ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Pulitik Ta’ Tumbeng di Boltim

Bagikan Artikel Ini:

20120501-1

TERTAWA itu sehat. Sepotong kalimat ini pertama kali saya dengar tatkala pantat masih membangkui Sekolah Dasar di Eropassi (Passi). Setelah tak ingusan lagi, saya akhirnya makin sadar, tertawa itu memang sangat menyehatkan.

Saya yakin, ketika masih bayi, Ibu dan para tetangga penggemar saya, pasti suka memberi gelitik; komkomci’ komkomci’. Semacam stimulus dari jari-jari gemes mereka yang ternyata berguna bagi perkembangan saraf motorik saya ketika masih bayi. Dibuat begitu saya pasti menyepak-nyepak, melonjak, mengikik, girang, penuh tawa.

Soal tertawa, saya jadi ingat Sehan Landjar alias Eyang; satu-satunya pejabat publik yang menurut saya pribadi, punya sense of humor. Tak banyak; misalnya, Gubernur, Bupati, Walikota, dan Ketua DPRD, memiliki sifat begitu. Kebanyakan dari mereka; kaku, sok wibawa, dada busung, kepala tegak, senyam-senyum tapi sukar terbahak-bahak.

Saya pikir, menjadi pribadi yang penuh tawa dan ngakak yang alami, adalah sifat pribadi orang-orang merdeka yang tak bisa dipaksakan meng-ada. Orang tak harus memaksakan diri untuk bisa tertawa lepas, terbahak-bahak—tapi kosong makna namun sarat kepentingan—apalagi memaksakan diri untuk menjadi pribadi periang. Sebab jika dipaksakan, boro-boro orang ketawa, yang berlagak begitu malah akan nampak macam orang dungu.

Saya masih ingat, jauh hari sebelum resepsi pernikahan rekan seperkawanan dalam dunia kewartawanan bernama Yokman Muhaling, ada suara yang tertangkap dari kuping saya yang memang lubang. Suara itu mengatakan kalau sifat humor atau bahan lelucon dari Eyang, sudah garing, hambar, dan membosankan. Bahannya itu-itu saja, dibuat berulang-ulang, kata suara itu. Pendek kata tak lucu lagi.

Tapi, apa yang saya temui kemudian di malam resepsi pernikahan Bung Yokman, adalah fakta yang malah menguatkan image Eyang, baik secara pribadi maupun jabatan (Bupati) yang disandangnya bahwa, dia memang piawai dalam mengocok perut para hadirin. Bagi yang sempat hadir di malam resepsi itu, saya yakin, selain terkakak-kakak, memegang perut sembari terpingkal-pingkal adalah fenomena lumrah tatkala Eyang ber-stand-up-comedy di Puade pesta pernikahan Bung Yokman.

Ya. Malam itu tawa menggelegar. Sekali lagi, sense of humor Eyang—yang dikatai basi itu—benar-benar mengocok perut para hadirin. Dilihat dari gestur, mimik, dan intonasi, Eyang memang super periang nan jenaka.

Nah, karena ini cerita tentang kelucuan, maka mari kita ambil waktu melucu dengan pemberitaan ragam media di Bolmong Raya, tentang Eyang.

Lha, kenapa lucu? Nanti akan saya jelaskan singkat. Dan sebagai orang Mongondow yang diajarkan harus mo’oaheran, tentu saya tak perlu menyebut nama media atau wartawan yang ‘meliput langsung’ dan memberitakan soal apa yang sungguh lucu dan menggemaskan.

Kenapa? Ya, mereka kan kawan-kawan seprofesi saya yang pantas dan wajib saya bela. Meski pembelaan terhadap kawan-kawan saya itu bisa jadi disalah-artikan hingga akan berbuntut pada gimanaaaaa… gitu.

Lantas kenapa lucu? Bagi saya pribadi sih itu lucu. Tapi bisa jadi bagi orang lain tidak. Beda orang kan beda persepsi. Beda pula cara menarik paham dan daya mencernanya.

