Video Goroho dan Perlawanan Feminisme Radikal (The Untold Story)

Bagikan Artikel Ini:
(foto : reparasi internet)

KALAU kita mau jujur, kita mungkin akan sama-sama sepakat mengakui bahwa kita adalah bangsa yang serba lambat dalam berbagai urusan. Misalnya, lambat merespon tagihan utang, lambat merealisasikan janji-janji kampanye, lambat dalam pengurusan dokumen ini-itu, lambat jemputin pacar di pasar padahal sudah bilang otewe, lambat ke tempat kerja, lambat membentuk gerakan solidaritas untuk membantu petani yang tanahnya digusur, lambat gerak dan penuh alasan ketika disuruh mamak ke warung.  Pendek kata, kitorang memang serba lambat dalam banyak urusan termasuk dalam merespon ajakan kerja bakti.

Tapi jangan dulu berkecil hati menyadari fakta-fakta di atas. Sebab kita masih punya nilai di atas rata-rata untuk satu urusan. Ya. Kita adalah sang juara dalam merespon hal-hal berbau selangkangan lengkap dengan hastag yang menyentil peristiwa itu tinimbang membuat tagar #savepetanikelelondey. Betapa kita sigap, kilat, dan ekspres. Bahkan tak sedikit diantara kita yang berusaha menjadi yang paling di depan sebagai pemasok kabar di jagad maya seolah hendak menyaingi kecepatan Valentine Rossi dan Lambe Turah.

Oke, kita sekarang lagi ngomongin video pisang goroho yang viral kemarin itu ya bro and sistah. Tapi akan disajikan lewat sudut pandang suka-suka. Ya, sebut saja begitu. Semacam ‘the untold story’ yang luput dari pergunjingan di medsos.

Jadi begini pembaca,  segala sesuatu jangan hanya dipandang dari satu sisi belaka. Dan berilah sedikit keyakinan dalam diri kita bahwa segala sesuatu yang dibuat tak mungkin tanpa motif pun tujuan kenapa sesuatu itu dibuat. Sama halnya dengan video goroho yang di hari kedua ini masih jadi bahan gunjing, bahan sindir, bahan baku angka teru dan bedebahnya lagi jadi bahan lucu-lucuan.

Sadarilah wahai pembaca, adegan seprovokatif itu (video goroho) justru membuat Anda akan lucu dan aneh sendiri ketika itu Anda menjadikannya sebagai bahan buat lucu-lucuan. Sadarilah bahwa video goroho yang viral itu punya motif tertentu sekaligus mengandung pesan yang hendak disampaikan ke publik. Bagi saya pribadi, apa yang dilakukan Dara Melati (sebut saja namanya begitu) atau siapapun yang merekam video itu, adalah bentuk pemberontakan dan perlawanan terhadap kondisi dan bangunan sosial di masyarakat kita yang sedang berjuang lepas dari kultur seksisme dan dominasi budaya patriarki.

Bangunan sosial inilah yang dinilai para aktivis feminisme radikal harus dihancurkan agar perempuan tak dipandang sebagai objek seksual semata, apalagi dipandang sebelah mata, diperlakukan semena-mena, dan kerap menjadi korban atas kekuasan satu gender yang mendominasi.

Jika saudara – saudari  atau sebut saja kita mengatakan, apa yang dilakukan Dara Melati adalah akibat dari salah bergaul, salah asuh, tidak selektif memilih teman, keseringan main tik-tok dan nonton bokep, apalagi dituduh karena kegatelan, maka di mata para aktivis feminisme radikal, semua tuduhan itu keliru belaka. Sebab melalui video goroho yang viral itu, Dara Melati hendak menyampaikan pesannya dengan cara tak biasa.

Tapi tidakkah kita ketahui bahwa Dara Melati ingin menyampaikan pesan kepada kita bahwa ada yang tak sepadan di lingkungan kita yang hendak digugah lewat aksi radikal.

