ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Logika Mistika

Bagikan Artikel Ini:

meme pembunuhan di mongkonai

MARET 2 bulan silam, di Desa Wangga Kecamatan Passi Barat, massa menyerbu rumah warga setempat. Bersenjatakan obor, botol bensin, dan amarah yang meletup, mereka hendak menyasar sang empu rumah yang ketakutan dari dalam rumah bersama istri dan seorang nenek yang tak tahu apa-apa. Sebuah keluarga yang meringkuk dalam panik, lemah, dan ketakutan karena rumahnya diberondong batu dan siap-siap dibakar massa.

Empu rumah dituduh sebagai dukun santet penyebab kematian warga setempat. Konon tuduhan bermula dari mimpi anggota keluarga yang meninggal dan orang yang kerasukan roh magis. Beruntung aparat kepolisian dari Polsek Passi bersigap ke lokasi dan mengamankan situasi. Pria yang dituduh dukun santet dilarikan petugas. Dia dititip di kantor polisi setempat. Sedangkan 3 warga yang diduga provokator, ditangkap petugas lalu dijebloskan ke sel tahanan. Hingga kini kasusnya masih berjalan.

Selang sehari kemudian, di Desa Passi, dua pemuda kakak-beradik mengamuk. Bersenjatakan gelon berisi bensin, mereka hendak menyasar tetangga yang dituduh dukun santet penyebab kematian anggota keluarga mereka.

Awal peristiwa bermula ketika anak almarhum kerasukan “roh”. Dalam keadaan “transenden” itu, dia menyebut nama tetangga yang dituduh sebagai penyebab kematian Ayahnya. Tak hitung tiga, suasana geger. Dua pemuda selaku paman dari yang sedang kerasukan, mengamuk. Beruntung ada warga yang akhirnya mampu melerai dan menenangkan.

Sebelumnya, pada tahun 2013 silam, di kelurahan Motoboi Besar Kota Kotamobagu, terjadi peristiwa dengan isu yang sama. Sebuah rumah milik keluarga yang dituduh sebagai dukun santet, jadi bulan-bulanan warga. Teror batu sering terjadi pada mereka. Puncak kemarahan warga berbuntut pada diseretnya pemilik rumah yang dituduh pelaku santet itu, ke masjid setempat. Dia dipaksa mengikuti kemauan warga untuk melakukan sumpah pocong. Prosesi itu didukung aparat kelurahan dan tokoh masyarakat setempat yang ikut hadir. Si tertuduh mengiyakan dan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.

Di tahun yang sama, rumah salah seorang warga di Desa Tabang Kecamatan Kotamobagu Selatan, jadi sasaran amuk massa warga setempat. Rumah itu disasar karena empunya dituduh sebagai dukun santet. Polres Bolmong yang bergerak melakukan pengamanan dengan kekuatan 250 personil, ikut jadi sasaran amuk massa. Aparat berhasil menangkap 8 warga yang diduga provokator kemudian membawanya ke kantor polisi.

Masih di tahun yang sama, September 2013 silam, Pemerintah Desa Konarom Utara Kecamatan Dumoga Tenggara Kabupaten Bolaang Mongondow, menggelar sidang di Balai Desa. Sejumlah elemen masyarakat hadir termasuk tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat desa setempat, dan Camat Dumoga Tenggara.

Sidang dilangsungkan dalam rangka membacakan keputusan peraturan desa (perdes) terkait dukun santet. Sebuah peraturan kontroversial yang baru muncul. Salah satu putusan dalam perdes tersebut adalah sanksi pengusiran keluar kampung terhadap warga yang tertuduh sebagai dukun santet.

Terjadi pro-kontra dalam sidang yang akhirnya berbuntut ricuh. Kepala desa setempat bahkan kena pukul ketika hendak membacakan putusan. Pihak keluarga dari yang tertuduh sebagai dukun santet merasa tidak terima putusan tersebut. Mereka protes karena apa yang dituduhkan dianggap sebagai fitnah massal. Sedangkan mayoritas perwakilan warga yang hadir tetap mendukung agar sanksi itu dilaksanakan.

Sabtu 9 Mei 2015 kemarin, terjadi persitiwa geger di Kota Kotamobagu. Seorang lelaki yang konon dituduh sebagai dukun santet, terbunuh secara mengenaskan. Kepalanya dipenggal, lalu ditenteng keluar lorong menuju jalan protokol. Sedangkan tubuh korban ditinggalkan menggelepar lalu kaku di belakang pemukiman warga Lorong Mototanoban Kelurahan Mongkonai Kecamatan Kotamobagu Barat.

Horor kemudian berlanjut di lini massa facebook, twitter, path, dan bbm, lewat tayangan foto dan video unggahan kalangan netizen Kotamobagu yang menjadi saksi peristiwa geger itu. Tak lama berselang polisi datang. Pelaku diamankan lalu dibawa ke kantor polisi.

***

Pembaca, fenomena apa sebenarnya yang tengah terjadi dalam tatanan masyarakat kita? Masyarakat beragama yang berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan berkemanusiaan yang adil dan beradab?

Contoh-contoh kasus di atas, seperti memberi gambaran pada kita tentang praktek banalisme yang diidap masyarakat Kotamobagu dan Bolaang Mongondow. Kita bahkan ternganga-nganga, ketika di jaman android ini, masyarakat masih direcoki urusan kepercayaan terhadap tahyul, mitos, dan hal-hal yang jauh panggang dari logika.

Ironisnya lagi aparat pemerintah ikut terlibat didalamnya. Menjadi agen -agen penerus budaya banalisme sekalian mengusung logika mistika yang cenderung melahirkan fitnah sembari menaruh akal sehat kita ke comberan.

Kita sedang melihat gambaran kehidupan sosial masyarakat beragama dan berpancasila yang kalap, gagap, mengagungkan tahyul, mitos, klenik, logika mistika, yang melahirkan fitnah sebagai pembenaran untuk melakukan kekerasan sebagai jalan keluar; seseorang harus dibunuh karena dia adalah dukun santet, sebagaimana yang disampaikan lewat mimpi atau lewat penuturan orang yang sedang kerasukan. Sebuah logika banal yang berbahaya bagi kehidupan sosial masyarakat pemeluk agama yang semestinya beradab sebagaimana yang diajarkan agama itu sendiri, dan pancasila sebagai ideologi.

Tahyul, mitos, klenik, kepercayaan-kepercayaan terhadap hal-hal magis dan yang “purba”, rupanya kembali subur dalam tatanan kehidupan masyarakat Kotamobagu dan Bolaang Mongondow era moderen.

Sekilas kita mungkin punya gugutan, perkara apa yang mendukung logika mistika ini? Apakah yang menjadi pupuk penyuburnya adalah tayangan program supranatural yang melibatkan komedian, paranormal, dan ahli agama (konon) di TV Swasta? Sebut saja Trans 7 dengan program Mister Tukul Jalan Jalan dan [Masih] Dunia Lain?

Masyarakat kita yang melek tipi, yang duduk memelototi tayangan-tayangan mistik selama berjam-jam, dan yang tak mau alpa mengikuti pembawa acara berbincang-bincang dengan jin, iblis bin ifrit, genderuwo, siluman ular putih, wewek gombel, macan betina, mahluk astral dan sebangsa setan lainnya, seperti menemukan kembali roh keyakinan dan kepercayaan terhadap mitos, tahyul, klenik, dan hal-hal yang melecehkan rasio?

Masyarakat kita sebagai pemirsa tayangan bertajuk reality show itu, sekonyong-konyong keimanannya terhadap hal-hal magis menebal dan percaya sepenuhnya ketika memelototi bagaimana host atau presenter acara yang ditemani perempuan seksi itu, berdiskusi dengan iblis, genderuwo, jin, siluman harimau ekor putih, siluman ular, dan semua bangsa setan di depan kamera. Dan parahnya lagi ada tokoh spiritual bersorban putih ikut terlibat disitu. Berperan sebagai tukang bicara dan tukang sembuh ketika peserta uji nyali kerasukan mahluk gaib. Tokoh spirituil berbasiskan agama yang senantiasa mengalimahkan kalimat Allah sembari berbicara dengan siluman macan betina ekor putih, kemudian mengusirnya se-enteng saja.

Ketika program acara itu diberi tajuk reality show bahkan ditayangkan secara langsung, bukankah semacam ada skenario penyesatan terhadap nalar masyarakat pemirsa televisi? Yang di jaman android, medsos, dan CoC ini, bukannya tercerahkan tapi malah dibodohi? Terbanalisasi? Mana mungkin kita harus mati-matian percaya ketika presenter Tukul Arwana bercakap-cakap dengan Buaya Putih? Begitupun  Aiko  si tukang masak seksi tiba-tiba dihadirkan dan mampu bertegur sapa dengan siluman ular putih? (Pemirsa pasti akrab dengan kalimat ini; assalamualaikum… siapa ini? maaf apakah kami menganggu? assalamualaikum..?? sebutkan nama, siapa ini?). Hellloo….. ??

Namun karena itu adalah reality show, pemirsa kita percaya. Tidak mau tahu kalau nalarnya diobok-obok dengan mimik presenter Tukul dengan kening lancip Aiko. Menonton itu, masyarakat kita bukannya lepas dari kepercayaan terhadap hal-hal magis, tahyul dan tuyul, tapi justru semacam menemukan legitimasi bahwa fenomena magis dan klenik yang ada di sekitar dia ternyata benar adanya. Termasuk soal santet.

Lalu apa yang terjadi di sini? Tiba-tiba ada yang kerasukan roh. Masyarakat kita penggemar setia [Masih] Dunia Lain, menemukan orang yang kerasukan roh ini menyebut-nyebut nama si A disantet si B atau si B mati karena disantet oleh si A. Tiap igauan atau ucapan yang keluar dari mulut si ‘penderita’ kerasukan, dicatat dan diyakini layaknya meyakini haditz paling sahih. Tak ubahnya seperti peserta uji nyali di [Masih] Dunia Lain yang kerasukan roh siluman macan ekor putih, yang berbicara dengan pembawa acara di depan kameraman.

Maka, bermodalkan logika semacam itu, dengan bersenjatakan tumbak, parang, dan gelon bensin, warga berbondong-bondong menuju rumah si yang dituduh dukun santet untuk dibunuh. Semua bermula dari kerasukan, dan bisik-bisik tetangga yang sudah lama saling bergosip bahwa; si A adalah dukun santet. Si B meninggal karena disantet si A.

Sebuah logika berbahaya yang harus menjadi perhatian (terutama pemerintah yang terlibat didalamnya) semua pihak, agar hari ini, esok, lusa, atau selamanya, tak ada lagi warga terbunuh oleh orderan gosip, fitnah, mimpi, kerasukan roh, da segala kebanalan yang biadab.

Ngomong-ngomong, kalangan netizen Kotamobagu penggiat lini massa Facebook, Twitter, Path dan Blackberry Messenger, sepertinya harus belajar dan mencontoh pada sahabat kita Faksi alias Abo yang mampu menahan diri dan bersikap lebih manusiawi dengan cara membuat meme ketimbang menyebarkan foto horor di lini masa fesbukiyah, twiterkiyah, pathkiyah, dan bebekiyah.

Menghormati dan menghargai korban pembunuhan beserta sanak-keluarganya sebagai manusia yang layak dimanusiakan manusia. Media ini juga layak belajar dan mencontohi Abo. (Uwin Mokodongan)

*keterangan : foto di atas adalah meme yang dibuat seorang kawan bernama Abo, warga Kotobangon. Sengaja dia buat sebagai meme perlawanan atas meruyaknya foto korban pembunuhan di media sosial, dalam berbagai kondisi mengenaskan.

ARTIKEL TERKAIT :

1.Isu Santet Picu Pembunuhan di Mongkonai

2.Sekelumit Rasa Masih Dunia Lain

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *