ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Puisi Widji Tukul Menggema dalam Peringatan Mayday

Bagikan Artikel Ini:
kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku menjadi gelap
kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras
kau paksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak
darah sudah kau teteskan
dari bibirku
luka sudah kau bilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kau rampas
dari biji mataku
derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas
17 november 1996
DEMIKIAN puisi Widji Tukul berjudul Derita Sudah Naik Seleher yang digemakan Neno Karlina Paputungan dalam sebuah aksi peringatan Mayday atau Hari Buruh Internasional di Kota Kotamobagu – Sulawesi Utara, Rabu 01 Mei 2019.
Neno adalah salah seorang aktivis pergerakan di Kotamobagu. Ketika membawakan Derita Sudah Naik Seleher, ia nampak begitu berapi dan sangat menjiwai ruh puisi yang ditulis Widji Tukul pada 17 November 1996 silam.  Widji Tukul sendiri adalah salah seorang aktivis dari 13 aktivis yang hingga kini masih dinyatakan hilang sejak tahun 1998.
Dalam aksi Mayday kali ini, Neno bergabung dengan kawan-kawan di komunitas Punk and Skin, dan kawan-kawan kelas pekerja dari berbagai bidang yang bergabung secara individu, termasuk kehadiran kalangan jurnalis dan organisasi kemahasiswaan seperti Mapala Wallacea di Kampus UDK dan Generasi Muda Reggae Moyongkota (GMRM).
Dalam orasinya, selain menyoroti masalah UMP dan hak maternitas buruh/pekerja perempuan, Neno juga menggaungkan isu pekerja media yang menurutnya sama dengan pekerja lainnya, sebab pekerja media juga adalah buruh yang menerima upah dari majikan atau perusahaan. Isu lain yang turut disoroti adalah soal upah lembur dan hari libur pekerja media, termasuk soal tindak kekerasan yang dialami para pekerja media.
“Stop kekerasan terhadap pekerja media. Jurnalis juga buruh yang berhak mendapatkan upah yang layak, gaji lembur, dan hari libur,” katanya lewat orasi.
Lagu Darah Juang yang dilantunkan peserta aksi, mengiringi puisi dan orasi yang digaungkan Neno. “Hidup buruh..!!” pekik peserta aksi di setiap penghujung orasi Neno.
Haris Van Gobel, personil Manifesto Marhaen yang turut dalam aksi Mayday tersebut menyampaikan, apa yang mereka (komunitas) lakukan, tak sekadar sebagai bentuk peringatan Mayday belaka. Lebih dari itu, Iki, sapaan Haris Van Gobel, mengatakan kalau aksi Mayday yang mereka lakukan adalah bentuk dukungan dan keberpihakan kepada para buruh tertindas termasuk buruh atau para pekerja perempuan.
“Ketika negara mengatur soal cuti haid, cuti hamil, dan cuti bersalin buruh perempuan sebagaimana undang-undang ketenagakerjaan tahun 2003, seharusnya aturan itu harus ditegakan setiap perusahaan baik swasta maupun negeri. Tapi mari kita melihat fakta di lapangan, banyak pekerja perempuan yang tetap masuk sekalipun sedang dalam masa haid pertama maupun kedua dan merasa kesakitan. Ini belum soal cuti masa kehamilan dan bersalin,” katanya.
Gerry, salah seorang peserta aksi Mayday 2019, menyampaikan juga kepada media bahwa aksi Mayday tahun sebelumnya, diselenggarakan oleh komunitas yang sama dirangkaian pula dengan Gigs yang berlangsung di Starlight Cafe dan dihadiri sejumlah komunitas dari luar daerah baik secara individu maupun mewakili band indie yang eksis di komunitas. Disampaikan juga olehnya kalau aksi Mayday sudah menjadi agenda tahunan komunitasnya, dan senantiasa berlangsung damai. (ar/tim/um)
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.