ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Tuhan, Saiton, dan Idul Adha

Bagikan Artikel Ini:

SUTARA.COM BOLMONG – Belum lama ini kita dikagetkan dengan berita tentang ditemukannya Tuhan yang ternyata ada di Banyuwangi Jawa Timur.

Tenang, jangan panas dulu atau langsung kebakaran jenggot (bagi yang berjenggot)  sebab Tuhan yang dimaksudkan ini, bukan Tuhan Yang Maha Esa. Melainkan Tuhan yang hanyalah sekadar nama, pemberian kedua orang-tua Tuhan setelah Tuhan lahir ke dunia yang fana ini.

Tuhan yang sempat menghebohkan itu adalah nama orang asal Banyuwangi, Jawa Timur. Tentu penemuan Tuhan sebagai nama orang itu melahirkan ragam reaksi yang mencuat ke permukaan setelah seseorang mengaplot foto KTP Tuhan di Medsos.

Media massa (cetak dan elektronik) tak mau kalah, ikut-ikutan memblow-up berita penemuan Tuhan itu. Alhasil, kehebohan itu memantik para penjaga akidah di Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang meminta agar Tuhan mengganti namanya karena dianggap menodai Agama (hehehe blaspemi coy).

Sedangkan kalangan lain, yang siang malam aktif di jagat medsos misalnya, berebutan untuk lucu-lucuan. Untunglah fenomena penemuan Tuhan di dunia yang fana ini—sekali lagi Tuhan yang dimaksud ini adalah nama orang, bukan Tuhan Yang Maha Kuasa—cepat meredup dan ditinggalkan.

Lalu munculah Saiton asal Palembang, Sumatrea Selatan. Tipi kembali ribut. Jagat maya pun tak kalah ribut dan lagi-lagi bertindak lucu-lucuan. Tak ayal semua itu sempat berujung pada niatan beberapa stasiun tipi mengundang Tuhan dan Saiton dalam acara Talk Show.

Sudah. Mari lupakan yang sudah lewat itu. Sekarang mari merapat ke sebuah Desa bernama Salimandungan Barat Kecamatan Bolaang Kabupaten Bolaang Mongondow Propisni Sulawesi Utara. Sebab ada nama yang tergolong unik, dapat kita temukan di daerah yang kini sedang berjuang untuk mekar menjadi Propinsi (Propinsi Bolaang Mongondow Raya).

Di Solimandungan Barat inilah, ada seorang bocah bernama Idul Adha. Secara tak sengaja, seorang pegawai Puskesmas Desa Komangaan, bernama Rully Dilapanga, menemukan nama pasien yang pernah dirawat di Puskesmas Komangaan tempat ia bekerja, bernama Idul Adha.

Melalui sambungan ponsel, Rully pegawai Puskesmas Komangaan, memberitahukannya ke kontributor Arus Utara. “Ada nama unik yang saya temukan, apalagi momennya pas sekali sebab Kamis 24 September 2015 nanti, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha,” katanya. Dia lalu menceritakan sekaligus memberitahu bahwa ada pasien di Puskesmas tempat dia bekerja, bernama Idul Adha.

Bersama Rully, kontributor ARUS UTARA mendatangi alamat keluarga Idul Adha di Solimandungan Barat pada Minggu 20 September 2015. Waktu itu malam hari. Saat ditemui di rumah, kedua orang tua Idul Adha, sempat kaget.

“Oh, kami kira ada apa-apa dengan si Idul,” kata Sumarni Mamonto (50), ibunda Idul Adha.

Sumarni lantas bertutur panjang mengenai asal-usul penamaan putra bungsunya yang lahir 24 Februari 2002 silam. Menurutnya selain Idul, ada enam anaknya punya nama yang tergolong unik dan acapkali disesuaikan dengan momen kelahirannya.

“Sebenarnya putra pertama kami juga lahir tepat Idul Adha. Tapi dinamai Hajirun. Idul Adha kan adalah Hari Raya Haji, jadi saya namakan Hajirun. Ia lahir pukul dua siang. Sedangkan yang bungsu ini lahir malam hari, usai salat Isya,” kisahnya sembari mengais tumpukkan ijazah anak-anaknya dengan bantuan cahaya lilin karena malam itu ada pemadaman listrik oleh PLN.

Satu per satu ijazah ditunjukkannya. Nama Idul Adha tertera jelas di ijazah Sekolah Dasar. Ketujuh nama anak pasangan suami istri Kandasa Ginoga (57) dan Sumarni Mamonto ini, dinamai sesuai dengan momen hari kelahiran. Seperti Hajirun yang lahir tepat Idul Adha juga. Setelah itu putra kedua mereka Rinto Harahap disesuaikan dengan artis dan pencipta lagu ternama era 70an. Sedangkan putri ketiga dinamai Rosita dan keempat bernama Andita disesuaikan dengan nama anak bidan yang menangani proses bersalin Sumarni saat melahirkan. Putra keempat mereka dinamai Edi Sudrajat, sebab momen kelahirannya 5 Oktober, bertepatan Hari TNI. Tokoh Edi Sudrajat dikenal sebagai salah satu Jenderal TNI, dan pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia (1993-1998) di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Anak keenam dinamakan Aksainudin, sebab nama Sainudin diambil dari nama Kiyai kondang, Zainudin MZ.

“Saat melahirkan anak ketujuh, seorang bidan desa yakni Ibu Saipa Damopolii mengusulkan supaya memberi nama anak yang baru saya lahirkan itu, Idul Adha. kebetulan hari itu bertepatan dengan Hari raya Idul Adha,” kenang Sumarni.

Idul Adha yang kini duduk di bangku kelas 2 di SMP 4 Negeri Bolaang. Bocah ini mengaku, selama bersekolah memang ada beberapa teman dan guru yang acapkali menanyakan asal-usul namanya.

“Iya, ditanyai kenapa dinamakan Idul Adha dan Idul jelaskan sesuai yang diceritakan ibu,” kata Idul.

“Ya, mudah-mudahan dapat rezeki dari Allah, biar bisa naik haji,” timpal Sumarni, ibu Idul.

Kamis nanti, umat muslim akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Meski tanggal dan bulannya berbeda dengan kelahiran Idul, akan tetapi momen tersebut selalu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Idul dan kakaknya Hajirun.

Semoga MUI tidak akan terusik dengan ini. Bukankah ada pepatah lama mengatakan; apalah arti sebuah nama. Jadi, Tuhan di Banyuwangi, Saiton di Palembang, dan Idul Adha di Solimandungan. Ketiganya hanyalah manusia biasa dengan nama yang melekat masing-masing, pemberian orang tua mereka. (Sigidad/Rully)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *