ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Sandwich

Bagikan Artikel Ini:

PADA jam makan siang, seorang teman bertanya, “Kenapa harus sandwich?”. Ini setelah 2 potong Sandwich tersedia di depan meja saya sebagai santapan menu siang.

Teman ini melihatnya. Maka itu mungkin bertanya.  Saya tahu dia bertanya bukan untuk mempersoalkan seluk-beluk Sandwich, lalu reaksioner memperkarakan, kemudian memberi label negatif.

Saya yakin dia bukan tipe orang seperti itu. Terlebih dia, juga saya, sama-sama tahu bahwa ada darah Sinabidak mengalir dalam nadi ini. Hm, saya tiba-tiba jadi ingat Mongondow.

Ditanya kenapa Sandwich, sepintas lalu saya justru balik bertanya pada diri saya sendiri,  ”Iya ya. Kenapa harus sandwich yang saya nikmati sebagai penambal perut siang ini? Padahal tak jauh dari kantor, ada kantin yang menyediakan menu lokal berbagai varian”.  Haha, saya jadi geli sendiri. Tapi soal menu siang kali ini, Sandwich adalah pilihan.

Kenapa Sandwich. Ini sebenarnya soal rasa sekalian perut. Urusan belakang soal sejarah, budaya dan pola makan. Seperti kata iklan di televisi, rasa tak pernah bohong. Dan sama halnya dengan Sandwich siang ini, tak ada kepura-puraan disetiap lapis yang dinikmati.

Sandwich itu adalah sekelumit rasa yang apa adanya. Roti lapis, boleh juga yang kembali dipanggang, kemudian dilapisi keju, ommelette, sedikit mayones, sayuran, irisan tomat segar, dan paprika yang disesuaikan dengan selera masing-masing.

Cheff  di kantor yang menyediakan ini bilang, sandwich itu beragam. Tapi teman-teman, tak perlu kita kaji-kupas di sini ya. Itu bukan bagian saya. Kalau urusan perut, nah itu baru saya boleh ikut. Kan saya bukan Cheff.  Tapi yang tinggal tahu santap ketika menu disediakan di meja. Asalkan cocok dan enak di lidah saya yang Mongondow (percayalah saya juga tergila-gila dengan Yondog), maka tak ada soal untuk itu. Sehingga, Bismillah…saya makan dengan gembira dan penuh kemerdekaan.

Sandwich, selain karena gampang dibuat, gak ribet, dan tentu tetap mengutamakan kwalitas rasa dan harus bikin kenyang.  Saya juga suka Sandwich karena semacam ada keyakinan dalam diri saya yang mengatakan,  Syahrini tidak menyukai ini. Bener gak? Lha, kok Syahrini yang dibawa-bawa dan jadi patokan? Gak boleh ya sekedar membanding-bandingkan dengan artis yang sebenarnya bukan pujaan saya? Dia kan ‘publik figur’ sebagaimana yang sering saya dengar di acara infotaintment?

Tapi kenapa saya yakin kalo Syahrini, yang bernama asli Rini Fatimah Jaelani,  gak suka Sandwich? Jangan suudzon dulu. Kan boleh saya mengira-ngira. Dan metode mengira-ngira ini adalah metode yang saya pakai untuk mengidentifikasi menu atau kuliner apa sebenarnya disukai doi. Tentu tidak sembarang mengira-ngira sebab saya menggunakan teknik pendekatan secara geografis dan sejarah kelahiran sang artis dari mulai masa kecil hingga remaja. Bukankah letak dan kondisi geografis serta budaya setempat mempengaruhi budaya menu dan pola makan?

Nah, karena Syahrini lahir di Bogor, tentu lidahnya lebih akrab dengan Roti Unyil, Mie Glosor, Gepuk Karuhun, Toge Goreng, dan sebagai pencuci mulut ada Asinan Bogor. Tapi rupanya doi dibesarkan di Sukabumi. Maka tentu lidah Syahrini lebih familiar dengan Sekoteng, Bubur Bunut, Bandros Alta, dan Kue Moci.

Aduh, kok tiba-tiba melebar  ya. Haha, saya pikir ini keluar gara-gara keseringan nonton acara gossip di tipi. Maklum saya kan perempuan. Laki-laki aja pada suka ngegosip, masak saya yang perempuan harus rela kalah sama mereka. Kapan patriarki berakhir kalo begini.

Kita kembali ke Sanwich.

Sebenarnya ada gak enaknya juga lho kalau kita orang daerah, terlebih dari negeri nun jauh di ujung timur Mongondow, ketika di rantau macam sekarang ini, tiba-tiba makan Sandwich, dan karena kami adalah kaum yang rentan Selfie, secara tak sengaja memosting foto dimana Sandwich ikut-ikutan nongol.

Maka, akibat ‘ketelodoran’ yang sebenarnya tidak haram inilah, kita jadi rentan difitnah atau dibully orang. Dibilang sok-sok-an lah. Dituduh kebarat-baratan-lah,  padahal apa, cuma karena sepenggal roti, sebutir telur mata sapi, sepenggal daging, tomat iris, dan sayur kol. Apa istimewanya? Dan di pelosok mana sih di Indonesia ini yang tak ada roti, tomat, sayur kol dan mata sapi?

Oh,ya. Saya adalah perempuan yang akan tampil paling depan untuk membantah habis-habisan jika ada orang yang menganggap bahwa, Sandwich adalah makanan kaum borjuis. Apalagi mengait-ngaitkannya dengan konsep asing sebagaimana yang sering saya dengar keluar dari mulut para politisi di tipi. Sebab bagi saya, Sandwich adalah Sandwich. Enak, bikin kenyang, dan menyehatkan. Titik.

Kalo masih belum puas dengan keterangan itu, maka baik saya tambahkan lagi;  Sandwich mengandung karbohidrat di roti panggangnya, dan telur mata sapi mengandung protein tinggi. Ini belum termasuk irisan tomat segar yang ciamik, keju, sayuran, paprika merah, hijau, dan daging. Selain mengandung banyak vitamin, bikin kenyang, juga bikin pintar. Hehe. Hasilnya, kerja di kantor jadi maksimal. Bukankah kita percaya bahwa isi perut menentukan budaya kerja dan produktifitas? Tak percaya, tanya sana sama Mbah Gogel.

Sandwich, bila kita tarik, meski secara paksa, dan dimaknai dengan proses dan jalannya kehidupan beserta masalah-masalah yang dihadapi, adalah kenikmatan yang mengenyangkan, sekaligus menggugah kesadaran bahwa betapa pentingnya menyiapkan makanan bergizi. Sayuran segar yang dipilih lewat proses ketat, laksana kita memilih orang-orang yang ada dalam hidup kita.  Tentu dengan persoalan-persoalannya.

Dilihat dari tekstur dan pola susun bahan makanan yang diramu sedemikian rupa kemudian diapit dua buah roti lalu kita santap, kunyah, nikmati sampai habis tak bersisa, seperti menggambarkan perjalanan hidup yang sudah susah payah  kita ramu, bumbu,  jamu, namun akhirnya sirna begitu saja setelah dihimpit dua persoalan; masalah dan fakta, hingga tinggal menyisakan kenangan sebagai masa lalu yang mengajarkan pada kita untuk tidak akan seenaknya kembali disitu dengan masalah yang itu lagi, habis.

Sandwich, sehebat apapun Cheff meramu, dan selahap apapun kita menikmati,  semua hanya sementara kemudian sirna menjadi sesuatu yang kita hindari, menyisakan pelajaran bahwa kita tetap akan tunduk pada proses alamiah.  Begitu juga dalam hidup kita. Sehebat apapun,  dari manapun dan dengan siapapun, tetap hanya sementara. Jadi jangan takut, tak perlu menyombongkan diri, karena semuanya hanya sementara. Proses alam selalu menjadi penentu.

Dan sebelum saya mengakhiri tulisan ini,  saya hampir lupa kalau hendak memberi umpama, seandainya Sandwich itu cowok, maka dia adalah tipe cowok sederhana namun  emeizing (Amazing maksud saya hehe..).  Cowok Sandwich tak sekedar punya gaya. Dia sebenarnya punya nama besar yang cukup dikenal khalayak. Selain berisi, dia juga punya style dan cita rasa yang boleh berbeda tapi semua punya makna bagi dia.

Dan seandainya Sandwich itu cewek, maka dia adalah cewek yang punya karakter meski tampilannya sering dipandang sebelah mata. Tapi Sandwich sebagai cewek,  betapa mengundang manfaat bagi orang-orang di sekitar dia. Dia bisa hadir kapan saja saat diperlukan. Cewek Sandwich adalah tipe cewek yang gak neko-neko, gak ribet, terbuka dan apa adanya.

Jadi, bagaimana? Apa Anda menyukai Sandwich…????

Penulis : Zhuche Mod

Bekerja sebagai Head Admin and Reception di sebuah perusahaan swasta yang pernah ia rahasiakan di mana itu. Suka membolang sendiri dan tergila-gila sama yang namanya film. Banyak hal yang ia tolak, kecuali diajak nonton, dan makan. Orang Boltim

 
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *