dan berbasa-basi selaku yunior kepada senior, atau minimal kepada tamu yang datang sebagaimana kami diajarkan. Saat itu saya sudah dilantik dan berstatus sebagai anggota penuh Mapala Avestaria.

Beberapa waktu selanjutnya adalah kisah-kisah petualangan dari Kengkang bersama senior dan kawan-kawan Avestaria. Ekspedisi ke Cartenz Pyramid tak hanya obrolan dan rencana belaka melainkan dream come true. Jika memeriksa Surat Kabar Harian Manado Post terbitan antara tahun 1999 atau 2000, nama saya sempat tertera sebagai peserta dalam ekspedisi  tersebut (Cartenz Pyramid) bersama Stefan Mait kawan seangkatan dan adik setingkat lebih di bawah yakni seorang anggota perempuan yang baru saja dilantik bernama Yessi Waworega. Saya tahu, ini ‘ulah’ Bui Sondakh yang menyampaikan rencana ekpedisi itu ke media. Membuat Ayah dan Ibu saya nun jauh di kampung (Passi, Bolaang Mongondow), mengontak via telepon kos, menanyakan kebenaran pemberitaan media terkait keberangkatan ke Cartenz Pyramid yang  mereka ketahui setelah membaca nama saya tertera di koran sebagai salah satu peserta. Saya tahu, bagi Ayah dan Ibu di kampung, ekspedisi ke Papua, terlebih mendaki di Cartenz Pyramid, bukanlah perkara biasa. Kedua orang tua yang melek media ini, tentu punya pandangan sendiri sebagaimana yang mereka ikuti di media terkait keadaan di Papua, sehingga wajarlah mereka khawatir. Terlebih mereka kaget karena tak pernah ada pengajuan ijin dari saya kepada mereka yang belum tentu juga bakal mereka restui. Dan jejak media tentang Papua, memang ‘agak miring’. Kita pasti masih ingat istilah GPK alias Gerakan Pengacau Keamanan yang kerap dilabelkan kepada orang-orang vokal di Papua. Ah, betapa ngaconya memang media di jaman Orba.

Tapi kami bersyukur, Bui Sondakh akhirnya memboyong Yessi Waworega, satu-satunya perempuan peserta ekspedisi yang dipimpin oleh Kengkang. Kami yang tak ikut berangkat, tetap bangga  ketika Mapala Avestaria untuk pertama kalinya dapat menginjakan kakinya di Cartenz Pyramid dan salju abadi Puncak Jaya.

Waktu terus berjalan hingga akhirnya Bui Sondakh dan kawannya merintis biro petualangan untuk Cartenz Pyramid dikemudian hari tak lama setelah Bui kembali dari ‘petualangannya’ di negeri Paman Sam. Sebuah operator petualangan dimana anak Avestaria sering terlibat hingga hari ini.

Pertemuan dengan Kengkang selanjutnya terjadi dalam sebuah acara seminar bertajuk manajemen konflik pasca kerusuhan (SARA), yang berlangsung di kantor MLC (Minahasa Law Center) milik O.C.Kaligis di Jalan Samrat. Kami duduk agak berdekatan. Dalam pertemuan itu, saya baru tahu kalau Kengkang juga merupakan anggota aktif salah satu ormas Adat di Minahasa.

Selanjutnya adalah pertemuan-pertemuan insidentil sekali-dua kesempatan kaitan dengan dunia kepecinta-alaman. Bukanlah hal yang mengherankan juga ketika kawan-kawan seangkatan maupun adik tingkat di Mapala Avestaria, kian akbrab dengan beliau, bahkan mendapat didikan dari Kengkang, baik secara langsung maupun tak langsung. Sebut saja Gerry Tumani kawan sesama anggota Mapala Avestaria, yang kini merupakan salah satu atlit Paragliding Sulawesi Utara. Semua tak lepas dari tangan dan dedikasi seorang Kengkang.

Di media, saya juga mengetahui kegilaan-kegilaan Kengkang dalam dunia petualangan. Termasuk aksi Base Jump di gedung pencakar langit Malaysia yang mengundang decak kagum kita saat menonton dengan nafas yang naik-turun.

Tak ayal, Kengkang adalah sosok multitalent yang dimiliki Sulawesi Utara, Indonesia, bahkan dunia. Di gunung, di rimba raya, arus liar sungai, tebing, laut, bahkan udara, ada jejak Kengkang disitu. Ia termasuk salah seorang perintis berdirinya club dan olah raga Base Jump di Indonesia bersama Petra Mandagi. Termasuk dalam dunia Paralayang. Dia memang adalah seorang kampiun.

Petra Mandagie

Bagaimana dengan Petra Mandagie? Praktis tidak sekalipun saya bertemu atau bertegur sapa dengan Petra Mandagie, penerjun dan atlit Paralayang Sulut yang ikut menjadi korban bencana gempa di Palu beberapa hari lalu. Tapi sedikitnya saya punya catatan kecil mengenai keluarga penerjun ini, berbentuk kenangan dari Ayahnya Petra, Pak Theo Mandagie, yang akan saya ceritakan disini.

***

Pada suatu pagi hari yang sejuk ketika itu, kira-kira di tahun 1990, kampung Passi Kabupaten Bolaang Mongondow, masih diliputi kabut. Seperti biasa, saya baru saja dibangunkan Ayah supaya bangkit dari godaan selimut hangat kemudian harus mampu mengalahkan dinginnya air di bak mandi, untuk siap-siap berseragam putih-merah ke sekolah.

Petra Mandagi (Foto: Petra Mandagi/Facebook)

Dalam suasana pagi yang dingin dan berkabut itu, kampung Passi mendadak heboh. Warga berkumpul di depan rumah masing-masing sembari menengadahkan kepala ke langit. Secara berangsur-angsur warga yang berkumpul itu menuju tanah lapang. Sebagian lagi berbondong-bondong datang ke rumah. Kebetulan Ayah saya ketika itu adalah Sangadi alias Kepala Desa di kampung. Warga yang terdiri dari kakek- nenek, om-tante, dan mamak-mamak heboh, datang melaporkan ke Ayah kalau mereka melihat sesuatu yang janggal dari atas langit sedang bergerak turun ke bawah. Semua mata tertuju ke angkasa. Menambah kehebohan dan tanda tanya disertai perasaan was-was. Mereka menduga, itu adalah bom yang dijatuhkan pesawat yang derunya masih kedengaran meski mulai mengecil dan sekonyong-konyong menjauh. Peristiwa Permesta yang masih terekam di ingatan orang-orang tua saksi sejarah, seolah menguatkan dugaan ; perang baru saja akan dimulai di Passi! Gawat!?

Ayah ikut menangadahkan kepala ke langit yang ketika itu diliputi kabut. Saya selaku bocah yang ikut penasaran dilingkupi pula rasa cemas yang entah, ikut-ikutan ke tanah lapang yang jaraknya hanya sekali lompat dari rumah. Semua yang sudah bangun sepagi itu di kompleks, menangadahkan pandang ke angkasa. Sebagian lagi heboh di dalam rumah masing-masing membangunkan anggota keluarga untuk bangkit dan kemungkinan akan berkemas, mengungsi, karena perang sedang akan terjadi. Sungguh pagi yang riuh.

“Oh, ini bukan bom. Bisa jadi ini adalah penerjun payung,” demikian kalimat Ayah seingat saya ketika itu.

Warga masih saling berbantahan. Tapi Ayah meminta mereka untuk tenang dan meyakinkan kalau bisa jadi sedang ada atraksi terjun payung. Meski demikian, Ayah juga sebenarnya nampak sangsi karena selaku Kepala Desa, kenapa tak ada pihak terkait dan yang berkompeten  memberitahu kalau akan ada aksi terjun payung dengan lokasi pendaratan di tanah lapang desa kami.

Pelan-pelan ‘benda’ yang masih di duga-duga itu apa, mulai menembus kabut pagi hari itu di desa Passi yang permai dan dingin. Lambat laun, bayangan itu kian kentara hingga akhirnya payung terbuka dan nampak ada 5 penerjun di atas langit Passi.

Ketika mengetahui kalau itu bukan bom melainkan penerjun dengan warna kostum yang jauh dari kesan militer, kami merasa riang. Bocah-bocah berteriak kegirangan. Orang-orang tua pun demikian. Tak ada rasa panik lagi; “tentara payung..tentara payung..tentara payung,”, demikian kami para bocah udik bersorak-sorai melagukan. Ayah tertawa, warga juga ikut-ikutan tertawa. Nampak mereka seperti menertawakan diri  mereka sendiri di awal tadi.

Tiga penerjun berhasil mendarat dengan mulus di Lapangan Elang Taruna Passi. Kami saksikan dengan mata kepal sendiri, penuh decak kagum. Sedangkan 2 penerjun lainnya mendarat mulus di Lapangan Desa tetangga (Bintau), berjarak sekitar 200 meter dari tanah lapang kami.

Bersama warga, Ayah segera menyambut para penerjun. Kami para bocah terus-terusan bersorak bernyanyi nyanyi; tentara payung…tentara payung..tentara payung. Diketahuilah bahwa salah satu penerjun yang baru saja saling berjabat tangan erat dengan Ayah itu adalah Bapak Theo Mandagie. Sang legenda penerjun Sulawesi Utara, Ayah dari Petra Mandagie. Ayah lantas bercakap-cakap dengan beliau. Saya yang ketika itu kira-kira duduk di bangku kelas 6 SD, sudah bisa merekam pembicaraan antara Ayah dengan Theo Mandagi dan penerjun lainnya di memori ingatan kepala saya.

Diceritakan Pak Theo kalau sesuai schedule, seharusnya mereka mendarat di Lapangan Kotamobagu. Namun kondisi angkasa yang pagi itu diliputi kabut, membuat mereka kesulitan melihat titik pendaratan dimana beberapa kalangan termasuk masyarakat sudah menunggu mereka di Lapangan Kotamobagu. Diceritakan kalau dari dalam pesawat, di mata pilot dan para penerjun, tutur Pak Theo Mandagi kepada Ayah, para penerjun kesulitan turun karena kondisi angkasa yang ditutupi kabut tebal. Pesawat lama berputar-putar mengelilingi angkasa hingga berada di atas kampung Passi. Pelan-pelan, kata pak Theo Mandagi, ada celah terbuka di tengah kabut sehingga mereka bisa melihat secara samar-samar ada tanah lapang di bawah. Namun celah itupun kembali tertutup. Pesawat lantas terus berputar-putar di udara mencocokan kembali titik koordinat untuk para penerjun. Deru pesawat yang mondar-mandir itulah yang menciptakan kehebohan di kampung.

Setelah ada celah terbuka, kira-kira sebesar gulungan tikar dan secara samar mereka melihat ada tanah lapang di bawah, tutur  Pak Theo kepada Ayah, akhirnya mereka putuskan untuk terjun. Mereka memang  mengira, itu adalah Lapangan Kotamobagu. Namun kondisi cuacalah yang membuat perkiraan mereka meleset sekitar 4 kilo meter dari titik pendaratan awal yakni di Lapangan Kotamobagu yang memang tak seberapa jauh dari Desa Passi.

***

Di sekolah, aksi terjun payung Pak Theo Mandagie, membuat kami para bocah menjadikan itu sebagai bahan obrolan selama berminggu-minggu. Tak ada topik lain, kecuali ‘tentara payung’. Demikian kami menyebutnya. Tentu karena tontonan film perang di televisi maupun layar tancap Super Semar di tanah lapang yang biasa diputar para penjual obat. Kami bahkan sering membuat mainan ‘tentara payung’ dari bahan tas plastik (kresek) dengan orang-orangan penerjun kami buat dari tanah liat atau kayu. Kami lemparkan tingi-tinggi ke angkasa melewati atap rumah, dan tak jarang kami panjati pohon manggis kemudian menerjunkannya ke tanah. Aksi terjun Pak Theo Mandagie dan kawan-kawan di Lapangan Elang Taruna Passi, benar-benar menginspirasi kami para bocah di desa.

Selanjutnya, di masa ketika mulai beranjak dewasa, berita duka akhirnya datang. Melalui surat kabar langganan Ayah, kami mengetahui berpulangnya Pak Theo Mandagie, Ayah Petra. Jujur ada rasa berkabung terpancar dari kami seisi rumah yang pernah menyambut kedatangan Pak Theo lewat aksi terjun payung di kampung.

