Menuduh Prof Yudian Sebagai PKI, Sungguh Bol-Bol Sejarah

Bagikan Artikel Ini:
Prof Yudian Wahyudi
sumber foto : facebook

ARUSUTARA.COM – Di Indonesia, meski sudah jaman smartphone, bukan serta merta para penggunanya senantiasa berpikir smart sebagai respon dalam menanggapi informasi yang seliweran (datangnya juga dari smartphone). Boro-boro berpikir smart, untuk hal sederhana macam tabayyun saja, sulit kok. Dan di negeri ini,  saat diwawancarai media, jangan coba-coba menggunakan bahasa sarat makna apalagi nyerempet ke soal agama, sekalipun konteks yang ente maksudkan berbeda, tetap saja berpotensi kontroversi dan ente dengan mudah bakal dituduh PKI. Bodoh nggak?

Oh,ya. Kita lagi ngomongin Prof. Yudian Wahyudi, Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Itu lho yang baru dilantik Presiden Jokowi kira-kira sepekan lalu sebagai kepala BPIP.

Ada pepatah bilang; tak kenal maka tak sayang. Nah, biar kenal dikit sama prof, ini ada kutipan agak panjang dari Wikipedia. Sengaja ditaruh sini agar caci maki dan sifat underestimate kita kepada yang bersangkutan tidak terlampau membuat kita seperti manusia paling benar yang sombong.

Saat berusia 12 tahun, Prof Yudian dikirim ke Pondok Pesantren Termas, Pacitan. Sebelumnya, dia belajar mengaji di balikpapan, Kalimantan Timur, tetapi belum bisa berbahasa Arab. Ia mulai bisa bahasa Arab sejak berada di Termas. Bapaknya adalah tentara zaman revolusi yang ditugaskan pemerintah di Balikpapan, Kalimantan Timur, tahun 1948, dan dia lahir di sana.

Prof Yudian lulus dari Pondok Pesantren Tremas Pacitan pada tahun 1978 dan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta pada tahun 1979. Artinya, bagi kita yang pada tahun itu belum lahir, Prof Yudian sudah selesai mondok, pintar ngaji dan pintar berbahasa Arab. Selanjutnya ia kuliah di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga pada Fakultas Syariah dan berhasil meraih gelar Bachelor of Art (BA) dan  doktorandus pada 1982 dan 1987, serta BA dari Fakultas Filsafat UGM pada 1986.

Tahun 1988, Menteri Agama Munawir Sjadzali membuat program Pembibitan Calon Dosen IAIN se-Indonesia. Orang yang dipilih syaratnya, IP memenuhi syarat sebagai dosen, bisa bahasa Arab dan Inggris. Yudian tidak bisa berbahasa Inggris waktu itu. Akan tetapi, dia mempunyai 10 terjemahan bahasa Arab ke Indonesia dan mempunyai ijazah BA dari Fakultas Filsafat UGM. Dia lulus dan masuk 20 besar. Kemudian, mengikuti training sembilan bulan dan enam bulan bahasa Inggris. Setelah mengikuti training baru berangkat ke Kanada, 1991. Tahun 1993, dia menyelesaikan MA. Selesai MA, dia kursus bahasa Inggris lagi untuk mempersiapkan diri meraih gelar doktor. Sebab, untuk meraih beasiswa program doktor, sangat berat. Selain bahasa Inggris, dia juga kursus bahasa Perancis. Perhitungan dia benar. Tahun 1994, dia mengikuti tes dan berhasil memenangkan beasiswa untuk doktor.

Mengutip wawancara Harian Republika edisi 6 April 2009, Yudian memecahkan rekor sebagai dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat (AS) pada 2002-2004. Rekor itu diraihnya setelah menyelesaikan pendidikan doktor (PhD) di McGill University, kanada. Ia juga berhasil menjadi profesor dan tergabung dalam American Asosiation of University Professors periode 2005-2006, serta dipercaya mengajar di Comparative Department, Tufst University, AS.

Gimana, sudah cukup? Dari perkenalan di atas, manusia-manusia yang tidak sombong pasti tahu bahwa Prof Yudian bukanlah orang sembarang untuk latar belakang pendidikan termasuk pengetahuan agama. Meski fakta hari ini, kita juga melihat, netizen yang baru kemarin siang membuat akun fesbuk buatan si kafir Marck Zuckerberg, tanpa tedeng aling-aling mengatai prof sebagai PKI.

Mulutmu Harimaumu

Apa yang dialami Prof Yudian tak jauh-jauh dari kata pepatah; mulutmu harimaumu. Di negeri yang ada 600 lebih kombatan ISIS (setelah kalah, jadi pengen balik ke negri yang dikatai negeri thoghut oleh ah sudahlah), hal semacam ini sudah sering menimpa tokoh-tokoh masyhur. Sebut saja pernyataan Ustaz Abdul Somad soal kayu salib yang menimbulkan kontroversi, begitu juga Prof. Quraish Shihab soal jaminan surga untuk Nabi Muhammad, dan teranyar Gus Muwafiq soal rembes.

Secara umum kita melihat kasus-kasus tersebut sebenarnya justru bermula dalam suasana selo atau santai semisal nongkrong tanya jawab soal agama, saat diwawancara, atau saat reriungan dengan jamaah sembari menyeruput kopi. Tapi, demikianlah. Di negeri yang penuh berjubel barisan orang-orang mudah baperan dan bertelinga tipis, membuat omonganmu seperti bumerang atau sebagaimana kata pepatah; mulutmu harimaumu.

Di negeri ini, banyak bercuap-cuap—apalagi soal agama—berpeluang kontroversi dan memicu keributan umat. Ini soal agama, bukan soal pemanasan global, apalagi soal Papua. Makanya orang cepat panas.

Nah, inilah yang terjadi dengan Prof. Yudian Wahyudi. Saat wawancara bersama detik.com, Prof. Yudian mengeluarkan pernyataan yang cepat membuat dia dituduh sebagai PKI, ateis, tak berahlak, memusuhi agama, dan segala bentuk tudingan plus caci beragam.

Jika kita menyimak laporan detik.com,  Prof. Yudian sebenarnya sedang mengkritik kelompok-kelompok yang mereduksi agama untuk kepentingan sendiri kemudian membenturkan dengan Pancasila.

“Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,” kata Prof Yudian kepada detik.

Kalimat itulah yang cepat menjadi bola panas apalagi bagi orang-orang bersumbu pendek. Padahal kalau kita membaca utuh dan menyimak konteks dalam wawancara tersebut, Prof. Yudian sebenarnya membahas soal gerakan – gerakan yang mengatasnamakan agama untuk menyerang negara, menyerang simbol-simbol negara seperti Pancasila sebagai falsafah negara. Kita tahu, pasca Orde Baru Soeharto tumbang, era reformasi yang lahir telah memberi atmosfir baru kepada setiap organisasi (ormas maupun parpol misalnya) untuk boleh tidak menggunakan Pancasila sebagai satu-satunya azas. Bagi saya pribadi, inilah yang sebenarnya menjadi intisari yang dimaksudkan Prof Yudian.

Kalau kita mau menggunakan cakrawala berpikir kita tak sebatas dengkul, kita tentu paham kalau yang dimaksud Prof. Yudian (kaitan dengan pernyataannya di detik.com) adalah paham keagamaan tertentu (yang melawan Pancasila), bukan entitas agama secara umum. Tapi yah mau gimana lagi. Di alam demokrasi, setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapat.

Karena kecaman datang, Prof Yudian akhirnya meluruskan maksud pernyataannya saat wawancara dengan detik.com. Ia menjelaskan bahwa dia tidak bermaksud mempertentangkan Pancasila dengan agama. “Yang saya maksud adalah bahwa Pancasila sebagai konsensus tertingi bangsa Indonesia harus kita jaga sebaik mungkin,” kata Yudian kepada detik.com, Rabu (12/2/2020).

Ia juga menjelaskan, Pancasila sendiri bersifat agamis. Nilai yang terkandung dalam tiap sila dengan mudah dapat ditemukan dalam kitab suci enam agama yang diakui Indonesia. Pancasila dan agama punya hubungan yang baik.

Penegasan Prof Yudian kepada detik.com menjelaskan bahwa yang ia maksudkan musuh Pancasila adalah minoritas yang mengklaim dirinya sebagai mayoritas umat beragama.

“Namun, pada kenyataannya, Pancasila sering dihadap-hadapkan dengan agama oleh orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman sempit dan ekstrem, padahal mereka itu minoritas (yang mengklaim mayoritas),” kata Yudian.

Cap PKI dan Ateis

Yang membuat saya tak habis pikir hingga di era teknologi informasi terus maju seperti sekarang ini, bahkan ketika virus Corona membunuh seribuan orang Tiongkok, adalah masih ada saja netizen yang percaya bahwa PKI itu ada. Bukankah ini sangat ahistoris? Padahal di bangku SD saja kita sudah tahu kalau PKI sudah lama dibasmi, orang-orangnya dibantai, dan segala yang berkaitan dengan PKI adalah terlarang. Jangankan organisasi, simbol-simbolnya saja dikebiri, apalagi ente coba-coba menggunakannya, itu berarti jeruji besi alamat yang cocok buat ente. Tapi kok masih ada yang percaya bahwa PKI itu ada?

Soal ateis juga. Di linimasa, tiap kali ada orang yang tak sepemikiran, atau minimal omongannya mengandung kontroversi, selain dikatai PKI pasti langsung dicap ateis. Oh my god! Emang disitu punya kekuatan supranatural untuk mengetahui siapa saja warga negara yang ateis? PKI juga sudah lama bro dibumi-hanguskan di negeri ini. mau coba-coba mendirikan lagi? Mau melanggar Undang-Undang gitu? Prof Yudian itu bukan PKI bukan ateis, ia Rektor Universitas Islam Negeri, lulusan pesantren, sembahyang dan mengaji, kok dibilang ateis? Tolok ukurnya dimana? Apalagi dibilang mempropagandakan kepentingan PKI. Hellooo…..plisss deh sekali lagi ya sekali lagi, PKI sudah lama diberangus rejim Orba Soeharto. Anggotanya dibantai, yang lolos dari pembantaian dipenjara tanpa pengadilan atau dibuang ke Pulau Buru. PKI sudah lama mampus, organisasinya terlarang. Jangankan organisasi, simbolnya saja dilarang. Siapa berani memakai, sila berurusan dengan polisi. Tapi kok ada yang nekat tanpa malu-malu bilang kalau Prof Yudian adalah PKI? Bodoh nggak??

Pembaca yang budiman, marah atas pernyataan Prof Yudian di media, wajar. Segala sesuatu yang kontroversi di negeri ini memang cepat berisik. Tapi mengatainya sebagai PKI, sungguh ahistoris. Anak milenial Kotamobagu bilang, bol-bol sejarah.


Daftar istilah yang digunakan :

Selo = (Bahasa gaul) yang mengartikan sikap santai, tidak cepat naik pitam
Bol-Bol = (bahasa gaul/prokem) istilah kaum milenial Kotamobagu, bermakna tidak paham atau bodoh
Underestimate = (Englh) bersikap meremehkan
Ahistoris = berlawanan dengan sejarah
contoh: ‘memahami kultur lama tanpa memedulikan aspirasi sejarah yang melahirkannya adalah sikap yang ahistoris (KBBI Online)
_________________________________________________________________
Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.