ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

PDAM, Sigidad, dan Cita-cita Menjadi The Last ‘Air’bender

Bagikan Artikel Ini:

KEHIDUPAN di planet bumi ini dapat berlanjut karena adanya 4 unsur yakni, Air, Api, Tanah, dan Udara. Kita tidak sedang membicarakan semua unsur itu. Tidak juga tentang kisah seorang bocah plontos pengendali 4 unsur itu dalam Avatar: The Legend of Ang dan Avatar: The Last Airbender. Pada kesempatan kali ini kita hendak membicarakan soal Air.

Sebelumnya saya hendak menyampaikan bahwa Air yang saya maksudkan di sini adalah Air yang dikendalikan. Atau yang dikelola oleh sekelompok orang lewat sebuah organisasi atau perusahaan milik pemerintah bernama PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum).

Baik. Saya hendak  bercerita sedikit soal Air meski tahu betul bahwa milyaran manusia di planet ini tak perlu diajarkan lagi, apa fungsi Air dalam pengertian yang paling mendasar.

Tak ada memang yang dapat membantah bahwa air adalah sumber kehidupan setelah udara. Sebagian besar zat pembentuk tubuh manusia terdiri dari 73% air. Tiga per empat bagian dari tubuh kita juga terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih dari 4 – 5 hari tanpa minum air.

Seorang teman bergelar sarjana kedokteran di Universitas Sam Ratulangi, mengatakan kepada saya bahwa, ada 65 % volume air dalam  tubuh manusia dari total berat badannya. Ini berarti, jika berat badan Anda adalah 60 Kg, maka 65 % atau separuh lebih dari berat badan Anda adalah Air.

Lebih lanjut ia merinci bahwa selain darah, ginjal, dan tulang, otak adalah organ tubuh ma­nusia yang mengandung banyak air. Teman yang sebentar lagi akan melepas status jomblonya ini mengatakan pula bahwa, ada 2,272 liter air yang dibersihkan oleh ginjal dan 2,3 liter diproduksi menjadi urine sedangkan sisanya diserap kembali masuk ke aliran darah.

Air memang penting. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mempergunakan air tak hanya untuk ke­perluan minum belaka. Jangankan untuk gosok gigi, di kakus sekalipun kita butuh air, bukan tisu. Ini belum termasuk mencuci lingerie, g-string, kutang, kolor serta keperluan memasak, ngopi, dan urusan domestik lainnya.

Sebuah penelitian menyimpulkan, setiap orang membutuhkan rata-rata sekira 150-200 liter atau 35-40 galon per hari.  Apa Anda heran dan tidak sepakat? Jika demikian maka Anda tergolong orang yang jarang mandi, dan itu berarti pula Anda jarang gosok gigi. Apalagi jika yang beragama Islam. Bukankah sholat fardhu mewajibkan umat Islam untuk berwudhu 5 kali dalam sehari. Ketika Anda membuka keran air tiap kali berwudhu, berapa liter air yang terpakai? Ini belum termasuk urusan mandi dan cebok. dan ingat, di Indonesia ada kebiasan buang air. Dukun saja perlu air untuk menyemburkan mantra ke wajah pasiennya.

Betapa Air memegang peran penting dalam kehidupan manusia. Pantaslah dalam Undang – Undang Dasar 1945 ada Pasal berbunyi; Bumi, Air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Betapa kita melihat dan menyadari bahwa Air mendapat tempat mulia dalam pasal itu. Bayangkan jika batu akik yang dianggap sebagai unsur vital ketika undang-undang ini dirancang. Isi Pasal 33 pasti akan berbunyi; Bumi, batu akik, dan kekayaan yang terkandung didalamnya……..dst.   Hehe, gak keren kan? Oleh sebab itu pulalah,  usai menonton Avatar : The Legend of Ang dan Avatar: The Last Airbender, saya jadi curiga, para founding father’s kita adalah turunan para pengendali air. Mereka sadar betul bagaimana nasib rakyat Indonesia jika nanti air dikelola atau dikendalikan orang-orang jahat. Banyak rakyat mati keracunan atau malah mati kehausan. Paling tragis adalah tidak menutup kemungkinan  mati karena digerogoti penyakit kudis, tersebab jarang mandi.

Bukankah dalam  ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat? Penyakit macam kudis, kaskado dan sebangsanya, konon diidap oleh orang yang jarang bersih-bersih.

Sekarang kita bertanya; siapa pengendali air di daerah? Ya, tak lain dan tak bukan adalah PDAM.

Sungguh merupakan tugas mulia dapat menjadi pengendali air di daerah sendiri. Maka dari itu sahabat kita Kristianto Galuwo, pernah bercita-cita menjadi pegawai PDAM. Namun, setelah anak ini mulai bergaul dengan Delianto Bengga, cita-cita itu mengalami pergeseran. Entah apa yang diajarkan Delianto Bengga alias Debe sehingga Sigidad (sapaan lain untuk Kristianto Galuwo), ‘murtad’ dari cita-cita mulianya sebagai pegendali air atau yang lebih kita kenal dengan  karyawan PDAM.

Belakangan saya baru menemukan jawaban kalau Clash of Clan adalah salah satu game paling berpengaruh yang menjadi penyebab Sigidad mulai tak fokus dengan cita-cita mulianya. Konon Debe terlibat dalam memengaruhi.

Saya juga baru tahu bahwa agitasi propaganda Donni Bengga, yang tak lain adalah saudara sepupu Debe, adalah oknum yang paling bertanggung-jawab memperkenalkan CoC pada Sigidad. Saya jadi ingat bagaimana tempo hari Donni Bengga alias Dobs alias Dobeng sang marketing ulung, melancarkan agitasi propagandanya terkait CoC kepada Sigidad dengan mencamur-adukkan teknik marketingnya selaku orang show room dan karyawan finance terbesar  berlevel Asia Tenggara.

Meski sampai dengan saat ini Sigidad acap kali membantah dengan gigih kalau dia bukan ‘korban’ teknik marketing dari Bengga Brother’s, tapi undangan masuk Clan Tudu Passi, apalagi ada Samsuri Dilapanga, Bedewin, dan beberapa Dedew-dedew di sana, membuat Sigidad pasrah dalam keadaan favorite dan begitu menikmati TH 9-nya yang konon so sandar-sandar.

Padahal cita-cita awal sebagai pengendali air yang mulia itu, bahkan sudah direncanakan akan merambah ke sebuah ambisi untuk merebut posisi tertinggi dan bergengsi yakni sebagai Dirut PDAM. Terlebih ketika Sigidad ternyata sangat terobsesi dengan Avatar Aang. Terutama pada tokoh Katara dan Sokka dari Suku Air Selatan.

Pada suatu waktu yang belum terlalu lampau, Sigidad bahkan pernah berikrar, seandainya ia jadi berkarir di PDAM, dan akhirnya berhasil merebut posisi  direktur, maka ia akan mengganti nama PDAM menjadi TLAb yang tak lain adalah kependekan dari The Last Airbender.

Air disini bukan dalam pengertian bahasa inggris. Tetapi Bahasa Indonesia. Sebab Air dalam Bahasa Inggris berarti Udara.

Tapi kenapa menggunakan Bahasa Inggris kemudian disisip kata Air yang harus dimaknai sebagai Air yang bahasa Indonesia? “Suka-suka gue dong,” kata Sigidad.

Ia lalu sesumbar akan mengusulkan pergantian nama itu ke pemerintah pusat, dimana Presiden akan mengeluarkan PP maupun Keppres terkait pergantian nama itu. Konon katanya, itu adalah bagian dari reformasi birokrasi.

Ragam alasan dan pemikiran masuk akal akan ia susun secara sistematis, lengkap dengan kajian akademis, dan  filosofis. Konon semua itu ia akan siapkan sebagai bahan pertimbangan para pemangku kebijakan, terkait rencana penggantian nama PDAM menjadi The Last Airbender. Supaya lebih kreatif, katanya. Meski ia tahu betul bahwa Airbender bermakna Pengendali Udara.

Karena TLAb itu letaknya di Bolaang Mongondow, maka papan nama di depan kantor perusahaan akan ia ganti menjadi TLAb Bolmong. Lengkap dengan logo yang ke-Avatar-avataran. “Menjadi pengendali air adalah tugas mulia. Air adalah sumber kehidupan. Seperti udara, kita harus menjaganya dari pengaruh dan kekuasaan orang-orang jahat. Jangan sampai air dikelola dan dikendalikan orang-orang jahat itu,” katanya suatu ketika sebelum akhirnya ia putar haluan dan memilih berkarir sebagai seorang kuli tinta di surat kabar harian yang terbit di Mongondow.

Oh,ya. Ngomong-ngomong soal air dan pengendalinya, saya jadi ingat kasus yang kini melilit pengendali air di Bolaang Mongondow (PDAM Bolmong).

Sebenarnya ini kasus lama. Sudak meruyak sejak tahun 2010 (bahkan konon sebelum itu). Bermula dari dibocorkannya sejumlah borok PDAM oleh para pengendali airnya (baca; karyawan) setelah mereka tidak menerima gaji pensiun. Sedikitnya ada 17 nama pensiunan pengendali air yang uang pensiunnya belum dibayarkan pihak Dirut PDAM sejak tahun 2011.

Pada tahun 2014 silam, ke 17 pengendali air ini mengadu pada pihak DPRD Bolaang Mongondow. Itu adalah aduan yang kesekian kalinya. Mereka menuntut hasil hearing tanggal 13 November 2013 silam terkait nasib uang pensiun termasuk tuntutan agar pihak Direksi harus menyiapkan laporan keuangan 3 bulan terakhir, agar para pengendali air ini tahu kemana mengalir uang yang menjadi hak mereka.

Mereka juga mempertayakan soal iuran dana pensiun yang menurut keterangan Dirut PDAM Bolmong, Hasni Wantassen SE, telah disetor ke DEPENMA Pamsi, yakni semacam sebuah lembaga pengelola iuran Dana Pensiun para pengendali air di seluruh Indonesia.

Namun yang menjadi tanda tanya besar ke 17 pengendali air yang telah pensiun itu, sejak 2011 sampai dengan 2015 saat ini, uang pensiun mereka belum dibayarkan, padahal iuran itu telah disetor sesuai keterangan yang disampaikan.

Setelah 4 tahun lamanya terkatung-katung dalam pengaduan, sekarang kasus itu kembali merebak. Dugaan korupsi dana sebesar Rp 6 Milyar di PDAM Bolmong membuat Polres Bolmong meningkatkan proses penyelidikan ke tahap penyidikan.

Kasat Reskrim Polres Bolmong AKP Iver Manossoh berjanji akan segera melakukan pemanggilan kembali terhadap para pejabat PDAM Bolmong terkait dugaan kasus korupsi dana tersebut.

Gelar kasus juga sudah dilakukan dan pihaknya menemukan adanya indikasi dugaan korupsi.

Sejumlah nama juga sudah dipanggil oleh penyidik Tipikor Polres Bolmong, termasuk oknum Bendahara dan Direktur Utama dan Direktur Umum PDAM.

Kita tunggu kelanjutan kasusnya bagaimana nanti. Tapi setidaknya kita selaku sahabat Sigidad, begitupun yang bersangkutan, dapat bersyukur. Seandainya Sigidad benar-benar berkarir selaku pengendali air, dan berhasil menduduki top eksekutif, saya nyaris tak bisa membayangkan, bagaimana orang setampan dia digiring ke Polres Bolmong untuk kemudian menjadi pesakitan di Pengadilan.

Soalnya saya khawatir, jika itu betul terjadi pada Sigidad, maka adik kita Samsuri Dilapanga alias Ruli alias Ses (yang selalu merasa ganteng), dan seringkali menjadi rival debat dan bahan bully Sigidad dalam banyak hal termasuk soal Bola dan Gaji Buta, akan senang mengutip penggalan sajak Chairil Anwar kemudian dikirimkan secara khusus pada Sigidad : “Mampus kau dikoyak-koyak sepi!”

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *