Komunitas Punk,N,Skinhead dan FNB Kotamobagu Bagikan Makanan Gratis

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Rabu 13 Mei 2020, Komunitas Punk and Skinhead Kotamobagu bersama sejumlah kalangan dari berbagai latar belakang pemikiran dan pekerjaan, termasuk keterlibatan aktivis FNB (Food Not Bombs) dan sejumlah pemuda yang hadir mewakili indvidu masing-masing, membagi-bagikan makanan gratis kepada warga yang melintas di Jalan Soeprapto Gogagoman dan simpang empat Masjid Agung Baitul Hikmah  Kotamobagu.

Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!
Karena ada cukup makanan untuk semua orang di mana-mana!
Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong!
Karena disaat kita lapar atau kedinginan kita punya hak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara meminta, mengamen, atau menempati bangunan-bangunan kosong!
Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi!
Karena makanan tumbuh pada tanaman!
Karena kita butuh lingkungan bukan kendali!
Karena kita butuh rumah bukan penjara!
Karena kita butuh makanan bukan bom!

Demikian Ai Sribakti Ering dan kawan-kawan Punk, Skinhead SHARP (Skinhead Anti Racial Prejudice), dan FNB Kotamobagu, mengemukakan pemikirannya, mengutip apa yang menjadi dasar pemikiran para aktivis FNB di dunia.

Pantauan awak media melaporkan, sumber makanan diperoleh kelompok ini melalui semangat kolektifitas yang telah terbangun lama di komunitas. Selain mengumpulkannya dari komunitas, uluran tangan dari jaringan persekawanan dan sumbangan secara individual turut berkontribusi dalam pelaksanaan bagi-bagi makanan gratis ini.

“Solidaritas di komunitas, persekawanan, dan kontribusi dari masing-masing individu yang memiliki semangat yang sama, adalah sumber daya yang mendukung kegiatan ini,” demikian disampaikan salah satu aktivis FNB Kotamobagu dalam kegiatan tersebut.


Lebih detil ditambahkan, sumber makanan yang dikumpulkan komunitas ini, ada yang datang dari pengamen jalanan, emak-emak yang jualan di pasar, tukang tampal ban, seniman tato, barista, dan seniman mural. 

“Selain itu, beberapa kawan dari beragam latar belakang pekerjaan, turut memberikan kontribusinya termasuk mereka yang bekerja sebagai petugas kesehatan dan pegawai swasta,” kata Aswar Mokoagow di sela-sela kegiatan tersebut.

Beberapa individu yang meminta namanya tak perlu dipublish juga menyampaikan, semangat bagi-bagi makanan gratis ini sebenarnya merupakan bentuk kampanye anti kemiskinan, anti kekerasan, dan tentu saja anti perang. Mereka memandang, perang selain merusak peradaban, justru melahirkan kemiskinan dan porak-porandanya tatanan kehidupan sebuah negeri terutama sumber makanan itu sendiri. Akibat dari itu, orang menjadi kelaparan karena sumber makanan termasuk pendistribusiannya terganggu. Dan yang lebih mengerikan dari itu semua adalah sumber makanan justru dikuasai oleh segelintir orang atau kelompok saja melalui korporasi yang dalam pendistribusiannya tidak gratis alias setiap orang harus membayarnya. Padahal makanan adalah sumber kehidupan bersama, bukan sumber keuntungan semata. Makanan adalah nutrisi, kebutuhan manusia bersama, bukan melulu dinilai dari segi ekonomi semata.  

Kami, kata orang-orang yang terlibat dalam kegiatan FNB, untuk kesekian kalinya membuktikan bahwa, ada makanan yang gratis, ada makanan yang perlu dibag-bagi kepada siapa saja yang membutuhkannya. Hentikan perang, hentikan kekerasan, hentikan hasrat menguasai sumber makanan hanya untuk keuntungan kelompok semata.

Pembagian makanan gratis yang dilakukan kelompok ini, bertepatan pula dengan bulan puasa. Olehnya mereka membagikannya beberapa saat menjelang waktu berbuka puasa. Nampak sopir-sopir bentor dan warga yang melintas di simpang empat Masjid Agung Baitul Makmur dan Universitas Dumoga Kotamobagu, antusias dan penuh rasa terima kasih menerima pemberian makanan secara cuma-cuma itu. 

“Sekalian juga makanan yang kami bagikan ini dapat juga dijadikan sebagai menu buka puasa,” kata Irgi dan Agil, Punkers dan Seniman Tato dari Gogagoman. 

Untuk diketahui, kegiatan FNB pertama di Kotamobagu, dilangsungkan komunitas yang sama bertepatan dengan Hari Buruh pada 1 Mei 2018 silam di Taman Kota Kotamobagu, namun mengalami kendala sehingga kegiatan tersebut dipindah ke Ilongkow di Starlight Cafe meski berjalan kurang maksimal. Di tahun 2019 juga demikian, mengalami kendala termasuk adanya pembubaran acara yang dilakukan aparat Satpol-PP. Akhirnya, kegiatan FNB tahun ini berjalan seseuai yang direncanakan dan mendapat dukungan dari banyak kalangan, termasuk Mama Irgi yang meminjamkan rumah dan dapurnya kepada komunitas menyiapkan semua sumber makanan hasil kolektifitas untuk kemudian diolah dan dibagi-bagi kepada warga sore tadi.

Para penggagas juga menyampaikan, kegiatan FNB ini masih akan berjalan di hari-hari mendatang. Dukungan dari masing-masing individu, komunitas, jaringan, dan kalangan yang sepemikiran adalah kunci dimana kegiatan akan terus mendapat tempat. 

Anggota komunitas yang sama dari Amurang, Manado, dan Kota Bitung, turut serta memberikan dukungannya dimana secara individual maupun mewakili komunitas, mereka datang dan turut terlibat bersama. (Marh/Um/Red)  

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.