ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Keberisikan Antar Warganet Kotamobagu Terkait Wacana Pembubaran FPI

Bagikan Artikel Ini:
foto : islami.co

AWALNYA saya tetap pada pendirian untuk enggan melayani dialog terkait hal-hal berbau FPI, terlebih kepada orang-orang yang tak punya minat membaca tapi berlagak seperti khatam pustaka ini-itu. Sikap ini saya pilih bukan karena suatu perkara yang nantinya akan memancing perdebatan menjadi panjang, berbusa-busa, tegang, tersinggung, emosi, hingga berujung pada ajakan untuk baku hantam akibat kegagalan dalam berdialog yang tentunya dipicu oleh kadar berpikir yang terbatas.

Tetapi menurut saya, di jaman ketika semua informasi di segala penjuru dunia telah ada dalam genggaman—bahkan ketika kita sedang dalam posisi berak sekalipun—tak ada alasan lagi bagi kita untuk buta informasi, tak terkecuali itu tentang FPI, kecuali kita sedang dalam mode gratis atau berada dalam kategori duafa data.

Maka dari itu, karena sadar sepenuhnya bahwa telah meruyak tanpa batas segala jenis informasi, termasuk soal FPI mulai dari sejarah kelahirannya, maka merasa capeklah jika harus tanggap menanggapi terkait hal-hal berbau FPI dengan orang-orang yang minat bacanya sebatas tumit, tak melek berita di tipi, jarang mengikuti arus informasi di genggaman karena jarinya lebih suka me-like status unfaedah, atau lebih sering dipakai update status facebook buatan Yahudi, terlebih lagi harus membuang umur berdebat dengan orang-orang yang selalu salah kaprah meski mengaku hafal Pancasila.

Akan tetapi. Akan tetapi ya! Akan tetapi (catat dua kali), ketika di linimasa facebook, terutama di kolom komen dan subkomen sebuah status, betapa kesalahkaprahan itu telah berada di titik paling nadir, maka tulisan ini adalah sebuah pengecualian. Hitung-hitung sebagai teman menanti sahur atau buka.

Ya. Tulisan ini akhirnya muncul juga oleh karena adanya chat WhatsApp yang dikirimkan teman ke saya. Pokok isinya meminta agar saya menulis sepatah-dua kata pendapat terkait keberisikan soal FPI yang belakangan jadi topik hangat dan ribut di linimasa Facebook teman warganet di Kotamobagu.

Rupanya bermula dari change.org, dimana warganet menandatangani petisi terkait penghentian atas perpanjangan ijin FPI. Petisi itu berbunyi; Saya ingin Ormas FPI yang terdaftar di Kementrian Dalam Negeri RI dengan nomor SKT:025/D.III.3/II/2009 yang sudah diperpanjang dg nomor 01-00-00/0010/D.III.4/VI/2014 untuk dibubarkan/tidak lagi diperpanjang ijinnya karena menimbulkan keonaran, keresahan,  dan gesekan keamanan di masyarakat. 

Petisi itulah yang mungkin membuat teman-teman warganet Kotamobagu menyambut sekaligus meneruskan isu tersebut dengan cara menuangkannya dalam bentuk status Facebook. Seperti salah seorang warganet di Kotamobagu yang membuat status dengan hastag seperti ini; #Bubarkan_Ormas_Radikal_FPI.

Status itu tentu mengundang banyak komen, selanjutnya dicapture warganet lainnya dan diposting kembali ke grup paling berisik di Kotamobagu; Sahabat DeMo (Dari BolMongRaya untuk Indonesia). Maka dimulailah keributan itu.

Keributan semakin berisik ketika Sehan Ambaru, seorang teman, membuat status di akun Facebook miliknya yang pada pokoknya menyatakan dukungan terhadap status yang dibuat Wulur Mokoginta, meski Wullur sendiri telah menghapus statusnya dan sudah meminta maaf kepada Denny Mokodompit, deklarator FPI di Sulawesi Utara. “Saya sepakat bubarkan FPI organisasi ini mengatasnamakan n bikin malu umat saja. Wullur Mokoginta jgn mundue saya bersamamu” demikian tulis Sehan dalam statusnya.

***

Pada kesempatan tulisan kali ini,  saya tidak akan membahas keributan atas status yang telah melahirkan keberisikan yang…ah sudahlah, melainkan hendak memberi secuil gambaran tentang kelahiran FPI.  Ini dilakukan bukan karena perkara apa, tetapi sebagaimana yang sudah saya jelaskan sebelumnya di atas tadi. Terlebih pemirsa sendiri dapat melihat, membaca, dan menilai satu persatu komen dan subkomen yang disematkan dalam menanggapi status tersebut; beragam dan……. ahh… seolah segala bentuk informasi tak ada dalam genggaman setiap orang yang punya tangan maupun tidak, dan justru sedang berada di sebuah era dimana segala jenis informasi bisa kita akses meski kita sedang dalam posisi berak sekalipun. Tapi demikianlah fakta yang terjadi. Entah sedang dalam mode buta atau karena terkait dengan minat baca tadi.

Oleh sebab itu, saya enggan membuang umur di kolom komentar secara berkesinambungan hingga (mudah ditebak) akan berujung pada baku hantam sesudah saling memaki.  Tulisan ini adalah gantinya.

Pasca Soeharto Tumbang, Lahirlah FPI

Seandainya rezim Orde Baru Soeharto tidak ditumbangkan oleh arus gelombang demonstrasi yang dimotori mahasiswa, maka Front Pembela Islam (FPI) belum tentu hadir di muka bumi Indonesia yang punya falsafah Bhineka Tunggal Ika.

Kita tahu bersama, rezim Orde Baru Soeharto adalah rezim yang sangat represif, termasuk dalam mengontrol pertumbuhan organisasi massa dan melakukan penindakan terhadap apapun yang dianggap berseberangan, terlebih lagi mengganggu jalannya kebijakan pemerintah Orde Baru. Beberapa pendiri FPI, di antaranya Habib Idrus Jamalullail dan K.H. Cecep Bustomi, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan tirto.id, pernah mendekam di penjara pada era 80-an karena para mubaliq ini dianggap mengkritik pemerintahan Orde Baru Soeharto.

Keruntuhan rezim Orde Baru Soeharto memang memberi angin segar di berbagai bidang. Tak sekadar kebebasan  pers, kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat, namun termasuk juga dalam dunia ke-ormas-an (jangan dulu sebut, penak jamanku toh?). Maka tiga bulan pasca Soeharto ditumbangkan mahasiswa, tokoh-tokoh pendiri FPI tidak membuang kesempatan berharga itu, karena membentuk ormas ‘sekaliber’ FPI di jaman Soeharto, sama halnya dengan bunuh diri (nah, enak jaman siapa?). Maka dideklarasikanlah FPI di Pondok Pesantren Al-Umm, Tangerang pada 25 Robi’uts Tsani 1419 Hijriyyah atau tanggal 17 Agustus 1998.

Namun ada yang sedikit janggal tiga bulan kemudian pasca FPI didirikan dalam atmosfir reformasi yang telah memberikan mereka angin segar kebebasan yang lebih luas. Apa itu? Sebagaimana dilansir tirto.id yang mengutip riset Institut Studi Arus Informasi (ISAI), disebutkan bahwa FPI terlibat dalam penggalangan Pam Swakarsa menjelang Sidang Istimewa tanggal 10-13 November 1998 dengan agenda pelantikan B.J Habibie sebagai Presiden menggantikan Soeharto. Selanjutnya FPI sebagai Pam Swakarsa melakukan pengamanan Sidang Umum MPR pada Oktober 1999, dan membantu aparat membendung aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya. Pendek kata, saat itu FPI masih bernaung dalam Pam Swakarsa, sebuah organ paramiliter yang dibentuk oleh militer dalam rangka pengamanan yang berasal dari masyarakat, untuk membendung aksi demonstrasi kalangan mahasiswa di era reformasi. Ironis memang.

FPI memang bukan ormas sembarang yang lahir kemarin sore. Sudah 18 tahun mereka eksis di Indonesia yang dihuni ratusan juta rakyat berlatar belakang etnis, suku bangsa, agama, kepercayaan, dan keyakinan yang berbeda-beda. Apakah FPI memahami ini? Sebut saja merekalah yang paling benar menjawabnya. Selebihnya adalah, arus informasi ada di genggaman kita masing-masing yang dapat menayangkan rekam jejak mereka, bahkan ketika kita sedang dalam posisi tengkurap di atas ranjang sekalipun.

Di Kompasiana, pemirsa mungkin bisa membaca daftar dosa FPI lewat tulisan Qomarudin Saqir. Bagi yang ingin mengetahui kemuliaan dan pahala-pahala FPI, bisa juga langsung mengunjungi situs resminya fpi.or.id. Sedangkan soal secuil kenangan buruk yang dialami sejumlah kalangan termasuk jemaat gereja dalam tragedi Monas saat peringatan Hari Pancasila, pembaca bisa meng-klik -> disini.  Kemudian soal penyerangan Masjid Ahmadiyah, bisa juga di klik -> di sini. Selanjutnya bagi para pembaca yang paham bahwa arus informasi ada dalam genggaman, boleh search google -> di sini.

Wacana Pembubaran FPI

Jadi bagaimana? Apakah FPI pantas jika ijinnya diperpanjang? Apakah layak dibubarkan karena ormas ini kerap dekat dengan kekerasan? 

Pembaca, membubarkan FPI mungkin dapat menodai demokrasi yang sudah terbangun di negeri ini. Atau anggap saja FPI dibubarkan dengan alasan, ormas ini kerap melakukan tindak kekerasan dan main hakim sendiri selain, katanya, suka membantu orang-orang yang tertimpa musibah seperti korban bencana alam sebagaimana foto-foto yang disebar warganet. Tapi jikapun FPI dibubarkan, di era demokrasi seperti sekarang ini, para pentolan dan anggotanya bisa saja mendirikan ormas baru kemudian diberi nama KPI misalnya (Kelompok Pembela Islam) atau apapun istilahnya nanti. Ibarat ganti kulit saja.

Jadi bagaimana? Tak usah dibubarkan? Menurut saya pamarentah tak perlu membubarkan FPI. Biarlah FPI akan menjadi contoh atau panutan nan mulia bagi umat beragama lainnya. Alasannya sederhana; karena FPI adalah inspirasi bagi rakyat atau pemeluk agama-agama di Indonesia. Oleh sebab itu, sebagai ormas yang memberi banyak inspirasi penuh faedah, tak ada salahnya FPI dicontohi. Jikapun ada negatifnya, maka ambil sisi postifnya saja.

Jadi umat Hindu bisa mencontohi FPI dengan mendirikan FPH (Front pembela Hindu), selanjutnya umat Kristiani juga membentuk FPK (Front Pembela Kristen), kemudian lahir juga FPKt (Front Pembela Katolik), FPB (Front Pembela Buddha), FPKep (Front Pembela Kepercayaan), FPKong (Front Pembela Konghucu) dan front-front lainnya berlatar belakang agama, suku, dan kepercayaan. Dengan demikian, kita tinggal menunggu kapan front-front ini akan berhadap-hadapan di tengah jalan, atau terjun di medan perang saudara sesama Indonesia. 

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

 

 

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.