Yang Ditebang di Atas Panggung Itu Bukan Leher Raja

Bagikan Artikel Ini:

BARANGKALI yang ditebang di atas panggung itu bukan leher sang raja;Β  Yang dipetik di bawah pohon pinang bukan sirih, bukan kepala narapati dari seberang Malesung, pun bukan kepala Remi Sylado di Flores Room Hotel Borobudur pada tahun 1988; melainkan penanda dari sesuatu yang setelah hari-hari ini tidak akan lagi kita anggap sepele.

Ketidakhangatan belakangan ini mungkin membikin kita bertanya banyak hal. Bisakah keengganan berempati dibenarkan dengan kebebasan berekspresi? Dapatkah estetika menebang leher etika di ruang publik? Dibenarkankah kredo β€œseni demi seni” (π‘™β€™π‘Žπ‘Ÿπ‘‘ π‘π‘œπ‘’π‘Ÿ π‘™β€™π‘Žπ‘Ÿπ‘‘) di hadapan keretakan sosio-kultural serta ketidakakraban yang sesungguhnya bisa dihindari?Masing-masing kita hendak menjawabnya, meski mesti terbata-bata. Tapi, apakah yang hendak dibela dari pagelaran yang sejak awal sudah mematikan lampu di mana ia tak bisa lagi melihat wajah saudaranya? Bisakah alibi seni demi seni menjawab ini?

Seni demi seni atau β€œπ‘™β€™π‘Žπ‘Ÿπ‘‘ π‘π‘œπ‘’π‘Ÿ π‘™β€™π‘Žπ‘Ÿπ‘‘β€ bisa kita mengeti sebagai keyakinan kalau seni tidak bisa direduksi ke dalam fungsi maupun dievaluasi berdasarkan efek atau hubungannya terhadap kenyataan. Ia merupakan dogma tentang seni yang berdiri di atas kaki sendiri, seni yang tak terpengaruh oleh apa pun di luar dirinya, bahwa seni dipandang sebagai perkara ungkapan jiwa yang tak terganggu oleh salinan kenyataan sehingga kerangka evaluasi estetis tidak dapat kita temukan di kenyataan di luar karya seni itu sendiri. Edgar Allan Poe (penganut estetisisme ini) mengekspresikannya dengan: β€œβ€¦ π‘‘π‘Žπ‘˜ π‘Žπ‘‘π‘Ž π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘™π‘’π‘π‘–β„Ž π‘π‘’π‘Ÿπ‘šπ‘Žπ‘Ÿπ‘‘π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘˜π‘’π‘‘π‘–π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘’π‘π‘œπ‘‘π‘œπ‘›π‘” 𝑝𝑒𝑖𝑠𝑖 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” 𝑑𝑖𝑑𝑒𝑙𝑖𝑠 π‘‘π‘’π‘šπ‘– π‘ π‘’π‘π‘œπ‘‘π‘œπ‘›π‘” 𝑝𝑒𝑖𝑠𝑖 𝑖𝑑𝑒 π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–.” Lawan dari gerakan seni ini adalah realisme.

Imbas dari perdebatan antara realisme dan estetisisme yang berakar dari abad ke-19 ini, menjangkau Nusantara kita pada demokrasi terpimpin Soekarno. β€œSeni demi seni” yang diyakini HB Jassin mengalami benturan dengan realisme sosial sebagai ketegangan antara Manikebu & Lekra. Beberapa tahun kemudian, β€œKi Panji Kusmin” beserta pledoi lebih dari seratus halamannya yang menyeru l’art pour l’art rupanya hanya menunda kekalahan sajaβ€”Jassin divonis hukuman satu tahun kurungan dan masa percobaan 2 tahun, yang sekali lagi mengusik kita bertanya: sejauh mana estetika bisa β€œmenebang” leher etika?

Pembelahan antara dua kubu estetik itu (realis vs romantik atau Manikebu vs Lekra) terletak pada problem kuno filsafat: perkara mimesis. Estetika Yunani mewasiatkan pada kita anggapan umum bahwa seni adalah peniruan atas kenyataan. Dalam gugatan Galileo, kenyataan itu ialah kenyataan objektif yang dapat kita lacak garisnya dari realisme sosial ke Uni Soviet sampai ke Lekra.

Dalam gugatan Galileo perihal kenyataan subjektif, ia beranak pinak menjadi kaum romantik sampai ekspresivisme sampai estetisisme yang gemar menyeru β€œseni untuk seni” (l’art pour l’art) yang menjeprat sebagai gerakan Manikebu di Nusantara dan gemanya tiba di wilayah paling Utara Sulawesi yang belakangan ini kerap berkelabat di lini masa kita.

Lalu kita kembali ke awal: apakah yang pertama-tama ditebang itu?

Apabila seni sebebal dan seromantik itu, maukah sutradara yang dari Utara menggelar kembali teater Voltaire yang pertama kali dipentaskan di Paris 1742 itu? 𝐿𝑒 πΉπ‘Žπ‘›π‘Žπ‘‘π‘–π‘ π‘šπ‘’, π‘œπ‘’ π‘€π‘Žβ„Žπ‘œπ‘šπ‘’π‘‘ 𝑙𝑒 π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘β„Žπ‘’π‘‘π‘’? Sekilas, bila kita (mau) melihatnya sebagai ekspresi l’art pour l’art, mestinya tidak ada penolakan tantangan demikian. Tapi bagaimana bila Mahound itu dipentaskan?

Mari membikin eksperimen pikiran sederhana: pintu teater dibuka, tirai merah disibak, nada solfeggio khas Arabian adalah musik latar, aroma gurun pasir menguar, sementara pagelaran seni berlangsung, di luar gerombolan ormas dengan panji warna-warni menuntut pembubaran, kelompok masyarakat yang bahkan tak merasa diserang oleh Mahound pun kecewa karena seni telah menciderai simbol toleransi & kerukunan beragama yang susah payah dirawat bertahun-tahun lamanya. Dalam eksperimen pikiran ini, masih tegakah berlindung di balik l’art pour l’art yang mulai guyah itu?

Dengan terbata-bata, mereka barangkali akan berkata, β€œtunggu, tunggu… ini hanya fiksi, Mahomet dalam teater tersebut hanya fiksi, dan fiksi tidak bisa dipertanggungjawabkan kepada publik”. Benar bahwa itu hanya fiksi, tapi manusia adalah storytelling animal, yang oleh Gonathan Gottschall, senantiasa mengalami sensasi emosi tertentu ketika mengonsumsi fiksi. Gottschall memperlihatkan kondisi emosional otak lewat pindaian MRI yang membuktikan kalau otak manusia lebih berperan sebagai partisipan ketika menonton fiksi, terutama bila fiksi tersebut membawa-bawa tokoh historis yang diolok-olok di atas panggung.

Otak storytelling animal akan merasa takut, marah, dan sedih bukan sebagai penonton fiksi, tapi sebagai partisipan dari kenyataan yang dialami otaknya, seolah-olah ia adalah pemeran dalam fiksi yang ia saksikan. Emosi itu akan bertambah berkali-kali lipat tatkala fiksi menyeret tokoh historis yang dihormati oleh identitas yang disandang mereka. Teater semacam itu bakal menggores luka hati mendalam, dan luka hati, mengaktivasi bagian otak yang sama ketika otak merespon luka fisik pada tubuh. Sekeras apa pun mengelak, pementas Mahound tak dapat menyangkal mekanisme mental yang bekerja dalam diri konsumen yang melihat teater itu sebagai seni yang ofensif terhadap nilai-nilai yang mereka genggam dalam batin.

Melihat bahwa seni bisa berdampak sebagai peristiwa sosial sebesar itu, dalam eksperimen pikiran ini, sang kreator hanya dapat berharap pada kredo lama, β€œseni demi seni”, cara lain adalah memberikan kesempatan pada mereka yang merasa diserang untuk menyerang balik (seolah karena kami sudah menampar pipi kiri Anda, maka Anda boleh menampar pipi kanan kami). Namun l’art pour l’art di sini bersifat ambivalen; kalau memang seni mau otonom dan tidak mau dievaluasi oleh kenyataan di luar seni itu sendiri, maka seni atau fiksi harusnya tahu diri dengan tidak menyeret-nyeret sesuatu di luar dirinya yang bersifat faktual (tokoh yang dihormati identitas kelompok tertentu). Unsur-unsur fiksi yang bermain dalam seni itu tidak punya kepentingan lain selain demi seni itu sendiri, namun unsur realis yang ditarik dari luar seni mesti dipertanggungjawabkan secara sosial apabila ia ternyata mengundang kehebohan yang kontra-produktif.

Namun bila kreator rupanya tidak mau kehebohan yang menguras energi ini terjadi, maka kembali saja ke kodrat l’art pour l’art yang sesungguhnya: kalau mau seni seotonom mungkin, tirulah apa yang berada dalam jiwa sang seniman (realitas subjektif) daripada mencopot apa yang ada di luar jiwanya (realitas objektif), semisal tokoh historis tertentu. Sang kreator tentu bisa lega, toh ini hanya terjadi dalam eksperimen pikiran sahaja.

Apakah sang kreator teater bersedia menggelar Le Fanatisme, ou Mahomet le Prophete? Dugaan saya sembilan puluh sembilan persen tidak. Terlalu banyak yang perlu dipertaruhkan: kekerabatan alamiah yang telah dirawat ratusan tahun lamanya di tanah yang sama yang di atasnya kita pernah berbagi udara dengan satu dan lain cara yang mungkin tidak pernah kita duga. Sang sutradara barangkali bakal menolak dengan berkata kalau teater tidak boleh menerabas tapal batas berkesenian yang berpotensi menyebabkan luka hati yang berpotensi mengoyak-ngoyak sesuatu di antara kita yang gampang renggang.

Penulis : Tyo Mokoagow

Orang Mongondow, sedang belajar, bermain, dan sekolah

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.