ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Skeptisisme Sejarah Kartini

Bagikan Artikel Ini:

KARTINI  yang kata banyak orang disebut-sebut pelopor emansipasi wanita, yang katanya Ibu dari akar ide feminis Indonesia, sebenarnya tuh biasa-biasa aja. Saya pribadi lebih kagum sama Cut Nyak Dien atau Dewi Sartika.

Si Kartini, yang katanya berjuang, menurut beberapa sumber, dia tuh cuma anak priyayi yang ngambek karena dikawin paksa saat masih umur muda dan dibajuin kemben, bersanggul, yang kerjaannya cuma duduk-duduk sambil ngeteh dan surat-suratan sama Noni Walanda.

Trus, 11 tahun kemudian setelah dia wafat pada usia 25 tahun, “surat-suratnya” yang keasliannya masih diperdebatkan itu,  konon dikumpulkan, dijilid,  lalu dibikin buku oleh J.H.Abendadon. Judulnya Door Duisternis Toot Licht.

Sebagai anak orang Jawa, sedari kecil saya terbiasa disuapi dominasi kultur Jawa yang seolah-olah representasi dari keseluruhan budaya Indonesia.

Bukankah ini menjadi timpang, ketika katanya Indonesia adalah negara kesatuan dari beragam suku bangsa yang berbeda, pada akhirnya dipaksa menjadi satu di bawah bendera kaum sentralis?

Kenapa gak ada hari Dewi Sartika? Martha Christina Tiahahu, atau hari Cut Nyak Dien? Kenapa cuma ada Kartini?

Selama masyarakat masih belum bisa menerima dan selama para moralis fasis nan patriarkis masih menciptakan hukum yang sewenang-wenang untuk dipatuhi perempuan yang mereka pinang, dan selama mereka masih mengharapkan semua perempuan takluk kepada mereka untuk tidak membagi sejengkalpun kulitnya dilihat publik, atau selama perempuan bebas yang dipinang ini terdomestifikasi, dianggap benda, diobjekkan, dimiliki, menjadi sekunder, dan tak lagi menjadi subjek yang mampu memilih keputusan atas tubuhnya sendiri, maka maaf, saya akan selalu skeptis dengan perayaan latah kalian di Hari Kartini ini.

*NB : Tanpa bermaksud menjadikan kaum perempuan sebagai Liberal Feminist.

Penulis : Andriette Lakshmi

ARTIKEL TERKAIT :

Dengan Segala Hormat, Ibu Kartini

Artikel lainnya KLIK DISINI

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *