ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Untukmu, Mary Jane Veloso

Bagikan Artikel Ini:


SAYA bukan seorang penganjur, agar narkotika diedar-jual bebas. Bukan pula yang berdiri menjadi pendukung orang-orang atas kebebasannya dalam mengonsumsi narkotika. Terlebih lagi mendukung para pengedarnya. Sebab realitas yang saya temui terkait narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba), justru mengancam kebebasan itu sendiri.

Tak sedikit saya melihat, bagaimana beberapa kawan meringkuk di jeruji besi, hingga membawa efek samping diranah sosial dan ekonomi. Tak sedikit pula kabar dan gambaran bagaimana para pecandu yang lolos dari mulut buaya, justru terkungkung dalam tembok rehabilitasi, dan yang terkejam adalah dibunuh oleh hukum positif di republik berkemanusiaan yang adil dan beradab ini.

Ada denyut yang menimbang dalam dada, yakni soal vonis yang dijatuhkan kepada para terdakwa kasus narkotika; dari yang direhabilitasi, hingga yang berujung di jalan mati!

Mereka yang berhasil lolos dari jalan mati (pembunuhan oleh para eksekutor), adalah para pemakai, penyalahguna, atau pecandu. Pidana terhadap mereka adalah rehabilitasi (diberi kesempatan untuk dapat hidup sembari diobati di panti rehab). Tapi apes bagi mereka yang (konon) terbukti sebagai kurir, pemasok, pengedar, dan bandar. Hidup mereka akan berakhir di ujung senapan para eksekutor. Door..Door!!

Untuk yang terakhir ini (hukuman mati), saya merasa tak bisa mengacungkan tangan sebagai tanda setuju, tatkala ditanya; pantaskah hukuman mati dilakukan terhadap para terpidana kasus apa saja terutama narkoba?

Alasan saya simpel; Agama yang saya anut mengajarkan bahwa, tak ada seorang pun yang berhak mengambil nyawa manusia, kecuali sang pencipta. Dialah pemilik kemahakuasaan semesta, termasuk roh/jiwa kita selaku umat manusia.

Tapi bila yang menjadi pertimbangan pemerintah, negara, dan alat-alatnya adalah; negara kita sedang dalam darurat narkoba, dengan statistik yang lumayan fantastik sehingga perlu melaksanakan hukum dengan tegas; nyawa dibalas nyawa, darah dibalas darah, maka maaf, saya tetap akan menjadi orang yang tidak akan mampu dan mau mengacungkan tangan sebagai tanda setuju.

Lepas dari kontroversi, pro-kontra penerapan hukuman mati terhadap para terpidana kasus norkoba yang akan dieksekusi besok (Rabu, 29 April 2015), saya berempati terhadap mereka, termasuk kepada Mary Jane Veloso.

Mary Jane, dipidana mati oleh hukum di republik ber-kemanusiaan yang adil dan beradab ini, karena dia dituduh sebagai penjahat narkoba jaringan internasional. Sekalipun ada sejumlah keterangan sebagaimana fakta dalam persidangan dan yang disampaikan penasehat hukumnya melalui grasi yang dikirimkan kepada Presiden Jokowi, bahwa Mary Jane hanyalah korban dari human trafficking dan drugs trafficking, dijebak dan ditipu oleh (yang sebenarnya) kaki tangan penjahat narkoba internasional, dengan cara dijanjikan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga.

Betulkah itu? Atau Jaksa, Hakim, dan terakhir Presiden (jika benar mambaca grasi yang diajukan) memang tak peduli dan tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa, apa yang disampaikan Mary Jane dalam pengadilan (begitupun dalam grasi dan PK) hanyalah bualam semata. Dan menyelamatkan generasi muda dari kematian gara-gara heroin yang harga per sekali hidu saja Rp 2,3 juta, dapat membuat adik-adik remaja Indonesia mati. Sehingga untuk menimbulkan efek jera, Mary Jane seorang single mothers yang punya 2 bocah laki-laki ini pantas dibunuh?

Tapi bagaimana jika betul? Bahwa, Mary Jane yang dijanjikan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, tanpa sepengetahuan dirinya, para penjahat narkoba yang sebenarnya, sudah mengepak dan memasukkan Heroin seberat lebih dari 1 Kg kedalam kopernya, tanpa ia tahu menahu? Hingga akhirnya ia ditangkap petugas di Bandara Adi Sucipto. Bagaimana jika kejadiannya memang begitu? Bukankah kita sudah membunuh orang yang hanya jadi korban?

Lepas dari benar tidaknya asusmsi itu, sebenarnya nurani selalu bisa membuka jalan. Kecuali ketika ia ditutup dan dikunci rapat-rapat.

Maafkan kami Mary Jane Veloso yang tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya bisa meringkuk dalam miris penuh beban yang kini engkau rasakan. Maafkan kami yang merasa seoalah-olah paling benar dan lebih mulia dibandingmu.

Namun yakinlah bahwa, engkau adalah bagian terpenting dalam catatan sejarah hukum republik yang ber-kemanusiaan yang adil dan beradab ini. Engkau adalah tokoh dan sosok pejuang bagi keluarga terkasihmu. Menjadi tulang punggung keluarga bukanlah hal yang mudah Mary Jane.

Engkau adalah sosok Kartini dalam kisah berbeda dan lebih keras. Berjuang melawan kungkungan kemiskinan yang melanda keluargamu. Meninggalkan rumah dan terpontang-panting dalam keras dan kejamnya hidup demi impian untuk dapat menyekolahkan anak-anakmu. Bekerja menjadi babu’ di rumah orang, melewati ancaman perkosaan, penipuan, perdagangan manusia, dan kini terperangkap dalam jaringan narkotika. Hidup memang keras dan kejam, apalagi bagi single mother yang miskin papah sepertimu.

Engkau laksana pejuang bagi keluargamu. Kemiskinan memang memiriskan dan selalu menjadi mangsa. Kemiskinan juga tidak pernah mampu mengetuk pintu hati nurani penguasa. Kemiskinan ibarat kutukan berwajah purba tanpa pengampunan.

Engkau adalah simbol perempuan proletar, yang tinggal punya tenaga untuk ditawarkan kepada para majikan yang pernah mau memperkosamu. Engkau adalah perempuan papah dengan wajah yang hanya bisa dianggap sebagai penjahat. Kemiskinan tidak bisa diandalkan untuk mengetuk nurani kekuasaan yang berlimpah. Kemiskinan selalu dianggap sebagai kesalahan akibat kemalasan diri sendiri,  tanpa perlu dunia melihat apa yang sebenarnya melahirkan itu, dan apa yang tetap membuat itu langgeng.

Yakinlah Mari Jane Velonso, ada penghakiman selepas penghakiman untukmu. Ketika engkau memang meyakini bahwa kebenaranmu adalah kebenaran paling sepi di dunia ini, engkau tahu nantinya akan berada disuatu masa penantian dimana engkau adalah salah satu yang ada di Firdaus itu.

Esok, tak ada lagi semesta kehidupan untukmu. Mereka telah merampasnya. Tapi kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, akal, dan kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri walaupun mereka telah dan sengaja menjerumuskanmu.

Dan kepada para penggadilmu, maafkanlah mereka, begitupun regu penembakmu yang esok akan mengakhiri kehidupamu, sebab itulah hukum terutama, dan jangan lupa pula berdoalah kepada Allah Bapamu di sorga dengan ungkapan akhir; ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Amin.

Penulis : Yodi A Marendes

Mapala Wallacea UDK

 

 

Artikel Terkait:

1. Jelang Eksekusi Mati

2. Menunggu Mati Dibunuh

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *