ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Merebut Matahari Biru di Kotamobagu

Bagikan Artikel Ini:

AGUSTUS 2014 silam kita mendengar kabar, Beggie Ch Gobel selaku ketua DPD PAN Kota Kotamobagu, tiba-tiba diganti oleh Drs Wijayanto Patonti.  Pergantian ini berstatus Plt (pelaksana tugas).  Wijayanto dipercayakan sebagai pelaksana . Dia diketahui pula sebagai pengurus DPW PAN Sulawesi Utara (Sulut).

Alasan soal kenapa Beggie di Plt-kan, apalagi oleh kader yang datang jauh-jauh dari Manado, tentu hanya orang PAN dan Tuhan yang tahu. Jadi kita tak perlu berburuk sangka dan nekat mengatakan bahwa Bang Haji Rhoma dan Haji Lulung ikut mengetahui apa alasan dibalik pergantian ini, hingga membuat kita begitu mudah girang dan bahagia ketika tergelincir ke ranah buli-membuli. Cukuplah sudah kita terpesona dengan gaya bang Haji Rhoma saat berdendang di atas panggung, atau nyaris tercekak lantaran tak tahu diri ketawa melihat meme tentang Haji Lulung.

Baik, kita kembali pada topik yang dibicarakan. Ketika Beggie di-plt-kan, memang meruyak kabar di media massa saat itu yang menurunkan berita (terkonfirmasi) dari para elit partai termasuk Beggie sendiri bahwa, pergantian tersebut merupakan hal biasa, apalagi Beggie (konon) dipersiapkan untuk menduduki posisi pimpinan dewan (DPRD Kota Kotamobagu) sehingga harus fokus pada jabatan yang nanti diembannya.

Namun publik kotamobagu yang biasa nongkrong di warung-warung kopi tetap saja memiliki energi gunjing yang menggosipkan bahwa, ada kejadian luar biasa yang menjadi penyebab Beggie di plt-kan.

Soal benar-tidaknya itu, biarlah menjadi konsumsi internal PAN dan para pecinta kopi di Kotamobagu. Ingat, suudzon itu adalah dosa yang bersembunyi dibalik tirai dengki, demikian kata sahabat yang sebenarnya tak pernah ngomong begitu.

Tetapi akhirnya terbukti, publik memamah kenyataan dimana Beggie gagal menduduki posisi pimpinan dewan sebagaimana yang pernah didengungkan sebagai salah satu alasan penyebab Beggie di plt-kan oleh DPW PAN Sulut yang dikomandani Tatong Bara.

Kini, di tahun 2015, pasca kemenangan Zulkifli Hasan pada Munas DPP PAN di Bali, posisi ketua DPD PAN Kota Kotamobagu kembali menghangat. Apalagi sudah bukan rahasia umum lagi bahwa posisi PAN di Sulut (DPD dan DPW) tidak segerbong  dengan Zulkifli Hasan, tetapi berada di gerbong Hatta Rajasa. Meski pada saat mendekati hari H pelaksanaan Munas (bahkan konon ada yang beberapa jam), kabar burung berhembus bahwa, ada 9 DPD se-Sulut mangkir dari kesepakatan awal dan putar haluan dari Hatta Rajasa ke Zulkifli Hasan.

Informasi yang tak kalah menarik adalah, pada ajang Munas di Bali, konon DPD PAN Kota Kotamobagu memilih untuk berada di gerbong Zulkifli Hasan. Padahal publik yang melek politik di Kota Kotamobagu tahu betul bahwa Drs Wijayanto Pantoti selaku Plt DPD PAN Kota Kotamobagu adalah setali-tiga uang dengan Tatong Bara (Ketua DPW PAN sulut) dan Yasti soepredjo (DPD PAN era Hatta Rajasa).

Jika Wijayanto, Tatong, dan Yasti adalah trio vokal, maka ada nada fals yang melengking dari mulut Wijayanto. Kemudian, jika betul gosip yang mengatakan bahwa Wijayanto yang mewakili suara DPD PAN Kota Kotamobagu mangkir dari kesepakatan awal untuk tetap setia di gerbong Hatta Rajasa, namun kemudian bermanufer ke Zulkifli Hasan dan menjatuhkan pilihannya ke besan Amin Rais itu, maka kita mungkin bertanya; “Apa alasan Wijayanto melakukan itu?”  Hmm.. hanya dia dan Tuhan yang tahu ya. Soal apakah ada ‘bisik-bisik mesra’ antara dirinya dengan Beggie? Para pecinta warung kopi di Kotamobagu mungkin perlu segelas lagi agar asumsi ini bisa berlanjut.

Tapi bagi siapa yang pernah berguru pada Ki Joko Bodoh kemudian mencoba menerawang isi kalbu Wijayanto, soal adakah target-target terselubung yang akan ia manuferkan sebagaimana yang konon pernah dilakukannya saat Munas PAN di Bali, hampir bisa dipastikan bahwa jawabanya adalah, ya.

Tapi, apakah itu terkait target meneruskan posisinya sebagai plt ketua DPD PAN Kota Kotamobagu menjadi ketua definitif, hampir bisa dipastikan tidak demikian.

Lha, kenapa? alasannya bukan karena Haji Lulung atau berpulangnya Olga Syahputra, melainkan target untuk ‘menangkap matahari’.

Nah, betul kan? tapi, tunggu dulu.  Masalahnya matahari mana yang hendak ditangkap? apakah matahari biru di kotamobagu? atau matahari biru di Manado (Sulut maksudnya).

Hm, kemungkinan besar bukan Matahari di Kota Kotamobagu. sebab matahari di Kotamobagu santer terdengar sedang diperebutkan oleh dua orang kader lama dan baru. Konon kedua nama itu (ini kabar burung) kian mengerucut di DPP.  Tapi Wijayanto adalah sosok yang di luar ini.

Lantas siapa kedua orang ini? pesan lagi kopi segelas, sebab sebelum anda menghabiskannya, jawaban itu akan segera datang. Namun yang pasti, Beggie bukanlah sosok diantara kedua orang itu.

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *