Colosseum (*Untuk Seluruh Sulut, Setelah “Agape”)

Bagikan Artikel Ini:
sumber foto : internet

ARUSUTARA.COM – Romawi kuno. Sebuah gedung megah berdiri mentereng. Lingkar luarnya dinding-dinding batu yang kokoh tegak oleh waktu. Di dalam, seperti stadion hari ini, orang-orang memenuhi kursi penonton. Pekik menggelegar. Masing-masing menyerukan nama jagoan. Terkadang sesama manusia saling mengadu nyawa di tengah palagan itu. Terkadang manusia dilawankan dengan binatang buas. Tapi manusia, bahkan sampai hari ini, memang selalu senang menyaksikan kekerasan. Barangkali dari pertikaian dan beribu-ribu pertempuran, ada bagian dalam diri manusia yang bisa terisi.

Setiap orang memang punya colosseum masing-masing.

Beberapa dari kita, terutama remaja-remaja imut zaman kiwari, suka mengikuti berita-berita perseturuan para artis youtube. Tidak pernah ketinggalan youtuber siapa yang berdebat dengan youtuber mana; om Deddy yang menghantam nama-nama artis papan atas; Majelis Lucu Indonesia dengan roasting mereka selalu mengalamatkan tembakan pada artis norak. Dan sebagian lagi mengaku kesal. Tak mendidik. Tapi menontonnya sampai habis.

Beberapa lagi sering rebahan di depan layar kaca. Menunggu colosseum bernama Indonesia Lawyer Club (yang semakin kesini justru defisit pengacara, tapi surplus politisi), menanti kehadiran Fahri Hamzah, Fadli Zon, Rocky Gerung, Ngabalin, Adian Napitupulu, dan lain-lain. Manusia diadu dengan manusia. Sparta di gelanggang politik memang berbeda, sebab mereka bisa mati berkali-kali tanpa pernah benar-benar pergi.

Beberapa lagi sering terpaku matanya di depan lembaran-lembaran kertas yang tak habis-habis. Mereka ini senang dengan colosseum pemikiran. Mengikuti tiap dialektika dari satu era melawan era berbeda, satu tokoh dari negara tertentu melawan negara lain, mahzab melawan mahzab, agama melawan agama, ideologi melawan ideologi, Aristoteles melawan Plato, Algazali lawan Averoes, dan seterusnya dan seterusnya.

Yang lain menjadikan jagad Twitter atau Instagram atau Facebook sebagai colosseum mereka. Telah lupa waktu mereka menggiring layar dengan jempol, membaca satu per satu komentar tentang Keanu yang kesal pada Mas Fatah itu, dan seterusnya dan seterusnya.

Yang lain sibuk menunggu berita perseturuan antara sepasang suami istri artis yang telah bercerai. Barangkali sembari menanam harap supaya perceraian itu berlangsung berlarut-larut. Selalu ada kenikmatan tersendiri menonton cerita yang memiliki episode panjang dan sulit diterka. Oia, ada juga yang tabah menanti anak angkat Ruben Onsu benar-benar seorang predator cilik, dan saya benar-benar tak membayang sebuas apa hewan yang keliaran di colosseum batin orang seperti itu.

Kita semua punya colosseum masing-masing. Dan kita semua, barangkali adalah Sparta di palagan berbeda-beda.

Tapi kenapa manusia sejak zaman dahulu, gemar menatap kekerasan? Erich Fromm menjawab, “karena manusia bosan.” Makhluk manusia ini memiliki dorongan untuk agresi. Dan ketika liang batin merasa jenuh, kekurangan stimulus emosional, maka berita-berita kekerasan, kriminal, kejahatan, dan bencana selalu jadi pelipur dahaga itu. Manusia merasa dada mereka terisi. Tak masalah terisi oleh rasa curiga, dendam, atau kemarahan, daripada kosong sama sekali.

Manusia selalu ingin dirinya merasa hidup. Bahkan bila kehidupan itu digenapi oleh tatapan pada kekerasan.

Pada akhirnya, kebutuhan atas colosseum selalu menjelma dan berlipat ganda dalam medium berbeda. Terkadang berupa layar gawai, kadang televisi, kadang internet, kadang perkelahian spontan di jalanan, kadang di macet lalu lintas metropolis, terkadang di stadion sepakbola, kadang di gelanggang olahraga, kadang di tengah ring tinju, kadang di rumah kita sendiri, kadang di atas panggung Indonesian Idol, kadang di atas panggung KDI, kadang dalam pikiran kita sendiri, kadang dalam hati kita sendiri, dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi di antara semua colosseum, yang paling berbahaya barangkali adalah agama. Dalam agama, hampir semua orang tidak menunda diri sebagai Sparta masing-masing. Mereka mengangkat senjata seraya menyebut nama Tuhan yang berbeda-beda. Dan di koloseum itu, kami melihat mereka saling beradu, surga siapa yang paling nyaman dan neraka siapa paling kejam.

Tapi jauh di dalam diri yang tidak mereka akui, selalu ada kekecewaan hidup yang begitu pahit sehingga cukup diselinapi kebencian, dan mereka merasa, dalam agama, kebencian menjadi halal dan Sparta adalah jihad atau martir, jadi tak masalah—seolah kebenaran semembinasakan itu, dan saya bakal semakin takut beragama bila demikian. Toh benci yang melawan benci, hanya bakal melahirkan api yang bakal membakar diri kita sendiri. Tanpa terkecuali.

Dan bila agama semengerikan itu, Tuhan harusnya sudah berduka sejak dari dulu agar kita tidak lagi perlu ada.

Penulis : Tyo Mokoagow

aktif di Literasik Totabuan
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.