***

Berita itu adalah soal Eyang yang diduga menampar seorang bocah. Akibatnya, didampingi orang-orang kritis, sadar hukum, dan yang terpanggil atas adanya tindak kekerasaan terhadap anak, Noval Sumendap yang dikutip sebagai bocah itu (bukan remaja) melapor ke Polres.
Lalu di mana lucunya?? Hm, sudah pada tak sabar ya? Sekali lagi, ini pendapat pribadi saya. Jadi tak usah ikut-ikutan. Tentu kalian nggak mau kan kalau nanti disebut-sebut sebagai para follower sesat.

Saya merasa lucu sebab Pertama, yang dikutip sebagai bocah itu adalah remaja yang—berdasarkan pemberitaan—umurnya berada di kisaran 18 tahun. Bagi saya itu bukan bocah (ingat, ini menurut saya). Kedua, tentu ada peristiwa menjengkelkan yang dilakukan ‘bocah’ ini sehingga orang seperti Eyang, yang dikenal periang, familiar, dan pintar melucu ini, repot-repot turun dari mobilnya lalu tanpa tedeng aling-aling menempeleng pipi ‘sang bocah’. Ingat, di Mongondow, hal-hal yang menjengkelkan bisa jadi bahan tertawaan lho. Makanya saya penasaran sekali sehingga saking penasaranya, sungguh aneh sebab saraf tawa saya seperti sedang digelitik hingga membuat saya sering ngakak dan diliputi tanya; pasti ada hal lucu di balik penempelengan itu. Ketiga, setelah membaca dan menyimak tuntas isi berita, saya selaku pembaca, sama sekali tidak mendapatkan satupun keterangan yang memberitahukan; apa penyebab ‘sang bocah’ ditampar? Semula saya agak jengkel membaca berita yang seenak perut meniadakan unsur 5W1H. Tapi lagi-lagi saya sadar dan teringat pesan; di Mongondow hal yang menjengkelkan bisa menjadi lelucon dan bahan tertawaan, sebagaimana quotes Bang Katamsi Ginano yang saya temui di Kronik. Kemudian Keempat, berita yang diturunkan itu rupanya liputan di Polres, sebab disertai keterangan foto dimana ‘sang bocah’ diterima SPKT Polres Bolmong. Tapi, dalam pemberitaan itu, tak ada keterangan atau kutipan sama sekali dari pihak kepolisian; apa yang menyebabkan ‘sang bocah’ ditempeleng? Bagi saya ini lucu. Alasanya kenapa? Kan liputannya di dalam Polres, di depan polisi yang menerima laporan. Tapi kok nggak ada keterangan dari pihak kepolisian? Oh, saya maklum. Ini berita cepat-cepat. Toh, nanti disusul lagi. Nah, lucu tidak? Eh, tapi ingat. Ini pendapat pribadi ya. Tak usah ikut-ikutan, apalagi memaksakan kehendak untuk ikut-ikutan merasa lucu. Selanjutnya yang Kelima, belum sempat segala kepeningan dan kebingungan di kepala hilang, brodkes dengan tautan berita dari media berbeda masuk ke BBM saya. Apa isinya? pada pokoknya adalah kronologis terkait peristiwa di atas. Lalu apa yang saya temui? Tak ada penamparan dari Eyang. Ekhuhu…. ini makin menarik sebab belum diketahui pasti, mana pemberitaan yang mendekati betul. Apakah yang menulis menampar, atau yang menulis tidak menampar. Soal siapa yang benar, besok-besok pasti akan terkuak. Kemudian Keenam, saya mengontak pengelola media ini, yang sudah berbaik hati menerbitkan lagi tulisan saya (hehe semoga diterbitkan). Saya lantas menanyakan seputar gonjang-ganjing terkait peristiwa yang diberitakan. Siapa tahu ada keterangan yang bisa saya pegang sebab yakin, kapala suku Arus Utara pasti tahu informasi macam beginian. Dan alangkah lucunya jawaban yang saya dapat; “Sudah jo herang kalo ngana bingung. Tau-tau telpon pa Jonru kong tanya pa dia bagimana depe cirita sebenarnya,” Jawaban ini disertai ngakak yang membuat saya kembali memegang perut. Apalagi ditambah dengan begini; “Makanya foto kopi kong berbage tu Bilpopak yang Alheid da kase pa ngana supaya ndak tambah popak ni cirita,” disertai dengan ketikan huruf W dan K secara beruntai hingga jadi WKWKWKWKWK via chat BBM. Tapi kalau untuk yang satu ini, bagi saya bukan lucu tapi membuat saya tersinggung. *Emo merah.

Akhirnya, oleh pengelola media ini, saya diberi nomor ponsel seseorang yang berada tepat di depan ‘hidung’ di mana peristiwa ‘penempelengan’ atau dituduh ‘penempelengan’ terjadi. Dan apa yang saya dapat sungguh bertolak-samping dengan apa yang saya baca lewat pemberitaan.

Namun yang mengasyikan dan bikin tawa saya tambah ngakak adalah, semua bermula dari KOMKOMCI’, sebagaimana yang saya baca kemudian dari tautan-tautan berita ragam media.

Saya tidak usah menjelaskan apa itu Komkomci’ kepada para pembaca yang saya yakin sudah tahu apa itu. Tapi dari salah satu media berbeda yang mengabarkan, meski tak begitu detail, saya mengetahui kalau duduk perkaranya adalah soal ejekan orang-orang di jalan yang ‘menghadang’ kendaraan yang ditumpangi Eyang.

Selanjutnya, untuk mendapat infromasi lain agar berimbang, saya mengontak nomor ponsel seseorang yang kita sebut saja sumber, pemberian pengelola media ini. Sumber ini bahkan lebih jelas, independen, dan terang benderang, sehingga saya mendapat perbandingan dari beberapa informasi yang sumir berbau gosip dan menyesatkan, meski kadar kelucuannya tetap bikin ngakak.

Apa yang saya dapat? Informasi mengabarkan, di dalam sebuah mobil, saat mau bergerak menuju suatu tempat, ada Mama’-mama’ dan Papa’-papa’ mengejek Eyang dengan cara memperagakan sikap Komkomci’ sembari teriak-teriak. Agar tidak kebingungan, Komkomci’ kita peragakan saja sebagai sebuah gerakan macam badut gemas yang menggelitik bayi supaya bisa tertawa.

Kembali ke topik. Eyang yang merasa aneh dan penasaran karena ejekan itu ditujukan padanya, sontak turun dari mobil lalu menanyakan kepada si pengejek; apa maksud dia bicara begitu? Apalagi sorotan mata dan peragaan Komkomci itu jelas-jelas ditujukan padanya.

Mula-mula dia bertanya pada si pengejek pertama bernama Welly. Bukannya mendapati jawaban, Welly yang ditanyai Eyang malah celingak-celinguk kebingungan mau menjawab apa. Dia bahkan nyaris tak bisa berkata apa-apa.

Tak menemukan jawaban, Eyang pindah ke sebelah bertanya pada seorang Mama’ mama’ di dekat Welly. Tapi bukannya jawaban yang didapat, Mama’ yang ditanyai ini malah mendadak kejang-kejang, histeris, melonjak-lonjak, berlagak seperti orang kesurupan. Sontak saja Eyang bingung dan merasa aneh bukan kepalang karena tahu tak secuilpun jarinya menyentuh Mama’ yang tiba-tiba histeris ini.

Lagak kesurupan ini sontak membuat warga berhamburan keluar rumah lalu berkerumun hendak melihat apa yang terjadi karena ada suara Mamak-mamak yang mereka sangka sedang kerasukan Jin, kena jambret, atau dirampok begal motor. Kerumunan yang membuncah ini membuat para pengawal Eyang bersigap dan meminta Eyang supaya masuk saja ke dalam mobil karena ada Mama’ yang jiawanya perlu ditolong karena sedang kesurupan.

Tapi Eyang yang masih penasaran terus bertanya; apa maksud peragaan ejeken yang dipertontonkan kepadanya itu, meski Eyang sendiri sudah berada kembali dalam mobil.

Lagi-lagi tak ada jawaban. Konon rasa penasaran ini, diceritakan sumber kepada saya, begitu membuncah sebab menurut sumber, Eyang yang konon sudah tahu siapa orang yang dimaksud karena ejekan itu memang dari seseorang yang Eyang kenal betul. Makanya Eyang penasaran, kok bisa olok-olok Komkomci’ yang ‘kisahnya’ bukan dari dia itu, tiba-tiba berbalik jadi ejekan pada dia, dan bukan pada subjek utama tempat olok-olok itu bermuasal.

Masa yang berkerumun itu akhirnya bersitegang dengan para pengawal yang dikira membegal seorang Mamak yang histeris. Pengawal yang kerah bajunya sempat dipegang kerumunan massa, karena mungkin merasa dia adalah pembegal yang membuat sang Mamak histeris, segera menyuruh sopir menghidupkan mobil dan meminta supaya menghindar dari situ sebab situasi sudah tak kondusif. Dia bahkan minta ditinggalkan saja, karena massa mulai bersitegang dengan dirinya.

Mobil bergerak. Eyang yang penasaran dan bingung karena tak dapat jawaban terkait peragaan Komkomci’, akhirnya berhenti di salah satu rumah warga yang sudah menunggunya untuk berdialog.

Sampai di situ, tak lama berselang, tiba-tiba beredar berita dari situs media online yang pada pokoknya menulis dugaan bahwa Eyang menempeleng seorang ‘bocah’.

Saya tahan dulu sampai di sini (masih ada kartu selanjutnya) lalu mari bertanya; Dari mana datangnya ‘sang bocah’ yang sudah melapor ke Polres bahwa dia ditempeleng oleh Eyang?

Selanjutnya, mari juga bertanya; apa yang sudah dilakukan ‘sang bocah’ ini kepada Eyang sehingga ia bisa ditempeleng? Sebab setahu saya, hanya ‘bocah’ yang berani kurang ajar kepada orang tua yang layak ditempeleng sebagai bentuk didikan dan pengajaran. Apalagi adab di Mongondow memang mengajarkan ini.

Lalu soal lain semacam visum dan keterangan-keterangan saksi mata, biarlah itu tugas kepolisian untuk menyelidikinya. Meski saya sendiri sudah cukup puas mendapat jawaban dan kronologis secara lebih ‘independen’ dari sumber yang ‘independen’ juga.

Kenapa saya memakai tanda petik dalam menulis independen? Sebab sumber pencerita ini adalah sumber dari pihak ‘sebelah’ sendiri, yang senantiasa tetap menjaga akal sehat dan terutama nuraninya, meski secara pilihan politik, dia tidak berada di kubu Eyang sang petahana.

Ah, tawa saya makin meledak-ledak. Politik di Boltim memang selalu menghibur. Berbeda dengan politik di Kotamobagu dan Bolmong yang selalu mudah ditebak, hambar, dan kurang lucu.

Ekhuuu….bisa-bisanya ‘sang bayi’ yang sepantasnya dihibur dengan Komkomci’, malah dilibatkan dan diseret ke arena ‘pulitik-pulitik’ ta’ tumbeng?’ Padahal dolanan anak-anak berjudul Dadangko’ Ekor Macan itu mengajarkan kepada kita sejak jaman Komkomci’ bahwa ; siapa konto’ dia bobow busu’, kulintik-kulintik tak tumbeng biar sama saya but konto’.

Penulis : Kristianto Galuwo

Anak Totabuan tulen, Mongondow paten, Indonesia keren, yang mengaku liar di alam raya.
Anak Totabuan tulen, Mongondow paten, Indonesia keren, yang mengaku liar di alam raya.

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *