Pentas Itu Berbau Busuk Karena Didaur dari Tong Sampah Rasisme!

Bagikan Artikel Ini:

Ini adalah catatan yang lahir pasca pentas teater Pingkan Matindas Cahaya Bidadari Minahasa karya Achi Breyvi Talanggai, yang digelar 30/31 Oktober 2020 di Manado. Publik (khususnya) di Mongondow dan elemen kebudayaannya terluka, marah, dan mengecam pementasan itu. Dimasukannya Raja Bolaang Mongondow sebagai tokoh dalam lakon teater itulewat peran dan dialog yang sangat menyinggung dan tak sesuai dengan fakta sejarah, setidak-tidaknya versi Bolaang Mongondow yang bisa dikonfirmasi dengan data sejarah,menjadi pokok pangkal ketersinggungan. Sebagai penggiat budaya di Mongondow yang mengetahui jalannya sejarah di Bolaang Mongondow (minimal terkait lakon yang dipentaskan) serta ‘kronik’ dan kronologi yang lahir terkait dengan itu hingga ‘tenggat’ waktu sebelum pementasan dimana sempat ada komunikasi dengan sang sutradara, saya adalah yang ikut terluka dan marah. Tulisan ini adalah ungkapan ketersinggungan dan marah saya*.

TAHUN 2017 silam, oleh kerabat yang lama tak jumpa, dibuatlah sua bertempat di Danau Linow Kota Tomohon – Minahasa.  Kerabat ikut mengundang koleganya, dan koleganya membawa serta putrinya.

Entah bagaimana harus menjelaskan disini, perasaan yang berkeluk ketika sang putri nyeletuk ke Ibunya; “Oh, Mami itu nama bandara itu bukannya nama raja yang jatung dari pohon pinang di cirita Pingkan Matindas?”

Itu keluar dari mulut anak kelas 2 SMP kepada Ibunya sesaat ketika ia mendengar obrolan kami kebetulan saja tertuju pada kelanjutan pembangunan bandara di Lolak—menurut kabar di Mongondow akan diberi nama Loloda Mokoagow.

Ah, mual rasanya meneruskan sepenggal kisah di atas dengan lebih gamblang disini. Tapi sepulang dari sua itu, saya tergoda mencari tahu dari mana sumber cerita yang fasih terlontar dari anak itu.

Pada laman Balai Bahasa Kemendikbud Sulut, saya menemu cerita rakyat yang diramu untuk anak-anak berjudul Si Cantik Pingkan dalam format PDF. Setelah membacanya, saya menjadi yakin, dari sini rupanya muasal celetukan itu bersumber.

Tapi apa yang mengusik pikiran saya sehingga tergoda menuduh; ternyata lembaga macam Balai Bahasa bukan lalai melakukan editing naskah yang akan dipublish, tapi saya full curiga proses itu malah tak ada. Maka maklum, gambar (asal-asalan pula) orang jatuh dari pohon pinang nekat diberi caption; Raja Loloda Mokoagow.

Jika dokumen era VOC punya catatan yang membuat kita tahu Loloda Mokoagow disebut sebagai Raja Manado dalam dokumen itu, Robertus Padburgge dalam jurnal perjalanannya, dokumen Spanyol termasuk pembubuhan kata Roy De Boulan pada peta, belum juga desertasi ilmiah di abad-abad selanjutnya yang menulis Datoe Binangkang Loloda Mokoagow, di Balai Bahasa Sulut tokoh ini justru ditemukan jatuh dari pohon pinang dalam keadaan hina oleh karena Pingkan. Mati terbunuh pula.

Tidakkah Balai Bahasa Kemendikbud Sulut punya minimal selembar halaman tentang siapa Loloda Mokoagow, pun selembar peta Sulawesi Utara yang di dalamnya ada wilayah bernama Bolaang Mongondow sebuah negeri bekas kerajaan yang dihuni mayoritas suku Mongondow? Sehingga begitu serampangan meloloskan naskah berisi sampah untuk mengotori isi kepala anak-anak menjadi ahistory?

Belum lama dari situ, saya sengaja menemui seseorang yang langkahnya kerap keluar masuk pintu Balai Bahasa Kemendikbud Sulut. Sua yang saya lakukan dengan orang ini saya atur dengan cara terjadi situasional belaka. Singkat kata saya mengutarakan apa yang saya temui.

Kira-kira setahun belalu, saya mengecek lagi isi materi dan caption yang sebelumnya mengutip raja Bolaang Mongondow Loloda Mokoagow dalam cerita rakyat Pingkan Matindas  akhirnya sudah berganti menjadi Raja Perompak. Baguslah ini menurut saya. Karena sudah tidak menaruh Raja Bolaang Mongondow atau Loloda Mokoago seperti dalam versi sebelumnya.

Kisah itu diceritakan kembali oleh Freddy Wowor. Saya sendiri tidak mau yakin, pengeditan terjadi karena sua saya dengan orang yang saya maksud di atas. Bisa jadi orang itu ia acuh saja, dan kesadaran untuk mengedit naskah dan caption pada gambar dalam cerita rakyat itu, murni timbul dari kesadaran Fredy Wowor sendiri, tanpa kita perlu mencari tahu kesadaran apa yang mewujud padanya sehingga pengutipan nama Raja Bolaang Mongondow Loloda Mokoagow dalam materi itu akhirnya dihilangkan. Tapi bukankah tindakan itu adalah cerminan orang berilmu? Terima kasih Fredy.

Warning Yang Diabaikan Achi

Hampir dua bulan silam,  tepatnya 26 Agustus 2020 sebelum teater Pingkan Matindas Cahaya Bidadari Minahasa dipentaskan Institut Seni Budaya Independen Manado (ISBIMA), saya sudah mewarning Achi Breyvi Talanggai, sutradara dalam pementasan itu, lewat komen facebook di postingan statusnya terkait kepentingan casting. Komen itu ditanggapi Achi via chat messenger hingga berlanjut ke chat personal WhatsApp antara saya dan dia.

Disitu pada pokoknya saya mengingatkan Achi supaya berpikir lagi untuk tidak membawa-bawa nama Raja Bolaang Mongondow pun Loloda Mokoagow dalam pentas besutannya. Ia bahkan meminta referensi sebagai bahan perbandingan untuk dia. Permintaan itu (meski boleh jadi cuma basa-basi) saya luluskan dengan memberi dia 3 rujukan yang sungguh sederhana sebagai bahan untuk menambah nalarnya dalam mengadaptasi naskah yang ia kantongi.

Tak perlu saya umbar detil disini kekhawatiran yang muncul dari saya hingga akhirnya memberi warning pada Achi dua bulan sebelum pementasan. Tapi sedikitnya warning yang dilakukan demi melindungi Achi—atau siapapun penulis naskah teater itu—dari kemungkinan terburuk. Sebab di Mongondow, sekalipun adat tradisi dan kebudayaannya kian mengalami degradasi, menghina atau membuat malu orang tua yang tak bersalah, terlebih yang dihormati sebagai leluhur, bukan tak mendatangkan konsekuensi atau petaka sama sekali sebab bukan sekali-dua ada kejadian pemenggalan kepala kepada penghina demi menjaga harkat dan martabat keluarga suku Mongondow yang dihinakan. “Undam oya’ tonga’ bi’ lanit,” demikian frasa ini dikenal dalam ungkapan orang Mongondow sebagai sebuah keputusan bulat ketika keluarga atau leluhurnya dikerjai dan dihinakan.

Saya tidak sedang menakuti Achi dengan frasa kuno suku Mongondow yang memilih hanya benda tajamlah pengobat malu ketika kehormatan tetua dipermalukan di hadapan publik. Di jaman Tik-tok seperti sekarang ini, anak muda yang sudah kehilangan adab dalam urusan adat dan kultural orang, bersikap lebih takut kehilangan paket data tinimbang nyawa atau kehilangan biji karena kena doti. Tapi saat berkontak dengan Achi, maksud saya mengingatkannya bukan supaya ia terhindar dari kekalapan orang Mongondow yang marah karena orang tua, tetua, atau leluhurnya dipermalukan di hadapan publik, sebab frasa kuno yang dibarengi dengan tindakan paling gelap dan barbar itu seingat saya sudah punah jika tidak disamakan dengan peristiwa yang kerap terjadi di Bilalang atau 7 tahun silam di Mongkonai.

Tidak. Bukan itu maksud saya mewarning dia melainkan 4 untai harapan paling sunyi dan tersembunyi yang pada akhirnya harus saya buka dengan jujur pada kesempatan ini.

Harapan itu adalah, Pertama; semoga dari tangan Achi dan kawan-kawan di sanggarnya, pementasan cerita rakyat Pingkan Matindas tidak lagi menjadi proyek pengkerdilan dan penghinaan terhadap orang Mongondow, terlebih dengan menaruh posisi Raja Bolaang Mongondow ataupun nama Loloda Mokoagow sebagai tokoh dalam cerita yang digambarkan tergila-gila pada Pingkan hingga membuat raja terbunuh sekalipun itu cuma sekadar bual-bual fiksi belaka sebagaimana kerap ditekankan Reyner Oeintoei.

Perlu Achi dan ISBIMA ketahui, pada tokoh yang ditampilkan dengan leceh dalam pentas itu, terkandung nilai historis, adat, adab, kultural yang hanya dapat dipahami secara semestinya lewat cakrawala berpikir orang yang memiliki pengetahuan alias berilmu dan sepertinya itu tak ada pada Achi dan kelompoknya di ISBIMA.  Oleh sebab itu barisan generasi rasisme ini tentu tidak mengerti—karena bisa jadi memang tidak mau mengerti—nilai adat dan kultur yang dikandung tokoh tersebut seperti predikat guranga, guyanga, guhanga, dan motubo adat in Bolaang Mongondow. Kedua, semoga Achi dan kawan-kawan di sanggarnya, mampu memutus kelancungan dan imajinasi busuk pendahulunya terkait legenda Pingkan Matindas yang menaruh Raja Bolaang Mongondow pun Loloda Mokoagow dalam cerita yang entah dicomot dari antah-berantah mana. Ketiga, semoga Achi dan kawan-kawan di sanggarnya, dapat membuang bangkai seksis dan rasisme dalam panggung teater dan tidak menjadi agen baik sadar tidak sadar sebagai pemulung dan pengembang-biak sentimen rasial. Keempat, semoga Achi dan kawan-kawan di sanggarnya, mampu melahirkan pertunjukan teater yang dapat memberi tamparan keras kepada siapapun seniman yang rasis sejak dalam pikiran terkait legenda Pingkan Matindas.

Dengan demikian, ketika 4 untai harapan itu tercapai, Achi dan kawan-kawan di ISBIMA, terutama penulis naskah, layak diberi penghargaan dan gelar adat oleh AMABOM karena telah memberi sumbangsihnya dalam menjaga harkat dan martabat suku Mongondow melalui seni pertunjukan yang berkwalitas, bermartabat, tidak buta sejarah, dan yang paling utama adalah kejujuran dan independensi. Sehingga gembiralah saya mengajak Achi dan kawan-kawannya di ISBIMA tamasya ke Bolaang Mongondow dengan sambutan adat kebesaran, ditemukan dengan para tetua, pun dengan Bupati Bolaang Mongondow yang pasti senang karena moyangnya tak dilecehkan sehingga gembira memberi 1 kilogram emas dari Mongondow kepada Achi dan ISBIMA tinimbang hadiah laporan polisi seperti yang digaungkan.

Tapi harapan tinggal harapan. Nasi telah menjadi bubur dan kesombongan lagi-lagi selalu dijadikan benteng untuk menjaga keangkuhan diri sembari berlindung pada kalimat; ini karya seni, fiksi yang harus bebas dari hukuman, kalian tidak mengerti apa itu sastra, tidak paham apa itu kesenian.

***

Dua bulan sebelum pentas, Achi memang menanggapi warning saya dengan positif. Meski dari chating yang ada, saya menyimpulkan; betapa berbahayanya sutradara ini karena bukan hanya masalah kemiskinan literasi yang ada pada dirinya melainkan kegelapan pengetahuan meski sekadar untuk tahu apa dan di mana Bolaang Mongondow dalam peta Sulawesi Utara, siapa Loloda Mokoagow, siapa saja raja Bolaang Mongondow tokoh yang ia taruh dalam karya fiksinya sendiri.

Amboii pembaca. Sutradara sepandir apa yang tak tahu menahu siapa tokoh yang ia taruh dalam karyanya tapi kadung bernyali mementaskan tokoh yang kepalanya dipenggal sementara ia sendiri tak tahu betul siapa tokoh itu? Dan sutradara semalas apa yang enggan mencari tahu siapa tokoh nyata yang nekat ia taruh dalam karya fiksi besutannya sendiri sementara kegelapan akan siapa tokoh itu meliputi kepalanya? Untuk teater kelas RT di kampung saya saja, sutradaranya tahu profil masing-masing tokoh dalam karyanya. Tapi kok Achi yang kuliah di Fakultas Sastra tidak? Kecuali pentas itu adalah proyek seksis dan rasisme berbayar yang tujuannya adalah menghina dan mengkerdilkan satu suku, yakni suku Mongondow. Maka kecurigaan orang yang nyerempet ke agenda Pemilukada yang tinggal sebulan digelar, jangan dikira petir di siang bolong.

Tapi dari Achi seniman harus kembali belajar, kepandiran yang diperparah dengan keduafaan literasi ditambah boom SARA yang melanda seniman, adalah bahaya laten yang hanya akan memberangus kegembiraan dalam berkesenian dan memicu meletusnya konflik tak berguna antar suku di Sulut lantaran payahnya nalar dan isi kepala pelaku seni. Terlebih kepurbakonyolan ide marketing yang meyakini; semakin kontroversial, viral, dan memicu konflik antar suku ini pentas teater, adalah jalan menuju laku mendatangkan banyak subscribe dan full pundi.

Sampai hari ini saya kok penasaran, siapa guru yang mendidik Achi dalam seni teater? Siapa mentornya? Apakah Achi yang menulis sendiri naskah teaternya? Atau Achi tok sebagai sutradara saja. Jika bukan Achi, maka siapa penulis naskah teater itu kemudian ditodongkan ke Achi untuk dipentaskan? Jika Achi sang sutradara yang menulis sendiri naskah verba/dialognya, maka dengan menyaksikan hasil karyanya, pantaslah jika kita menyebut pentas itu berbau busuk karena di daur ulang dari tong sampah rasisme! Padahal Achi yang berdomisili di kota Manado, tak perlu jauh-jauh ke Mongondow untuk belajar bagaimana hidup penuh persaudaraan, saling menghargai antar sesama meski dengan suku yang berbeda. Sebab di Manado, ia bisa dengan mudah nongkrong bergaul dengan komunitas-komunitas anti fasis anti rasis yang hidup di jalanan kota Manado. Ayolah nongkrong dan belajar sama anak Punk dan Skinhead SHARP di Manado. Pasti dengan senang mereka akan memberi kultum anti rasis kepada Anda dan ISBIMA.

Tanggapan Singkat Kepada Om Reyner

Fiksi adalah fiksi. Tidak bisa dihukum. Fiksi haruslah dilawan dengan fiksi. Kebebasan berkespresi jangan dipidanakan.

Begitu kira-kira saya simpulkan sikap Reyner dalam membaca keributan yang berkelindan di Mongondow terkait pentas teater Pingkan Matindas Cahaya Bidadari Minahasa. Kesimpulan saya tentu disertai dengan kesadaran bahwa prinsip itu pasti sudah menjadi ‘kredo’ Reyner bukan nanti sekarang ini.

Dalam konteks Pingkan Matindas yang melahirkan keributan, wabil khusus di jagat Mongondow, apakah Reyner seorang diri dengan sikap fiksi lawan fiksi? Tidak. Pelahap ribuan halaman buku itu tidak sendiri. Ada barisan orang Mongondow yang sependapat dengannya.

Mengutip Reyner di Facebook, benar bahwa teater Pingkan Matindas Cahaya Bidadari Minahasa itu fiksi. Adegan sadis pemenggalan kepala raja Bolaang Mongondow, dialog-dialog atau adegan verbal yang seksis atau yang rasis, semua yang terjadi di atas pentas sama sekali tak benar-benar terjadi kecuali rekaan Achi belaka. Itu fiksi, bukan fakta, cumak fiksi, bukan peristiwa sesungguhnya, hanya imajinasi dan adaptasi dari naskah.

Karena bagian ini adalah tanggapan singkat kepada Reyner yang sudah terlanjur panjang, maka supaya tidak lama-lama saya ingin menukil ungkapan Lidia Baenal untuk Om Reyner:

“Bagaimana perasaanmu jika kami ambil Ibumu dan kami belah payudaranya, itulah perasaan orang Amungme sekarang”.

Bagi suku Amungme yang menetap di Amungsa meliputi puncak-puncak tinggi pegunungan Nemangkawi di Papua, hutan adalah tempat Ibu rebah. Gunung-gunung adalah payudara Ibu, dan sungai – sungai adalah air susu Ibu yang mengaliri kehidupan. Hutan, gunung, sungai-sungai, adalah leluhur suku Amungme.

Payudara Ibu suku Amungme ini sejak tahun 1973 dibelah, diiris, dipenggal, dan dilubangi bahkan lebih dalam dari tinggi puncak-puncak gunung yang dibelah dan dilubangi oleh Freeport McMooran dan siapa saja yang terlibat dalam menyokong langgengnya pengrusakan itu.

Om Reyner, orang Mongondow bukan tak tahu bahwa pentas kemarin adalah fiksi belaka, tapi ketika fiksi itu menampilkan tokoh historis yang melekat padanya nilai adat dan kultural suatu kaum, etnis, dan suku (Mongondow) terlebih tokoh historis itu dihadirkan lewat lakon yang sungguh ahistory dan dihina-dinakan, sudah diingatkan kepada sutradara agar jangan tetapi tetap tancap gas, maka tak selamanya fiksi dibalas dengan fiksi.

Jadi Apa Mau Orang Mongondow? Membalas Fiksi dengan Belati?

Orang Mongondow sejak ribuan tahun sebelum masehi sudah lebih dulu beradab. Inilah yang menolong mereka jauh dari perilaku-perilaku biadab sehingga kerap terhindar dari kebedebahan orang-orang tak beradab sebab mereka sudah pernah melewati masa-masa itu. Suata masa yang telah lama berlalu dimana mereka tak bisa tidur sebelum mengoleksi selusin kepala manusia seolah mengoleksi buku di atas rak literasi.

Arwah para leluhur selaku manusia-manusia histori ini masih ada di Mongondow. Sebuah kesepakatan dan ketetapanlah yang membuat mereka abadi di mata burung-burung para bolian sebelum kiamat tiba. Di waktu-waktu tertentu dan terpilih, mereka mengintai malapetaka lewat mata Manikulu atau di mata Manguni kata saudara tetangga. Mereka ada dan mengawasi kita bahkan ketika kita sedang berasyik-masyuk di layar smartphone menunggu microphone bicara; pintu teater 2 telah dibuka, para penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan memasuki pintu teater 2.

Maka sebelum malam menjadi gelap, dan burung para bolian membawa sendu lagu, pun perahu orang berselempang siap digayung bersama formasi bintang yang menukik di barat daya, maka meminta maaf dengan damai di tempat leluhur beristirah, tak akan membuat mulut kita menjadi dubur dan dubur kita menjadi mulut. Atau hati memang keras seperti batu, sampai pada akhirnya cermin mengagetkan kita di pagi-pagi buta.

Catatan : *tulisan miring berwarna hijau paling atas mengawali paragraf, sebelumnya tidak ada. Nanti disisipkan pada tanggal 6/11/2020 pukul 10:23 WITA.


Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.