Saya Dukung Kak Sahaya Bentuk Tim Kura-Kura Ninja Bersyariah

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM –Dunia yang sudah semakin tua, belum lagi virus corona, saya heran kok masih ada saja orang-orang yang membantah plus mengeluh jika disuruh salat. Padahal bukan salat seorang diri, melainkan berjamaah, supaya lebih rame gitu, dan pahalanya banyak.

Tapi kok maunya yang ena ena saja, ambil contoh yang dia sanaee kapala gerakan ongkang-ongkang kaki sambil maen mobalejen, atau rebahan di kursi panjang, ngaplot status nyinyir sembari mengudap tagin loa dabu-dabu kapala roa.

Ya, dunia sudah semakin tua, bencana dimana-mana; banjir, tanah longsor, gempa, tsunami, dan itu tuh virus corona yang dia sanae bilang adalah tentara Allah sebagai azab kepada komunis Tiongkok lantaran menindas masarakat Uyghur.

Lalu kalian, yang di kolom agama KTP elektronik adalah Islam, kenapa mencak-mencak lantaran disuruh mengerjakan salat? Padahal itu demi kebaikan ente-ente sendiri. Tak tahukah kalau banyak orang paling paham agama rame-rame bikin tagar #DSAS?

Tahu itu apa? Nah, itulah kelemahan ente-ente sekalian. Padahal dunia ini hanya sementara sedangkan akhirat selamanya. Seharusnya saat bos mengajak salat berjamaah, ya ikuti bos. Dimana-mana anak buah itu ikut perintah bos, bukan sebaliknya. Masak anak buah ator pa bos.

Ah, mungkin kalian komunis, liberal, ateis, kaper, atau terindikasi sedang terjangkit virus corona. Sebaiknya segera bertobat sebelum kena uperkat malikil maut.

Pembaca, mula-mula demikianlah respon dan cara berpikir saya menanggapi postingan-postingan berita berupa tautan URL yang dibagikan para penunggu linimasa fesbuk berisi soal penentangan, unjuk rasa, yang meminta Kasatpol-PP Kotamobagu Sahaya Mokoginta mundur dari jabatannya lantaran berlaku semena-mena kepada para bawahannya di Satpol-PP dan Pasukan Damkar.

Wajib diakui, kekeliruan saya adalah tidak mengklik atau membaca tautan URL yang dibagikan, kecuali membaca judul belaka dan tanpa tabayyun langsung menjustifikasi para pendemo yang sebenarnya kasihan mereka itu (terutama yang jauh dari Kotamobagu) karena diancam potong gaji dan dilarang absensi finger print sehingga terhitung alpa dan itu berarti pula gaji akan disunat, dipotong-potong, dicincang-cincang.

Namun setelah membaca tautan berita-berita itu, tanya sana-sini, gali info di A dan cari tahu info B, dan sesudah melalui proses tabayyun, akhirnya sekaranglah saatnya saya lega mengutarakan satu kesimpulan dan satu ide dan solusi yang akan saya paparkan singkat saja disini.

Kesimpulan

Telah terjadi offside dalam menelorkan kebijakan di instansi pemerintah. Meski memang kita harus jujur untuk sepakat bahwa tidak semua offside bermakna kurang-ajar, jahat, keluar dari pakem, bermakna negatif  dan dituduh tidak fair play . Sebab siapa tahu saat kubu yang dibela berada di posisi offside, wasit tidak meniup suling lalu gol berhasil dicetak.

Si pencetak gol yang berhasil membobol gawang lawan (meski dalam posisi offside) tentu akan dibela mati-matian selain tetap mendapat riuh tepukan dan puja-puji dari penonton, terutama penonton yang bakal menang taruhan.

Jika dalam posisi offside wasit meniup suling namun bola sudah terlanjur disepak dan bersarang di kubu lawan yang gagal menghadang hingga melahirkan gol di menit-menit terakhir, pasti penonton juga akan teriak; ruci ini wasit!

Lalu siapa sebenarnya yang offside? Tak salah lagi (maaf kanda) dialah Sahaya Mokoginta, Kasatpol-PP Kotamobagu karena kebijakannya memaksa bawahan-bawahannya salat berjamaah di masjid yang dipilih khusus yakni di Masjid Agung Baitul Makmur. Jika kumabal maka gaji akan dipotong, dan dilarang absensi finger print.

Inilah yang memancing barisan anak-buahnya berdemo dan meminta Sahaya dicopot karena dituding tak memahami tupoksi Satpol-PP.

Usul dan Solusi

Jadi begini pembaca, mari tak usah saling menyalahkan, baik kepada kakanda Sahaya maupun anak-buahnya. Yang perlu kita lakukan saat ini (minimal sumbang pikir, solusi, dan tawaran damai) adalah bagaimana agar urusan ini tak menimbulkan dampak yang lebih buruk.

Bagaimana itu?

Tak perlu teori melangit yang susah-susah amat. Cukup tawaran berupa win-win solution agar kedua-belah pihak sama-sama ena’ karena tetap menjaga marwah manusia yang cinta damai dan di sisi lain dapat terus menjalankan tupoksi sebagai abdi negara.

Maka pada kesempatan ini (terima kasih kepada ARUS UTARA yang sudah memberi ruang) saya hendak memberi satu tawaran bagus sekaligus solusi sederhana agar kedua-belah pihak yang so nyandak baku ena’ dapat bergandeng tangan kembali dan terjalin hubungan mesra karena betapa indahnya hidup rukun dan damai tinimbang baku hantam.

Saya menyarankan agar kakanda Sahaya kembali membentuk Tim Kura-Kura Ninja dan Power Rangers sebagaimana yang beliau pernah bentuk dulu.

Akan tetapi, agar tujuan mulia kakanda Sahaya dalam menegakan hukum syariah lingkup kantor Satpol-PP dan Damkar, maka pembentukan atau pengaktifan kembali tim Kura-Kura Ninja adalah solusi. Namun jika dahulu kala, tim Kura-Kura Ninja dan semua anggota Satpol-PP belum diwajibkan salat, maka saat ini, agar apa yang dicita-citakan kakanda Sahaya tercapai (mensyaratkan anak buahnya salat berjamaah) maka bentuklah kembali tim Kura – Kura Ninja yang dulu pernah ada, menjadi Kura-Kura Ninja Bersyariah.

Kura-Kura Ninja Bersyariah ini adalah tuntutan zaman. Seperti yang sudah saya katakan tadi di awal; dunia ini sudah tua, sudah mau kiamat, pemanasan global, ilegal logging, asap pabrik, efek rumah kaca, sampah plastik yang terus merajalela, maka sebelum bumi ini benar-benar kiamat, kita yang menyadari bahwa dunia ini fana dan sementara, adalah suatu keharusan bagi kita sekalian umat untuk berlomba-lomba mencari amal pahala sebagai bekal menuju akhirat nanti. Emang enak ke akhirat nanti cumak bawa paket data sebagai bekal online?

Lantas bagaimana konsep atau model Kura-Kura Ninja Bersyariah?

Ini adalah tim yang jika dulunya belum Islami, sekarang wajib Islami. Ini tim kan sudah pernah ada, dibentuk oleh kakanda Sahaya sendiri selaku Kasatpol-PP. Nah, sekarang bentuk atau aktifkan lagi, tapi berlandaskan syariah. Ini sebenarnya mudah dijalankan. Saya pribadi mendukung konsep ini, dan kakanda Sahaya selaku Kasat memang layak kitorang dukung, bukan malah dibenci.

Berikut konsep tim ini :

1. Kura-Kura Ninja Bersyariah itu beranggotakan Satpol-PP yang sudah memiliki SK dan gaji serta tunjangan yang sesuai. Jika itu sudah fix, maka terapkan syarat utama takni; semua anggota tim harus salat 5 waktu disamping menambahnya dengan amalan-amalan melalui acara zikir, pengajian, dakwah, dan tak lupa pula salat malam.

2. Jika sedang dalam tugas, razia misalnya, lalu terdengar suara azan, wajib menghentikan tugas-tugas yang sdang dijalankan dan berbondong-bondonglah ke masjid, terserah masjid mana asalkan itu masjid. Soal absensinya, biarlah hanya anggota tim dan Tuhan yang tahu. Jadi kunci utamanya adalah harus saling percaya. Sebagai jaminan, anggota tim wajib di bai’at lebih dulu untuk tidak berdusta atau jadi pengkhianat.

3. Saat merazia kos-kosan, jika ada yang kedapatan sedang berpesta miras atau komix, jangan main kasar, tetapi beri mereka siraman rohani, sudah itu ajak salat bareng (berjamaah maksudnya). Dan sebaiknya barang bukti berupa komix tak usah dimusnahkan sebab masih banyak yang membutuhkan, contohnya masyarakat yang sakit batuk apalagi tak memiliki BPJS sehingga obat batuk gratis yang diberikan kepada mereka akan bernilai pahala bergunung-gunung.

4. Soal uniform, sebaiknya harus berpenampilan syar’i juga. Bagi Satpol-PP yang perempuan, wajib mengenakan hijab, dan yang laki-laki sebaiknya memakai gamis, piara jenggot karena itu adalah sunnah, memakai peci atau kopiah, dan yang paling penting celana cingkrang. Sebab celana cingkrang selain (konon) disunahkan, justru membuat gerakan anggota tim Kura-Kura Ninja leboh leluasa, gesit, dan yang paling utama lagi, nyaman dipakai salat. Bagi yang suka menyinyiri orang-orang bercelana cingkrang, silakan ngoni pake kaki kuda. Nanti di akhirat kalian tahu rasa.

Pembaca, dengan diaktifkannya lagi Kura-Kura Ninja dengan tambahan konsep baru, maka kemaksiatan di Kotamobagu pelan-pelan dapat diberantas secara damai dan bersyariah. Jangan hanya Bank yang bersyariah. Tim atau regu di Satpol-PP juga pantas kok.

Maka dari itu, sebagai umat yang meyakini bahwa dunia hanya sementara dan akhirat selamanya, saya dukung Pak Kasat Sahaya Mokoginta, membentuk tim Kura-Kura Ninja Bersyariah yang siap membasmi kemaksiatan di Kotamobagu dan siap meninggalkan tugas saat kumandang azan terdengar.

Apakah saya salah? Belum tentu, sebab di negera demokrasi seperti Indonesia, setiap warga negara bebas mengeluarkan pendapat dan berhak menjalankan ajaran agamanya masing-masing asal tidak menganggu ketentraman dan kepercayaan pemeluk agama lain dalam beribadat menurut kepercayaannya. Siapa yang menganggu, maka dialah musuh Pancasila. Wassalam.

Penulis : Donni Bengga

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.