Demi Perdamaian Abadi, Siapkan Ring Tinju di Tumaluntung

Bagikan Artikel Ini:

Bagi para nyubi atau sebut saja barisan pendatang baru di jagat maya paketai alias paket data internet, mungkin belum sadar betul kalau smartphone yang setiap saat ada di genggaman, bisa dipakai berselancar menelusuri samudera informasi terkait peristiwa intoleransi di Indonesia seperti yang dapat kita temui di Setara Institut. Dengan begitu, saat mengetahui lewat video yang viral di medsos terkait peristiwa pelanggaran Kebebasan Beragama / Berkeyakinan (KKB) di Tumaluntung Minahasa Utara, beberapa akun fesbuk yang ada di friend list, tak perlu seolah-olah baru tahu kalau diputusin patjar itu perihnya naujubillah, atau kagetnya seperti ketika baru tahu kalau pasangan lesbian Perdana Menteri Serbia itu sudah melahirkan bayi laki-laki.

Pembuka di atas bukan berarti hendak membenarkan bahwa tindakan intoleran itu bukanlah tindakan bar-bar, bukan tindak kriminal—yang dapat berkonsekuensi hukum—apalagi alasannya dikarenakan oleh argumen; peristiwa seperti itu memang sudah kerap terjadi di negeri kita yang berpancasila ini. Bukan, bukan sepert itu Om. Masih terlalu dini untuk langsung gagal paham.

Setara Institut (salah satu pendirinya adalah Rocky Gerung) mencatat, ada 136 tindakan pelanggaran KKB terjadi di negeri kita, dan hasil riset dengan hitungan 139 kasus ini, terjadi baru di pertengahan tahun 2018.

Itu baru setengah tahun 2018. Belum terhitung tindakan pelanggaran sepanjang tahun 2019, atau 10 tahun terakhir. Ironisnya, dari 139 peristiwa, terbanyak justru terjadi di DKI Jakarta, sebuah ibukota republik yang konon disesaki orang-orang cerdas, santai, dan selo-selo.

Karena pembaca ARUS UTARA adalah orang-orang selo, namun tidak menutup kemungkinan ada juga kalangan pembaca yang cepat meletup amarahnya sehingga mudah ditebak akan cepat berkoar atau mengumpat pada yang tak seidentitas dengan kalimat; halal darahnya ditumpahkan! maka sebelum darah—yang akan mulia jika disumbangkan ke PMI—benar-benar tumpah, minum es teh dulu dan tarik rokok dalam-dalam (bagi perokok) lalu hembuskan asap perlahan sembari menggunakan ponsel pintar di genggaman bukan untuk mengepruk batok kepala, melainkan berselancar sejenak menelusuri berita dan peristiwa pelanggaran KKB yang betapa mudah dapat diakses di jagat maya asalkan ada paketai.

Sudah? Nah, bisa jadi Anda baru saja tahu kalau ada 200 gereja disegel atau ditolak dalam 10 tahun terakhir ini. Lantas bagaimana dengan masjid? Sila klik atau tekan dengan jempol tulisan bertanda biru -> ini, agar Anda tahu. (sebaiknya usai artikel ini dibaca tuntas).

Tapi ingat, sekalipun ada paketai, bukan berarti apa yang Anda temui saat berselancar di jagat maya, langsung dimasukan ke lambung tanpa perlu mengunyahnya lebih dulu atau menyaring dan menguji kebenarannya.

***

Indonesia yang dibangun di atas ribuan pulau, suku bangsa, etnis, budaya, adat istiadat, kepercayaan, dan ribuan bahasa serta ratusan juta tingkah laku berbeda; mulai dari yang selo, yang mudah baperan, yang cepat naik pitam, ditambah lagi masuknya ragam budaya dan ajaran dari luar, betapa mudah sebenarnya kita ini dibentur-benturkan atau diadu-domba lewat sentimen SARA.

Para founding fathers kita yang tentu otaknya tidak seperti kaum-kaum yang ah sudahlah tentu sudah memikirkan ini, sehingga dijadikanlah Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila sebagai pilar dan landasan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa itu semua, Indonesia so lama flao.

Kita bertanya, apa yang dapat membuat rapuh Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika hingga akhirnya runtuh berkeping-keping?

Dari sekian banyak argumen, analisa, dan kajian yang kita ketahui dari para ahli tata negara, doktor ilmu politik, negarawan, budayawan, sejarawan, ditambah lagi tukang status di fesbuk, saya cukup menambahkan satu pendapat sahaja. Jika lebih dari itu, saya khawatir bakal dituduh memaksakan diri untuk ikut-ikutan sok tahu. Dan pendapat saya adalah; di antara kita kurang santei alias kurang selo.

Perlu diketahui, setiap warga negara Indonesia yang kurang santei dan selo, dapat menjadi pintu masuk virus-virus penyebab keroposnya pondasi Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.

***

Baiklah. Tanpa perlu menyajikan duduk soal di Perum Agape (seolah saya tinggal disitu; menyaksikan, merasakan, atau mengalami langsung apa sebenarnya yang terjadi), sekadar sumbang solusi dari saya, ini ada tawaran yang pasti manjur.  Apa itu?

Ring Tinju Perdamaian

Ya. Ini adalah ring tinju perdamaian yang lain daripada yang lain. Sebuah tawaran hasil tabayun pasca peristiwa di Perum Agape, Tumaluntung Minahasa Utara. Ring tinju yang nanti dibuat ini, adalah ajang perlombaan yang dikhususkan bagi 2 kubu yang pro dan yang kontra terkait pembangunan rumah ibadah atau Musola atau Masjid di Perum Agape.

Jadi ada pihak dari sekelompok warga Tumaluntung yang tidak setuju sebuah Balai Pertemuan—yang diadakan para inisiator atau sebut saja panitia pembangunan Masjid—dialihfungsikan menjadi Musola atau Masjid, dan ada pihak dari sekelompok warga Perum Agape Tumaluntung Minahasa Utara atau panitia pembangunan Masjid/Musola Al Hidayah yang sedang mengurus proses perizinan dan pro dengan pembangunan itu.

Dari pemberitaan media massa ditambah lagi status fesbuk  yang sudah 4 hari ini  menjadi tranding topik, sedikitnya kita mengetahui bahwa konon alasan warga Tumaluntung dan beberapa oknum Ormas Adat di Minahasa Utara, tidak setuju kalau Balai Pertemuan dialihfungsikan menjadi Masjid atau Musola dikarenakan pihak pengelola atau inisiator pendirian itu belum mengantongi izin dari pemerintah setempat dan pihak-pihak terkait. Sedangkan pihak pengelola Balai Pertemuan atau sebut saja panitia pendirian Masjid atau Musola, mengatakan kalau proses pengurusan izin dan dokumen lainnya sedang berproses, ditambah lagi keterangan yang menyebutkan bahwa pada 2019 silam sudah ada kesepakatan bersama Forkopimda, tokoh masyarakat, dan tokoh Adat setempat, bahwa mereka bisa melakukan ibadah di tempat itu sambil menunggu izin dan syarat dokumen pelengkap lainnya terkait pendirian Masjid atau Musola, terbit.

Nah, dua kubu (pro-kontra) inilah yang maksud saya harus naik ke atas ring untuk bertinju. Lha, kok bertinju? Dasar provokator. Bukankah ini yang namanya pengadu-domba antar umat beragama?

Tenang dulu bro en sis, om en tante. Jangan langsung ngegas gitu. Tawaran saya sebenarnya punya tujuan mulia. Ini adalah upaya menyelesaikan masalah atau menunggu masalah selesai dengan cara berolah-raga. Dan olahraga yang dipilih, saya sepakat tinju. Bukan ajang berkelahi pakai sistim malendong atau tawuran dengan cara mengumpul massa, melainkan olahraga tinju sebagaimana yang biasa kita tonton di layar tipi. Dan tinju yang dimaksudkan ini harus berhadiah. Setiap pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar 10 juta, sedangkan yang kalah cukup 2 juta saja. Terserah uang menang atau kalah itu dipakai buat apa terserah kepada yang menang maupun yang kalah. Dipakai buat nyumbang Masjid boleh,  dipakai nyetor BPJS juga baik, dipakai mabuk-mabukan pun itu adalah hak mereka.

Peserta yang nantinya akan bertinju di atas ring ini dibatasi hanya kepada pihak yang pro dan yang kontra terkait pembangunan Masjid. Aturan mainnya sebagaimana aturan main dalam olahraga tinju konvensional. Ada wasit, juri, tim pelatih, dan tentu penonton.

Mengapa ini dilakukan? Inilah yang saya katakan tadi, menyelesaikan masalah atau menunggu masalah selesai dengan cara berolah-raga.

Tapi kenapa harus tinju? Jawabannya adalah; tinimbang terjadi perkelahian massal yang bernuansa SARA, lebih baik salurkan bakat-bakat rusuh dan suka baku hantam dengan cara berolahraga secara damai. Bukankah kedua tangan ini diciptakan untuk baku hantam? Apalagi ada hadiahnya. Aturan juga harus jelas, tegas, dan keras.

Bagaimana itu? Aturan yang jelas, tegas, dan keras yang dimaksudkan disini adalah, tidak boleh memakai senjata tajam apalagi panah waer

Tiap pertandingan hanya boleh 2 orang peserta yang naik ring plus wasit. Masing-masing peserta juga dilarang saling mendendam. Usai pertandingan malah diwajibkan duduk makan bagea atau minum susu bersama sambil diurut, dan wajib mendengarkan lagu dari Via Vallen.

Jika ada yang ketahuan melanjutkan pertinjuan di luar ring, apalagi minta bantuan orang luar dengan cara memprovokasi massa untuk baku malendong, maka sanksi tegas dan keras dari kepolisian selaku pihak yang berwenang, adalah tembak di tempat! Dan ini sudah harus disepakati sejak awal.

Tapi kenapa harus olah raga tinju?

Kita ketahui bersama bahwa ada energi yang meletup-letup di Perum Agape Tumaluntung. Ada pengrusakan, ada koar sangar yang berseru untuk mengacungkan pedang, dan semangat baku hantam yang memuncak. Jika semua energi itu hanya berakhir di atas kertas bermaterai 6.000 dan tanda-tangan kolektif, akan disalurkan kemana energi yang meletup-letup itu? Dan adakah jaminan tak ada lagi energi pertikaian yang masih tersimpan seperti api dalam sekam, sebagaimana yang masih bisa ditemukan di linimasa fesbuk?

Mempertimbangkan Hukum Kekekalan Energi Menurut Ilmu Fisika

Bagi yang pernah duduk di bangku SMP, pasti pernah belajar ilmu fisika yang mengajarkan kepada kita; energi tidak dapat dimusnahkan manusia, ia hanya berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lainnya alias hanya berpindah tempat. Sekali lagi, tidak dapat dimusnahkan, hanya berpindah tempat.

Nah, bayangkan jika energi yang meletup-letup dari pihak yang pro maupun yang kontra terkait peristiwa di Perum Agape, tak mendapatkan tempat, atau mendapatkan tempat namun justru rentan sebagaimana kita temui di Medsos—belum lagi jika dimanfaatkan para provokator dan politisi sektarian—maka bukankah malapateka yang nanti akan kita tuai di kemudian hari?

Maka tak ada cara lain kecuali energi yang meletup-letup itu diubah bentuknya dengan cara menyalurkannya lewat ajang kompetisi olahraga di atas ring, yakni tinju? Dengan demikian, energi dahsyat yang bentuk awalnya adalah pengrusakan, kerusuhan, dan pertikaian, dirubah menjadi bentuk energi lain yakni olahraga  tinju dengan tujuan mulia; demi kemaslahatan antar umat beragama.

Bagaimana dengan penonton? Tenang sebab akan ada aturan atau larangan yang ditanda-tangani bersama pihak Kepolisian, Kodim, Kejaksaan, dan Pengadilan setempat. Setiap penonton yang hadir menyaksikan pertandingan, sudah telebih dahulu diminta membuat surat pernyataan. Jika ada penonton antar dua kubu yang berkelahi, maka sanksi kerasnya adalah tembak di tempat. Sedangkan sanksi paling ringan adalah, disuruh kerja bakti selama 5 tahun di rumah-rumah ibadah lintas agama se-Kabupaten Minahasa Utara, dijaga pasukan dari Kodim berpangkat Kopral.

Kompetisi dalam bentuk olahraga tinju ini dilaksanakan seminggu sekali, yakni tiap hari Kamis atau malam Jumat. Jangan malam Minggu, sebab malam minggu adalah momen mengapeli patjar (bagi yang punya patjar) sekaligus pula momen penuh usaha dan doa-doa untuk balikan dengan mantan.

Pemenang kompetisi ini, selain mendapatkan uang tunai berjumlah 10 juta, ikut mendapatkan hak istimewa dari pihak yang kalah, dan ketentuan ini wajib ditaati.

Jika yang menang adalah kubu yang pro pembangunan Masjid Perum Agape, maka mereka diberi kebebasan selama seminggu penuh (atau hingga pertandingan selanjutnya) menggunakan pengeras suara luar (Toa) di Masjid dan mendapat pelayanan kerja bakti dari pihak yang kalah di rumah ibadah kubu pemenang. Sebaliknya jika yang menang adalah kubu yang kontra terhadap pembangunan Masjid di Perum Agape, maka pihak yang kalah belum diperkenankan menggunakan pengeras suara luar (Toa) di Masjid selama seminggu penuh (atau hingga pertandingan selanjutnya) tapi boleh menggunakan pengeras suara dalam, dan memberi pelayanan kerja bakti di rumah ibadah kubu yang kontra selama seminggu.

Lha, kok dilarang mengumandangkan azan? Astagafirullahullazim, ini diskriminatif, intoleran, radikal!?

Tuh kan langsung ngegas seolah-olah hanya Om yang tahu menggunakan akal sehat. Selo dikit dong. Bukan dilarang mengumandangkan azan (5 kali dalam sehari), melainkan soal penggunaan pengeras suara luar seperti Toa. Harus  bisa dibedakan mana larangan untuk Azan, mana larangan untuk tidak perlu menggunakan pengeras suara luar.

Azan tidak dilarang dan tidak boleh dilarang sampai kapanpun. Tetap dikumandangkan. Tapi kesepakatannya cukup dengan menggunakan pengeras suara dalam saja. Soal ini, nanti akan ada artikel berikut. Mau yang lawas, silakan tekan atau klik disini.

Oke, lanjut. Berhubung pertandingan ini merupakan solusi damai antar umat beragama lewat sentuhan olahraga yang diyakini bakal menarik minat khalayak ramai tak hanya di Sulawesi Utara, maka Pemerintah Minahasa Utara wajib menyiapkan fasilitas pendukung yang lebih memadai, tak hanya penganggaran hadiah lewat APBD Minahasa Utara atau APBD Provinsi Sulawesi Utara. Pihak swasta sudah pasti bakal melirik kompetisi ini dan tertarik berinvestasi. Malah kompetisi ini diyakini bakal menjadi rebutan antara pihak swasta dengan dinas terkait seperti Dispora dan Pariwisata. Pemuda-pemuda setempat juga mulai rapat mengatur jadwal dalam mengelola parkiran.

Oh,ya. Selama pertandingan, baik peserta maupun penonton kedua kubu, dilarang meneriakan yel-yel berbau SARA. Ini adalah kompetisi tinju. Bukan ajang baku hantam bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan yang dapat memecah-belah persatuan.

Pembaca yang santei dan selo, lantas apa efek positif yang didapat dari kompetisi olah raga tinju ini? Angka para pemiras di Tumaluntung mengalami pengurangan sedikit demi sedikit. Bagi pemiras, ngos-ngosan apalagi  falao di atas ring gara-gara semalam mabuk, adalah pantangan yang harus dihindari. Itu hanya membuat diri jadi malu. Olehnya mereka mulai mengurangi konsumsi miras. Setiap pagi orang-orang yang sebelumnya doyan miras, mulai lebih sibuk mempersiapkan diri berlatih pernafasan dan fisik agar kuat baku pukul di atas ring. Sementara itu warga Perum Agape usai salat subuh, merasa lebih berfaedah melakukan jogging ketimbang melanjtkan tidur. Masing-masing sibuk mempersiapkan fisik untuk pertandingan berikutnya. Kadar ketaqwaan tentu meningkat bersamaan dengan tegaknya salat 5 waktu, karena di sela-sela ibadah, doa senantiasa membumbung tinggi meminta ridho agar kuat berlaga menjatuhkan lawan di atas ring.

Lambat laun kompetisi ini akan mendapatkan bentuk dan jalan keluar dengan sendirinya, seiring terciptanya perdamaian abadi pasca lahirnya kesadaran kolektif yang menyatakan; betapa melelahkannya baku pukul terus-menerus. Saatnya bergandengan tangan menuju Sulawesi Utara yang menjadi rumah bersama bagi sekalian umat.

Penulis
Uwin Mokodongan

susah maupun senang, tetap saudara sepiring sebotol

Bagikan Artikel Ini:
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.