Tokoh Sarekat Islam Bolaang Mongondow, Dari Cap Komunis Hingga Biang Onar

Bagikan Artikel Ini:
Oenta Mokodongan (kiri) dan Adampe Dolot (kanan). Keduanya pernah menjabat sebagai Ketua SI Bolaang Mongondow pada jaman kolonial Hindia-Belanda

 

PUBLIK Mongondow mungkin tak banyak yang tahu siapa sosok ketua Sarekat Islam (SI) pertama di Bolaang Mongondow masa kolonial Hindia-Belanda, juga hubungan orang-orang Mongondow di SI dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional di Jawa era pra-kemerdekaan. Demikian juga publik di Mongondow mungkin tak banyak yang tahu kalau tokoh-tokoh SI Bolaang Mongondow tak lepas dari cap komunis oleh pihak kolonial. 

Oenta Mokodongan, adalah Ketua Sarekat Islam (SI) Cabang Bolaang Mongondow pertama dengan seorang Sekretarisnya bernama Willem Kadamong. Nurtina Gonibala Manggo seorang veteran perang kemerdekaan menulis dalam bukunya; ‘Dengan kembalinya Bapak Unta Mokodongan dari Pulau Jawa, beliau membawa perubahan yang menggemparkan Kerajaan Bolaang Mongondow dan Pemerintah Belanda’. (Nutrina Gonibala Manggo; Sejarah Laskar Banteng Kemerdekaan RI Bolaang Mongondo2, hal 5- kutipan sesuai teks asli).

Tentu kegemparan yang dimaksudkan Nutrina Gonibala Manggo dalam catatannya itu, adalah ketika di Passi pada tahun 1920, didirikan sebuah organisasi bernama Sarekat Islam Cabang Bolaang Mongondow. Sebuah tindakan progresiff yang mampu menorehkan sejarah, terlebih di masa penjajahan kolonial Belanda.

Catatan  Sejarah Nasional Daerah Sulawesi Utara, terbitan Direktoral Jenderal Kebudayan RI, halaman 108 juga menuliskan hal yang sama tentang didirikannya Sarekat Islam di Passi, pun pemberitaan Medan Moeslimin yang mengutip kehadiran sekitar 500 orang pada tanggal 26 April 1920 di Passi saat SI didirikan. (Medan Moeslimin edisi 26 Juli 1926 nomor 21).

Sebuah kumpulan laporan dari biro yang bertugas mencermati pemberitaan media massa untuk kolonial Belanda tertanggal 7 Agustus 1926 nomor 32, turut mengupas pemberitaan MEDAN MOESLIMIN pimpinan Haji Misbach edisi 20 Juli 1926 nomor 21, yang menurunkan berita soal Mosi SI (Sarekat Islam) yang dipimpin Oenta Mokodongan selaku Ketua SI Bolaang Mongondow dan Sekretarisnya bernama Willem Kadamong. Mosi itu berjudul “Rakyat Bolaang Mongondou Menuntut Pernbaikan Nasib!” yang dipublikasikan di berbagai pertemuan SI Bolaang Mongondow.

Copy dokumen review dari biro khusus media itu diperoleh penulis dari kiriman seorang kawan, berikut ini;

Terjemahan bebasnya kira-kira begini :

MEDAN MOESLIMIN
20 Juli 1926, Nomor 21.

KHALIFAH

Dalam artikel pertama, Fi-Raudltiljannah menjabarkan pandangannya tentang kondisi yang harus dipenuhi oleh seorang khalifah Islam; Dia berpendapat, antara lain, bahwa khalifah terakhir telah kehilangan karakter khalifah sejati, karena mereka memisahkan diri dari rakyat,
dan tinggal di istana.

SI DI BOLAANG MONGONDOW 

Di bawah judul: “Rakyat Bolaang Mongoudou Menuntut Perbaikan Nasib!” Adalah beberapa Mosi SI Bolaang Mongondou yang dipublikasikan di berbagai pertemuan publik SI.

Editorial menyatakan di atas: “Kami menganggapnya sebagai periuk besi yang tertutup rapat berisi air yang dibakar dengan api yang baik, dan dengan demikian akan meledak!” Dan dia (penulis berita ini maksudnya) melanjutkan dengan pengantar bahwa demikianlah perasaan orang Bolaang Mongondou yang dulunya tinggal dalam kegelapan, namun kini telah membuka matanya dan telah mengesampingkan sifat pengecutnya, tidak lagi mengedepankan rasa cintanya pada istri dan anak serta hartanya, tetapi telah memulihkan sifat pemberani para leluhur yang berjuang melawan pemburu dari Tebelo dan Mangindano ketika nenek moyang itu membawa pedang untuk melindungi rakyat dari kejahatan orang Mangindonau. Sekarang pedang itu telah ditukar dengan kata dan pena, untuk memerangi dominasi dan penghisapan kapitalisme.

Oleh Sarekat Islam Bolaang Mongondou yang dipimpin oleh Oenta Mocodongan dan Willem Kadamong, diadakan rapat umum dua kali berturut-turut yang mensahkan tuntutan yang dicetak oleh dewan redaksi (Medan Moeslimin,red)

Mosi pertama, disahkan dalam rapat yang dipimpin oleh Oenta Mocodongan, selaku ketua dan Willem Kadamong, selaku sekretaris SI yang diadakan di Passi pada tanggal 26 April 1920 dihadiri oleh sekitar 500 orang, merupakan penegasan atas pengaduan masyarakat terhadap perusahaan Tapa Ibeken dan Kajoemojondi, yang diduga merampas tanah dan perkebunan rakyat, yang sudah dipertanyakan pada bulan Januari dan Februari 1926 oleh ketua SI selaku perwakilan dari masyarakat tersebut dihadirkan kepada seorang komandan di Bolaang Mongondou;

Mosi kedua disahkan pada 16 Mei dalam rapat umum SI Bolaang Mongondou yang diadakan di negeri Pojowa Besar kabupaten Mongondou, dihadiri sekitar 1.000 orang, antara lain pimpinan wilayah dan tokoh-tokoh agama. Ini termasuk pengaduan tentang pajak yang berlebihan, tentang penyitaan, tentang tekanan yang diberikan kepada orang-orang untuk penyediaan layanan untuk BOW (Burgeiljke Openbare Werken/Pekerjaan Umum) atau untuk kontraktor sementara layanan-layanan itu dibayar minimal, tentang pengenaan pajak jalan dan pajak lainnya kepada para pemimpin Islam, agama, tentang penguasaan tanah tanpa persetujuan penduduk seperti tambang emas dan kebun di Tapa Ibeken dan Kajoemojondi, tentang pemecatan dari jabatannya sebagai kepala agama yang telah pindah ke Sarekat Islam sebagai sebuah perkumpulan yang diakui oleh Pemerintah, seperti yang terjadi pada Imam Soleman Jakin dan Olang, pemuka agama di Tabang, dan akhirnya tentang fakta pembebasan pajak yang diberikan kepada para pemuka agama pada tahun 1924 oleh Radja dan Pengendali Boslar sudah tidak ada lagi.

Mosi tersebut termasuk tuntutan penduduk sehubungan dengan keberatan-keberatan  yang akan diajukan kepada Residen Menado oleh seorang wakil majelis.

Itulah sedikitnya laporan suatu biro yang bertugas untuk kepentingan kolonial dalam mencermati pemberitaan media di Hindia-Belanda, turut mengutip pemberitaan Medan Moeslimin, sebuah surat kabar yang didirikan oleh Haji Mohamad Misbach kawan dari Oenta.

***

Adampe Dolot sebelum menjabat sebagai ketua SI setelah Oenta, dikenal juga sebagai kader revolusioner dalam menjalankan prinsip perjuangan di tubuh SI. Sama seperti Oenta, ia juga memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan di Pulau Jawa.

Namanya juga muncul dalam media berbahasa Belanda Algemeen Handelsblad edisi 3 januari 1927 dengan tajuk; De Politieke Toestand In Bolaang Mongondou (Keadaan Politik di Bolaang Mongondow). Media ini memberitakan peristiwa kekacauan yang terjadi di sebuah perusahaan kopi di Bolaang Mongondow. Kekacauan ini dipicu oleh aksi para buruh yang menuntut kenaikan upah.

Dalam pemberitaan tersebut,  SI dituduh dalang di balik aksi. Nama Adampe Dolot adalah salah satu tokoh SI yang ditulis dalam pemberitaan itu. Bahkan tudingan soal penemuan bahan peledak beberapa waktu sebelumnya di rumah pimpinan SI, kembali disinggung seolah sudah paten sebagai daftar kejahatan SI.

“Beberapa tahun yang lalu sebuah konspirasi juga ditemukan dimana adanya rencana untuk memusnahkan seluruh keluarga kerajaan’” tulis media ini. Disentil pula soal sosok haji atau tokoh agama jika sangat dihargai di mata masyarakat, itu mengindikasikan bahwa tokoh itu sangat berbahaya.

“Kebanyakan dari mereka adalah pembuat onar yang datang dari tempat lain dan tidak hanya merusak semangat warga yang awalnya begitu damai di wilayah itu,” tulis Algemeen Handelsblad.

S.I  juga disebut sebagai organisasi yang bukan cinta damai, melainkan organisasi yang bergerak di bidang kejahatan. Oleh karena itu, tulis media, kejadian di perusahaan kopi tersebut tidak boleh dianggap sebagai kasus yang berdiri sendiri. Perlu diingat bahwa di sini ada SI yang identik dengan komunisme.

Tudingan bahwa SI dan Adampe Dolot identik dengan komunis, disebabkan pula oleh kecurigaan dimana tokoh ini pernah menghabiskan waktunya selama 4 bulan di Jogjakarta dan sempat bertemu Soerjopranoto sebelum akhirnya kembali ke Bolaang Mongondou.

Lalu siapa sebenarnya Soerjopranoto yang disebut surat kabar Algemeen Handelsblad pernah ditemui Adampe Dolot?

Penulis mencoba menelusurinya pada laman Wikipedia dan mendapatkan keterangan, Soerjopranoto adalah kakak Soewardi Soerjaningrat (KI Hajar Dewantara). Ia juga merupakan seorang bangsawan dengan nama Raden Mas Soerjapranata (Ejaan Soewandi: Suryapranata, atau sering ditulis Soerjopranoto) lahir di Pakualaman 11 januari 1871. Ia juga merupakan adalah putra sulung dari Kangjeng Pangeran Harya (KPH) Surjaningrat, yang mana sang ayah sendiri adalah putra tertua dari Pakualaman III. Ini berarti Surjopranoto adalah anak laki-laki pertama dari seorang putra mahkota. Namun, hak naik tahta sang ayah menjadi batal karena ia terserang penyakit mata yang mengakibatkan kebutaan.

Soerjopranoto masuk Sarekat Islam pada tahun 1911. Keaktifan dalam organisasi dan sikap berani yang ditunjukannya membuat kader-kader SI tak heran jika ia cepat menduduki posisi sebagai pembantu HOS Tokroaminoto. Itu membawanya menjadi orang kedua dalam organisasi. Ia juga bertugas sebagai pengajar dalam pelaksanaan kursus-kursus kepartaian. Salah satu yang ia ajarkan adalah Ilmu Sosiologi sedangkan Tjokroaminoto mengajarkan Sosialisme dan Islam.

Masih dalam catatan Wikipedia, disebutkan bahwa saat Kongres SI di Surabaya tahun 1919 Soerjopranoto mengemukakan, kemenangan kelas dan menjadikan alat-alat produksi menjadi milik umum, tidak harus dicapai dengan aksi bersenjata tetapi bisa secara moral, protes-protes, dan jika perlu dengan “pemogokan”, kesemua itu harus dilakukan secara serentak.

Soerjopranoto juga dikenal aktif mengorganisir buruh. Suatu ketika ia memimpin pemogokan umum dikalangan kaum pekerja pabrik-pabrik gula yang bergabung dalam sarekat buruh pertama yang didirikan di Indonesia pada tahun 1917 bernama P.F.B. (Personeel Fabrieks Bond) di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Soerjopranoto tak hanya pintar berteori tetapi mempraktekan apa yang kerap diajarkannya. Maka dipimpinlah olehnya sebuah pemogokan di pabrik gula Madu Kismo pada tanggal 20 Agustus 1920. Aksi pemogokan yang meluas dan efektif ini membuatnya disebut oleh “De Express” sebagai “De stakings Koning” alias Raja Pemogokan. Yang dihadapi sebagai lawan pada waktu itu adalah P.E.B. (Politiek Economische Bond), tulis Wikipedia, dibawah pimpinan Engelenberg dan Brugers (kumpulannya Tuan-Tuan Pabrik).

***

Pada masa SI hadir di Bolaang Mongondow, orang – orang sini yang mengunjungi Jawa kerap menjadi perhatian pihak kolonial, terlebih lagi tokoh-tokoh SI. Surat kabar Fikiran edisi 17 – 24 Desember 1927 menurunkan tajuk; Aksi SI di Bolaang Mongondow. Dalam laporan biro yang ditugaskan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mencermati pemberitaan media massa, menurunkan laporannya berdasarkan pemberitaan Fikiran yang ikut mengutip Batavia Nieuwsblad. Laporan biro ini menyebutkan;  orang Mongondow mengeluarkan peringatan di koran tanggal 17 Desember terhadap tindakan “bawah tanah” yang dilakukan SI di wilayah itu (Bolaang Mongondow). Dengan mengacu pada surat kabar Batavia tentang situasi politik di Bolaang Mongondow, perhatian tertuju lagi pada pimpinan SI disana sekembalinya Adampe Dolot dari Jawa dan sempat bertemu si raja pemogokan (Soerjopranoto). Media ini (Fikiran) menjelaskan bahwa SI telah menjadi gerakan komunis terselubung di Bolaang Mongondow dengan kedok propaganda agama, padahal merupakan organisasi biang onar.

Oenta Mokodongan juga ditulis sebagai seseorang yang mengunjungi Jawa dan bersama Adampe Dolot berikrar mengikat hukum persaudaraan antar keduanya. Media juga menyingung soal penemuan bom yang disembunyikan di kolong sebuah rumah pimpinan SI. Sejak masalah itu orang-orang SI Bolaang Mongondow diminta menyerahkan seluruh kartu anggotanya kepada Raja, namun bagi biro pemeriksa pemberitaan media, hal itu dinilai hanya serupa dengan apa yang dilakukan orang-orang PKI di Batavia  hingga membuat pimpinan disana dibodohi.

Soal adanya bom di Bolaang Mongondow yang konon disembunyikan tokoh-tokoh SI, turut dimuat koran berbahasa Belanda Het Nieuws Van Den Dag edisi 3 Februari 1928, halaman 1 dengan tajuk; Bommen te Bolaang Mongondou. Disebutkan bahwa berita itu Bermula dari laporan seorang mata-mata kepada Raja Bolaang Mongondou bahwa mereka (Intel) mendengar percakapan antara pemimpin wilayah SI pada jam 2 tengah malam dengan Adampe Dolot, dan presiden direktur divisi SI Bolaang Mongondou. Disebutkan bahwa percakapan ini berlangsung di rumah pimpinan. Menurut laporan ini, Adampe Dolot menyarankan agar sebuah bom, yang akan ada di sana, harus disimpan di tempat lain. Usai informasi tersebut, dilakukan penggeledahan rumah, namun tidak membuahkan hasil. Akan tetapi pada pencarian kedua, ditemukan berada di kolong lantai rumah. Pimpinan SI yang mengaku tidak mengetahui tentang itu ditangkap dan dipenjarakan di Manado. Namun, mengingat keadaan di mana bom itu ditemukan, tidak dapat diasumsikan bahwa ia terkubur di sana tanpa sepengetahuan penghuni rumah atau bahwa bom tersebut dapat disembunyikan dari luar tempat itu.

Bom itu lantas dikirim ke Kejaksaan Agung untuk diperiksa apakah model dan pabrikasi ini sesuai dengan bom yang ditemukan di Jawa, yang perlu diketahui untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut. Namun belum bisa ditentukan dari mana asal dinamit tersebut. Kasus itu terus diselidiki, dan belum ada klarifikasi resmi lebih lanjut, tulis laporan itu.

***

Pada tahun 1934, Oenta Mokodongan bersama Willem Kadamong menghadap Raja Bolaang Mongondow untuk membuka cabang Muhammadiyah. Meski ditolak, kedua orang ini tetap melaksanakannya. Berdasarkan penuturan keluarga dari Oenta, pilihan mendirikan Muhammadiyah di Bolaang Mongondow dilakukan Oenta dan Willem ketika mereka sama-sama memutuskan untuk tidak memilih berada di dua kubu SI yang telah terpecah menjadi SI Putih (Tjokroaminoto) di Surabaya dan SI Merah (Semaoen) di Semarang yang akhirnya manjadi cikal bakal lahirnya PKI (Partai Komunis Indonesia). “Saat terjadi perpecahan di tubuh SI, teman-teman mereka ada yang di SI putih dan ada yang di SI merah, jadi mereka (Oenta dan Willem) memilih untuk tidak berada di dua kubu pecahan SI itu, sehingga mereka mendirikan Cabang Muhammadiyah di Bolaang Mongondow,” tutur Zainuddin Mokodongan, anak dari Oenta.

***

Adampe Dolot ditangkap pada bulan Februari 1940. Beberapa kawannya yang ikut ditangkap antara lain; Matero, Pepekow, Tonggulih, Damongayo, Daanan, Lao Lasabuda, Masiando, Rote, Humu Tunggali, dan Ulita.

Adampe Dolot dipenjarakan di Sukamiskin Bandung, sedangkan kawan-kawannya yang lain disebar di penjara Glodok Jakarta, Pamekasan-Madura dan Nusakambangan-Cilacap. Dua orang Mongondow masing-masing Masiando dan Rote meninggal di Nusakambangan, demikian pula kawan mereka di penjara Glodok Jakarta. Adampe Dolot sendiri meninggal di penjara Sukamiskin pada tahun 1942. Humu Tunggali, Matero, Damongayo, dan Tongguli dapat kembali ke kampung halamannya di Bolaang Mongondow.

Sumber olahan :
Sejarah Perjuangan Laskar Banteng RI Bolaang Mongondow; 2001
Sejarah Nasional Daerah Sulawesi Utara; 1978-1979
Het Nieuws Van Den Dag, Virjdag 3 Februari 1928
Algemeen Handelsblad,  3 Januari 1927
Copy dokumen Biro Bacaan Publik dan Pemberitaan Media [Ndrland], 7 Augustus 1926
Medan Moeslimin, 20 Juli 1926 No.21
Wikipedia
– Wawancara dengan keluarga Oenta
– Toedoe In Passi, Dari Hikayat, Kebudayaan, Hingga Terbentuknya Desa Passi;2020
– Profil Desa Passi; 1986
– Sejarah Passi dalam Profil Desa Passi;2016

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.