bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy banner-kpu
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

The Power Of Pumpun

Bagikan Artikel Ini:

Pumpun

WAHAI  umat Arus Utara dot kom. Kotamobagu terdiri dari 4 wilayah Kecamatan, 15 Desa dan 18 Kelurahan. Kuat dalam urusan ketahanan pangan (konon), mengoleksi banyak tenaga honorer, konsep pembangunannya dilandaskan pada Kota Model Jasa,  dan mohon maaf jika ada embrio usaha jasa yang terganggu oleh razia aparat. Demikian sekilas gambaran tentang wilayah tempat saya berada.

Oke. Kembali ke laptop, kata Tuyul.. ##$@#432*&% Opps.. soryy. Tukul maksudnya.

Asal kata Pumpuners  adalah Pumpun. Dalam Bahasa Mongondow, Pumpun artinya Angkat. Tapi maksud kata Angkat di sini, bukan mengangkat semua jenis benda, bahan atau barang. Kita tahu bersama bahwa Bahasa Mongondow sebenarnya punya banyak padanan kata yang masing-masing memilik arti dan makna tersendiri. Pun beda wilayah, beda pula penggunaannya, sehingga arti dan maknanya pun beda.

Sudah, akan panjang kalau kita membahas itu. Sekarang coba perhatikan kalimat berikut ini; “Pumpun pa monik in bobata’an tanion,”.  Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, artinya; “Angkatlah bahan cucian itu,”.

Jika dikalimatkan dalam bentuk kata kerja kedua, maka Pumpun menjadi Momumpun. Artinya; sedang melakukan Pumpun. Atau sedang mengangkat suatu barang yang dijemur agar tidak terkena air hujan. Dan biasanya benda atau barang yang dijemur itu adalah pakaian. Maka dari itu ada kalimat : Momumpun kon bobata’an ba’ dia’ uma’an uyan (Sedang mengangkat pakaian agar tidak sampai basah oleh hujan).

Pumpun (angkat) atau Momumpun (sedang mengangkat) umumnya merujuk pada aktivitas mengangkat suatu benda yang di jemur agar tidak terkena air hujan. Benda ini bisa berupa hasil pertanian seperti kopra, kopi, coklat, atau hasil bumi lainnya yang perlu dikeringkan atau dijemur. Tapi lazimnya, yang di pumpun itu adalah bahan cucian yang sedang dijemur, yakni pakaian. Tidak pernah ada kejadian di Mongondow, jika ada mobil terparkir di halaman, dan langit nampak mendung, Mamak akan teriak dari dapur; “Pumpun pa monik in oto tanion Zakir” (Angkatlah mobil itu Zakir). Itu akan aneh bin rancu. Sebab kalau untuk mobil, kalimat Mamak akan jadi begini; “Potu’ot pa kon garasi oto tanion Zakir,” (Masukan ke dalam garasi mobil itu Zakir).

Betapa kayanya Bahasa Mongondow, bukan? Untuk mengangkat jemuran saja, nenek dan tetek moyang kita harus membuat kosa kata khusus. Maka rasa bangga mana lagi yang hendak kita dustakan sebagai  orang Mongondow.

Pumpuners artinya orang yang melakukan aktivitas Pumpun atau Momumpun. Ini adalah istilah kekinian bikinan saya. Merujuk pada orang-orang yang berbelanja baju baru saat mendekati hari raya. Kalaupun ada yang merasa jauh-jauh hari sudah menggunakan istilah Pumpuners, bebas merdekalah mengklaim. Tak masalah. Saya tak akan menuntut.

Orang Mongondow memang pintar bikin istilah. Cepat juga in dan biasanya dilengkapi bumbu-bumbu buli. Kemajuan teknologi membuat pengistilahan itu semakin kreatif dengan lahirnya meme-meme produktif yang meruyak di jagat maya.

Istilah ini tentulah tidak saya comot di sembarang tempat. Ini merupakan hasil studi banding di jemuran belakang rumah orang Mongondow. Selalu  kata kerja ini (Momumpun) yang digunakan Mamak-mamak tatkala melihat fenomena mendung berarak-arak di langit yang seketika gelap mengandung gerimis.

Entah, siapa yang pertama kali mengait-ngaitkan fenomena ini dengan aktivitas berbelanja, hingga menjadi semacam buah bibir jelang hari raya Idul Fitri.

Tengoklah deretan status yang beruntai-untai di sosial media; fesbuk, twiter, pet, dan bebe’em. Betapa banyak, marak, meruyak, seliweran, lengkap dengan keriangan-keriangan penuh poleke.

Terkadang saya berpikir, apakah ragam jenis pakaian di Paris Superstore, Abdi Karya, deretan toko-toko di jalan Kartini plus Pasar Senggol di Kotamobagu, adalah jemuran yang harus dipumpun?

Sepertinya ada kesalahan tata Bahasa Mongondow dan penempatan istilah yang keliru, namun terterima di masyarakat. Hadeh…!! sudahlah. Saya bukan ahli Bahasa Mongondow. Toh, ini cuma istilah suka-suka. Seperti membuli fenomena dan ritual tahunan yang so pernah. Semacam pengulangan-pengulangan yang sudah menua dan membudaya di masyarakat kita penganut paham konsumerisme.

Ngomong-ngomong soal budaya, inilah yang sebenarnya agak merisaukan. Bayangkan jika Momumpun adalah budaya dan ritual adat yang wajib dilakukan setiap orang Mongondow dalam menyambut Idul Fitri? Ini praktek konsumtif namanya. Yang selalu absurd membedakan; mana kebutuhan dan mana keinginan. Mana sekunder mana primer. Apakah ketika di bangku SD dulu, kita memang sering bolos saat Guru PKK masuk?

Terkadang seperti ada gugatan menekan dalam diri terkait fenomena ini. Apakah Mompumpun itu hobi, budaya, atau desakan kebutuhan dasar yang tak boleh tidak jika tak dilakukan.

Mantos dan Mega Mall

Pernah lihat Meme bertuliskan Dega’ Niondon berlatar Manado Town Square (Mantos) atau Mega Mall? Pasti pernah. Nah, itu adalah Meme yang bisa jadi, selain sebagai luapan kreatifitas dan bunga-bunga kegembiraan untuk menyemarakkan budaya Momumpun, sebenarnya mengandung buli alias poleke bagi orang Mongondow yang jauh-jauh ke Ibukota Propinsi (Manado) demi kepentingan Momumpun (beli baju baru). Oh,ya. Sebelum lanjut, Dega Niondon itu artinya semacam sapaan kepada para tetamu datang. Jika di Indonesiakan, artinya; Sudah Datangkah… atau Selamat Datang.

Lanjut. Di grup fesbuk, saya menemukan status salah seorang anak Mongondow yang konon pernah menjadi kasir di Mantos. Dia memberi perkiraan hitungan yang menurutnya, setiap orang Mongondow/Kotamobagu yang ke Mantos, masing-masing mengeluarkan kocek  Rp 10 juta per orang. Nah, coba kalikan dengan 200 orang Mongondow yang ke Mantos? Berapa duit yang ‘dijemur’ di sana?  Rp 2 Miliar coy.

Tapi, yah demikianlah. Hari kemenangan memang layak dirayakan. Namanya juga Hari Raya. Meski terkadang jauh dari penting. Masyarakat kita yang semakin kapitalistik, terlanjur terdidik menjadi masyarakat yang konsumtif. Beli, beli, dan beli!! Pumpun, pumpun, dan pumpun!! kong kya.. adew adew bilang.

Jika pada akhirnya ada kesadaran yang lahir dari generasi Mongondow berikutnya, yang gegap gempita merevolusi mental-mental konsumtif kita, generasi inilah mungkin yang akan mengganti istilah Momumpun menjadi jumur doi.

Jadi, di sosial media nanti,  topik dan percakapan sudah bukan lagi soal; so pi ba pumpun ngana? Melainkan; so pi ba jumur doi ngana?

Muhamad Zakir Mokoginta

Copy of Muhamad Zakir Mokoginta

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *