Bahaya Kebudayaan Tanpa Tafsir

Bagikan Artikel Ini:
Tarian Tjakalele Minahasa tahun 1927 (Foto : KITLV melalui Kemendikbud)

 

BAHAYA Kebudayaan Tanpa Tafsir Terlalu banyak narasi dari masa lampau yang harus dibaca. Semua narasi itu berbicara dengan bahasa di masanya, yang pertama-tama memang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di masa itu.

Semua narasi itu tidak boleh dilupakan, ditinggalkan, diabaikan atau dibiarkan masuk dalam museum ‘amnesia peradaban’. Apapun narasi dari masa lampau, ia adalah jiwa dari kehidupan berkaum. Hanya dengan cerita Lumimuut-Toar misalnya, yang tanpa perlu ada bukti historis bahwa dua tokoh itu pernah benar-benar hidup, sebuah bangsa bernama Minahasa dapat eksis hingga kini. Narasi ada, tapi jika tanpa tafsir, maka ia akan menjadi teks mati. Itulah sehingga dari narasi primordial itu, dari tokoh-tokoh mitologis, dengan tafsir yang terus menerus, maka Minahasa itu tidak hanya nama, ia mengada dan menjadi suatu identitas yang kompleks.

Teks-teks itu punya banyak makna. Tapi ia tidak dapat berbicara sendiri tanpa ditafsir. Baru ketika ditafsir teks dapat menggerakkan kehidupan. Siapa para penafsir itu? Mereka adalah yang melihat masa depan dari masa kini. Penafsir tidak berbicara dari masa lalu untuk masa kini. Penafsir adalah orang (-orang) yang hidup di masa kini, yang sibuk bolak-balik ke masa lalu dan masa kini untuk mencari pengertian dan pemahaman, lalu dengan daya imajinasi yang tinggi merencanakan kehidupan di masa depan.

Si penafsir selalu tahu jalan pulang dari masa lalu ke masa kini. Dia tidak mau terlelap di masa lalu, berdiam di sana dalam romantisme atau bahkan heroisme atau juga inferiorisme. Dan itulah sesungguhnya kerja kebudayaan. Kebudayaan, begitu adanya selalu harus dengan tafsir. Sebagai sebuah kerja, maka menafsir selalu berkaitan dengan merekonstruksi.

Itulah sehingga dalam narasi Minahasa tidak hanya ada tokoh mitologis Tumileng dan Mamanua, tapi juga Mamarimbing. Si Apo Mamarimbing inilah, yang menurut teks leluhur sebagai penafsir pesan-pesan semesta untuk kehidupan. Dan, karena ada tafsir itu maka Minahasa adalah kebudayaan, bukan sebatas klaim atas artefak atau fosil sejarah. Bukan ‘pembuktian’ ala positivisme yang telah menggerakkan Minahasa dalam sejarahnya. Bukan karena ada bukti bahwa Lumimuut-Toar itu adalah person historis yang membuat Minahasa dapat berkembang menjadi sebuah bangsa. Karena narasilah maka Minahasa adalah suatu identitas, suatu kenyataan kaum yang hidup. Yaitu narasi yang terus ditafsir, direkonstruksi dan dikonstruksi.

Maka sungguh berbahaya ketika tafsir dimatikan oleh pengadilan moral modern, misalnya atas nama klaim maka tanpa membaca dengan pemahaman yang benar, lalu melanjutkan stigma tidak berdasar, bahwa cerita Lumimuut-Toar mempertontonkan praktek inses.

Pada kebodohan terakhir inilah, maka kebudayaan Minahasa tampaknya akan dilumpuhkan dengan nalar modernitas yang positivistik, yang berusaha mengganti tafsir dengan rumus-rumus matematis. Lalu, proyek bodoh itu berusaha diperkuat dengan definisi orang lain tentang Minahasa dalam seminar-seminar tanpa diskursus.

Dan, kebudayaan tanpa tafsir model beginilah yang akan membuat Minahasa lebih sebagai klaim kebenaran, yang membuat generasinya lebih suka ‘mamake’ di medsos atas nama membela masa lalu tanpa melakukan apa-apa untuk dirinya pertama-tama, kaumnya dan masa depan bangsanya. Ah, sungguh tidak elok jika ini yang terjadi. Saya baru tahu sekarang makna tafsir itu untuk Minahasa sebagai kebudayaan yang hidup, dan itulah juga sehingga G.S.S.J. Ratu Langie di masa dia menghadapi suatu periode transisi zaman mengandaikan dirinya sebagai Rondor Mamarimbing, dan bukan nama-nama filsuf Eropa itu. (05/11/2020, di Hari Jadi Minahasa)

Penulis : Denni Pinontoan

Penggiat Budaya Minahasa
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.