Kepada kaum laki-laki yang menyayangkan lewat status dan komen – komen di Facebook bahwa betapa ruginya keperawanan diberikan kepada pisang goroho, perlu diketahui bahwa cara berpikir inilah yang sedang diobrak-abrik Dara Melati lewat aksinya.

Artinya, Dara Melati hendak membongkar mindset berpikir kita yang kerap menilai moral seorang perempuan selalu diukur dengan setetes darah keperawanan. Dara Melati ingin mengobrak-abrik cara berpikir orang-orang yang kerap menilai; perempuan itu jika perawan, maka ia berahlak baik, jika tidak maka ahlaknya rusak, boleh diperlakukan seenak-perut atau diibaratkan seperti ampas.

Selanjutnya, soal bermasturbasi dengan pisang goroho, apa yang salah dengan itu? Bermasturbasi dengan bantuan pisang goroho bukan berarti si Dara Melati tak mampu membeli vibrator, sex toy, atau penis palsu yang betapa mudah dipesan via online. Tahukah pembaca, justru dengan bermasturbasi memakai pisang goroho, Dara Melati hendak menunjukan eksistensinya sebagai seorang perempuan belia yang menolak dominasi kaum lelaki dalam urusan seksual. Terlebih lagi kepada kaum adam egois yang mau enak sendiri saja dalam urusan seksual. Apa yang ada dalam video goroho adalah podium bagi Dara Melati. Ia hendak menunjukan kepada dunia sebuah atraksi perlawanan paling radikal terhadap produsen sex toy. Seolah Dara Melati hendak menganjurkan kepada kaum perempuan negeri ini untuk menolak sex toy pabrikan dan back to nature; menggunakan goroho misalnya. Karena dalam pandangan Dara Melati (yang mungkin tanpa sadar adalah pendukung gerakan feminisme) menggunakan sex toy buatan pabrik yang memberi upah murah pada buruhnya, hanya memperpanjang praktek perbudakan terhadap buruh dan menguntungkan kaum pemodal.

Lalu tak sedikit kaum lelaki merasa seperti sia-sia sebagai seorang (maaf) pejantan saat menonton video perlawanan itu. Nah, itulah salah satu poin inti yang terkandung dalam video goroho. Kaum lelaki memang diprovokasi supaya sadar dan mau tak mau harus merekonstruksi kembali nalar seksualnya yang masih senantiasa meyakini bahwa hanya lelakilah yang bisa menyenangkan kaum perempuan secara seksuil. Atau hanya penislah yang bisa membuat perempuan orgasme. Tidak men, Dara Melati telah mematahkan pendapat itu men! No penis no cry, without penis women still enjoy, bebas dan kuasa atas tubuh dan kelaminnya sendiri. Dalam video itu, Dara Melati seperti sedang menertawakan kita sembari mengatakan; penis kalian yang egois dan kerap kelelahan itu tak lebih berguna dibanding goroho.

Tapi benarkah Dara Melati adalah agen global gerakan feminisme radikal ?

Sadarilah bahwa selalu ada sesuatu di balik sesuatu. Kadang sesuatu di balik sesuatu itu tidak kita ketahui sama sekali. Kita selalu cepat membawa pandangan dan penilaian kita di atas riak air, dan tidak mau tahu gerangan apa di bawahnya. Sampai kita tak menyadari riak air justru membawa kita menuju jurang terdalam, hanyut dan binasa?

Pembaca, jika semua asumsi terkait perlawanan kaum feminisme sebagaimana yang dijelaskan di atas adalah omong kosong belaka, maka apakah dugaan adanya tindakan asusila terhadap Dara Melati itu omong kosong juga?

Oke, tak usah jawab itu. Sekarang mari berasumsi lewat skenario berikut ini; Dara Melati diancam atau dipaksa seseorang untuk melakukan adegan sebagaimana dalam video yang sudah viral itu. Atau Dara Melati berada dalam suatu kondisi yang membuatnya dengan sangat terpaksa membuat video itu oleh karena adanya sesuatu yang bisa mengarah ke persoalan hukum. Atau Dara Melati adalah korban para predator anak yang memesan adanya video itu. Atau sebuah kesialan yang sudah kerap terjadi seperti begini; Dara Melati diminta sang pacar untuk mendokumentasikan apa yang sudah viral itu, dan oleh karena suatu keadaan tertentu yang tidak kita ketahui pasti, viralah video itu.

Ada banyak asumsi, dan jika semuanya dianggap omong kosong sebab harus meyakini satu asumsi bahwa tindakan itu diakibatkan oleh kegatalan atau kemaniakan seorang perempuan belia, maka selamat datang di dunia digital yang tanpa nurani, tanpa norma, tanpa apa-apa lagi kecuali viralkan, cemoh, caci, angka teru! Toh, hari ini giliran Dara Melati, entah esok giliran siapa.

Oh ya hampir lupa. Lantas apakah benar Dira Melati adalah aktivis feminisme radikal atau sebutlah ada embrio pemberontakan dalam dirinya yang tanpa disadari memiliki kesamaan gerak perjuangan dan idiologi yang sealiran dengan kaum feminisme??

Jawaban saya adalah, lebih dari itu! Ah, serius amat. Ya, asumsi suka-suka saya begitu.

Akhirnya, sebagai sumur inspirasi bersama, saya akhiri tulisan saya kali ini dengan mempersembahkan sebuah kisah berikut ini :

Seorang perempuan perawan menelfon kekasihnya. Saat telfon diangkat seperti biasa diawali tegur sapa basa-basi  yang tentu dibarengi kemesraan, sampai pada akhirnya masuk ke inti cerita.

Lelaki di seberang telfon lantas bertanya kepada kekasihnya, ada apa gerangan menelfon tengah malam buta. Kekasihnya menjawab, ada sesuatu yang hendak ia sampaikan. Jawaban itu terdengar begitu intim dan sensual. Lelaki lantas bertanya, sedang apa sekarang? Dan jawaban kekasihnya begitu mengguncang; saya sedang dalam keadaan telanjang saat ini, sendiri di ranjang sembari membayangkan kau sedang menindih tubuhku.

Jawaban itu tentu mengundang libido dan rasa kaget dari si lelaki yang lantas berkata akan menuju rumah kekasihnya itu. Tapi kekasihnya menolak untuk dikunjungi saat-saat itu. Tak usah repot-repot datang katanya, sebab ia sedang menikmati suasana intim itu via sambungan telfon.

Si lelaki lantas kembali bertanya ; terus kamu sebenarnya sedang apa sekarang?

Sang perempuan menjawab; saya sedang memasukan sebatang lilin ke vaginaku, maaf honey sengaja saya lakukan agar keperawananku bukan direngut olehmu melainkan oleh benda mati ini. Aku tidak mau kau mencintaiku hanya karena aku masih perawan. Aku juga tidak mau kau mencintaiku karena kaulah yang memerawaniku. Aku tidak mau ada laki-laki yang nantinya akan berkuasa atas diriku hanya karena penisnya-lah yang pertama kali memasuki vaginaku. Aku tidak mau cinta tumbuh karena keperawanan, aku tidak mau cinta tumbuh karena kau adalah laki-laki pertama yang menyentuhku. Jadi maafkan aku kekasihku, biarlah keperawananku direngut sebatang lilin ini. Jika kau marah, marahlah pada dirimu sendiri kenapa masih mencintaiku ketika keperawananku justru direngut oleh sebatang lilin ini. Sekarang, setelah keperawananku ini kuberikan kepada sebatang lilin, apakah kau masih mencintaiku lagi?

Lelaki itu gagap menjawab. Ia menceritakan kepada saya, dan saya menceritakan kembali kepada Anda disini.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.