ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Derita Para Bondagemelankolik yang Terumbar di BBM

Bagikan Artikel Ini:

2

PADA kesempatan kali ini mari kita iseng sejenak mencermati sebuah gejala psikologi sosial baru, yang sadar tak sadar, sedang kita idap sebagai sebuah penyakit psikologi yang lahir dari pesatnya arus perkembangan jaman dan kecanggihan teknologi informatika.

Ini sebenarnya bukan penemuan baru. Tapi di Mongondow, gejala ini terungkap ketika saya mulai menaruh perhatian menyimak Recent Update (RU) para pengguna BlackBerry Messenger (BBM), atau yang saya sebut sebagai anggota Jamaah Bebekiyah.

Dalam menyimak inilah, tiba-tiba ada semacam kegelisahan menggelikan yang muncul menjadi untaian pertanyaan di lubuk hati saya yang paling dalam, seperti; entah bagaimana generasi 80 atau 90-an mencurahkan rasa sakit hati, derita, kegalauan atau kepedihan, tatkala Bbm, Facebook, Twitter, Friendster, Blogger, Tumblr, WordPress dan Myplace, masih berupa spermatozoa yang terkungkung di testis semesta. Suatu masa dimana semua jejaring sosial—yang sekonyong-konyong telah kita jadikan agama ini—belum memiliki jamaahnya masing-masing, sebab masih bersemayam di kantong pel*r bima sakti yang menggantung di angkasa raya, setelah kelelahan bercinta dengan Black Hole-nya Steven Hawking.

Lalu entah dari mana datangnya wahyu atau siapa yang menurunkan ilham sehingga Facebook tercipta dari batok kepala si Yahudi, Mark Zuckerberg, dan muncul sebagai agama baru yang dalam hitungan beberapa tahun saja, tak hanya mampu menyedot 1 Milyar pengikut, melainkan mampu membuat jamaah Friendster pimpinan Jonathan Abrams, murtad ke Facebook.

Agar tidak terjebak membicarakan ‘agama – agama’ yang telah ditinggal murtad umatnya ke agama Facebook dan membentuk jaringan jamaah Fesbukiyah, maka mari kita kembali ke pokok soal. Ini penting sebelum kita menyerempet dan konak membahas ‘aliran kepercayaan’ Blogger yang hingga kini masih lestari dibawah pimpinan 2 ‘nabinya’; Evan Williams dan Meg Hourihan. Sehingga akan memancing kita membahas ‘anak kembarnya’ Blogger bernama WordPress, juga ‘sekte’ Tumblr yang diperkenalkan David Karp. Alhasil kita pasti akan mudah ‘terjerumus’ membahas ‘agama’ imut dan cute dengan followernya yang wajib disuruh menghemat bacot dan gak neko-neko, yang pertama kali dikicaukan oleh sang nabi Twitter bernama Jack Dorsey.

Baik, kita kembali ke awal.

Jadi gejala psikologi sosial kekinian apa yang saat ini merambah para Jamaah Bebekiyah di Mongondow, atau bahkan di luar Mongondow?

Tentu saya tidak bermaksud menyeret ingatan kita menyusur ke zaman ditemukannya prasasti – prasasti kuno, tempat (mungkin) orang-orang galau era jadul mengais deritanya disitu. Tidak juga ke jaman Sahabat Pena ketika masih jaya-jayanya, termasuk kemunculan lagu Laura Dakozta di jaman ketika kita kanak dulu. Bukan pula Sahabat Aneka, HAI, GADIS, Anita Cemerlang, dan majalah-majalah seperjadulan kala itu.

Tetapi yang tiba-tiba terlintas dalam isi kepala saya, yang tentu sembarangan sekali—kalau tidak dibilang asbun—mengemukakan bahwa; ada gejala psikologi sosial baru dihadapan hidung kita. Symptom ini adalah apa yang saya sebut sebagai Bondagemelankolik-bebekiyah.

Seperti halnya Spokenmen Feminia yang telah saya angkat pada tulisan sebelumnya, istilah Bondagemelankoli-bebekiyah, tidak saya petik secara sembarangan dari pohon sirsak di halaman rumah orang, melainkan bikinan sendiri versi yang alangkah sewenang-wenangnya memang.

Para pembaca yang budiman pun yang budimin mungkin berpikir; saya adalah orang yang gemar membuat istilah?

Bukan cuma gemar wahai pembaca. Di jaman kanak dulu, saya malah menciptakan kosa kata dan bahasa antah-berantah yang dipakai untuk kalangan terbatas saja. Biasanya kami gunakan untuk misi-misi imposiblle, yang alangkah bandelnya kami gerombolan saudara sepupuan di jaman bocah. (Masih ada beberapa kosa kata yang hingga kini intens saya cakapkan dengan Sigidad, pemilik kerajaan Getah Semesta).

Kembali ke pokok soal bahwa, Bondagemelankolik-bebekiyah adalah sebuah gejala psikologi sosial baru yang merujuk pada kumpulan Jamaah Bebekiyah di Bolaang Mongondow Raya. Para penderita ini adalah mereka yang ketika dalam keadaan galau dan menderita, mampu merasakan kesenangan atau kepuasaan tersendiri setiap kali mengupdate status di BBM, berbentuk kepedihan, keputus-asaan, kegalauan, sakit hati nan penuh luka berdarah-darah, atas tragedi kehidupan (biasanya hubungan asmara).

Saya memperhatikan, semua sensasi rasa itu mereka reguk ketika dalam keadaan pedih dan tersakiti. Sehingga melahirkan untaian derita yang mereka umbar dalam bentuk status. Namun mereka senang dan merdeka melakukan itu. Sepertinya terpuaskan, dan tekanan atas beban galau dan derita yang menumpuk di dada, seolah sirna setiap kali status diumbar.

Lagu dangdut berjudul Pasrah yang dibawakan Muchsin Alatas yang liriknya mungkin tak asing lagi di telinga kita ; (“lebih baik kau bunuh…aku dengan pedangmu..asal jangan kau bunuh aku dengan cintamu”), adalah contoh lagu berkategori Brutalmelankolik bergenre Dangdut yang sempurna kita gunakan sebagai pisau analis dalam membedah Bondagemelankoli-bebekiyah.

Jelas lagu ini adalah lagu sakit hati berbalut brutality yang sadistis, dan mengandung nilai-nilai bondage, dilantunkan dengan nada melankolik, menyayat hati, meski ada pernyataan tegas untuk siap menderita. Artinya, si penderita memang sudah pasrah dibunuh dengan pedang, asalkan jangan dengan cinta. Sudah siap merasakan sakitnya dibantai dengan pedang (bila perlu dibunuh) dan merasa senang, puas, atau nikmat secara psikologis ketika yang memberi penderitaan terhadap dirinya adalah orang yang ia cintai.

Nah, sikap dan perasaan itulah yang disebut Bondagemelankolik-bebekiyah. Gejala ini merujuk pada Jamaah Bebekiyah tertentu. Mereka eksis di dunia Bebekiyah. Pola kerjanya jelas, tanpa mengenal waktu dan kesempatan. Asalkan layanan BIS (BlackBerry Internet Service) aktif, dan ada sakit hati yang bisa diolah, maka tengoklah di RU, mereka ada secara masif.

Lalu siapa saja mereka (mungkin juga kita?) yang eksis sebagai suspect Bondagemelankolik-bebekiyah? Jawabanya adalah; itulah mereka yang mengumbar derita, kepedihan, sakit hati, keputus-asaan, dan luka-luka, yang dilampiaskan dalam bentuk status di Bebekiyah.

Sebagian dari mereka, baik laki-laki maupun perempuan dengan segala jenis usia, adalah ahli dalam membuat status nan pedih. Terkadang mereka bak seorang penyair yang cepat dituduh gagal move on. Sebagian lagi bersikap agak hiperbolis karena terbiasa membesar-besarkan penderitaan, seolah-olah langit runtuh dari loteng kamar mandi dan dari atas toilet ruang karaoke tempat mereka nyenyong (dengan lagu-lagu pedih pula).

Tak sekadar ahli membuat status berdarah-darah, dengan embel-embel Display Picture mengiris nadi berisi untaian kata melankolik, para Bondagemelankolik-bebekiyah piawai juga dalam mendramatisir kegalauan yang dialami, sehingga memancing reaksi para Jamaah Bebekiyah yang terkonek sebagai daftar teman.

Siapa sih yang tidak tergerak hatinya ketika di RU kita menemu status teman begini:

“Biar jo kita ambe keputusan terbodok. For tamang-tamang qta minta maaf kalo selama ini so ada salah pa ngoni”.

Nah, apalagi status—bermakna pisah-sambut paling horror—itu didramatisir dengan membuat Display Picture beraneka-ragam benda maut dan bercak darah yang meluber dari ember aluminium, atau goresan silet di urat arteri.

Tentu akan ada serentetan chating dan bunyi PING!!! masuk ke kolom chat-nya. Tapi coba tebak? Si penderita Bondagemelankolik-bebekiyah ini tidak akan segera merespon chat tersebut. Itu seolah-olah menandakan bahwa yang bersangkutan memang sedang dalam perjalanan menuju ke hadirat Ilahi. Ia seolah-olah—dalam keadaan yang sedang menderita oleh terjangan-terjangan asmara yang galau membentur dinding—sedang menikmati perasaan senang dan terpuaskan secara psikologis ketika segala kepanikan beruntai-untai dialamatkan kepadanya. Ah, mereka memang lebay.

Tapi mereka tidak akan berhenti disitu. Untaian tanya penuh kecemasan yang Anda lontarkan melalui chating itu—jika di Read—maka biasanya akan dibalas dengan kalimat : “Biar jo, ndak apa-apa kwa qta ini”, lalu diberi emoticon Smiley yang seolah-olah mengisyaratkan bahwa dia memang sudah ikhlas untuk melepas hidup. Ekhuhu..!!

Diantara kita mungkin ada juga yang pernah menemukan begini : “Biar jo ngana bunung pa qta, asal jangan lupa polo deng ciong ne sayang..”

(Bayangkan, bunung men…. Bununnnngg….!!)

Tak jarang mereka juga nekat menarik-narik nama Tuhan kedalam persoalan yang mereka alami, seperti dalam status : “Please….Ambe jo pa qt Tuhan, Qt ikhlas, qt so lalah”

Mereka memang tidak pernah kehabisan akal dan begitu megalomaniak dalam memainkan peran. Dalam kasus lain, di antara mereka memang ada pula yang tidak selebay alay. Tapi soal urusan teknik, mereka tergolong unik dengan tingkat kebrutalan yang ditumpangi keculasan. Apa itu? Tengoklah contoh status berikut ini :

“Doi stor dapa pake, ujian so besok, SPP blum bayar, mungkin cuma jurang yang mangarti pa qta. Bye…bye teman-teman…”

Mereka memang pintar  atau mungkin pula culas. Penderitaan yang diumbar lewat status tersebut, terkadang memang tanpa diberi embel-embel DP  berupa benda-benda tajam dan bercak darah atau hal-hal yang membunuh. Cukup dengan kemelankolikan gambar untaian air mata darah dengan kata-kata menyayat hati.

Pembaca, sepertinya kita memang sedang berada bahkan mengalami kondisi dan gejala sosial kekinian secara akut. Menjamurnya gadget, tak hanya melahirkan gejala-gejala sosial baru dan segala kekiniannya. Melainkan pula dehumanisasi dan keterasingan sosial yang terjadi diantara kita.

Kita seolah tega mempermainkan kepekaan yang tumbuh murni dari dalam hati. Menyepelekan hubungan interaksi sosial karena telah mendapatkan substitusi dari gawai yang kita miliki. Lama-lama budaya curhat secara langsung sebagai bentuk relasi sosial di antara manusia, bakalan punah, tersubstitusi melalui perangkat gadget. Akibat lainnya juga, pola interaksi sosial kita menjadi berubah sehingga terjadi penurunan nilai sebab berinteraksi via gadget tak terlalu membutuhkan emosi dan nilai sebagaimana yang kita alami saat berinterkasi secara langsung. Semua sudah tergantikan emoticon-emoticon lensek!.

Tapi apa yang secara iseng dapat kita ambil sebagai ‘keuntungan’ yang dikontribusikan para Bondagemelankolik-bebekiyah?

Ah, Bro and Sistah. Aktifkan saja BIS dan girangkan diri dengan cara menyimak status-status terupdate dari para Bondagemelankolik-bebekiyah. Terkadang derita-derita yang diumbar secara amat dengan sengaja dan lebay khas Bondagemelankolik, bisa menjadi alternatif hiburan bagi kita yang suntuk. (Uwin Mokodongan)

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *