ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Lespeker di Tolikara Papua

Bagikan Artikel Ini:

TOA LESPEKER 3

PEMBACA, jika di kampung Anda, mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk agama Islam, dengan presentase tinggi—sebut saja  98 persen—bagaimana perasaan Anda ketika ada kegiatan besar, sebut saja Zikir Akbar  yang dihadiri para tamu petinggi agama tingkat nasional maupun internasional, sedang digelar, dan tak jauh dari pegelaran kegiatan tersebut, masih di kampung yang sama, akan digelar pula kegiatan dari kelompok agama lain (minoritas), sebut saja Hari Raya Natal, yang jatuh bertepatan dengan masih diselenggarakannya  kegiatan Ziki Akbar.

Selaku mayoritas dan pihak yang berkompeten langsung dengan kegiatan Zikir Akbar—sebutlah Anda panitia atau pembesar  dalam kegiatan itu—apa reaksi Anda? Merasa tidak terganggu meski suara Toa dari agama lain (minoritas) yang mulai membahana di angkasa, di wilayah yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama dan sedang menggelar kegiatan keagaaman?

Jika jawabannya ya, maka seratus untuk Anda. Rupanya Anda  tak hanya hafal Pancasila (sila 1 sampai 5), melainkan tahu pula isi  Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 28 yang berbunyi, “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali” dan Pasal 29 yang berbunyi :  “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Tapi bagaimana jika jawabannya, tidak?

Jika demikian maka, selain tak tahu isi Pancasila, sudah pasti Anda juga buta Undang-Undang Dasar 1945. Mengakibatkan Anda tak jauh beda dengan orang-orang yang menyegel Gereja tempat beribadah Jemaat GKI Yasmin di Kota Bogor, dan kelompok yang melarang mereka beribadah pada Hari Natal 2014, setahun silam. 

Pembaca, betapa mudah kita menemukan informasi terkait berita dan peristiwa penyegelan dan penyerangan rumah-rumah ibadah di Indonesia yang dilakukan secara teroganisir dan terang-terangan. Tak sedikit bahkan dilakukan di depan hidung aparat. Rangkaian penyegelan, penyerangan, bahkan pemboman, marak terjadi sejak tahun 2000 sampai sekarang ini.

Sudahlah untuk menyinggung kembali Bom Natal, yang dihadiahkan pada sejumlah Gereja di Indonesia di malam Natal ketika mereka khusyuk berdoa, tetapi lihatlah nasib Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, yang dapat Anda saksikan dengan mengklik -> tautan ini.

Bagaimana pula dengan penyerangan tempat ibadah, pondok pesantren dan sekolah milik kaum Syiah? Semua peristiwa di atas adalah gambaran, betapa toleransi kehidupan beragama yang sudah terbina selama ini hancur karena ‘kesesatan pikir’ dan klaim yang mengatakan, saya, dan kelompok kami adalah yang paling benar dan suci.

Sekarang, bagaimana dengan peristiwa di Karubaga Tolikara Propinsi Papua, Jumat 17 Juli 2015, kemarin? Apa muasalnya? Menjadi penting sebab peristiwa terjadi bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri dan sedang diselenggarakannya kegiatan KKR umat Kristiani di wilayah itu.

Kemajuan tekonologi informasi dewasa ini, terutama situs berita media online yang menjamur, membuat kita mudah dan cepat menyimak peristiwa demi peristiwa yang terjadi di belahan dunia manapun, termasuk di Papua. Begitu cepat dan beragam. Mulai dari yang miring, sedikit miring, atau yang berusaha untuk tetap ‘lurus’.

Dari aneka ragam pemberitaan terkait peristiwa di Tolikara, yang kini meruyak dan beruntai di lini massa jejaring sosial dan ragam situs berita online, saya menemukan penggalan informasi terkait peristiwa itu, yang menjadi penting untuk dibahas. Ini baik sebagai pelajaran sekaligus pengalaman.

Ya. Toa atau lesepeker, kata orang-orang tua di kampung saya, Passi. Di awal Ramadhan, kita sudah pernah membahas lespeker (pengeras suara, red) di media ini. Ada 3 judul yang turun, masing-masing ; Posko Berisik di Bulan Penuh Hikmah, Membela Para Pecinta Toa, dan satunya lagi, Toa, Cahaya, dan Gemuruh.

Disebutkan www.tabloidjubi.com, kronologis insiden pembakaran terjadi saat umat muslim yang hendak melaksanakan sholat Ied bernegosiasi dengan warga Karubaga yang meminta Sholat Ied yang dilakukan di dalam masjid, tidak menggunakan pengeras suara.

Masyarakat menghendaki demikian karena di Tolikara ada seminar dan KKR oleh Pemuda GIDI dan umat Kristen sejak tanggal 15 Juli sampai 17 Juli 2015. Dengan adanya seminar maka pemuda GIDI dan masyarakat minta kepada umat muslim melakukan ibadah tanpa menggunakan pengeras suara karena dinilai menganggu kegiatan yang dilakukan oleh Pemda GIDI.

Disebutkan juga, sebelum pelaksanaan Sholat Ied, pihak GIDI sudah mengeluarkan surat pemberitahuan untuk diketahui semua pihak, termasuk Kapolres dan  Bupati. Menurut Presiden Sinode GIDI, Pendeta Dorman Wandikbo, sebagaimana dilansir Tabloidjitu.Com, sudah ada kesepakatan untuk tidak menggunakan lespeker karena ada kegiatan Seminar dan KKR di Tolikara.

Pada Jumat 17 Juli 2015, permintaan untuk tidak menggunakan lespeker, yang konon sudah disepakati, nampaknya dilanggar. Beberapa pemuda lantas mendatangi mushola Karubaga untuk bernegosiasi. Namun permintaan untuk tidak menggunakan lesepeker ditolak. Akhirnya terjadi adu mulut dan saling lempar.

Saat itulah aparat keamanan bersigap ke TKP dan mengeluarkan tembakan untuk mengantisipasi terjadinya kericuhan yang dikhawatirkan akan meluas. 7 orang mengalami luka tembak dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Salah seorang di antara pemuda yang tertembak itu, akhirnya meninggal dunia.

Peristiwa semakin memanas, masyarakat yang amarahnya meletup mulai melakukan pembakaran. Petugas yang harus meredam kerusuhan, terus bersigap melakukan pengamanan. 4 orang kembali tertembak. Total yang kena tembak dalam peristiwa ini ada 11, termasuk 1 orang yang meninggal.

Pembaca, kita tentu tidak sepakat ada penyerangan terhadap rumah ibadah. Sama halnya dengan umat lain yang pasti tidak sepakat, peristiwa yang sama terjadi di rumah ibadah mereka.

Soal peristiwa ini, biarlah aparat berwenang yang akan mengusut tuntas. Kita tidak perlu ikut-ikutan menjadi provokator di media sosial, yang mengutip ragam beritas yang kadar kemiringannya terlampau miring plus miskin data, hingga membuat orang-orang sesat informasi.

Soal lespeker, inilah yang sebenarnya saya khawatirkan sebagaimana tulisan-tulisan yang pernah saya buat terkait pengeras suara. Bahkan pak JK sendiri sudah pernah mengkhawatirkannya.

Ah, seandainya permintaan dari kaum mayoritas di Tolikara diikuti umat minoritas dengan tulus ikhlas, sebagai bentuk toleransi mulia antar umat beragama, terjadikah peristiwa memilukan itu? Atau haramkah umat yang sholat tanpa lespeker dan terancam masuk neraka gara-gara tak memakai pengeras suara?

Negara kita yang merupakan negara kepulauan multi etnis budaya dan kultural, yang dihuni segala lapisan umat beragama yang tipis telinga, sepertinya mulai perlu membahas perkara lespeker yang menggelegar di tempat-tempat ibadah.

Penulis : Uwin Mokodongan

Uwin Mokodongan
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *