bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy banner-kpu
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Ilongkow Selfie Tower : Mengubah Kekhawatiran Alay Menjadi Keuntungan

Bagikan Artikel Ini:

tower

MARI kita berprasangka secara semena-mena bahwa, penyebab kawula muda Kotamobagu berselfie ria di tower milik salah satu provider telekomunikasi, adalah akibat tidak tersedianya wahana bagi mereka yang keranjingan aktivitas pemicu andrenalin.

Atau terserah, kita sok-sok-an saja dan merasa sudah paling betul untuk menyebut aktivitas itu sebagai selfie tower yang tak menutup kemungkinan bakal menjadi salah satu cabang olahraga kekinian yang mengasyikan. Atau mungkin itu hanya sekadar aksi unjuk diri atas kebosanan terhadap tema photografi yang terlampau mainstream. Namun yang jelas, keberadaan tower telekomunikasi di bukit Ilongkow, membuat para ABG di Kotamobagu sekonyong-konyong merasa tak eksis sebagai kawula muda gahol, jika belum pernah menjulurkan lidah di atas sana.

Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Para ABG Kotamobagu yang kian kehilangan ruang berekspresi (tanpa perlu menyinggung Tim Kura-Kura Ninja dan Maleo yang sukses melibas habis tongkrongan di ranah publik maupun private di Kotamobagu), semakin tak memiliki ruang di kota yang digaungkan sebagai Kota Syariah Jasa.

Apa pasal? Baru-baru ini terinformasi kalau instansi terkait (tentu ada Satpol-PP) akan segera menghentikan aktivitas pemicu andrenalin dan ajang uji nyali kawula muda, dengan cara menyegel paksa kawasan selfie tower tersebut. Dan seperti biasa, tindakan penghentian itu diawali niat suci nan mulia karena dianggap meresahkan warga (siapa ya warga yang resah itu) dan demi menjaga keselamatan serta kelangsungan hidup generasi muda doyan selfie.

Provider telekomunikasi pemilik tower tersebut bahkan sudah diwanti-wanti untuk segera melakukan tindakan, agar generasi muda Kotamobagu tidak mampus secara mengenaskan setelah terjun dari ketinggian sekira 15 meter dari permukaan tanah.

Pembaca, sedemikian tidak kreatif dan malas berpikirkah orang-orang di kantor pamarentah yang resah dan paling peduli terhadap kehidupan generasi muda? Bukankah menghentikan aktivitas remaja doyan selfie yang haus hiburan, adalah sebuah penistaan terhadap rasa gembira dan sebuah kesewenang-wenangan atas hak merasakan sensasi ekstrim dan menyenangkan?

Maka melalui tulisan ini, sekadar sumbang saran dan ide, kenapa orang-orang kantoran itu tidak mengubah ketakutan dan kekhawatiran mereka yang lebay itu, menjadi sebuah keuntungan berupa peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dengan melakukan kiat-kiat sederhana sebagai berikut;

Pertama: melibatkan instansi pamarentah terkait.

Dinas Pariwisata layak ambil bagian di tower yang sudah dijadikan wahana olahraga kekinian itu. Alasannya sederhana; dengan mengelola tower multifungsi tersebut, paling tidak memberi pund-pundi PAD Kotamobagu dalam bentuk retribusi. Caranya bagaimana? Buatlah stand di situ, sekaligus loket karcis bagi siapa saja yang datang ke bukit Ilongkow untuk selfie tower. Agar PAD cepat membengkak, sehingga perlu juga melibatkan DPPKAD, SINTAP, dan Perpajakan, maka setiap orang yang masuk bukit Ilongkow, harus bayar karcis Rp. 10.000 per orang. Bayangkan jika setiap hari datang 500 orang. Berarti ada Rp 5 juta bukan? Maka kalikan per bulan berapa duit yang didapat? Ya, betul! Rp 150 juta bukan? Nah, coba kalikan per tahunnya? Hasilnya fantastis, Rp 1,8 Miliar. Uang banyak bukan?

Kedua : melibatkan pihak ketiga

Mapala Wallacea di UDK sudah sepantasnya mendapat bagian. Jika Dinas Pariwisata kurang becus mengurus perkara tower tempat selfie, maka saatnya melibatkan anak Mapala atau Komunitas Pecinta Alam (KPA). Ini juga penting sebab keselamatan para selfier di tower itu penting. Dan seperti diketahui, anak Mapala Wallacea UDK, khatam betul soal urusan tali-temali. Sehingga setiap remaja yang akan naik ke puncak tower, akan dipakaikan seat harness lengkap carabiner dan tali statis. Pokoknya urusan keselamatan jangan diragukan lagi. Bagi selfier yang terpeleset karena kurang hati-hati, tak perlu khawatir terjatuh. Mereka hanya akan terkatung-katung layaknya cinta yang digantung, karena ada belayer anak Mapala Wallacea yang mengekang tali statis, dan perlahan-lahan menurunkannya dalam keadaan selamat tak kurang satu apapun hingga menyentuh bumi.

Ketiga : melibatkan para pelaku usaha mikro

Usaha Dinas Pariwisata yang menggandeng anak Mapala Wallacea UDK tentu akan memberi peluang ekonomi. Maka libatkanlah para pelaku usaha mikro yang akan membangun kantin pisang goreng, tinutuan, warung kopi (dan sebangsanya), termasuk kehadiran para penjual onde-onde keliling. Ini tentu akan menjangkiti para usahawan mikro lainnya, hingga menimbulkan multi efek ekonomi secara massal. Hebat bukan?

Keempat : melibatkan Dikpora (Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga)

Dikpora yang sering dipandang sebelah mata, pada akhirnya ikut ambil bagian dan tampil sebagai instansi paling berkompeten dalam mengelola olahraga kekinian yang agak ekstrim itu. Tentu para punggawa di Dikpora akan terstimultan untuk berpikir; kejuaran apa yang bakal diadakan nanti. Ya, benar. Lomba adu cepat menaiki tower. Dan tentu anak Mapala Wallacea UDK harus lebih ketat dan safety lagi memberi pengamanan bagi para peserta lomba. Harapan jangka panjang dari kejuaraan ini adalah, dimasukannya olahraga ini ke cabang atletik atau apalah istilahnya itu nanti, Dikpora tentu yang paling paham. Sehingga bisa jadi Dikpora Kotamobagu akan tercatat dalam sejarah sebagai dinas atau instansi pamarentah yang pertama kali mengenalkan olahraga selfie tower ke tingkat nasional bahkan dunia. Siapa tahu pada tahun 2070 nanti, akan ada Olympiade Selfie Tower.

Kelima : melibatkan komunitas photografer

Setelah Dinas Pariwisata, Dinas  Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD), SINTAP (Izin Satu Atap), Dikpora, dan Mapala, saatnya bagi komunitas photografer tak cuma menjepret dedew-dedew di Gelora Ambang atau Pante Lolan. Mereka bisa menjadi tim penilai dalam setiap perlombaan Selfie Tower yang dilakukan para peserta. Penilaiannya tentu pada foto yang dihasilkan. Mulai dari sudut pengambilan gambar dan lain sebagainya yang merekalah yang paling ahli.

Keenam : keterlibatan Satpol-PP dan Tim Maleo

Kehadiran Tim Kura-Kura Ninja Satpol-PP Kotamobagu dan Tim Maleo Polres Bolmong, tentu bukan lagi pada operasi atau razia PEKAT. Melainkan pengamanan atas membludaknya pengunjung yang datang. Soal Miras, tak usah dikhawatirkan. Sebab siapa juga yang akan ikut lomba pacu tower ketika badan sudah sempoyongan akibat mengonsumsi minuman beralkohol. Baru di ketinggian satu meter pasti sudah ngos-ngosan dan jatuh ke tanah. Soal adakah penonton menyelundupkan minuman beralkohol ke arena, tak usah lebay. Di portal depan, sudah ada Satpol-PP menggeledah setiap pengunjung masuk.

Ketujuh : Masya Allah pembaca…. coba tambahkan saja, efek apalagi yang bakal bermunculan, baik secara ekonomi, budaya, hiburan, kesenian, dan ke-olah-raga-an akibat terkelolanya wahana ini dibanding harus menyegeal atau menghancurkannya karena kekhawatiran yang terlampau lebay?

Maka dari itu, mari sadari bersama bahwa, mengelola kekhawatiran dan ketakutan menjadi sebuah keuntungan, adalah hal mendesak dan prioritas yang sungguh-sungguh dibutuhkan Kotamobagu sebelum Kota Jasa ini benar-benar menjadi Kota yang kehilangan nuansa.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *