ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Selangkangan Endonesya

Bagikan Artikel Ini:

inisial AA

APA KABAR kakaw-kakaw, dedew-dedew, om, tantew, dan aktivis mulu rica-rica se-jagat maya sore ini. So makan blum? Tentu sudah ya? Bagi yang belum, atau yang sudah lapar lagi karena hari sudah menjelang magrib,  silahkan merapat ke Koroterorika Lunch di pusat Kota Kotamobagu. Menu di situ berkelas restoran, tapi harganya kelas anak kos.

Atau merapatlah ke Etnic Cafe di Stadion Gelora Ambang. Restoran bernuansa etnik yang ciamik, bersih, menghadap lapangan bola kaki nan hijau, dari balkon bisa melihat langsung bagaimana atlit renang berlatih, angin sepoi, dan tak akan pernah menyesal berapapun nominal dan harga yang tercatat di daftar menu. Sebab semuanya setimpal. Apalagi ada musik reaggae mengalun riang nan seksi menggoda. Ada perpustakaan juga disediakan bagi para kutu busu buku. Soal jaringan WiFi, tak usah ditanya.

Tapi, jangan suudzon dulu. Ini bukan iklan terselubung ya. Tak ada ikatan kontrak iklan yang diteken Manager Iklan Arus bersama  Manager Marketing Koroterorika Lunch dan Etnic Cafe Stadion Gelora Ambang. Media ini punya kemerdekaan untuk memuat apa saja yang menurut para punggawa Arus layak untuk dimuat. Tanpa membeda-bedakan suku, agama, dan ras. Apalagi pilih-pilih status, semacam diskriminasi terhadap kaum jomblo tertindas dan kaum jomblo penindas.  Kedua-duanya dicatat, kedua-duanya dapat tempat.

Ah, supaya tak melantur kemana-mana kemudian menimbulkan debat yang tak berujung dan jauh panggang dari gosip topik yang baru hendak diutarakan, saya akhiri saja dengan kejujuran dari lubuk hati yang paling dalam bahwa; Koroterorika Lunch dan Etnic Cafe is nat eksis! Alias tidak pernah ada. Kedua tempat ini hanya khayalan belaka. Semacam mimpi-mimpi indah ketika Stadion Gelora Ambang tak diterlantarkan lagi, dan di pusat Kota Kotamobagu ada rumah makan berkelas restoran yang cocok untuk kantong anak kos.

Selesai  yah untuk ini…

Baik. Kalau begitu, apa gosip topik yang bakal kita rumpikan pada kesempatan menjelang magrib ini? Ah, bisa jadi saya agak terlambat ya menggosip menulis. Harap maklum. Merampungkan urusan diri sendiri tentu lebih utama ketimbang mengurus kehidupan orang lain. Apalagi menggunjingkan artis beken multi talent yang tersandung kasus pelacuran prostitusi onlain. (online maksudnya, saya lancar baca tulis inggris lho, tapi suka merendah, prek!)

Artis terkenal? Terlibat prostitusi onlain? Bisa dipake? Lelaki hidung belang pemburu ehem-ehem yang pengen meniduri dia selama 3 jam harus bayar 80 jeti? Bahkan ada yang sampai 200 jeti? Si germo akhirnya tertangkap? Ada 20 artis lagi dalam daftar? Si artis AA Tertangkap di hotel berbintang di Jakarta?  Dia pemain sinetron? FTV, dan film-film bergenre setang horor semacam Nenek Gayung, Mandi Dukun, atau Tali Pusar Pocong Perawan? Berinisial AA.

Hm, kalau artis multi talent, dikenal pula sebagai DJ, pemain sinetron, FTV, Film Bioskop genre Horor, pasti kakaw-kakaw, dedew-dedew, om tantew, dan para aktivis mulu rica-rica (saya termasuk gak ya?) sudah tahu siapa AA yang dimaksud. Lalu apa tanggapan saudara-saudari sekalian?

Ah, tidak penting. So pernah lay. Kalau untuk urusan selangkangan, apalagi bagi yang sudah lewat 18 tahun ke atas, adalah urusan diri masing-masing pemilik selangkangan itu sendiri. Semurah atau semahal apapun tarifnya, toh selangkangan bukanlah aset milik negara (apalagi aset bidang usaha) yang wajib dikenai pajak.

Kasihan AA yang unyu-unyu itu ya. Dia adalah pemilik selangkangannya sendiri. Mengomoditaskan aset uhuynya itu untuk kesenangan dan kepentingan kantongnya sendiri. Di kamar hotel pula. Tidak menganggu jalan nafas orang lain. Dilakukan secara sadar, gembira, profesional, tanpa acungan parang dari pihak manapun, tapi akhirnya dia ditangkap. G-string dan c**ana d*lamnya dijadikan barang bukti. Oh, apesnya dikau dedew AA.

Tapi inilah endonesya. Selangkanganmu bukan semata selangkanganmu. Aset yang senantiasa jadi incaran itu adalah milik endonesya, ‘milik negara’.

Semoga kawan kita Uwin Mokodongan (yang saya yakin pasti bakal ngamuk-ngamuk mengetahui peristiwa ini), akan terpancing dan segera menulis kisah selanjutnya dengan lebih terbuka.

Pesan saya, mari kita jaga selangkangan kita masing-masing. Dan berdoalah agar kita terhindar dari perbuatan yang melukai perasaan.

Penulis : Delianto Bengga

dekianto bengga
Menulis dikala mood, main catur tak kenal mood, gagal berhenti merokok

Bagikan Artikel Ini:
3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *