Mengintip Tim Isolasi Covid-19 RSUD Datoe Binangkang : Pernah Dibentak Pasien, Dibully di Medsos,Hingga Tak Bisa Lebaran

Bagikan Artikel Ini:

 

ARUSUTARA.COM, BOLMONGBarangkali tidak keliru jika kita mengatakan, garda terdepan dalam menangani wabah Covid-19 berada di tangan para tenaga medis yang bertugas menangani pasien di ruang isolasi Covid-19. Melalui tangan mereka, pasien berstatus orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), hingga pasien positif Covid-19, ditangani sebagaimana prosedur yang ditetapkan dalam penanganan wabah ini. Tangan-tangan Tuhan yang harus rela menutup banyak kesempatan berkumpul dengan keluarga di rumah demi berjibaku dengan tugas memutus rantai penyebaran virus corona.

Arman Taufik Sani,Amd.Kep, tidak pernah menyangka sejak dirinya menjadi tenaga honorer bidang kesehatan pada tahun 2007, kemudian terangkat menjadi PNS/ASN tahun 2010 dan mengabdi di RSUD Datoe Binangkang mulai tahun 2013 hingga saat ini, bakal mengemban tugas seperti yang saat ini ia jalani yakni sebagai anggota tim isolasi pasien covid-19 di RSUD Datoe Binangkang Bolaang Mongondow.

Arman menerima tugas ini setelah pihak rumah sakit melakukan pembentukan tim dan sarana yang dikhususkan untuk pasien covid-19. Namanya terpilih dan tercantum dalam SK yang diterbitkan kepala RSUD Datoe Binangkang pada tanggal 28 Maret 2020.

Dituturkannya, ada 24 anggota tim isolasi covid-19 yang ditempatkan di ruang isolasi RSUD Datoe Binangkang. Dua belas diantaranya adalah tenaga medis perempuan.

Apakah ia dan kawan-kawannya sesama tim medis di ruang isolasi tidak menolak ketika ditugaskan? Atau tidak takut bakal tertular virus?

Kepada awak media ARUS UTARA, Sabtu 23 Mei 2020, Arman mengatakan, sudah menjadi tugas  mereka selaku perawat bekerja untuk kesembuhan pasien. Soal rasa takut, ia mengatakan, siapa sih yang tidak takut tertular. Justru kekhawatiran itu begitu besar sebab mereka sebenarnya berada di posisi paling rentan terpapar karena berhadap-hadapan langsung baik dengan orang atau pasien bersatatus ODP, PDP, maupun yang positif.

“Tetapi rasa takut itu memang harus dihindari karena bagaimanapun juga ini adalah bagian dari tugas profesi sekaligus pengabdian kami selaku tenaga kesehatan,” katanya.

Kekhawatiran Arman bukan tanpa alasan, ini adalah virus yang belum ada obatnya. Terlebih lagi sudah ada puluhan nyawa tenaga kesehatan negeri ini termasuk para dokter ahli yang ikut terpapar dan meninggal dunia karena covid-19.

Arman dan salah satu kawan sesama tim isolasi covid-19 sedang mengambil waktu istirahat sebentar (doc : Arman)

Setidaknya, kata dia, sebagai bentuk ikhtiar seperti ketersediaan APD, kekompakan tim, terutama pula kedisiplinan, keihklasan dan tak lupa pula doa, rasa khawatir bakal terpapar virus dapat diusir. “Kami saling menguatkan, berdisiplin, dan saling memberi support bahwa apa yang kami lakukan ini adalah bagian dari tugas kemanusiaan,” katanya, Sabtu 23 Mei 2020.

Arman yang telah memiliki istri dan 1 buah hati ini menambahkan, dukungan keluarga dan kawan-kawan terdekat menjadi penyemangat baginya. “Selain mendoakan, istri saya juga selalu berpesan agar saya senantiasa disiplin dan menjalankan tugas profesi ini sebaik mungkin. Ia juga menyemangati saya agar tidak pantang menyerah dalam menjalankan tugas,” kata Arman.

Rekan sesama tim yang perempuan dan sudah menikah juga demikian, kata Arman. Mereka mendapat dukungan moral dari masing-masing suami agar pantang menyerah menjalani tugas.

Saat ditanyai awak media untuk berbagi sedikit pengalaman selama di ruang isolasi, Arman mengatakan “Umumnya tingkat stres pasien itu tinggi, sehingga mereka kerap membentak atau memarahi kami,” kata Arman.

Saat ini, lanjut dia, tim isolasi sementara merawat pasien yang positif covid-19. Secara fisik pasien ini nampak sehat-sehat saja tetapi tingkat stresnya yang tinggi. Arman sempat menceritakan, ada juga pasien yang melawan serta membentak teman-teman perawat di ruang isolasi, tapi para perawat memilih bersabar dan tidak meladeni pasien, malah terus menyemangati. Biasanya, kata Arman, pasien marah-marah karena mereka menolak di isolasi di rumah sakit.

“Namun alhamdulilah untuk sekarang pasien bisa menerima keberadaanya di ruang isolasi dan terus mengikuti prosedur penyembuhan,” terangnya.

Meski bertugas sebagai garda terdepan penanggulangan covid-19, tim isolasi ini bukan berarti lolos dari bully dan cercaan para netizen di media sosial, seperti yang terjadi belum lama ini hingga berbuntut pada laporan ke polisi oleh para tenaga kesehatan. (Beritanya dapat disimak disini : Unggah Tulisan Pasien ‘Corona’ dan Makam Puji, Pemilik Akun Denny Mokodompit SE, Dilapor)

Arman sendiri, meski sempat prihatin dengan cercaan tersebut, ia mengaku lebih memilih konsen di tugas dan menyerahkan kasus perisakan tersebut ke pihak kepolisian, apalagi kasus tersebut sudah dilaporkan secara resmi oleh kawan-kawan seprofesinya.

Selanjutnya kepada masyarakat, Arman dan tim medis yang bahkan saat ini menjalani masa karantina selama 14 hari di rumah sakit dan rusun Pemkab Bolmong sehubungan dengan adanya pasien positif covid-19 di ruang isolasi, berpesan kepada masyarakat agar mengikuti anjuran pemerintah demi memutus penyebaran covid-19.

“Tolong masyarakat dengar himbauan pemerintah untuk senantiasa menjaga jarak, menggunakan masker wajah, cuci tangan pakai sabun, dan jika ada urusan yang tidak mendesak atau tidak begitu penting, bertahanlah untuk bisa diam dulu di rumah. Sayangi dan lindungi diri Anda dan keluarga,” pesannya.

Terinformasi juga saat ini di ruang isolasi tinggal ada 1 pasien berstatus positif covid-19. Sedangkan 12 pasien sebelumnya berkategori PDP sudah diizinkan kembali ke rumah setelah hasil Swab menunjukan negatif. Namun ada 1 pasien kategori PDP yang karena meninggal di ruang isolasi  oleh ketentuan yang berlaku akhirnya untuk pemakamannya menggunakan protap covid-19.

Terakhir, Arman dan kawan-kawan tim isolasi covid-19 di RSUD Datoe Binangkang menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Firti, Minal Aidin Walfaidin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Lebaran kali ini mereka belum bisa berkumpul bersama keluarga, sanak saudara, kawan dan kerabat, karena harus bertugas di ruang isolasi. (red/um)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.