Di tahun-tahun selanjutnya, ketika menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi (Unsrat Manado), saya akhirnya mengetahui kalau penerus Pak Theo adalah anak-anaknya sendiri. Para pemberani yang penuh dedikasi dan tak pernah kehilangan semangat. Saya melihat bagaimana Petra dan Pingkan Mandagie (kakak-beradik) terjun dari langit Manado dan mendarat sempurna di Kawasan Mega Mas dalam sebuah Ivent. Begitupun melalui pemberitaan media saat mereka mengikuti berbagai iven nasional dengan ragam prestasi mengharumkan nama Sulawesi Utara.

Beberapa kali di masa kuliah, ketika Ayah pindah bertugas di Manado, terkadang di waktu luang, kami sekeluarga menyempatkan diri berkunjung di kediaman Pak Theo di tepi Pantai Kalasey. Kami biasa memesan Siomai di kediaman yang asri itu. Ada relief dan prasasti berupa kenangan tentang olah raga terjun payung disitu. Diam-diam kami sekeluarga sebenarnya hendak mengenang itu semua. Bagaimanapun juga, Pak Theo Mandagie—meski sekali saja—pernah menorehkan kenangan di benak kami masing-masing  saat terjun di kampung kami tercinta, Passi. Mengisi meski sekali saja masa kanak-kanak saya, kakak-kakak saya, dan teman sebaya, yang penuh sorak kegembiraan menyambut para ‘tentara payung’.

Kembali kepada Kengkang. Saya sendiri tidak berinteraksi secara kental dalam arti akrab dalam hubungan pertemanan dan keseharian dengan Frangky “Kengkang” Kowaas, dibanding kawan-kawan saya sesama petualang dan pecinta alam di Manado. Namun di mata hati dan pikiran saya, sosok Kengkang begitu dekat mengilhami dan betapa menginspirasi hati kita para petualang alam bebas di Sulawesi Utara.  

Bagi saya, Kengkang tak hanya seorang petualang alam bebas, tak sekadar atlit peterjun payung, skydive, base jump, ataupun atlit paragliding andalan Sulawesi Utara. Lebih dari itu, Kengkang adalah seorang filsuf yang tak kita temui berada di antara lusinan dan halaman buku filsafat atau di tengah tumpukan literasi sebuah ruang perpustakaan, melainkan seorang filsuf yang betapa mudah kita temui di rimba raya lestari, bermain-main dengan kematian.

Pembaca mungkin akan menyangsikan saya yang menyebut Kengkang sebagai seorang Filsuf. Hal yang pernah saya bahas bersama Dani Tambingon dan beberapa kawan di tahun 2000-an yang menjadikan sekretariat Mapala Avestaria sebagai rumah kedua sepulang dari kerja di NSS bsersama kawan-kawan sejawat yang merupakan anggota Mapala Avestaria (Steven Mait, Ronald Larage, Felix Marpaung, dan Jerri Mona).

“Kalo ngoni so baca Kengkang pe skripsi waktu mo ambe Sarjana Teologi di Ukit, disitu baru ngoni mo kanal butul siapa Kengkang. Pemikir hebat memang dia tudia”, demikian ingatan saya masih segar merekam ungkapan Dani saat kongkow-kongkow di sekret Mapala.

“Ada brapa kali dapa sanggah dari tu’ur deng prof-prof, Kengkang pe skripsi itu, mar dia tetap bertahan deng depe tinjauan, sampe akhirnya skripsi itu ditrima samua dosen penguji,” demikian kenang Dani masih begitu segar dalam ingatan saya.

Ya. Kami yang ketika itu memang menyadari punya keterbatasan ilmu, betapa seolah sok tahu dan berani-beraninya membahas judul skripsi dari Kengkang yang merupakan syarat bagi dia memperoleh gelar Sarjana Teologi di UKIT Tomohon.

Apa sebenarnya judul Skripsi dari Kengkang? Denni Pinontoan, alumnus Fakultas Teologi UKIT Tomohon, dikenal juga sebagai pemerhati dan budayawan Minahasa, dan yang mendedikasikan dirinya di  Jaringan Peneliti Teologia Indonesia bagian Timur (Oase Intim), menulis dalam status Facebook-nya (Rabu 03 Oktober 2018). Status itu sedikitnya menampilkan riwayat akademik Franky Kowaas, ikatan emosional sesama alumnus Fakultas Teologi di UKIT Tomohon, dan Karya Tulis Ilmiah (Skripsi) dari Kengkang. Saya sengaja mengutip ini, karena memang pernah ‘membahasnya’ dalam majelis reriungan dengan beberapa kawan.

Disampaikan Denni Pinontoan, karya tulis Franky Kowaas di almamaternya sebagai syarat untuk meraih Sarjana Teologi (STh) dipersembahkan dalam bentuk skripsi berjudul “Allah yang Bunuh Diri”, dengan sub judul “Studi Komparatif Teologis atas Esensi dan Eksistensi Allah di dalam Sebab Kematian Kristus sebagai usaha Apologia Iman Kontemporer”. Dosen pembimbing Pdt. Dr. R.A.D. Siwu, MA, PhD.

Menurut Denni, judul skripsi Kengkang memang tidak seperti biasa. Agak kontroversi. Namun menurut aktivis kebudayaan Minahasa ini, karya tulis ilmiah dari Kengkang, sebetulnya ketika kita masuk ke dalamnya dan membaca uraian-uraian dalam naskah skripsinya. Melalui judul itu Kengkang justru memasuki jantung kepercayaan Kristen. Menurut Denni, dalam karya ilmiah itu, Kengkang bukan bermaksud mempertanyakan soal benar tidak penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus, tapi justru Kengkang mau memperteguh doktrin sekitar tema tersebut pada Kedaulatan Allah.

Denni menyimpulkan, bisa jadi kesimpulan penelitian teologi Franky Kowaas terumus pada pernyataannya yang termuat di dalam skripsinya ;  “Jika Tuhan mati dibunuh…apakah kebangganku mengikuti Kristus? Tetapi, Kalau Allah tidak bunuh diri…lalu siapakah yang telah menyelematkan aku?”

Denni juga mengutip kalimat inspiratif Kengkang dalam sebuah wawancara di salah satu TV swasta; Jadilah dirimu sendiri dan buktikan bahwa mendaki gunung itu sesuatu yang dapat menghidupkan”.

Melalui status facebook-nya kaitan dengan itu, Denni Pinontoan sedikitnya menarik kesimpulan sebagaimana yang ditulisnya; dalam hal berteologi, sebagai alumnus Fakultas Teologi UKIT, Kengkang telah memberi satu model lain dalam ‘berteologi’ yaitu berteologi dengan alam dalam kesadaran penuh terhadap Allah yang berdaulat atas keseluruhan hidup manusia.

***

Tondano….negeri di atas awan
Tondano….kawah gunung purba
Tondano….tempat air mengalir
Tondano….kota Benteng Moraya
Tondano….Rumah para pahlawan
Tondano….melahirkan banyak Juara

Tondano….pasukan itang-itang
Tondano….singgasana sang pemberani
Tondano….legenda yg telah lelah

Demikian Frangky “Kengkang” Kowaas,  menulis status Facebook-nya pada 8 Juni 2010 silam. Ah, telah lelahkah kalian wahai para legenda?

Rest In Peace untuk kalian. Terbang tinggilah kembali ke asal. Kami tak akan pernah lelah mengenang semua cerita dan kisah tentang kalian. Terima kasih pernah mengisi hari-hari kami sekalipun itu hanya sekali.

Terkahir dari saya, selamat jalan wahai filsuf yang penuh dengan kisah petualangan. Filsuf yang menemukan keilahian di alam rimba raya semesta.

***

Frangky Kowaas dan Petra Mandagi adalah atlit Paralayang Sulut yang menjadi korban gempa  di Sulawesi Tengah (Donggala – Palu), Jumat 29 September 2018. Seorang atlit Paralayang lainnya asal Manado-Sulut adalah Glen Mononutu. Sedangkan Lourens Kowaas, ponakan Franky Kowaas ikut pula menjadi korban gempa di hotel tersebut. Saat gempa terjadi, mereka sedang menginap di Hotel Roa-Roa Kota Palu. Keberadaan mereka di Palu dalam rangka mengikuti kegiatan Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2018 yang akan berlangsung selama 3 hari. Para korban ditemukan di balik reruntuhan hotel pasca gempa.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.