ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Malam Puisi Widji Tukul Bersama BRANI, RPM, dan Kalangan Jurnalis

Bagikan Artikel Ini:

Malam Puisi Benni Rhamdani

ARUSUTARA.COM, BOLMONG – Menggandeng komunitas Rumah Pemuda Merdeka (RPM), Benny Rhamdani atau beberapa tahun belakangan populer dengan sebutan Bung BRANI, Senin 01 Juli 2016, menggelar pentas sastra Malam Puisi Widji Tukul yang turut dihadiri kalangan Jurnalis Kotamobagu.

Acara berlangsung di Desa Passi Kecamatan Passi Barat, tepatnya di Pondok Marhaen Ikayang, yang merupakan pula salah satu base camp RPM sekaligus kediaman Zainuddin Mokodongan, sahabat Benny Rhamdani semasa menjabat sebagai Anggota DPRD Sulut periode 1999-2004.

Acara seni bertajuk Malam Puisi Widji Tukul ini sengaja dipilih sebagai refleksi untuk mengenang semangat dan perlawanan terhadap rezim tirani seorang aktivis bernama Widji Tukul yang hingga saat ini masih dinyatakan sebagai orang hilang.

widji-thukul

Apriwahyudi Mokodongan, mengawali pementasan dengan membawakan sebuah puisi berjudul Buat Bung Brani. Puisi tersebut bercerita tentang sosok BRANI semasa menjadi aktivis pergerakan mahasiswa di FISIP Unsrat Manado yang akrab dengan puisi-puisi Widji Tukul.

“Saya sengaja membawakan puisi ini karena pernah menjadi ekor dalam barisan demonstrasi yang dipimpin Bung BRANI semasa kuliah dulu,” kata Apri mantan Mahasiswa FISIP Unsrat mengawali puisinya.

Delianto Bengga, Sangadi (Kepala Desa) Passi, tak ketinggalan hadir dan  membawakan satu puisi pendek yang ia tujukan kepada Bung BRANI. “Selamat datang di Ikayang, selamat datang di tanah Passi, semoga Bung BRANI tetap menjadi penyambung lidah rakyat Bolaang Mongondow Raya,” kata DEBE sapaan akrab Sangadi Passi, Delianto Bengga.

Apriwahyudi Mokodongan, membawakan puisi Widji Tukul dan puisi yang ditulisnya buat Benny Rhamdani
Apriwahyudi membawakan Sajak Suara Widji Tukul, dan puisi yang ditulisnya buat Benny Rhamdani

Puisi selanjutnya adalah puisi-puisi yang ditulis Widji Tukul, dipentaskan  kaum Jurnalis secara bergantian. Salah satunya penampilan Erwin Mamonto lewat puisi berjudul Peringatan, dimana Erwin tampil begitu menggugah. Tak ketinggalan pula Agung Mokodompit dari Komunitas Pecinta Alam Generasi Elang Taruna (KPA Geltar) Desa Passi.  Audi Kerap, wartawan Kotamobagu Post ikut tampil membawakan puisi Widji Tukul dan 2 judul puisi karangannya sendiri. Dilanjutkan oleh Ryan Thalib jurnalis Liputanbmr.com, Samsu dari ANTV, Uwin Mokodongan dari ARUSUTARA.COM, dan Djunius Dilapanga dari Koran Kabar, membawakan puisi-puisi Widji Tukul. Rusly Abdjul dari Kotamobagu Post tak ketinggalan pula ikut membawakan puisi karyanya sendiri, termasuk ungkapan hati dari Ame Mokodompit yang membuat Erwin Mamonto meneteskan air mata, serta penampilan Lucky Makalalag mantan aktivis KPMIBM saat kuliah di UMI Makassar dimana ia beberapa kali terlibat dalam demonstrasi era 98.

Benni
Dari kiri ke kanan; Audy Kerap, Samsir Galuwo, Benny Rhamdani, Rusly Abdjul

Selain mementaskan puisi-puisi yang ditulis Widji Tukul, acara dirangkaikan pula dengan ajang berbagi kisah dan pengalaman semasa kuliah dan cerita-cerita romantisme seputar keterlibatan dalam sebuah demonstrasi. Tak itu saja, Ade Puta Muno jurnalis BolmongFox, turut didaulat ber-Stand-Up Comedy  yang diperankannya begitu kocak. Ia menyentil kisah dan pengalamannya semasa liputan yang mengundang tawa peserta Malam Puisi Widji Tukul. Kehadiran Amir Halatan wartawan REPORTASE, turut memberi warna tersendiri. Pada kesempatan ‘curhat’, ia menceritakan dengan lugas dan apa adanya tentang masa-masa ketika dirinya masih bersama-sama Bung BRANI di kampus FISIP Unsrat Manado. Termasuk cerita ketika mereka pernah dibuntuti sekelompok orang tak dikenal dan penyerangan fisik yang pernah dialami Bung BRANI ketika menjadi demonstran.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Erwin Mamonto dan Uwin Mokodongan membawakan Lelaki dan Rembulan dari Frangky Sahilatua

Zainuddin Mokodongan, pemilik Pondok Marhaen Ikayang, kepada ARUSUTARA.COM menyampaikan rasa simpatinya terhadap acara Malam Puisi Widji Tukul yang dirangkaian dengan ramah-tamah dan diskusi kecil bersama Bung BRANI. “Kita jarang mendapatkan momen seperti ini. Apalagi ada Pak Senator (Bung BRANI) yang berbaur langsung. Belakangan kita sering melihat penampilan Benny Rhamdani di TV. Saya sendiri tak menyangka kalau Benny Rhamdani akan kembali lagi kesini memberi waktunya bersama kita terutama kalian generasi muda Bolmong Raya,” kata Mokodongan yang malam itu mengaku bahagia disambangi kawan lama.

Diakhir acara, Sangadi Passi Delianto Bengga bersama Tokoh Pemuda Passi, Samsir Galuwo,S.Sos, yang merupakan pula sahabat dekat Bung BRANI semasa kuliah, menyampaikan apresiasi yang tinggi. “Selain pentas seni dan refleksi mengenang aktivis sebesar Widji Tukul, malam puisi ini sebenarnya merupakan ajang reuni para aktivis termasuk pula kalangan jurnalis,” kata Samsir.

“Ini sungguh mengembirakan. Tak hanya ajang berpuisi dan berdiskusi, melainkan saling membagi kisah sekaligus silahturahmi dan penyampaian aspirasi kita kepada Bung BRANI,” pungkas Sangadi Passi, Delianto Bengga.

BRANI sendiri menyampaikan, Widji Tukul adalah sosok yang menginspirasi dunia pergerakan dan perlawanan di Indonesia. Di masa Orba, kata Bung BRANI, kita punya sosok seperti Widji Tukul. Nah, di era reformasi seperti sekarang ini, lanjut Ayah dari Kanya Devika Revolusi Merdeka Putra, seharusnya lahir banyak sosok seperti Widji Tukul. (Uwin)

Penampilan Stand Up Comedy dari Ade Putra Muno wartawan BolmongFox
Penampilan Stand Up Comedy dari Ade Putra Muno wartawan BolmongFox
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *