ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Bertahan di Tengah Krisis

Bagikan Artikel Ini:

Sony Turangan

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Carut-marut politik, kondisi ekonomi yang masih serba sulit seiring naiknya harga bahan pokok, diperparah dengan lonjakan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik, berdampak langsung pada kepulan asap dapur golongan masyarakat bawah.

Kondisi ini makin terasa dengan minimnya lapangan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat marjinal perkotaan. Hampir di semua lini ekonomi, peluang usaha lebih terbuka kepada masyarakat dengan dukungan kapital yang memadai.

Untuk mendapatkan kucuran kredit di Bank maupun perusahaan pembiayaan, bukanlah perkara mudah bagi kelas masyarakat ekonomi lemah. Sebab pembiayaan selalu terbuka hanya bagi mereka yang memiliki anggunan yang akan diproses melalui mekanisme survey yang rumit.

Kondisi ini tentu membuat masyarakat kelas marjinal semakin terpinggirkan dari peluang berusaha, sehingga harus memutar otak, tanpa kenal kata putus asa, untuk bertahan hidup dan bangkit dari krisis.

Inilah yang dilakukan Soni Turangan. Lelaki berusia 59 tahun ini, harus memutar otak dan malang-melintang berupaya untuk bangkit dari keterpurukan.

Peluang usaha masih selalu ada bagi mereka yang tak berputus asa dan punya semangat kerja keras yang tinggi. Asal tekun dan tak pilih-pilih, peluang akan selalu ada. Motto inilah yang dipegang Soni Turangan, warga Kelurahan Sinindian Kotamobagu.

“Memang belum lama usaha ini saya geluti. Baru setahun belakangan,” katanya, saat ditemui ARUS UTARA di tempat penampungannya, jalan Priangan Kelurahan Sinindian.

Penampungan ini sekaligus pula rumah tinggal Om Soni dan keluargannya. Sengaja difungsikan untuk mendukung usahanya karena dia belum memiliki gudang khusus untuk menampung tumpukan gardus dan aneka barang berbahan plastik.

“Belum ada gudang sendiri, jadi tak apalah ditampung sekalian di rumah,” ujarnya.

Dikatakan Om Soni, barang bekas ini ia cari sendiri dan kadang diperoleh dari orang yang datang membawanya sendiri. Untuk gardus, Om Soni menaruh harga Rp 800 per kilo. Kadang bervariasi. Tergantung mutu barang.

“Kalau gardus basah, biasanya saya ambil lebih dibawah, 600 sampai 700 rupiah per kilonya. Sedangkan gelas atau botol plastik bekas kemasan dihargai 400 rupiah,” terangnya.

Barang-barang ini (gardus dan plastik) di packing dan dikirim via mobil konteiner ke pelabuhan Bitung kemudian dibawa ke Jakarta. Sesampainya di pelabuhan Tanjung Priok, kata Om Sni, sudah ada jasa ekspepedisi yang  akan membawanya ke tempat tujuan, yakni ke pihak perusahaan yang memesan.

Untu kongkos kirim dari Kotamobagu ke pelabuhan Bitung, Om Soni memakai jasa ekspedisi konteiner dengan biaya Rp 1.000 per kilo. Ketika ditanya berapa keuntungan yang ia peroleh ketika barang-barang itu sampai di tujuan, lelaki yang tengah menyekolahkan putranya di Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi ini, tertawa.

“Ah, tak seberapa sih. Tapi saya selalu bersyukur. Yang penting kan tidak rugi,” kelakarnya.

Pekerjaan ini, lanjut Om Soni, baru mulai ia geluti tahun 2014 silam. Sebelumnya dia sudah malang-melintang bekerja serabutan di berbagai jenis usaha.

“Saya sudah mencoba banyak pekerjaan. Bekerja serabutan yang penting menghasilkan uang,” terangnya.

“Berusaha itu tak perlu pilih-pilih. Asal halal dan menghasilkan,” katanya.

Jadi, bagi Anda yang punya gardus dan barang-barang plastik di rumah, dari pada dibuang, mending bawa ke tempat penampungan Om Soni. Selain dapat duit, hitung-hitung membantu sesama. (Uwin Mokodongan)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *