ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Sejarah Corat Coret Seragam SMA (The Spirit of Sixtynine)

Bagikan Artikel Ini:
sma rayakan kelulusan dengan coret seragam
(Foto : hasil olahan bahan di internet)

AWAL KISAH bermula pada tahun 1969—maka dari itu dikenal pula dengan istilah Spirit of Sixtynine. Ketika itu pengumuman lulus terlampau telanjang. Nama setiap siswa cukup ditempel di papan pengumuman yang di pajang pihak sekolah sejak subuh-subuh.

Ketika pagi tiba, saat para siswa berdatangan, mereka mengerumuni papan pengumuman yang dipajang di halaman sekolah, lalu mencari nama masing-masing.

Tak ada cat berwarna-warni dan sorak – sorai berlebihan dari mereka yang berhasil lulus. Paling banter saling peluk, ces tangan, dan tak ada konvoi kendaraan. Semua berjalan nyaris tanpa euforia alay.

Di jaman itu memang tak pernah tercatat dalam sejarah, ada pelajar yang dinyatakan tidak lulus. Pembaca pasti sudah tahu, ketika itu belum ada standar nilai kelulusan. Asal ikut ujian, pasti lulus. Yang membedakan hanya nilai. Dari yang tiarap sampai yang boleh berbusung dada.

Bagi yang nilainya tiarap, tak perlu merasa hina-dina. Toh, bisa ikut-ikutan tersenyum, peluk-pelukan, dan ces tangan dengan pelajar sesama lulus.

Tak ada selebrasi kelulusan seperti corat-coret seragam sekolah. Kelulusan yang seharusnya penuh kegembiraan hanya dilewati dengan saling peluk mengucapkan selamat. Semua dilakoni sekadarnya saja. Meski memang ada pula cerita (anggap saja hoax) yang mengisahkan kalau ada sekelompok pelajar radikal yang melakukan selebrasi kelulusan itu dengan cara makan beling.

Baik, kita sepakat saja itu hoax. Apalagi ke-hoax-an itu dicampur pula dengan cerita yang mengisahkan, konon ada selebrasi dimana para siswa akan mengejar para siswi berbodi uhuy lalu menggigit pantat mereka.

Oke, cukup sudah. Nanti dituduh seksis. Saatnya serius.

Nah, sumber menceritakan, pada jaman itu, tak pernah ada ide merayakan kelulusan macam yang dilakoni remaja putih abu-abu masa kini. Memang sih di era jadul, acara perpisahan sekolah memang ada. Tapi mencoret baju adalah tindakan bodoh.

Saat pertama kali mendengar kisah ini, saya sempat berpikir; bisa jadi ketika itu belum ada bahan cat yang mudah disemprotkan. Spidol merk Sno*man mungkin juga belum ada. Malah konon yang ada waktu itu, kalau saya tak salah dengar, mereknya Stonnkol. Nah, dari namanya saja sudah aneh bukan? Ah, entahlah.

Lalu terjadilah sejarah memilukan hati jagat SMA di jazirah Bolaang Mongondow ketika itu. Dari semua sekolah, konon hanya ada 1 orang yang tidak lulus. Aduh, bayangkan mbabro sisbro, engkau satu-satunya yang tidak lulus. Bisakah kau rasakan bagaimana rusak dan pedihnya perasaan itu?

Dialah siswi orang Mongondow bernama (sensor) yang sebenarnya tidak bodoh-bodoh amat. Tak usahlah soal kebodohan. Sebab di masa itu, setiarap-tiarapnya nilai, asalkan hadir hingga akhir dan mengisi semua jawaban soal ujian, tetap saja lulus. Hanya nilai saja yang mungkin bisa jongkok meski bukan gara-gara rokok.

Sebagaimana yang dikisahkan pada Arus Utara, siswi yang tidak lulus ini, tinggal bisa termangu di sudut sekolah. Ia larut dalam kubang kesedihan. Teman-temannya yang baru tahu kalau namanya tidak tertera di papan pengumuman, merasa tak percaya. Lumrah, sebab mereka semua tahu kalau tidak pernah ada catatan sejarah perputih-abu-abuan, ada teman sekelas tidak lulus. Seorang di antara mereka, yang sudah dikenal idiot saja sejak kelas 1 SMA, bisa lulus.  Kok dia yang pintar Matematika tidak? Pasti ada yang tidak beres. Begitu kira-kira solidaritas antar teman bergumam.

Mereka lantas hendak menemui teman sebaya mereka itu, yang tiba-tiba saja raib. Kesana – kemari seperti AYun Tingting mereka mencari, tapi nihil.

Solidaritas lantas terbentuk. Para sahabat minta bertemu pimpinan sekolah untuk mempertanyakan. Namun jawaban yang di dapat adalah, siapapun namanya yang tidak tertera di papan pengumuman, berarti tidak lulus.

Saat ditanyai siapa tahu ada kesalahan, pihak sekolah tetap pada keputusan awal. Tak tertera di papan pengumuman, berarti tidak lulus. Titik!

Jagat SMA geger sudah. Senyum mengembang dari bibir ke bibir berubah kecemberutan yang mengundang tanya penuh selidik. Solidaritas ini menjangkiti sekolah lain. Membesar dan bergelombang.

Tapi di mana siswi yang tidak lulus ini? Hari itu, mereka sudah susah payah mencarinya, tapi tetap saja nihil. Sebagian dari mereka mulai berpikir ke arah negatif. Jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk pada teman mereka itu. Bunuh diri misalnya.

Solidaritas ini mengunjungi rumah teman mereka ini. Tapi hanya resah dan kesedihan yang mereka jangkitkan ke pihak keluarga sang siswi di rumah.

Ketika keadaan menjadi panik, tak ada seorangpun tahu, siswi yang tak lulus ini hanya meringkuk di sudut sekolah bermandikan air mata, di bawah pohon ketapang yang tegap dekat gudang.

Seorang siswa yang entah kenapa siang itu muncul di situ (mungkin hendak pipis), tiba-tiba mendekatinya. Siswa ini muncul sembari bicara, “Tak usah malu apalagi bersedih hati. Aku juga tidak lulus kok. Kita senasib sepenanggungan,” suara itu memecah isak yang sudah kering saking lamanya menangis.

“Kau tidak lulus bukan karena apa-apa. Kau tahu peristiwa gestapu baru lewat 4 tahun. Pemerintah dan ABRI memang sedang melakukan pembersihan. Ayahku menceritakan kalau baru-baru ini mereka menemukan daftar kalau ibumu adalah salah satu anggota organisasi binaan PKI di Bolmong,” ungkapnya berterus-terang.

Siswi ini menatap ke arah siswa yang tiba-tiba muncul. Tatapannya tajam. Meski ada nanar yang coba disembunyikan. Dia mengenal siswa yang mendekat ini. Mereka memang sekelas. Ada sedikit perasaan kaget sekaligus malu yang bergolak. Mana mungkin berita itu begitu cepat. Selain itu, ada keanehan yang tiba-tiba berkeluk dibenaknya. Siswi ini tahu, kalau nama siswa yang kini memergokinya, tertera di papan pengumuman sebagai siswa yang lulus.

“Bohong! Saya melihat namamu tertera di papan pengumuman itu. Saya satu-satunya yang tidak lulus di sekolah ini,” dia berteriak.

Mungkin karena sudah lulus, siswa yang memergokinya ini enteng saja mengeluarkan rokok kretek sebatang lalu menyulutnya dengan korek. Asap mengepul. Berani taruhan, siswa ini adalah siswa paling cool bin macho di sekolahnya jaman itu.

“Tenanglah, saya juga tidak lulus,” jawabnya enteng. Asap terus mengepul. Itu adalah kretek ternikmat hari itu.

“Saya tidak percaya,” balas sang siswi. Ia lalu merengek.  “Saya takut pulang ke rumah. Apa kata orang tua saya nanti. Lalu, apa kau betul tentang orang tuaku itu?,” Tangisnya kembali meledak.

Siswa bersama kretek di mulut, mendekat. Dia memegang tangan siswi di dekatnya lalu dirangkulnya tubuh semok itu. Ia memang berusaha menenangkan. Lalu berceritalah dia mulai dari A sampai Z. Termasuk daftar orang-orang yang diberhentikan dari kantor pemerintahan karena dituduh anggota dan simpatisan organisasi underbow Partai Komunis Indonesia Cabang Bolaang Mongondow (PKI Bolmong).

“Jadi bagaimana,?” sang siswi merengek dalam rangkulan siswa yang kini ada di sampingnya. Dia sudah mendengar semuanya.

“Saya memang lulus, tapi apalah artinya kelulusan itu tanpa dirimu,?”

“Jadi,?” kata siswi setengah tak percaya. Seperti ada yang mau copot dari dalam dadanya.

“Persetan dengan kelulusan. Aku ingin bersamamu, aku mencintaimu,” suara itu keluar seperti pedang yang menebas segala penghalang. Tentu bersama hembusan asap kretek.

Di luar sana, solidaritas yang terbentuk atas dasar senasib-sepenanggungan anak SMA se-Bolaang Mongondow, belum juga menemukan di mana gerangan keberadaan siswi yang tidak lulus ini. Mereka bahkan sudah mencarinya hingga ke sungai-sungai yang membelah kota. Pun di jurang, dan di tempat-tempat yang kemungkinan dipilih untuk dijadikan lokasi bunuh diri.

Tapi tak ada apa yang mereka temukan. Setengah putus asa, solidaritas ini lantas berkumpul di tengah kota (sekarang Bundaran Paris) dan mengumandangan berita orang hilang.

Di saat yang bersamaan, dua sejoli yang sudah menemukan jawaban, saling bergandeng tangan. Tak ada beban membenam di raut wajah mereka yang berseri-seri. Mereka saling merangkul satu-sama lain. Berjalan menyusuri jalan kota seperti Romeo and Juliet.

Mata ratusan solidaritas yang tengah menggelar pengumuman orang hilang ini, mendapati keduanya tengah berjalan mendekati kerumunan. Sontak mereka senang bukan kepalang, sekalian terkaget-kaget, ketika tak ada rona kesusahan terpancar dari siswi yang tidak lulus ini. Juga dari siswa yang tiba-tiba mengaku tak lulus. Mereka menyambutnya, menanyakan kabar apalah..apalah….

“Saya akan mengenang kalian sebagai teman-teman yang baik. Sekarang saya mengijinkan kalian mencoret seragam saya,” pinta siswi ini. Disebelahnya seorang Romeo tersenyum penuh arti. Tentu dengan bibir menjepit kretek. Semua heran, Romeo lantas mengambil pena lalu mulai mencoret baju Juliet yang ada di sampingnya.

“Tulis nama kalian di sini sebagai perpisahan bagi kita sekaligus perjumpaan di pesta pernikahan nanti. Kami akan menikah minggu depan,” katanya.

Luapan haru dan kegembiraan yang tiba-tiba lahir, membuat solidaritas SMA ini melakukan hal yang sama. Mereka saling mencoret, penuh haru dan kebahagiaan yang meluap-luap.

Demikianlah bermula aksi corat-coret ini hingga menjadi tradisi turun temurun. Sebuah luapan kegembiraan yang lahir dari cinta dan pengorbanan untuk cinta. Sebuah persitiwa yang layak dirayakan.

Kisah ini cepat tersiar ke luar, ke seluruh pelosok Nusantara, sehingga setiap hari kelulusan tiba, seluruh SMA di republik ini, melakukan hal sama sebagai bentuk solidaritas bagi yang tidak lulus sekaligus perayaan atas nama cinta dan pengorbanan.

Kisah ini diceritakan seseorang yang baru keluar dari Rumah Sakit Sario Manado, atau yang  telah berganti nama menjadi Rumah Sakit Ratumbuisang.

Tapi siapapun yang menceritakannya, kelulusan layak dirayakan. Bergembiralah. Cuma sekali seumur hidupmu wahai kakaw-kakaw and dedew-dedew. Ingatlah kata Chairil Anwar; sekali berarti, sudah itu mati!. 

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *