ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Ramadhan dan Warung Makan

Bagikan Artikel Ini:

Menteri Agama Lukman Saifuddin

“Warung-warung tak perlu dipaksa tutup. Kita perlu hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa”  cuitan Menteri Agama Lukman H Saifuddin, di akun twitternya.

CUITAN Pak Mentri ini layak didukung. Orang-orang yang tak hanya hafal Pancasila, dan yang pengetahuan agamanya tak hanya sebatas dengkul, tentu akan meneruskan cuitan ini ke khalayak ramai. Terutama ke telinga, mata, kepala, dan hati orang-orang yang kadar kebenciannya sudah lebih tebal dari kulit Badak.

Kenapa cuitan Pak Mentri ini layak didukung? Tentu tak hanya Pak Mentri yang sadar bahwa; orang-orang yang hidupnya hanya bersandar pada laba warung (warung makan dan warung kopi), akan dapat apa jika sebulan penuh tempat usahanya ditutup? Bukankah itu sama halnya dengan memaksa setiap PNS dan orang  kantoran, tak boleh menerima gaji sebulan penuh? Biadabnya lagi, tak sedikit di antara kita yang berkicau SETUJU! TUTUP AYO TUTUP!!

Orang – orang macam itu, kalau tidak perlu di tempeleng, mungkin pantas dibuatkan bergelas-gelas kopi dan jus sirsak, lalu diberi berbungkus-bungkus rokok kretek lengkap korek, supaya bisa menikmati indahnya hidup dengan lebih santei keak di pantei, meski tetap sholat 5 waktu sembari menebalkan iman dengan penuh ketentraman dan rasa damai di dada.

Apa mereka lupa, bulan puasa adalah bulan penuh rahmat, bulan penuh  barokah, sehingga kaislah rezki di bulan yang seringkali diingatkan sebagai bulan yang lebih baik dari 1000 bulan?

Sebenarnya apa alasan paling sahih terkait penutupan warung makan di bulan ramadhan? Kalau alasan yang paling benar adalah untuk menghormati orang yang berpuasa, maka bagaimana cara menghormati orang yang tidak berkewajiban menjalankan ibadah puasa? Kita ini kan manusia, bukan tiang bendera yang ‘gila hormat’ setiap hari upacara tiba? Padahal guru PMP di jaman kita sekolah dulu selalu mengajari kita begini;  “Agar bisa dihormati orang lain, kita harus lebih dulu menghormati orang lain itu,”.  Nah enak jaman mana bro? hehe..

Nah, sekarang, dalam konteks bulan puasa gimana? Apakah hanya  orang yang sedang berpuasa layak dihormati? Sedangkan yang tidak berkewajiban menjalankan ibadah puasa tidak pantas dihormati? Karena apa? Karena mereka tidak berkewajiban berpuasa? Helloooooowww… Anda sehat? Atau mau memaksakan kehendak dan keyakinan pada orang lain? Mungkin Anda cocok jadi atlit smekdawn?

Makanya, kalau eksis di medsos itu jangan cuma menjerumuskan diri dengan memfollow kakak Jonru dan kakak Tere Liye. Tak ada salahnya toh ikuti Pak Menag.  Nih akunnya @lukmansaifuddin

Sedikitnya ada 3 alasan penting, kenapa cuitan Pak Mentri layak didukung. Pertama, Pak Mentri Agama kita rupanya tak cuma pinter baca Al Quran, melainkan punya wawasan ekonomi humanis yang mumpuni. Beliau tahu betul bagaimana nelangsanya perasaan para pemilik warung dan karyawannya, jika tulang punggung penghasilan mereka ditutup secara semena-mena selama sebulan penuh. Kasihan, gimana mereka mau merayakan Idul Fitri jika dilarang jualan? Negara kita kan tidak mensubsidi orang-orang yang terpaksa tidak mencari rezki di bulan ramadhan, hanya karena larangan-larangan ngawur beratasnamakan gila rasa hormat?

Eh, tapi kan boleh jualan malam hari? Nah, ini yang namanya tidak peka secara ilmu ekonomi. Siapa pula yang mau beli makan di warung ketika perutnya limbung, mengetat, hingga nyaris pecah karena kekenyangan saat melahap menu buka puasa. Selain itu, orang-orang sibuk mencari amal pada jam shalat tarawih bro. Bayangkan, apa nanti kata orang ketika jam shalat tarawih, ibu-ibu dan bapak-bapak justru asyik nongkrong menunggu pembeli datang di warung makan?

Dan bukan berarti usai shalat tarawih, para jamaah serta merta singgah di warteg dan memesan nasi bungkus. Para jamaah paham betul, ada sisa-sisa menu buka puasa di rumah yang sudah diidam-idamkan saat sedang ruku’ di masjid. Maka warung makan mana lagi yang tidak akan didustakan para jamaah di malam hari. Usai mereka melahap sisa-sisa menu buka puasa di rumah, perut semakin kuat ngajak tidur. Maka tak ada waktu lagi yang mampu jalan ke warteg. Tidur adalah satu-satunya kedamaian penuh barokah. Dan tak lama lagi waktu makan sahur tiba.

Jadi urusan warung makan buka malam hari, selesai sudah ya bro. Tak usah kita debat lagi.

Kedua, Pak Menteri Agama kita tak sekedar hafal Pancasila dan pintar berteori. Beliau tahu betul bagaimana menerapkannya di lapangan. Sejauh ini saya masih berani mengatakan, tak sia-sia lah Jokowi memilih beliau sebagai Mentri yang tahu korelasi antara pancasila, pembukaan, dan batang tubuh UUD 1945. Terbukti lewat cuitannya di akun Twitter miliknya; kita perlu hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa.

Pak Mentri sadar betul, meski negara kita berdasarkan pada Ketuhanan Yang maha Esa, bliou tahu kalau azas negara ini adalah Pancasila. Bukan berasaskan agama manapun. Dan beliau tahu betul, mengkhianati Pancasila adalah tindakan makar yang bisa bikin nasib jadi sukar. Tak percaya? Owh, belum pernah nonton pelem G30 S ya?

Ketiga, Pak Mentri memahami ketertindasan orang-orang yang merasa seperti terkucil di bulan ramadhan. Oleh sebab itulah, beliau berani bercuit-cuitan dengan @sudjiwotedjo di Twitter. Tentu dengan tetap menjaga ketebalan imannya, kewarasan, dan kesehatan akalnya yang tak gampang diakal-akalin sekelompok orang yang suka mengakal-akalin umat dengan kesesatan pikir berbagai modus dan versi.

Uwin Mokodongan

Uwin Mokodongan
susah senang tetap saudara sepiring dan sebotol

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *