bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy banner-kpu
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

5 Pemuda Peringati Mayday di Kotamobagu

Bagikan Artikel Ini:

screenshot_2016-05-01-14-35-40_com.android.chrome_1462089195641_1462089253422.jpg

ARUSUTARA.COM KOTAMOBAGU – Seperti tahun-tahun kemarin, peringatatan Mayday atau Hari Buruh se-Dunia, di Kotamobagu, masih saja sepi. Keterlibatan organisasi pergerakan, federasi pekerja atau serikat buruh, tidak nampak.

Namun, Minggu 1 Mei 2016, tepat pada peringatan Hari Buruh, kira-kira pukul 09:00 WITA, terpantau oleh media, sedikitnya 5 orang pemuda menggelar peringatan Hari Buruh di simpang 4 Taman Kota dan Universitas Dumoga Kotamobagu.

“Setiap yang bekerja dan menerima upah dari kaum majikan, adalah buruh. Setiap yang bekerja dan menerima upah dari si pemberi upah atas kerja-kerjanya, adalah kaum buruh. Berikan upah yang layak bagi para pekerja di Kotamobagu dan Bolaang Mongondow Raya,” demikian petikan orasi yang disampaikan Uwin Mokodongan, dalam aksi peringatan tersebut.

Mokodongan yang juga merupakan pengelola media ini menambahkan, kesadaran kelas pekerja itu penting. Karena melalui kesadaran kelas, kaum buruh atau kelas pekerja bisa paham, betapa posisi mereka memegang peran penting dalam kehidupan ini.

“Minimal setiap buruh atau kelas pekerja tahu bahwa, tanpa kehadiran mereka, roda perekonomian bakalan mati. Dan ini akan berdampak sistemik di berbagai bidang. Nah, kesadaran kelas ini, jika terbangun di setiap kalangan kelas pekerja, maka problem terkait sistem pengupahan dan kesejahteraan para pekerja, akan dengan mudah teratasi. Artinya, dengan adanya kesadaran kelas ini, ada bargaining dan kesepakatan baik yang akan terbangun secara bersama-sama antara kelas pekerja dan kelas majikan. Sebab masing-masing sudah mengetahui posisi vital masing-masing,” urainya.

Kenapa kelas pekerja atau kelas buruh masih senantiasa terpinggirkan hak-haknya? Uwin mengatakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Namun yang penting untuk digaris-bawahi adalah faktor kesadaran kelas yang kritis di masing-masing pekerja. Kesadaran kelas inilah yang menurutnya belum terbangun.

“Selain kesadaran kelas yang belum terbangun, tingkat kritis juga lemah. Memang ini berkaitan dengan faktor sumberdaya manusia, akan tetapi ketika kelas pekerja memasrahkan semua hak dan kewajibannya kepada kelas majikan, dengan asumsi; yang penting bekerja dan dapat gaji, maka sikap itu jugalah yang melahirkan ketimpangan antara pekerja dan majikan atau pihak perusahaan,” urainya.

Rio Tunggali, dan Kristianto Galuwo, rekannya dalam aksi peringatan tersebut menambahkan, mereka memang sengaja menggelar peringatan Mayday sekalipun peringatan itu tidak diminati ragam kalangan terutama serikat buruh dan pekerja setempat.

“Kami di sini sekadar mengingatkan, bahwa kesadaran kaum buruh itu penting. Peringatan ini tidak perlu harus dinilai secara kwantitas. Intinya kami bangga bisa memperingati Mayday meski hanya dengan secarik puisi dan orasi. Secara berlima saja atau beratus-ratus ribu,” kata Rio dan Anto diamini sahabat mereka.

Nia Paputungan dan Nafila, dua perempuan dari komunitas Punk Kotamobagu yang ikut bergabung dalam peringatan Mayday itu mengaku, mereka merasa terpanggil ketika Rio dan Anto mengajak mereka untuk menggelar aksi Mayday meski hanya dengan mementaskan beberapa puisi.

Sementara itu, disela-sela orasi, Uwin Mokodongan memberi tambahan, aksi Mayday yang digelar di Kotamobagu, adalah bentuk solidaritas kecil lewat orasi dan puisi. Dia mengatakan, Kotamobagu dan Bolaang Mongondow Raya, sebenarnya memiliki persoalan perburuhan. Namun isu buruh ini, lanjut dia, belum mendapat perhatian. Utamanya dari kalangan buruh itu sendiri melalui federasi, serikat, atau solidaritasnya. Oleh sebab itu ia mengatakan, lewat orasi dan puisi yang digelar dalam aksi Mayday, mereka hendak membangun kesadaran bersama terkait masalah-masalah perburuhan. (Yudi)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *