bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy banner-kpu
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Kotamobagu Kota Berkonsep Razia

Bagikan Artikel Ini:
1
foto: firmansyah_goma

SAYANG umur Kotamobagu, hingga hari ini, belum memasuki masa aqil baliq. Baru 8 tahun coy. Belum tumbuh bulu. Belum bisa mengartikan makna peristiwa tergaruknya sejumlah pasangan dalam sebuah razia yang digelar aparat di ruang-ruang paling privasi sekalipun.

Jasmerah Bung Karno tak berlaku bagi orang Kotamobagu. Atau karena orang Kotamobagu memang alergi dengan hal-hal berbau kolonial. Sehingga sejarah kelahiran Kotamobagu pada tahun 1911, enggan dijadikan sandaran perhitungan usia.

Bagi saya, Kotamobagu, sampai dengan tahun ini, sudah berusia yang ke 104 tahun. Pemerintah Kotanya saja yang baru berusia 8 tahun. Mana mungkin kamu sudah ada sejak tahun 1911, tetapi usia ulang tahunmu nanti dihitung pada tahun 2007.

Sudah. Nanti lain kali kita bahas itu. Sekarang mari sasarkan tanya, apa yang identik dengan Kotamobagu? Bingung cari jawaban tepat ya? Salah-salah kalian mau menjawab Bentor? Amit-amit. Orang-orang kita yang gengsian di luar sana, pasti protes jika Bentor dikata identik dengan Kotamobagu.

Lalu apa? Bundaran Paris kah? Orang-orang Kotamobagu pasti akan cerewet membantah. Sebab apa yang pantas dibanggakan dengan Bundaran Paris? Tugu Permesta buatan Djelantik kah? Atau pusat kota yang kehilangan makna dan nuansa?

Sekarang mari sasarkan tanya begini,  apa yang membuat orang bisa cepat melupakan Kotamobagu?  Ya. Hilangnya keceriaan di sudut-sudut kota yang pernah wangi. Semacam sekelumit geliat melankolis yang terjambak tirani.

Kita membangun taman, berharap warga kota dapat merajut kisah dan menemukan cerita yang membumbung dan puitis di situ. Tetapi yang terjadi adalah garuk razia dan kengerian-kengerian yang tak hanya merontokkan nyanyian yang pernah menggelepar di situ.

Kita membangun rapi tanah lapang kota, memplester pinggirannya dengan beton bergunduk untuk tempat mojok bagi warganya, tetapi yang terjadi adalah pemeriksaan KTP, dan pembinaan di kantor Satpol PP.

Kotamobagu memang bukan termasuk golongan kota besar yang ada di Indonesia. Tapi inilah sebenarnya salah satu keuntungannya. Sebab putus cinta di kota ini,  masih lebih mending ketimbang putus cinta di kota-kota besar macam Gorontalo, Jogja, Denpasar, atau kota tua Jakarta yang memberi banyak ranah puitis yang bisa membuatmu gagal move on.

Tetapi cinta yang rontok oleh razia dan mendapat pembinaan berupa bimbingan materi moralitas kehidupan di kantor polisi dan Satpol PP, adalah semacam ketragisan kisah hidup yang sulit dirasiokan.

Pernahkah kalian merasakan apa yang berkeluk-keluk di sekujur tubuh saat tergaruk razia aparat? Bulan dan bintang yang baru saja rubuh di atas dada, saat dipandang bersama pujaan hati dari tepi jendela, mendadak jahanam di mobil karanjang.

Inikah konsep kota jasa sebagaimana yang dimaksudkan dalam visi-misi Walikota? Kota jasa, kota untuk semua? Dengan cara menggaruk warga kota dan tamu-tamunya seperti kambing-kambing liar tak berkepala?

Baru semenit mereguk kesempatan berbincang dengan gadis yang kalian taksir selama menahun, di sudut kota, di sepenggal tempat yang kadar romantis dan mesum suasananya masih bisa diperdebatkan, tiba-tiba petugas muncul membentak-bentak dan mengais semua keromantisan yang jadi petaka di ujung rembulan merah.

Kota ini memang terlalu kecil untuk dijadikan sengketa keributan dan kecemburuan yang terpupuk dari ketidak-merdekaan berpikir. Kota kecil dimulai dari pertigaan Biga hingga Bundaran Paris, yang hanya ibarat jalan ingus, tapi kamu kesulitan menemu kisah-kisah yang layak dikenang seumur hidup. Kota sunyi dan sudah mati pukul 9 malam, tapi penuh aturan-aturan perontok ketentraman dan pelecehan terhadap kota model jasa.

Lalu ranah publik dan jasa apa dan mana lagi yang layak ditongkrongi warga kota di kota jasa ini? Di lapangan kota kah? (ada razia coy) di emperan toko kah (berkali-kali di razia coy), di taman kota kah? (mimpi kali ye) di gelora ambangkah? (heloo..mau ketemu tuyul). Lalu didimana? Hotel? (owh, belum tobat dipermalukan di oto karanjang).

Lantas dimana tempat yang masih manusiawi untuk dikunjungi warga (maupun pendatang) di kota berkonsep jasa ini? Kota jasa yang ranah-ranah jasanya macam kos, hotel, dan pub, jadi bulan-bulanan razia.

Tidak tahukah para konseptor dan sarjana ekonomi di kota ini bahwa razia aparat sungguh-sungguh akan berdampak pada pertumbuhan usaha jasa?

Apa yang layak diandalkan kota ini sehingga ada alasan orang-orang untuk bisa mereguk keindahan dan kenyamanan yang pantas ada di kota jasa ini? Apa yang menjadi perekat rencana, agar masing-masing individu yang kesepian di belukar-belukar kampung, mau datang ke kota jasa ini sebelum benar-benar jadi brengsek?

Bagaimana cinta akan bersemi di kota kecil yang disesaki tukang razia di ranah jasa, ranah publik, dan ranah privasi warga? Tiap-tiap yang datang justru merasa tak memiliki kota ini. Merasa seperti terancam dengan gambaran kengerian-kengerian yang memalukan. Tak ada ruang privasi yang benar-benar mengusung privasi. Mana mungkin kos-kosan dan hotel harus dijambak satu-satu, diperiksa, diteror, dengan alasan-alasan yang kurang senonoh. Seperti menegaskan bahwa, kota ini tak menghargai privasi. Tetapi menghargai ‘keterbukaan’ setelanjang-telanjangnya. Maka buka pintu kamarmu, sebelum aparat menggedornya satu-satu dan menyeret penghuni-penghuninya untuk di bina. Prekk!! Inikah konsep kota jasa itu? Menginjak-injak privasi tiap-tiap individu?

Kotamobagu adalah kota pengorbanan. Ya. Ini memang betul. Di kota ini, kamu harus terpaksa menerima fakta kejam ketika merelakan kekasihmu tergaruk razia, dan seperti pasangan penjahat, satu-satu kalian dihela ke mobil keranjang untuk (lagi-lagi) didata dan dibina. Karena apa? Karena si tukang razia lebih bermoral dan kalian adalah bencana moral.

Di kota ini juga kamu akan belajar  bahwa nongkrong di warung kopi lebih aman, sekalipun kamu bukan penikmat kopi. Tapi pilihan apalagi kecuali meringkuk di kolong-kolong payung rumah kopi dengan keadaan yang sebenarnya membuatmu bosan.

Lalu keriangan-keriangan apa yang akan kalian temui di kota kecil ini? Tinggal keriangan-keriangan dalam remang yang akan cepat membuatmu dituduh sebagai orang tak benar. Karena dimana lagi tempat dapat bikin riang kecuali di remang-remang pub yang mensisati izin cafe dan diskotik.

Kita juga tidak harus dituntut cerdas berada di Kotamobagu. Disini tak ada pojok-pojok diskusi yang membincangkan apa yang membuatmu tahu makna hari ini. Tak ada diskusi budaya yang melahirkan bibit-bibit penyair. Kelangkaan teater, kekeringan puisi, dan kepaceklikan seni. Rumah-rumah kopi hanya dipenuhi topik politik, CoC dan drama korea. Tak ada buku, tak ada cerpen, tak ada diskusi film, tak ada yang tahu kisah Godot.

Bandingkan ketika Kotamobagu masih ada di kisaran ‘jaman bahula’. Kota sekecil ini punya 4 buah bioskop. Gelora Ambang sarat kegiatan pentas seni budaya. Ada teater, ada puisi, ada musik, ada pacuan kuda, ada motocross, ada jambore, perkemahan, ada pameran, Masya Allah…..ada Muksin Alatas dan Titi Sandora berdesak-desakan dengan para fans di Hotel Sarinah pada suatu masa yang telah silam, tatkala Kotamobagu masih begitu hidup, bergairah, memesona, menyenangkan, dan semua itu layak untuk dikenang.

Percayalah, dominasi tukang razia hanya akan mengamputasi konsep Kota Jasa. (Uwin Mokodongan)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *