ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Soal Idul Adha dan Gelar Haji

Bagikan Artikel Ini:

kurban

Bagaimana perasaanmu ketika hampir di seluruh belahan dunia merayakan momen lahirmu, tapi beda hari dan tanggal?

Lho, merayakan hari kelahiranmu tapi beda hari dan tanggal? Bagaimana itu?

Orang-orang merayakan Hari Raya Idul Adha. Bersilahturahim, merobohkan Kerbau, Sapi, dan Kambing, lalu menyembelihnya sebagai Qurban. Sungguh hari yang berdarah.

Orang-orang membagi daging Qurban. Saling sapa, bersalam-salaman; Selamat Idul Adha, Minal Aidin Walfaidzin. Foto-foto penyembelihan hewan qurban riuh di Medsos. Yang (mungkin) kurang tega mengunggah tatapan kosong mata hewan qurban yang berbinar seolah ingin menangis, memilih membagikan kartu ucapan; Kami keluarga Si Fulan mengucapkan Selamat Idul Adha….. dst.

Apakah kamu akan seperti mereka? Bayangkan jika kartu ucapan itu berbunyi; Idul Adha mengucapkan Selamat Idul Adha.

Lho, kok gitu? Ya lantas gimana? Namamu kan Idul Adha. Jadi kalimatnya; Bersama ini saya Idul Adha mengucapkan Selamat Idul Adha….

***
Demikian mungkin yang membesit di benak anak manusia bernama Idul Adha. Dia lahir 12 tahun silam tepat di hari Idul Adha. Setiap tahun Hari Raya Idul Adha yang merupakan momen kelahirannya, dirayakan umat muslim di seluruh dunia. Tetapi Idul Adha yang dirayakan bersamaan dengan penyembelihan hewan qurban ini, selalu beda tanggal dan bulan dengan kelahirannya.

Nah, galau gak? Gimana sih rasanya itu. Sepertinya ada korban perasaan yang lahir. Kamu lahir di perayaan Idul Adha, tapi tiap tahun, tanggal dan bulan kelahiranmu wahai Idul Adha bocah dari Solimandungan Bolaang Monondow, tidak pernah tepat dengan tanggal dan bulan Hari Raya Idul Adha.

Bingung? Ah, tentu tidak dong. Tanggal dan bulan lahirmu kan menggunakan hitungan tahun Masehi, bukan Hijriah. Hm, masih bingung? Ya,sudah tak usah dibawa pikir. Biarkan para ahli hisab dan astronomi yang berurusan dengan itu.

Oh,ya. Siapa sih Idul Adha? Baik, silahkan simak di sini atau KLIK INI.

***

Suduah di klik? Baiklah. Kemarin kan Hari Raya Idul Adha? Kalian mengurbankan apa? Ah, jangan sebut korban perasaan melihat wajah-wajah polos hewan qurban yang (siap tidak siap) akan disembelih. Muhamad Zakir Mokoginta bilang, sudah mainstream menyebut korban perasaan.

Lalu, apa sebanarnya yang mau dijadikan intisari pokok dalam tulisan ini? Ya, apalagi kalau bukan tentang Hari Raya Qurban. Sedikitnya 2 saja yang perlu kita sentil, yakni Pertama : kenapa Idul Adha disebut juga Hari Raya Haji? Lalu Kedua : kenapa disebut juga Hari Raya Qurban?

Ah, salah. Sebenarnya bukan itu yang hendak saya sampaikan lewat tulisan ini. Makanya saya ubah begini : kenapa di endonesya, orang yang pergi haji ke Mekkah, sekembalinya ke negri rupiah melorot ini, nama depannya harus dilabeli Hi (Haji) untuk Laki-laki, dan Hj (Hajja) untuk Perempuan? Padahal Haji atau Hajja itu bukan gelar akademik. Nabi dan para sahabatnya saja tidak menyematkan gelar Haji atau Hajja di depan nama mereka.

Subhanallah.. Bukan dengki apalagi iri karena belum pernah ke negri Arab menunaikan ibadah haji. Tapi kok saya pengen tahu sekali ya apa alasan penempatan gelar Haji dan Hajja itu bagi setiap orang endonesya sepulang dari Arab?

Mempertanyakan ini tentu saya barengi dengan kesadaran dan tawakal yang tidak dilandaskan pada kenyiyiran atau kebencian sebagaimana yang biasa dipertontonkan ormas-ormas di negeri ini, yang tak takut polisi dan masih ada saja orang menilai bahwa, tingkah mereka adalah wujud sopan santun tepo selironya orang timur.
Tentu juga mempertanyakan soal gelar Haji dan Hajja yang disisip di depan nama orang endonesya, jauh dari pikiran nehatip saya yang seenak-wenangnya saja berkesimpulan; oh itu adalah tindakan pamer. Sombong.

Masya Allah, gak mungkin kan urusan baru saja naik onta di negeri Arab sana lalu dipamer-pamerin. Gak mungkin banget naik Onta di negeri kerontang begitu, dipakai sombong-menyombong di sini. Apalagi sengaja disombong-sombongkan ke komunitas penunggang Harley. Gak mungkin banget ente tiba-tiba nyamperin geng Motor lalu ngerocos; “Eh, tahu gak ente-ente ini? Ane baru naik Onta lho di negeri Arab?”

Lantas apa ya alasannya? Bagaimana sejarahnya? Saya yakin segala sesuatu ada karena punya alasan. Ini penting, sebab bayangkan, di Mongondow, hilaf menulis-sisipkan gelar Hi atau Hj pada nama orang yang menjadi undangan (resepsi pernikahan misalnya), maka jangan salahkan orang yang di undang itu jika tak datang gara-gara engkau tak menyisipkan huruf Hi atau Hj di depan namanya.

***

Wikipedia menulis, pada masa penjajahan Kolonial Belanda, penggunaan gelar haji digunakan pemerintah Hindia Belanda untuk mengidenifikasi para jemaah haji yang mencoba memberontak sepulangnya dari Tanah Suci. Mereka dicurigai sebagai anti kolonialisme, dengan pakaian ala penduduk Arab yang disebut oleh VOC sebagai “kostum Muhammad dan sorban”.

Pada tahun 1670-an, terjadi gelombang propaganda anti VOC di Banten. Orang-orang meninggalkan pakaian adat Jawa kemudian menggantinya dengan memakai pakaian Arab. Dituliskan pula bahwa pemberontakan Pangeran Diponegoro serta Imam Bonjol dipengaruhi oleh pemikiran Wahabi sepulang berhaji. Pemerintah Hinda Belanda akhirnya menjalankan politik Islam, yaitu sebuah kebijakan dalam mengelola masalah-masalah Islam di Nusantara pada masa itu. Masih dikutip dari Wikipedia, ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903.

Sejak tahun 1911, pemerintah Hindia Belanda mengkarantina penduduk pribumi yang ingin pergi haji maupun setelah pulang haji di Pulau Cipir dan Pulau Onrust. Setiap pribumi yang pergi naik haji, nama mereka dicatat dengan detail, termasuk dari mana wilayah asal jamaah Haji itu. Pemerintah Hindia Belanda melihat, beberapa pemberontakan yang terjadi, biasanya dipimpin oleh tokoh-tokoh sepulang dari berhaji. Maka dengan adanya catatan dari pihak kolonial, setiap terjadi pemberontakan di wilayah Hindia Belanda, pihak kolonial akan dengan mudah menemukan warga pribumi, karena di depan nama mereka sudah tercantum gelar haji.

Jadi setiap pribumi yang kembali dari negeri Arab usai menunaikan ibadah haji, pamarentah kolonial Belanda menyematkan gelar Haji atau Hajja di depan nama orang itu, yang dikumpulkan di Pulai Cipir dan Pulau Onrust.

Demikianlah. Semoga apa yang kita kurbankan di Hari Raya Idul Adha kemarin, bermanfaat bagi sesama. Para aktivis pecinta satwa harap maklum saja. Apa yang terjadi kemarin adalah urusan Agama. Sudah dimulai di jaman Nabi Ismail AS, 1.400 lebih tahun yang lalu.  (Uwin Mokodongan)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *