ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Harga Rokok Jadi 50 Ribu Per Bungkus, Ternyata Ulah Jokowi dan Ahok

Bagikan Artikel Ini:

Jokowi dan Ahok

AGUSTUS benar-benar bulan baper bagi saya. Betapa bapernya sampe-sampe saya lupa membedakan, mana gigitan nyamuk, mana gigitan mantan.

Selain bulan kelahiran saya, di pertengahan bulan Agustus atau 9 hari sesudah saya merayakan Ultah, dari Merauke hingga Sabang, rakyat yang masih bangga dan berkomitmen menjadi Warga Negara Indonesia, merayakan Ultah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Dan setiap kali mendengar pekik Merdeka di momen 7 blasan, rasanya memang bikin baper.

Oh,ya. Bagi yang belum berstatus mantan, terutama mereka yang berseragam putih abu-abu, bulan Agustus sebenarnya menyediakan banyak kesempatan pacaran. Alasannya sederhana; banyak agenda perayaan yang menumpuk di Ultah Proklamasi Kemerdekaan.

Selain hal-hal di atas, sebenarnya bulan Agustus bikin saya baper karna ada semacam kegelisahan mencari cara, bagaimana merayakan Ultah berjalan happy, meski tanpa kehadiran seseorang alias tanpa dihinggapi perasaan yang penuh dengan kekosongan. Sama halnya dengan kegelisahan saya untuk mencari cara, bagaimana menikmati kemerdekaan di HUT Proklamasi, supaya tak hanya diisi dengan acara seremonial yang penuh dengan kekosongan.

Ah, sudahlah. Tak usah kita bahas itu. Biarlah deritaku adalah deritaku, deritamu adalah deritamu, derita kita ya sama-sama menderita, derita orang Indonesia.

Tapi ada satu yang menambah kebaperan saya di bulan Agustus tahun ini, yaitu: Harga Rokok Naik 50 Ribu! Begitu kira-kira saya rangkum tajuk link URL yang dibagikan jamaah fesbukiyah.

Semakin baper karna yang membagikan tautan-tautan yang sebenarnya abal-abal dan tak jelas itu, beberapa di antaranya adalah teman-teman yang saya kenal di dua alam; alam nyata dan alam maya. Mereka bahkan merilis harga setiap kemasan, seolah-olah mereka itu adalah petugas marketing atau agen merangkap akunting resmi perusahaan rokok berbagai jenis dan merek.

Saya lantas masuk mengintip dan memilah-pilih kelompok pembagi link abal-abal itu, dan yang saya temukan adalah, mereka terdiri dari golongan manusia bukan perokok, perokok, dan yang merokok tetapi tidak masuk dalam golongan pemadat rokok. Artinya, dalam sehari kemungkinan kecil mereka hanya membeli satu  bungkus rokok, atau 2 bungkus sudah paling maksimal. Itupun rokok yang harganya ada di kisaran Rp.13.000 per bungkus. Sehingga jika diasumsikan setiap hari dia membeli sebungkus rokok, maka dalam sebulan, sila dikali sendiri, Rp. 13.000 x 30 hari = Rp. 390.000.

Selanjutnya, bagi kelompok perokok yang saya asumsikan dia membeli rokok 2 bungkus per hari dengan harga Rp. 19.000 per bungkus, maka Rp. 19.000 x 2 x 30 hari = Rp. 1.140.000. Ingat, angka yang kedua ini adalah angka bagi perokok 2 bungkus per hari dikali per bulan.

Selanjutnya, bagi kelompok yang tidak merokok, tak perlu kita hitung dan kali-kali disini. Mereka termasuk yang tak usah digubris. Toh rokok mau naik harga atau malah turun, tak ada efek sama sekali bagi mereka. Membeli tidak, menabung Rp. 10.000, tiap hari juga belum tentu . Meski anehnya, mereka adalah kelompok yang pertama kali ribut dan bergunjing saat mengetahui kabar hoax tentang kenaikan harga rokok, lalu membagikan hoax hingga jadi viral di medsos.

Oke. Lantas apa pokok yang akan disampaikan dalam tulisan kali ini?

Apalagi kalau bukan keributan massal jamaah fesbukiyah yang membagikan link URL berisi hoax. Sebuah keributan yang dilengkapi dengan ragam meme uhuk-uhuk nan lebay, seolah-olah kenaikan harga rokok dan usaha untuk berhenti merokok, rukunnya lebih wajib ketimbang masalah korupsi atau disharmoni antar anak bangsa akibat ulah kaum yang mengaku paling benar, sedang yang lainnya sesat sehingga halal jika darahnya ditumpahkan di negeri tanah air beta yang ber-Bhineka Tunggal Ika dan ber-Pancasila ini.

Maka mari kita kupas tuntas soal harga rokok yang naik ini!

Dalam tautan berita yang dibagikan para jamaah fesbukiyah, pernahkah Anda membaca isinya? Ah, sebaiknya tak usah di klik pemirsa. Karna yang dibagikan itu adalah berita omong kosoang dari media abal-abal yang hendak memerangkap Anda demi menaikan rating kunjungan. Selain ada iklan di dalam, jaman klik dewasa ini merupakan bisnis baru yang mendatangkan rupe. Anda meng-klik, maka Anda memberi rupe.

Tapi, demi menguji kebenaran dan pengungkapan fakta, biarlah kita buka untuk mengupas tuntas ke-abal-abalan berita itu. Maka coba cari kolerasi antara judul dan isi berita yang dibagikan. Misalnya judul yang ini ; Berlaku 1 September, Inilah Daftar Harga Rokok Yang Akan Naik Berdasarkan Keputusan.

Pembaca, keputusan dari mana dan dari siapa itu? Tidak jelas wahai saudara-saudariku se-bangsa se-tanah air beta. Tak ada penjelasan apakah itu keputusan pamarentah, keputusan agen, atau keputusan dari koalisi pedagang asongan. Semua tidak jelas.

Atau pembaca pernah membuka tautan yang disebar jamaah fesbukiyah, dengan judul begini : Pemerintah Akan Naikan Harga Rokok Rp. 50.000 Per Bungkus

Masya Allah, pamarentah mana pemirsa? Pamarentah Hongkong? Saya sarankan tak usah meng-klik tautan itu. Cukup sudah beranda Anda dijubeli berita hoax. Sebab dalam link itu tidak dijelaskan data atau fakta realita nyata membahana badai yang menunjukkan keputusan pamarentah soal kebijakan menaikkan harga rokok. Isi berita itupun masih lebih panjang isi chating pribadi Anda untuk mantan yang sebenarnya masih baper tapi gengsi balikan.

Pada pokonya, semua yang tertulis di tautan itu cuma karangan disertai pernyataan yang sumir. Sama sekali tidak ada keputusan resmi atas nama pamarentah menaikan harga rokok jadi Rp. 50.000 per bungkus.

Sudahlah pernyataan resmi Presiden Jokowi, tapi dari Menteri Keuangan, Perdagangan, atau Menteri yang ada kaitan dengan segala jenis kenaikan harga di negeri ini, tidak ada sama sekali.  Lha, lantas kenapa orang-orang panik? Beginilah endonesya. Masyarakatnya lebih percaya hoax ketimbang sumpah setia mantan.

Inilah kemudian yang membuat saya menyimpulkan bahwa, tautan yang disebar jamaah fesbukiyah terkait harga rokok naik menjadi Rp. 50.000 per bungkus, adalah omong kosong belaka. Tak usah digubris.

Tidak ada korelasi antara judul dan isi berita. Semestinya, jika media itu bukan media abal-abal, maka wajib mengikuti kaidah jurnalistik yang benar. Judul sebuah artikel minimal harus memuat penjelasan mengenai judul itu sendiri, agar pembaca paham. Saya curiga, yang menulis atau menurunkan berita abal-abal itu,  suka membuat bingung pacarnya tiap kali mengirim chat atau SMS. Sehingga layaklah dia diputusin biar cepat berstatus mantan.

Namun sialnya, tautan jenis hoax inilah yang paling gemar disebar para jamaah fesbukiyah, termasuk isu soal kenaikan harga rokok. Tanpa tedeng aling-aling, ketika membaca judul berita agak heboh, langsung saja dibagikan. Merasa seperti tidak sedang terkecoh atau dibohongi oleh judul bombastis. Harusnya malu dong nyebarin berita hoax. Kecuali Anda memang gemar bergunjing, bergosip, sampe lupa membalas chat mantan hingga kasihan deh kena delcont untuk kesekian kalinya.

Saran saya adalah, sebelum menyebarkan sebuah tautan hingga akhirnya jadi viral, sebaiknya baca dulu isi tautan itu secara tuntas. Sebagai anggota jamaah fesbukiyah, cerdas dikit kan asik. Jangan sampai mudah kena tipu hanya gara-gara judul heboh. Malu dong sama mantan. Jangan jadi netizen atau jamaah fesbukiyah tolol yang dengan mudah membagikan sebuah tautan tanpa tahu muasal dan isi tautan itu sendiri. Apalagi tidak membacanya lebih dulu, dipertimbangkan untuk disebar. Bisa-bisa mantan ilfil lho menyadari kamu begitu tolol.

Sebenarnya, isu kenaikan harga rokok ini bisa klir cukup dengan cara berpikir menggunakan logika paling sederhana. Coba bertanya dalam hati, siapa sebenarnya yang paling berhak menaikan harga rokok? Perusahaan rokok? Agen? penjual? atau Jokowi-JK?

Atau begini, coba tanam tembakau, sesudah panen, ramu bersama cengkih lalu olah sedemikian rupa hingga menjadi rokok kretek buatan sendiri. Nah, siapa yang menentukan harganya ketika kretek olahan Anda itu hendak dijual? Jokowi kah? Atau pamarentah Hongkong? Benar, Anda sendiri yang menentukan harganya berapa per batang atau berapa per bungkus. Pamarentah itu baru ada ketika setiap per batang atau per bungkus rokok yang Anda produksi, dikenai cukai.

Pamarentah yang gegabah dan gak mikir menaikan cukai jadi tinggi, sama halnya dengan membunuh usaha Anda sendiri selaku produsen rokok. Dan membunuh usaha Anda berarti sama halnya dengan membunuh pendapatan negara dimana cukai rokok memberi kontribusi triliunan rupiah bagi negara.

Jadi, sekarang saya mau bertanya kepada Anda para penyebar link hoax; kapan pamarentah memutuskan secara resmi harga rokok per bungkus Rp. 50 ribu? Siapa yang ngomong? Di media mana? Dan mulai diberlakukan kapan? Ingat, rokok bukan bensin premium yang bisa seenak congor dinaikan pamarentah. Sama halnya dengan biaya listrik dan air leding. Karena air dan listrik itu dikelola oleh perusahaan milik negara. Sedangkan rokok??

Nah, sudah mulai paham kan? Baguslah kalau begitu. Tulisan ini akhirnya selesai juga. Saya mohon pamit. Nanti ketemu lagi pada tulisan selanjutnya di kolom Artikel www.arusutara.com.

Ooppsss… hampir lupa. Jangan kecewa dulu sebab dari tadi saya tahu Anda sedang mencari paragraf mana yang menyalahkan Jokowi – Ahok, terkait naiknya harga rokok Rp.50.000 per bungkus, sebagaimana judul di atas. Benar bukan? Anda terus-terusan mencarinya kan? Ayo ngaku.

Baik. Semua ini memang ulah Jokowi dan Ahok. Nama mereka memang sengaja saya pakai sebagai judul dalam artikel ini, karena dengan membuat judul begini, kalian akan cepat sekali menyebarkan tautan artikel ini. Sama seperti Anda membagikan tautan berita-berita hoax terkait kenaikan harga rokok.

Anda pasti protes karena sakit hati, judul tidak sesuai isi artikel sebagaimana kaidah jurnalistik sebenarnya yang sempat saya singgung. Hahaha..saya sebenarnya sedang memasang perangkap bagi beberapa kawan anggota jamaah fesbukiyah yang rajin sekali membagikan tautan hanya dengan membaca judulnya. Sudah tak membaca isinya, eh yang disebar adalah kebencian yang terbangun dari hoax.

Dan satu yang paling penting, tujuan saya menulis artikel ini, bukan untuk disebar kemudian jadi viral dan menimbulkan keresahan bagi para perokok maupun yang anti rokok, melainkan untuk dibaca. Di IQRO! Agar Anda tahu membedakan, mana hoax mana mantan.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *