Bagaimana Suatu Hal Menjadi Bias SARA dan Penyakit Bernama “Kebencian”

Bagikan Artikel Ini:

Bagaimana Suatu Hal Menjadi Bias SARA? Ilustrasinya kira-kira begini: Ada sebuah barang. Misalnya sebuah cangkir. Ia lagi digunakan di sebuah pesta yang dihadiri macam-macam orang. Cangkir itu jatuh ke lantai, pecah, lalu diinjak seorang. Kaki orang itu terluka, berdarah. Pemilik cangkir itu seorang beragama A, dari ras B dan dari suku C. Orang yang terluka kakinya beragama D, dari ras E dan dari suku F.

KETIKA orang itu berteriak kesakitan, datanglah teman-temannya dari komunitas yang sama: beragama D, ras E dan suku F. Teman-temannya lalu membantu dia. Sambil itu bertanya mengapa dia terluka. Jawabnya, ia telah menginjak pecahan cangkir. Lalu seseorang atau beberapa orang temannya mencari tahu tempat kejadian, cangkir penyebab teman mereka terluka dan hingga mengapa sampai di pesta itu ada pecahan cangkir yang telah melukai orang. Mereka juga mencari tahu siapa pemilik cangkir.

Hasil penyelidikan mereka adalah: cangkir itu milik seorang beragama A, dari ras B dan dari suku C. Berarti pemilik cangkir berbeda secara agama, ras dan suku mereka. Ditemukan juga, bahwa gelas itu tidak jatuh begitu saja. Ada orang yang telah menjatuhkannya. Orang yang menjatuhkan gelas itu juga berbeda agama, suku dan ras dengan mereka.

Lalu mereka menjadi marah, mencari cangkir-cangkir lain sejenis dan menjatuhkannya ke lantai hingga pecah. Simbol-simbol identitas agama juga disertakan dalam aksi vandalisme itu.

Maka, publik pesta heboh. Pemilik cangkir kemudian menjadi tahu cangkirnya jatuh dan pecah. Dia lalu cerita kisah cangkirnya itu. Itu hadiah dari komunitas agamanya ketika ada acara keagamaan. Bagi dia cangkir itu memiliki nilai keagamaan. Itu nanti dia ungkap setelah marah dan menyesal cangkirnya pecah. Apalagi dia mendapat informasi, bahwa teman-teman dari orang yang terluka itu marah dan menuduh gelasnya sebagai penyebab terlukanya teman mereka.

Kini ada dua kelompok berbeda agama, suku dan ras berhadap-hadapan. Cangkir itu lalu bernilai SARA. Kelompok yang satu mengatakan, bahwa kelompok yang lain telah merusak barang sakral mereka. Kelompok yang lain menuding bahwa kejadian terlukanya teman mereka adalah sebuah upaya sengaja karena memusuhi mereka.

Pesta yang sebelumnya ramai, orang-orang saking bertegur sapa, makan dan minum gembira, kini gaduh. Dua kelompok berdasarkan identitas masing2 berhadap-hadapan. Orang-orang lain tambah memanas-manasi. Status di medsos bertebaran di mana-mana. Itu menbuat massa dari luar pesta datang.

Maka terjadilah pertikaian bernuansa SARA. Pemicunya adalah pecahan cangkir yang TIDAK beridentitas SARA yang telah melukai seseorang yang datang ke pesta itu atas undangan bukan karena identitasnya tapi karena kekerabatan.

Penyakit Bernama “Kebencian”

Jika pada hari ini kita menyaksikan atau mengalami ada satu kelompok menyatakan sikap terhadap hal yang belum jelas sekalipun dengan mengikutsertakan emosi dan simbol-simbol identitas yang membuat dia merasa kuat bersama kelompok yang dianggapnya sekaum, lalu kelompok yang lain meresponnya secara sama, itu bukan terjadi secara mendadak. Pada dasarnya, hukum sebab-akibat masih berlaku di sini.

Sebabnya, masih kuat tertanam dalam masyarakat kita, bahwa masing-masing kelompok—karena nyata berbeda identitas—satu terhadap yang lain adalah ancaman. Maka, di balik relasi-relasi sosial yang di permukaan tampak “baik-baik saja” sebenarnya mengendap “rasa permusuhan” satu dengan yang lainnya.

Perbedaan identitas agama, etnis dan ras secara sosiologis diterima sebagai keniscayaan. Tidak ada yang soal di situ. Tapi sejarah yang dipenuhi oleh persaingan, paham dan dokrin serta ideologi yang selalu mesti menubuh pada kekuatan massa telah membuat “identitas” bertendensi politik dan ekonomis. “Identitas” lalu menjadi dekat dengan perebutan ruang kuasa.

Sebetulnya dalam masyarakat kita, ini bersifat patologis. Penyakit itu adalah “kebencian” yang mengendap dalam masyarakat majemuk yang sakit karena tidak memiliki imunitas melawan paham dan doktrin-dokrin palsu hasil rekayasa tafsir. Sesekali penyakit yang mudah menular ini menjadi epidemi atau pandemi kekerasan wacana atau fisik. Pada tingkat ini, “kebencian” sebagai penyakit sosial telah menyerang sistem politik dan ekonomi.

Jadilah semua sistem dalam masyarakat itu “sakit”. Wacana dan struktur bangunan sosial, politik dan ekonomi menjadi ruang pertarungan kuasa. Pada semua yang sebetulnya sekuler itu, oleh penyakit “kebencian” bias identitas itu, ia lalu menjadi “sakral”, dengan begitu ia kemudian dapat dengan mudah menjadi “berhala”.

Pada tingkat stadium yang mengkhawatirkan, penyakit sosial ini dapat membuat massa menjadi kehilangan rasa kemanusiaan dan kemampuan menalar. Kekerasan dapat dengan mudah dilakukan atau terjadi hanya oleh satu dua kalimat pesan hoax di medsos. Emosi yang sebenarnya memang ada pada setiap individu tak lagi dapat dikontrol oleh nalar dan nurani. Ini lalu mengacaukan iman yang otentik.

Ada cara mudah menyelesaikan soal ini, hukum. Tapi ini temporer. Sebab, sesuatu yang sudah patologis tidak cukup diberi obat tidur atau penghilang rasa sakit. “Kebencian” memiliki sejarahnya. Betul, pada umumnya karena alasan ketimpangan sosial, politik dan ekonomi. Tapi sesungguhnya ia hidup dalam hati dan nalar manusia-manusia “salah asuh dan ajar”. Prosesnya tentu tidak sehari.

Maka, ia mesti diselesaikan dengan cara terapi hati, nurani dan nalar. Ini bukan pekerjaan gampang. Butuh waktu yang lama, dan dengan begitu butuh kesabaran. Tapi sejarah telah memberi banyak bukti, kerusakan-kerusakan pada hati, nurani dan nalar hanya dapat diperbaiki dengan “pengetahuan kritis-dialektis”.

Itulah membaca buku-buku yang menggugat surga sekalipun adalah tetap penting. Karena dengan begitu kita dapat melatih generasi untuk memiliki kemampuan berbicara tentang keseharian yang dinamis-majemuk dengan kekekalan yang kaku dan beku secara kritis-dialektis. Pengetahuan yang diproses dengan cara ini dapat menjadi spiritualitas menjalani praksis kehidupan yang dinamis: kehidupan yang bergerak dengan ketegangan-ketegangan kreatif, dan berkembang oleh adanya jaringan keragaman.

Penulis : Denni Pinontoan

Penggiat Budaya, Jaringan Antar Iman Indonesia, Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.