ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

2 Penyebab Kenapa Anak Muda Enggan Berbahasa Mongondow

Bagikan Artikel Ini:

les2SAYA terlebih dahulu meminta maaf sebesar-sebesarnya kepada para penulis dan pembaca setia arusutara.com. Tulisan ini mungkin agak sedikit berbeda dari tulisan- tulisan yang ada di kolom artikel arusutara.com.

Tapi apa yang hendak saya sampaikan di sini, adalah perkara serius coy. Ini soal bahasa yang terancam punah. Soal kelestarian budaya di negeri para Bogani. Maka saya minta orang-orang Arus agar memperhatikan ini juga.

Oke. Saya mulai.

Entah apa yang membuat generasi muda di Mongondow, segan atau mungkin malu berbahasa Ibu. Lidah mereka seolah kelu dan keseleo untuk sekedar berkata; “Nongkon onda ikow??” (Anda dari mana?). Padahal mereka anak Mongondow. Bahkan terlalu Mongondow dari yang kita kira atau lebih tulen dari mamaknya tulen. Tapi kenapa mereka enggan berbahasa Mongondow?

Di internet, saya sempat membaca satu-dua tulisan sok tahu yang mengatakan, keterkikisan budaya terjadi konon karena diakibatkan arus modernitas. Masuknya budaya luar (katanya) turut mempengaruhi budaya setempat. Alhasil karakteristik budaya dan adat istiadat setempat mengalami kekacauan. Terkikis dan hancur lebur.

Apa saya langusung mempercayai itu? Sebelum saya jawab, mari kita bertanya; budaya luar macam apa yang masuk di Mongondow sehingga anak-anak Mongondow malu berbahasa ibu sendiri?? Apakah karna budaya Enggris? Sehingga anak-anak Mongondow enggan lagi berbahasa Mongondow, dan lebih memilih berbahasa Enggris?? Peh, tidak kan? Atau mungkin karna pengaruh tontonan Korea? Tidak juga kan? Sebab jauh sebelum K-Pop membuat hati dedew-dedew Mongondow berdetak lebih kencang dan bulu kuduknya merinding, anak-anak Mongondow sudah lama malu dan memilih tidak berbahasa ibu. Dan coba teliti, dedew Mongondow di kampung mana saat ini yang sudah mengganti bahasa Mongondow dengan bahasa Korea? Nggak ada kan? Jadi alasan yang mengatakan bahwa, masuknya budaya baru seiring arus modernitas yang terus menggempita melalui tipi dan gadget, bukanlah penyebab terkikisnya budaya Mongondow terutama dalam bahasa.

Nah, lantas karena apa bahasa Mongondow ditinggalkan?Atau sudah ‘tidak’ diajarkan lagi? Tak perlu bertele-tele, jawabannya adalah Pertama; sebab orang tua di Mongondow tidak mengajarkan dan menganjurkan anak-anaknya berbahasa Mongondow. Kedua, karena anak-anak Mongondow pernah ditempeleng dan dibuli ketika dia berbahasa Mongondow saat bersosialita. Tragisnya lagi, yang menempeleng lalu membuli itu justru anak Mongondow. Bahkan kadar kemongondowan si yang membuli dan menempeleng itu, lebih madirutu alias lebih tulen dari yang dibuli dan ditempeleng. Masya Allah, ini sudah bukan degradasi budaya lagi tapi kiamat budaya. Maka dari itu www.arusutara.com harus memuat tulisan ini di kolom ARTIKEL)

Nah, sekarang kita tahu, itulah penyebab anak-anak muda Mongondow enggan lagi berbahasa Mongondow. Selain tak diajar-anjurkan orang tua, mereka trauma berbahasa Mongondow karena perestiwa pembulian dan penempelengan tadi. Siapa sih yang mau jadi korban buli dan tempeleng? Apalagi di muka umum. Humhh..Enggak la yau…!

Soal benar tidaknya apa yang saya sampaikan pada penjelasan Kedua di atas, saya yakin sudah lama para pembaca tahu dan telah berkali-kali mendengar cerita tentang itu.

Sekarang kita tengok Kota Kotamobagu. Dari seluruh Desa dan kelurahan yang ada di Kotamobagu, Desa atau Kelurahan mana yang generasi mudanya masih bangga dan riang gembira berbahasa Mongondow? Nah, pada bingung kan?

Bayangkan Uyobro dan Nanubro, jika Bahasa Mongondow punah di kalangan generasi muda kita? Sedangkan kita juga betapa bodoh dan buta-tulinya berbahasa Arab, Itali, Prancis, Colombia, dan Enggris? Entah bencana budaya apalagi yang bakal redup hilang dari Bumi Mongondow kita, lipu in mogoguyang naton.

Jadi begini, mulailah hari ini berbahasa Mongondow. Tak perlu sungkan, apalagi malu, sebab aneh kalau kalian merasa seperti ingin pipis ketika hendak berbahasa Mongondow. Lihat sana anak-anak muda di Bali, mereka lancar berbahasa Bali. Lihatlah para akang dan eneng geulish di Sunda, mereka senang berbahasa Sunda. Lihatlah pula anak-anak muda di Batak, atau yang paling dekat di Gorontalo.

Terakhir, ketika para pembaca selesai membaca tulisan ini, kemudian meneruskannya kepada yang lain, lalu beberapa hari, bulan, atau tahun ke depan, masih ada juga anak Mongondow tulen yang malu berbahasa Mongondow, maka mereka-mereka itulah yang (diam-diam) ternyata adalah korban buli dan yang pernah ditempeleng temannya gara-gara berbahasa Ibu. Sungguh memalukan!

Penulis : Sandong G Mokoagow

sandong
Orang Biga. Anak kuliahan yang tidak tahu pasti kapan dia bisa sarjana

Bagikan Artikel Ini:
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *