ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Empat Saran Soal Pesta Bikini SMA

Bagikan Artikel Ini:

JADI orang Indonesia memang serba salah. Apalagi bagi anak- SMA yang baru lulus Ujian Nasional. Sedikit pesta usai berkutat penuh ketegangan dalam mengikuti UN, dapat larangan sana-sini. Dituduh kebarat-baratan, padahal orang timur.

Dengarkanlah KPAI, Mensos Khofifah, Mendikbud Baswedan, Dinas Pariwisata, yang semuanya mewakili pamarentah. Mereka bahkan menganjurkan untuk melapor E.O ke pulisi Polisi.

Mengakhiri masa SMA usai UN kan gak harus bikin parti-parti seronok. Seperti kata salah satu dari mereka itu, saatnya memfokuskan diri untuk belajar kembali karena sedang dalam masa pubertas  persiapan masuk Perguruan Tinggi.  Ambil les private kek, atau bikin kelompok belajar matematika, itu kan lebih postif dan berguna, ketimbang hura-hura membuka aura kasih.

Kita sudah tak dapat membantah lagi bahwa hal-hal menyangkut dada, paha, pantat dan terutama selangkangan, akan amat sangat bermasalah di negeri hipokrit ini. Kalau bukan persoalan agama yang dibawa-bawa, maka moral dan budaya ketimuran selalu menjadi landasan.

Budaya ketimuran? Bali dan Papua itu masuk kategori budaya ketimuran nggak? Kalo Mentawai dan Kalimantan gimana? Orang rimba di Sumatera pun gimana? Lalu suku-suku yang di Sulawesi Tengah pun gimana? Apa itu masuk kategori budaya ketimuran? mana timur mana barat, orang Indonesia sepertinya bukan hanya punya standar ganda.

Jadi maunya para penegak tiang moralitas dan penjaga nilei-nilei ketimuran gimana? Gak boleh bikin pesta bikini di tempat dan ruang yang terbatas dihadiri orang-orang yang terbatas pula? Bukan keak di Mentawai, Kalimantan, Papua, atau di Bali sana, dimana kita (orang timur dan Indonesia juga) bisa berbaur dengan dada, paha, betis, pantat, dan hal-hal yang agak terbuka di tempat yang terbuka pula?

Berpuluh tahun lalu, Jean Paul Sartre, seorang eksistensialis mengatakan dalam diktumnya, “Human is condemned to be free,” (manusia dikutuk untuk bebas). Kenapa Sartre menyimpulkan demikian? Ya, mungkin karena dia juga sudah bisa memprediksikan bakal terjadi acara macam Splash After Class; “Anak SMA dikutuk untuk bebas!”. Gak boleh bikin parti-partian. Apalagi konsepnya bikini-bikinian. Sebab kebebasan itu nantinya akan dikutuk. Oleh siapa, ya siapa lagi kalau bukan macam orang-orang tadi, para penegak tiang agama, moralitas, dan penjaga nile-nile ketimuran versi mereka.

Kurang piknikkah mereka sehingga kurang paham bahwa, hanya dengan adanya kebebasan, maka manusia itu dapat bertindak, bahkan menjadi manusia itu sendiri.

Lalu timbul pertanyaan, terutama ditujukan kepada kaum eksistensialisme dan orang-orang yang memuliakan kemerdekaan; sejauh mana batasan terhadap kebebasan itu dapat bebas? Di jaman Orba ini mungkin yang dimaksud; kebebasan yang bertanggung jawab. Maka kita bisa menjawabnya begini; batasan kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan bagi individu lain, sebab kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia.

Lantas bagaimana dengan Devine Production dan anak-anak SMA yang hendak menggelar pesta bikini di Pool sebuah Hotel di Jakarta, namun keburu dibatalkan gara-gara kecerewetan penjaga nilei-nilei ketimuran dan pewaris kebenaran moralitas yang mereka pahami sendiri?

Ah, kasihan kalian (Devine Production, dedew-kakaw SMA, dan pihak Hotel). Kalian yang mula-mula bebas, tiba-tiba jadi objek kebebasan si subjek yang mengintip kebebasan kalian dari lobang kunci.

Jelas mereka ngaco. Kebebasan mereka untuk melarang, mengutuk, bahkan berencana mempolisikan kalian, adalah kebebasan yang membuat kalian menjadi tidak bebas. Mulanya kalian adalah pelaku kebebasan, tapi tiba-tiba menjadi korban dari kebebasan si pelaku kebebasan yang memelototi kalian dari ruangan sebelah. mengintip dari lobang kunci tadi. Seperti ini pula yang dikatakan Sartre.

Hm, sebelum kian pelik dan akan bergeser ke perdebatan yang memakan waktu dan ruang lebar, sekedar saran kepada dedew-dedew dan kakaw-kakaw SMA yang “dikutuk untuk bebas” bersama Devine Production (belakangan pihak Hotel juga) maka;

Satu : Karna kalian sudah tahu bahwa negeri ini disesaki kaum suci, kaum moralis, yang cepat murka jika mendengar hal-hal seputar dada, betis, pantat, dan selangkangan, maka sebaiknya untuk acara berikut (pasti kalian sudah punya rencana), buatlah lebih merayap dan mengendap-endap kemudian tutup semua lobang rapat-rapat. Salah kalian sendiri juga bikin video iklan Splash After Class lalu mengaplotnya ke YouTube, melibatkan dedew-dedew nan polos lucu pula. Belum tahu apa, kalau penduduk negeri ini (di Jakarta banyak) disesaki orang-orang ngeres yang suci?

Dua : Sebaiknya jangan bikin acara bikini-bikinian di Indonesia. Cobak kalian bikin di Bali. Dijamin deh gak ada orang yang bakalan gondok disana. Apalagi kalo kalian bikin di Papua atau di pesisir pasir putih Kepulauan Mentawai. Dijamin, gak ada orang yang bakalan darah tinggi, kadar gulanya naik, dan kolestrol menggila, sehingga kepedihan asam urat mengancam diri para moralis penjaga budaya ketimuran dan tiang agama.

Tiga : Tangan kalian jangan terlalu gatal sehingga tak tahan menggaruk-garukan status di medsos. Tak tahukah kalian bahwa di medsos itu berjibun intel-intel moralis yang saban hari saban malam bertugas memantau acara apa yang dapat membuat syahwat menegang secara tiba-tiba? Ini di timur bro. Timur yang barat, barat yang timur.

Terakhir : Cobalah datang ke Sulawesi Utara. Mengontak kami yang akan diam-diam menyiapkan lokasi yang mirip-mirip Phuket dan tak terlampau jauh dari Pulau Bunaken, sehingga Splash After Class yang sebenarnya kalian bikin terbatas, di ruang tertutup dan terbatas pula (sehingga tidak menganggu kebebasan orang lain), akan menjadi Splash After Class di ruang terbuka, di pasir putih nan indah, dan jauh dari kecerewetan mulut dan kemurkaan mata, hati, dan syahwat para moralis negri sehipokrit endonesya.

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *