ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Aksi Mayday di Kotamobagu, Komunitas Punk dan Jurnalis Serukan Penegakan Hak Maternitas Buruh

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM , KOTAMOBAGU – Rabu 01 Mei 2019, tepat pada Hari Buruh Internasional atau dikenal pula dengan istilah Mayday, sejumlah kalangan, organisasi kemahasiswaan, dan komunitas di Kotamobagu, menggelar aksi demonstrasi damai. Aksi dimulai dengan menggelar long march  dari Taman Kota Kotamobagu menuju Tugu Pembebasan atau bundaran Paris Kota Kotamobagu.

Massa yang menggelar aksi Mayday ini terdiri dari kalangan individu, jurnalis, organisasi kemahasiswaan, dan sejumlah komunitas yang eksis di Kotamobagu diantaranya Totabuan Collective Movement (TMC), Generasi Muda Reggae Moyongkota (GMRM), komunitas Punk and Skinhead Anti Rasis, termasuk keterlibatan seniman Tattoo, seniman jalanan, dan musisi band indie.

Dari organisasi kemahasiswaan, yakni Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Wallacea Universitas Dumoga Kotamobagu, salah seorang aktivisnya berorasi dengan mengusung isu upah minimum yang seharusnya diberlakukan setiap perusahaan dalam memperkerjakan karyawannya.

“Masih banyak perusahaan-perusahaan di Kotamobagu yang tidak menerapkan UMP terhadap para pekerjanya. Seharusnya ini menjadi perhatian instansi terkait,” koarnya dalam orasi.

Manifesto Marhaen, band indie label yang cenderung mengusung genre punkrock dalam bermusik, turut menyampaikan orasinya dalam peringatan Mayday. Salah satu yang diangkat adalah hak maternitas buruh atau pekerja perempuan yang belum diterapkan sepenuhnya oleh sejumlah perusahaan baik negeri maupun swasta. Disampaikan oratornya dalam aksi yang dimulai pukul 1 siang, hak maternitas ini sebagaimana diatur dalam Pasal 81 ayat 1 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

“Pekerja atau buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid,” demikian oratornya mengutip Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Lebih lanjut, selain cuti haid, disinggung juga soal cuti kehamilan dan masa persalinan, dimana pekerja perempuan wajib mendapatkannya tanpa perlu dipotong gaji apalagi dipecat. Setiap pekerja atau buruh juga disarankan untuk membentuk serikat pekerja di masing-masing perusahaan. Selain sudah diatur undang-undang, menurut mereka, hal tersebut penting agar ada persatuan antar sesama buruh dalam memperjuangkan hak-haknya.

Sementara itu, para pekerja jurnalis turut pula menyampaikan orasinya. Selain menyuarakan upah yang layak bagi para pekerja media, mereka juga menyinggung soal tindak kekerasan yang dialami para pekerja media.

Dari Totabuan Collective Movement, yang merupakan komunitas pengusung ide-ide kreatif dari pemuda dan yang concern dalam mengadakan gigs band-band indie atau band komunitas di Kotamobagu, dalam orasinya turut menyinggung sejarah kelahiran dan gerakan Mayday, yang untuk di Indonesia sendiri telah dijadikan sebagai hari libur.  

“Delapan jam kerja yang hingga saat ini dinikmati para buruh atau pekerja, adalah buah perjuangan dari para pendahulu kita dalam sebuah aksi pemogokan. Bukan sedikit korban, bahkan nyawa para buruh pun melayang demi cita-cita delapan jam kerja sehari,” ungkap oratornya.

Usai berorasi dan menyampaikan tuntutan, diantaranya adalah desakan kepada pemerintah dan perusahaan untuk menegakan hak maternitas buruh perempuan dan UMP, massa demonstran akhirnya bergerak dari bundaran Paris menuju ke Taman Kota Kotamobagu. Disana turut diadakan Panggung Kesenian dimana sejumlah band komunitas naik pentas membawakan puisi dan lagu-lagu bermakna perjuangan. (tim/um)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.