Video Viral Pemicu Keributan di RSU Pancaran Kasih. Benarkah Uang Sogok?

Bagikan Artikel Ini:
(foto : ilustrasi pemakaman menggunakan protap covid-19/arusutara.com)

ARUSUTARA.COM, MANADO – Sekelompok orang berkerumun lalu merangsek menuju sebuah pintu yang tertutup rapat.  Ada suara di antara kerumunan massa itu seperti memberi komando untuk masuk.  Terdengar juga suara kayu jatuh ke lantai. Seperti bagian pintu dari kayu yang sudah lepas. Pintu itu lantas digedor, ditarik paksa dan digoyang-goyang hingga akhirnya terbuka. Massa merangsek masuk penuh histeria dan teriakan-teriakan melengking. Di dalam ruangan itu, mereka melewati satu pintu lagi di samping sebuah rak warna abu-abu lalu tembus di koridor. Disitu mereka menemukan sesosok jenazah tergeletak di atas brankat. Jenazah itu nampak sudah terbungkus kain kafan. Massa lantas membopong jenazah itu keluar. Saat hendak melewati pintu yang ditarik paksa tadi, seorang diantara kerumunan massa mengambil kursi plastik lalu membantingnya ke lantai. Jenazah lantas terus dibopong keluar melewati samping sebuah gedung. Ada 2 anggota kepolisian nampak berpapasan dengan kerumunan massa. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak di tengah kerumunan massa yang dibakar emosi dan tak terkendali itu. Suara tangis dan kegaduhan yang meraung-raung, bertautan dengan lafal tahmid, tasbih, dan takbir.

Demikian sekilas tayangan sebuah video yang beredar di sebuah grup WhatsApp yang diperoleh redaksi ARUS UTARA . Sebuah tayangan yang mengambarkan peristiwa bagaimana jenazah pasien PDP dibawa keluar oleh anak pasien bersama puluhan massa dari ruang pemularasan jenazah RSU Pancaran Kasih Manado, Senin 01 Juni 2020.

Tapi video di atas mungkin kalah viral dibanding video lainnya yang kini meruyak di linimasa. Termasuk video siaran langsung Facebook oleh para netizen di rumah duka pasien PDP yang meninggal.

Sebenarnya apa yang terjadi? Berikut ini keterangan singkat seputar peristiwa tersebut yang berhasil dirangkum tim redaksi dari berbagai informasi yang beredar.

Selasa 26 Mei 2020 silam, pukul 10.20 WITA,  pasien atas nama Jamin Larasika usia 52 tahun masuk dan dirawat di RS Pancaran Kasih Manado. Pasien diketahui merupakan warga Kelurahan Ternate Baru Lingkungan I Kecamatan Singkil Kota Manado.

Rilis dari pihak RS Pancaran Kasih sebagaimana yang diberitakan banyak media menyebutkan, pasien mengalami penyakit diagnosa pneumonia dan kehilangan kesadaran. Gejala penyakit berdasarkan diagnosa tersebut membuat pasien masuk dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Pasien PDP itu lantas meninggal dunia di ruang ICU Isolasi RSU Pancaran Kasih Manado pada Senin 01 Juni 2020 siang tadi kira-kira pukul 13.30 WITA.

Karena pasien berstatus PDP maka akan dilakukan penanganan sesuai standar Covid-19 termasuk pemakamannya. Namun pihak keluarga tidak setuju jika jenazah akan dimakamkan menggunakan protap Covid-19.

Dalam sebuah tayangan video lainnya yang viral, Khairul Lasarika (28), anak dari pasien PDP yang meninggal, diperoleh keterangan yang disampaikannya secara langsung bahwa ada seorang tenaga medis RSU Pancaran Kasih menggunakan APD memberikan sejumlah uang kepadanya, namun ia tidak mau mengambil. Dalam tayangan video itu, ketika Khairul ditanya oleh yang merekam untuk apa uang itu diberikan, Khairul hanya menjawab bahwa saat ia diberi uang itu, ia bertanya ke tenaga medis, ini uang untuk apa? Tapi konon, menurut penyampain Khairul sendiri, petugas medis tidak mengatakan kalau uang itu untuk apa, kecuali hanya mengatakan kalau terima saja. Selanjutnya masih dalam tayangan video viral, ketika Khairul ditanya berapa jumlah uang yang diberikan itu, anak pasien PDP meninggal ini hanya menjawab, 50 dalam keadaan tergulung dan tidak tahu itu uang apa.

Entah bagaimana kabar cepat beredar di masyarakat, mendekati sore hari berhembus isu kalau pihak keluarga akan mendapatkan uang sebesar 15 juta rupiah (sebagian isu menyebutkan 50 juta) dari RS Pancaran Kasih jika setuju pasien PDP akan dimakamkan menggunakan protap Covid-19.

Kuat dugaan isu inilah yang membuat keluarga pasien berkumpul bersama masyarakat yang telah terprovokasi oleh video yang viral itu, kemudian menuju RS Pancaran Kasih mencari jenazah untuk dibawa pulang ke rumah duka.

Kesimpang-siuran informasi, kesalah-pahaman, ditambah lagi keterangan yang disampaikan anak pasien PDP yang meninggal soal ia diberi uang tapi tidak mau menerima, membuat massa yang terprovokasi oleh isu yang beredar itu, merangsek masuk secara paksa ke ruang pemularasan jenazah dan mengambil jenazah untuk dibawa pulang ke rumah duka di Kelurahan Ternate Baru Lingkungan I Kecamatan Singkil kota Manado.

Klarifikasi

Sementara itu dr. Suyanto Yusuf, M.Kes, anggota DPRD Kota Manado dari PKS, turut memberikan tanggapannya sekaligus menyampaikan klarifikasi terkait video yang viral  dan isu soal uang 50 juta yang konon merupakan uang sogok dari RSU Pancaran Kasih kepada anak pasien PDP yang meninggal.

Dikatakan dokter yang merupakan pula politisi PKS dan anggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia),  terkait video yang viral dan isu soal uang 50 juta terkait peristiwa di RSU Pancaran Kasih,  ia langsung menelfon Dirut RSU Pancaran Kasih, dr. Franky V T Kambey, M.Kes, dan meminta untuk memberi klarifikasi soal itu.

Setelah berbincang panjang lebar dengan dr Franky, kata dr. Suyanto via sambungan telfon kepada awak ARUS UTARA, Dirut RSU Pancaran Kasih mengatakan kalau hal itu tidak benar. “Mana ada uang 50 juta mo kase pa orang,” kata dr. Suyanto menirukan dr.Franky V T Kambey.  Yang benar, lanjut dr.Suyanto sebagaimana dikatakan dr.Franky, adalah uang sejumlah 500 ribu rupiah.

dr.Suyanto Yusuf, Anggota DPRD Manado dari PKS

Ketika ditanya oleh dr.Suyanto untuk apa uang 500 ribu rupiah itu, dr.Franky mengatakan kalau uang itu sebenarnya hanya bentuk penghargaan saja dari pihak rumah sakit kepada imam ataupun pihak keluarga yang telah membantu melakukan fardu kifayah di ruang pemularasan jenazah. “Kan ada imam yang membantu pihak rumah sakit di ruang pemularasan jenazah,” kata dr.Suyanto mengutip klarifikasi dari dr.Franky selaku Dirut RSU Pancaran Kasih.

Lebih lanjut ditambahkan juga oleh politisi PKS ini, kebijakan dari rumah sakit berupa uang sejumlah 500 ribu itu sebenarnya tergolong sangat kecil, namun itulah sebatas kebijakan yang diberikan sebagai bentuk penghargaan kepada imam yang telah membantu pihak rumah sakit.

“Jadi bukan uang sogok agar keluarga mengiyakan bahwa pasien berstatus positif corona dan mau menerima dimakamkan sesuai protap covid,” kata dr.Suyanto anggota DPRD Kota Manado yang membidangi kesehatan, mengutip klarifikasi dari dr. Franky.

“Saya sebebenarnya berkontak dengan dr.Franky untuk menanyakan soal isu uang 50 juta ini apakah benar atau bagaimana?” kata dr.Suyanto kepada awak media. Ini juga sebenarnya, lanjut dia, terdorong karena tugas dia selaku Anggota DPRD Kota Manado yang membidangi kesehatan. Selain itu merupakan pula keterpanggilan dirinya sebagai sesama pengurus IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Sulawesi Utara. Namun ternyata setelah diklarifikasi, isu itu ternyata tidak benar. Kecuali itu, maka uang 500 ribu itu sebenarnya untuk imam yang membantu menyolatkan dan mengkafani jenazah. (tim/au/uw)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.