bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Dari Logika Koprol Hingga Berdansa Di Atas Panada

Bagikan Artikel Ini:

Panada Mongondow

SAYA tidak tahu persis bagaimana bully sebagai suku kata (Inggris) melokal dan ramai dipakai kalangan netizen Indonesia, menjadi sesuatu yang berkonotasi hujatan atau olok-olok kepada orang lain.

Tapi belakangan, sedikitnya saya bisa paham, bahwa bully kini bisa disepadankan dan dilokalkan menjadi buli, hingga lahirlah pembuli, membuli, dibuli, dan korban buli.

Di tarik ke tingkatan lebih lokal lagi, di Mongondow, atau lebih spesifik lagi di kampung saya Passi misalnya, buli itu artinya pantat atau bokong. Namun berkonotasi ‘kotor’. Ia adalah wilayah pembuangan.

Tapi arti buli yang kita omongin ini sama sama artinya dengan poleke kata Mongondow. Mengolok-olok orang hingga bisa membuatnya malas mandi, malas ke sekolah, meradang penuh letupan emosi, atau malah bisa membuat orang korban buli jadi gelap akal hingga dapat mengakibatkannya menjadi gelap mata.

Ngomong-ngomong soal buli, saya jadi ingat Boltim lagi. Timur memang kerap duluan panas. Mungkin karena dari sanalah matahari terbit.

Eh, lagi-lagi ngomong politik. Sialan, memang akhir-akhir ini saya jadi seperti pengamat politik amatiran, yang sesekali kehabisan paket data. Padahal di jaman Android seperti sekarang ini, paket data internet adalah mesias.

Nah, ngomong-ngomong soal paket data, pasti erat kaitannya dengan internet. Maka lanjutannya pasti tak jauh-jauh dengan medsos.

Ya, betul. Medsos. Mulai dari fesbuk, be-be-em, twitter dan path. Selain fesbuk, teranyar kali ini adalah be-be-em atau bebekiyah kata kawan Uwin Mokodongan, pengelola media ini.

Baik. Saya mulai tulisan saya kali ini dengan pembukaan begini; Agak gatal dan alangkah menariknya untuk ‘digaruk’, ketika saya melihat recent update (RU) be-be-em, maupun status dan komentar yang ada di fesbuk (termasuk di group).

Dari timur Mongondow, siapa yang kini sempat dibuli dan dihojat?Oh, ternyata pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Boltim atas nama Candra Modeong dan Supratman Datunsolang. Apa kata medsos? Ya, betul. Mereka dibuli sebagai pasangan calon boneka (cabok). HA-HA-HA-HA.

Apa yang bikin tawa saya bisa selebar danau Mooat? Sepertinya di sini ada logika koprol para pembuli. Hmm, tempoe doeloe, para pembuli jingkrak-jingkrak menuding Eyang (Sehan Landjar) sebagai aktor di balik perampasan Panada digenggaman Can (demikian Candra Modeong biasa disapa). Dalam kisah itu, Eyang disebut (sekalian juga dibuli) merampas Panada—penganan khas Mongondow dengan unti ikan goreng saus—milik Can. Tentu Panada yang dimaksudkan para pembuli adalah  jabatan Can selaku Ketua DPC Hanura Boltim.

Sontak saya berpikir, jika Eyang benarlah orang merampas Panada itu, bukankah otomatis hasil rampasannya itu ada dalam genggamannya? Artinya, Eyang seharusnya jadi ketua DPC Hanura Boltim? Betul tidak? Ya,betul. Seratus untuk pembaca.

Tapi… Ooopppssss….!! Pembuliiiiiiii ooooh pembuliiiiiii (pakai gaya Ustad Maulana). Perkara Panada dirampas, dirampok, atau irambit kata orang Mongondow, maka konsekuensi dari rampasan dan rampokan itu, seharusnya Can saat ini hanya bisa manyun-manyun di teras rumah, sembari meratapi nasibnya yang malang, karena setelah susah payah membangun Panada Hanura di Boltim, eh…jabatan tertinggi itu terampas tinggal ampas yang papas, tanpa unti lagi.

Tapi apa fakta yang kini terpampang di hadapan hidung kita yang kata Iwan Fals; tak mancung?

Fakta pertama adalah, sekarang Can tampil sebagai Calon Bupati lewat SK pencalonan dari DPP Hanura. Hm, fitnah memang lebih kejam dari fitnes. Meski tak harus keringatan memfitnah orang lain.

Sedangkan fakta kedua adalah; Eyang tak didukung DPP Hanura. Terbukti SK pencalonan tak dikantongi Eyang. Malah ada digenggaman Can sesuai cita-cita kaum muda mantan jurnalis ini.

Kepada Para Pembuli Candra

Ekhuuuuu…!! Wkwkwkwkwkw. Belakangan saya tiba-tiba semacam mengendus sekalian menangkap pertunjukan logika koprol stadium akhir para pembuli.

Kenapa? Baru kemarin saya mencermati bagaimana para pembuli alangkah iba-nya kepada Can karena Panada-nya dirampas. Sebagian dari mereka (para pembuli) bahkan (menurut desas-desus) ada yang sampat bercucuran air mata saking penuh empati terhadap nasib Can terkait Panada-nya yang terampas hilang. Selain membuli sosok yang mereka anggap tukang rampas Panada, mereka (para pembuli ini) juga mengutuk si pelaku perampasan yang tertuduh secara jahanam berdasarkan logika para pembuli.

Lalu, sekarang apa yang terjadi? Belumlah lama dan betapa segar nian dalam ingatan ‘peristiwa perampasan’ itu, kemudian secara tiba-tiba, seperti bocah yang melakukan koprol, Senin 3 Agustus 2015, alias masih dalam minggu ini,  mereka (para pembuli itu) tiba-tiba penuh serak berbau busuk, teriak-teriak di RU dan fesbuk, membuli Can (bersama pasangannya) sebagai Cabok alias Calon Boneka. Masya Allah….!!

Bukankah rasa empati dan termehek-mehek terhadap Can dalam peristiwa yang mereka percaya sebagai ‘perampasan panada’ itu, adalah kekuatan yang seharusnya berbaris dan berbondong-bondong, lalu dijadikan sebagai kekuatan massa rakyat untuk memenangkan Can sebagai Bupati Boltim Periode 2015 – 2020? Bukankah itu sangat masuk akal sekali? Adanya kekuatan berupa barisan termehek-mehek yang sepatutnya mendukung Can memenangkan Pilkada Boltim? Bukan malah membulinya sebagai Cabok!! Masya Allah…..

Kemarin kalian memposisikan diri sebagai barisan termehek-mehek dari Can, atas rasa empati dan senasib-sepenanggungan terkait peristiwa Panada, dimana Eyang dituduh sebagai pelakunya, hingga secara otomatis, Eyang adalah musuh sekalian lawan Can. Tapi sekarang,  ketika Panada itu ternyata tak terbukti terampas, malah Can kini sedang berjoget di atas tumpukan Panada, kalian malah membulinya sebagai Cabok! Ah, gaya koprol mana lagi yang hendak kalian dustakan wahai pembuli?

Kalian bilang, mereka (CAn dan Eyang) musuhan. Levelnya bahkan berada di sebutan bebuyutan. Lalu sekarang, setelah Can mendapatkan keinginananya untuk mencalonkan diri lewat dukungan Hanura, kenapa kalian malah membulinya sebagai Calon Boneka! Lalu serta merta menuduh bahwa Can adalah kroninya Eyang. Hiks, pembuliii….(dengan gaya Ustadz Maulana), bolehkah saya meratapi nasib kalian wahai pembuli…??

Beginikah logika koprol yang kalian pahami:  Eyang merampas Panadanya Can, maka tak salah lagi, Can korban perampasan itu, adalah anak emas disayang-sayang oleh Eyang. (Begitukah?)

Ya sudahlah pembuli. Kalian ingin puas dan menang? Ingin membuktikan bahwa, empati dan barisan termehek-mehek terhadap Can yang kalian pertontonkan kemarin (peristiwa perampasan Panada), bukanlah isapan jempol kaki belaka?

Maka dukunglah Candra-Supratman, yang kini temarjinalkan, teraniaya, terampas, dan ter-ter-terpanadakan. Dukunglah Candra-Supratman sebagai bukti ketermehekan kalian kepada Can bahwa dia memang pantas didukung dan dijadikan Bupati. Sebab Can adalah sosok yang terampas dan teraniaya. Dukunglah dia untuk dapat berdansa di atas panada-panadanya.

Ah, akhirnya saya berpikir; pembuli yang sedang melakukan gerakan salto sembari makan Panada, adalah mahluk paling keren abad ini.

Penulis : Kristianto Galuwo

Anak Totabuan tulen, Mongondow paten, Indonesia keren, yang mengaku liar di alam raya.
Anak Totabuan tulen, Mongondow paten, Indonesia keren, yang mengaku liar di alam raya.

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *