Kak Sahaya, Jadi PNS Syariah Itu Berat, Mending Mundur dan Jadi Mubalig

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM- Jika ada yang bertanya, siapa pejabat di Pemkot Kotamobagu yang kerap menelorkan ide-ide tak hanya jenius dan menghibur melainkan relijius, maka tak salah lagi, dialah kakanda Sahaya Mokoginta sang pimpinan Tim Kura-Kura Ninja.

Priiiiitttt……! Kok Kura-Kura Ninja? Ya, bukankah Kak Sahaya adalah Kasat Pol-PP Kotamobagu? Benar kan? Iya, lantas kenapa? Lha, dialah sang junjungan yang dimaksud.

Lupakah pembaca, 2016 silam Kak Sahaya selaku Kasat Pol-PP membentuk tim andalan di satuannya yang ia beri nama Kura–Kura Ninja?  Salah satu yang sempat tercatat sebagai debut (sebut saja begitu) kesuksesan tim ini (selain razia penginapan dan kos-kosan) adalah berhasil mengungkap teka-teki isi mobil box yang tengah ngantri mengisi BBM di SPBU Matali.  Dan benar, tim yang dapat dikata hidungnya pasti sudah terlatih mengendus aroma miras ini, berhasil membuktikan kalau di dalam mobil box itu berjubel lusinan-lusinan miras.

Tidaklah berlebihan jika operasi itu berjalan bak adegan film-film mafia dan ninja. Dengan gerakan bayangan namun gesit dan terampil (menandakan bahwa tim ini bukan tim daong leong) Tim Kura-Kura Ninja pimpinan Kak Sahaya ini mendekati mobil box yang tengah ngantri di SPBU Matali dan singkat kisah tim ini berhasil mengungkap isi mobil tersebut dipenuhi lusinan miras berlabel Dinkes produk sebuah pabrik minuman beralkohol di Sulut yang punya izin beroperasi. Sopir mobil box yang kaget bukan kepalang oleh gerakan bayangan seperti ninja yang sedang melakukan penyusupan, tak banyak berkutik ketika Tim Kura-Kura Ninja menyita barang dagangan itu lalu dibawa ke kantor Satpol-PP sebagai barang bukti.

Operasi yang berhasil itu mendapat pujian dari kalangan warga Kotamobagu anti miras karena mengedarkan miras di kota yang konon sereliji Kotamobagu, adalah kemaksiatan yang pantas dilawan, dan Tim Kura-Kura Ninja adalah jawaban dalam menegakan amar maruf nahi mungkar. Kotamobagu adalah kota reliji, stop maksiat, stop miras. Begitu kira-kira konsep dan narasi yang harus dibangun Tim Kura-Kura Ninja demi tegaknya hukum syariah di Kotamobagu plus keamanan dan ketertiban warga yang dikenal sangat relijius.

Begitulah kira-kira ingatan kita dilambungkan sebentar ke 4 tahun silam di masa terbentuknya tim Kura-Kura Ninja yang sempat melahirkan respon dari Polres Bolmong melalui Kabag Humas Saiful Tamu ketika itu. Beritanya silakan klik disini.

Lalu bagaimana kelanjutan tim Kura – Kura Ninja yang penuh dedikasi tulus ikhlas menjaga ketentraman warga dan membasmi kemaksiatan bakal merajalela di Kotamobagu?

Mungkin (pendapat penulis) karena ada respon agak ‘nyinyir’ dari Agus Suprijanta, (Wakil ketua DPRD Kotamobagu) ketika itu, termasuk respon dari Saiful Tamu, (Kabag Humas Polres Bolmong) lewat konferensi pers, gebrakan Tim Kura-Kura Ninja yang dipuja-puji warga Kotamobagu sebagai tim penegak tiang agama dan kemaslahatan umat agar selamat di akhirat, sepertinya mengalami masa-masa redup.

Tapi Kak Sahaya adalah tipe pejabat relijius yang pantang berputus asa demi menegakan amar maruf nahi mungkar. Alumni STPDN ini menyadari bahwa isi kepalanya adalah sumur pengetahuan penuh ide brilian dan tak hanya jenius relijius melainkan penuh kejutan yang menghibur. Maka dari itu cepat ia memutar otak sehingga Kura-Kura Ninja yang meredup, berganti tim baru yang ia beri nama Power Rangers. Tugas Power Rangers tak lain untuk meneruskan kerja-kerja tim Kura-Kura Ninja yang pupus.

Sayang seribu sayang, lewat agenda rolling pejabat yang dilakukan Wali Kota Kotamobagu Tatong Bara, Kak Sahaya yang sedang on fire memainkan peran jenius relijiusnya di Satpol-PP, harus hengkang oleh tugas baru sebagai Kepala BKDD. Tentu kepindahan Kak Sahaya ke SKPD yang baru ini sudah sesuai hitungan Baperjakat, the right man on the right place, istilahnya.

Alhasil, tim Power Rangers pengganti Kura-Kura Ninja mati sebelum berkiprah seiring hengkangnya pimpinan ke SKPD yang baru.

Tapi rupanya hitung-hitungan Baperjakat meleset. Termasuk hasil timbang Wali Kota Tatong Bara, yang merasa Kak Sahaya memang lebih cocok bertugas sebagai Kepala Satpol-PP dan Damkar tinimbang Kepala BKDD.

Maka dikembalikanlah Kak Sahaya sebagai Kasat Pol-PP agar konon tugas-tugas mulianya sebagai penegak tiang agama dan keselamatan umat di akhirat, dapat kembali eksis. Dan benar, sekembalinya Kak Sahaya di Satpol-PP, kebijakan baru bergema.

Kak Sahaya dan Doktrin DSAS

Saya tiba-tiba berpikir,  ketika kembali ke Satpol-PP, Kak Sahaya tak mau main-main lagi dalam urusan syariah. Jika para pembaca pernah membaca tulisan DSAS yang belakangan kerap kita temui di kaos yang dikenakan seseorang (kawan kita misalnya), yang ditempel di kaca mobil, bodi motor, pun tagar di linimasa fesbuk, maka DSAS bukanlah akronim dari Dial Service Assistance Switchboard sebuah sistem telekomunikasi yang digunakan dalam jaringan telepon switch publik atau di perusahaan untuk menghubungkan sirkuit telepon dalam membuat pangilan telepon antara pelanggan atau pengguna. Bukan pula istilah yang dipakai dalam dunia kedokteran (Discrete Subaortic Stenosis) dalam mendiagnosa penyakit jantung bawaan yang menyebabkan pembentukan jaringan selaput fibro. Tetapi DSAS dalam konteks ini adalah akronim dari Dunia Sementara Akhirat Selamanya.

Setidaknya menurut saya, inilah doktrin dan prinsip hidup mulia Kak Sahaya yang kini enggan lagi ditutup-tutupi beliau selaku Kasat Pol-PP Kota Kotamobagu. Sebuah prinsip dan idiologi hidup berlandaskan akhirat yang kini dianut dan dipegang teguh oleh Kak Sahaya. Dasarnya adalah sebuah doktrin bahwa dunia hanyalah tipuan belaka, bersifat semu dan sementara, begitupun jabatan, hanya titipan hanya sementara. Pilih jabatan atau selamat di akhirat. Inilah idiologi yang kini diadopsi Kak Sahaya. Tak usah kita mengajari beliau soal loyalitas selaku PNS, soal sumpah dan janji, sebab yang paling penting adalah selamat di akhirat.

Makanya, kak Sahaya bermain frontal, seolah-olah sudah capek menutup-nutupi idiologi dan sikap relijiusnya selama ini. Mau bukti? Demi menjaga nafas dan kemurnian Islam yang hakikiw kepada para anak buanhnya yang muslim,  tanpa kompromi Kak Sahaya membuat kebijakan yang alangkah mulianya; setiap anak buahnya (Satpol PP dan Damkar yang beragama Islam), wajib salat Magrib, Isa, dan Subuh secara berjamaah di Masjid Agung Baitul Makmur, tak terkecuali (konon) bagi mereka yang sedang bertugas/piket maupun yang sedang day off.

Secara agama (Islam) sungguh sebuah kebijakan mulia yang tak main-main bukan? Sudah barang tentu diterapkan Kak Sahaya demi kemaslahatan umat dan pencapaian pahala agar seluruh anak buahnya selamat di akhirat nanti. Bagi yang melanggar, dihitung alpa karena tak diperbolehkan absensi finger print. Itu juga berarti potong gaji 1 persen tiap bolong salat berjamaah. Artinya, 3 kali tak salat berjamaah, itu pertanda sudah dapat potongan 3 persen dan berlaku kelipatan. Masya Allah, betapa mulianya ini kebijakan yang diambil. Pilih mana, dunia atau akhirat? Betul??

Tapi apa yang terjadi pembaca? Kebijakan bernafaskan syariah berhadiah keselamatan akhirat ini mendapat respon berupa penantangan dari puluhan Satpol PP yang tak lain adalah anak buah kak Sahaya sendiri.

Rabu 19 februari 2019, puluhan anak buah Kak Sahaya berdemo di kantor DPRD Kotamobagu. Mereka menuntut Kak Sahaya dicopot dari jabatannya selaku Kasat Pol-PP. Menurut para pendemo, selaku pimpinan Kak Sahaya tak mengerti tupoksi Satpol-PP. Seolah-olah mereka ingin teriak di kuping Kak Sahaya; Satpol-PP itu penegak Perda bos, bukan penegak tiang agama. Dan tuntutan salat berjamaah di masjid itu bukan tupoksi Satpol-PP sebagaimana diatur dalam PP 16 Tahun 2018 tentang Satuan Polisi Pamong Praja.

Tentu para anak buah Kak Sahaya ini bukan tanpa argumen. Mereka mengakui kalau sadar betul bahwa tuntutan salat adalah kewajiban yang melekat kepada setiap pemeluknya sebagaimana diajarkan Nabi, namun demikian menurut mereka, ketika urusan tugas pokok dan fungsi mereka selaku Satpol PP dibenturkan dengan persoalan akidah berupa ketaatan atau kewajiban salat di masjid tertentu, adalah sesuatu yang harus ditinjau kembali.

Kata para pendemo, mereka bukan tidak mau salat berjamaah (Magrib, Isa, Subuh) di Masjid Agung Baitul Makmur, tapi menurut mereka biarlah kewajiban beribadah atau salat itu dilakukan di rumah masing-masing, atau di masjid tempat dimana mereka berdomisili.

Tapi Kak Sahaya yang kemungkinan enggan percaya bahwa para anak buahnya bakalan salat di rumah masing-masing atau di masjid tempat mereka berdomisi, tak mau kompromi. Pokoknya di Masjid Agung Baitul Makmur, atau alpa dan potong gaji! Titik?! Kira-kira begitu.

Pembaca, apakah yang dilakukan Kak Sahaya itu jahat?

Di grup paling aktif di Mongondow, tengoklah komentar dari Abdu Kadir Lakibula yang mengatakan; Ibadah itu kalaw tidak dipaksakan mo sampe kapan .sementara kematian selalu mengintai kita dan bekal seorang muslim adalah amalan .mo Pange sambayang kua bukang mo pangge bakalae semoga Allah berikan hidayah.

Ada pula komentar dari akun bernama Mokoginta Ardi yang menyebut; Berarti ngoni selama ini da sholat2 cuma dlm keadaan terpaksa dang? Miris skali eee.. Da mo ajak sholat kwa kong byk mulu le. Klo ada yg ajak ba maksiat laju, mar klo mo ajak demi torang pe kebaikan diri sandiri msih mba protes.  

Sedangkan dari Sugiono Chikara mengatakan; hati2 saudaraku, jangan sampai kita tergolong orang2 yang dibenci oleh Allah S.W.T. ini sudah diperingatkan oleh Nabi Muhammad S.A.W.

Selanjutnya dari akun bernama Prabu Mokoagow mengatakan; Slalu ba argumentasi ibadah sholat urusan sendiri, nanti ngoni mati kong ba kubur sandiri. Ndk usa mo acara” sholat jenazah lagi.. Aneh…

Bahkan ada yang mengatakan kalau salat itu taka da hubungannya dengan pekerjaan semisal komentar dari akun bernama Iqbal Potabuga Mokodompit; Sholat itu wajib tdak ad hubungan nya dgan pkerjaan, jdi jgn slakan org lain, msi bgus ad yg saling mengingat kan.Mo pangge m ba sholat mo demo, aneh.

Dukungan juga datang dari akun bernama Dullax Tungkagi ; Mengajak dan menganjurkan pada ketaatan adalah usaha yg mulia dihadapan ALLAH…lanjut pak!

Sementara itu, akun Rusli Smith mengatakan ; benar kebaikan, harus di paksakan, tapi jika memang ibadah karena terpaksa,dan takut karena atasan, apa dapat pahala,ibadah tersebut, Allah tak membatasi ibadah apapun, jika buat kebaikan. tapi miris sekali jika suatu kebaikan ada unsur mengejar sesuatu dunia..!! agar di pandang, wah fanatik. slah klo niat seperti itu bung.

Lain pula yang dikatakan akun bernama Suharto Dolot. Menurutnya aneh kalau diajak sembahyang itu direspon dengan berdemo. Simak komentaranya;  Moajak sembahyang kua mo demo ane….

Sedangkan akun yang sepemikiran dengan Kak Sahaya, dapat kita simak dari akun Aliya Benting yang mengatakan; maka bersyukurlah ketika memiliki pemimpin yg peduli akan akhiratmu..

Jadi bagaimana Kak Sahaya? Ikut Pancasila, UUD 45, NKRI, atau menajamkan doktrin akhirat selamanya? Hati-hati lho, nanti ada orang sentimen dan menuduh kakanda sudah terpapar.

Baiklah. Jika benar tujuan keluarnya kebijakan wajib salat berjamaah kepada mantan tim Kura-Kura Ninja dan Power Rangers adalah demi keselamatan mereka di akhirat nanti, maka berhentilah kak menjadi Kasat Pol-PP.  Jadi PNS yang hendak menegakan syariah di negara ‘sekuler’, sepertinya berat untuk kak lakoni. Tapi seperti (mungkin) prinsip kakanda; dunia sementara, akhirat selamanya. Jabatan juga hanyalah sementara, sedangkan keselamatan akhirat adalah utama. Jalan itulah yang mungkin lebih sesuai dengan hati nurani kak Sahaya. Sebab sepertinya memang lebih berat menjadi PNS berlandaskan syariah tinimbang menjadi PNS berlandaskan Pancasila. Maka ketika Kak Sahaya sudah tak tahan lagi, mundur tentu akan lebih mulia bagi kak, lalu bersiap-siaplah menempuh jalan mubaliq yang hakikiw.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol
Bagikan Artikel Ini:
6 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.