bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy banner-kpu
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Kak Ending, Sepak Terjang, dan Kenyinyiran Orang Terhadap Beliau

Bagikan Artikel Ini:
Efendi Abdul Kadir
sumber foto : hasil gogling di google.com

PUBLIK Rumah Kopi di Mongondow tentu berdusta jika tak kenal sosok berwibawa nan bersahaja dengan nama yang sudah tak asing di telinga kita, terutama bagi kalangan Pers di Mongondow. Dialah yang saya sebut dengan takzim Kakanda Effendy Abdul Kadir, atau akrab kitorang sapa Kak Ending. Sumberdaya kredibel di Mongondow yang mendedikasikan diri dalam tugas mulia yang tentu tak main-main.

Jika banyak orang berlomba-lomba menyibukan diri kerja cari uang karena tuntutan hidup yang semakin menghimpit, bahkan rela meninggalkan anak-istri tercinta demi mengadu nasib di Gunung Bota atau berspekulasi ke Dongi-Dongi, maka bagi Kak Ending, persetan mungkin dengan semua itu, sebab ia lebih memilih mendedikasikan diri ke dalam tugas berat demi tercapainya cita-cita nan mulia yakni; terselenggaranya suatu kehidupan dan sistem pemerintahan yang baik di negeri ini sebagaimana cita-cita para politisi.

Ya. Kak Ending memang sudah lama mendedikasikan dirinya sebagai pemantau kinerja eksekutif dan legislatif.  Sebuah tugas suci demi kemaslahatan rakyat banyak. Tak heran jika Kak Ending yang ramah, tepo seliro, berdedikasi, tegas dan vokal, mendirikan organisasi (LSM) yang diberi nama Lembaga Pemantau Kinerja Eksekutif dan Legislatif (LPKEL) Reformasi Bolaang Mongondow. Sebuah LSM yang eksis dan disegani karena punya gigi di Mongondow.

Pembaca jangan dulu terlampau pagi mengkritik tulisan saya kali ini, karena terkesan miskin data sebab tak mencantumkan kapan LPKEL Reformasi berdiri. Apalagi kelompok pembaca yang bertipe tak sabaran, pasti hasrat kepo-nya tinggi untuk menelisik; sudah usia berapa tahun LPKEL itu; siapa ketua pertamanya; siapa sekretarisnya; siapa bendaharanya; siapa anggota atau divisi-divisinya; apa program kerjanya; dan tetek bengek paling standar lainnya terkait struktur kepengurusan atau pengesahan lembaga dari Kemenkumham.

Jelas semua teteng-bengek yang ditanyakan itu ada. Boleh taruhan biji malah. Tapi semua itu sebenarnya tak penting-penting amat. Sebab hal yang paling substansi disini adalah seperti kata Jokowi; Kerja! Kerja! Kerja!. Sehingga dengan sendirinya tercapailah; tujuan atau minimal pola perjuangan yang membuahkan eksistensi, sepak terjang, program kerja, atau seperti kata petuah; aku bicara sehingga aku ada.

Maka, bagi publik Mongondow yang melek berita, berlangganan koran, punya gawai dan senantiasa update  status informasi terkini seputar Mongondow, tahu betul siapa Kak Ending dan bagaimana vokalnya beliau di media massa baik cetak maupun online.

Mau bukti? Silakan masuk mesin pencari Om Gogel, lalu ketik kata kunci; LPKEL Reformasi atau Efendi Abdul Kadir. Maka, informasi tentang Kak Ending mana lagi yang hendak kalian dustakan?

Masih kurang puas? Baik. Untuk cari bukti bagaimana eksisnya Kak Ending memantau kinerja eksekutif dan legislatif versi koran cetak, maka kunjungilah perpustakaan terdekat, sebab biasanya setiap perpustakaan pasti berlangganan koran.

Tapi bagaimana kalau tak ada? Ah, tenang pemirsa. Jangan langsung patah semangat sebab masih ada alternatif lain. Maka pergilah ke kantor DPRD. Disana berserakan surat kabar ragam terbitan. Jikapun Anda segan atau tak punya akses masuk gedung rakyat,  maka bangunlah relasi dengan tetangga yang berlangganan koran. Disitu Anda bisa pura-pura ngobrol ini-itu, sebagai modus yang ujung-ujungnya koran dibawa pulang. Bila itu tak memungkinkan, karena nasib koran di rumah biasanya berakhir jadi alas lantai mobil kesayangan usai dicuci, maka alternatif terakhir adalah; nongkrong di Kantor LPKEL Reformasi Bolmong. Disitu Anda bisa bebas baca koran dengan leluasa. Namanya juga Kantor LSM. Tidaklah mungkin tak langganan koran. Siapa tahu juga ada pengurus atau staf kantor baik hati di sana yang akan menyediakan kopi plus cemilan buat Anda. Pas mantaff to?

Tapi Anda mungkin bertanya; di mana kantor LPKEL Reformasi berada? Hm, jangan terlalu kepo dong bro and sist. Media ini saja kantornya pernah pindah-pindahMakanya bergaul. Jangan cuma mengurung diri di rumah. Masak kantor LSM sekelas LPKEL Reformasi yang baru saja dapat penghargaan, Anda tak tahu? Apa perlu kita hadirkan Kak Ending di sini? Hati-hati lho. Lupakah dengan ini kalimat; terlalu banyak bertanya, bisa kena remas torang punya biji. Nah, coba bayangkan jika biji kita kena remas. Sakitnya tuh dimana? Lagian kerja LSM itu sebenarnya tak melulu kerja kantoran. Jokowi sewaktu menjadi Gubernur DKI, sudah mengajarkan kepada kita blusukan alias turba atau turun ke bawah kata PDI-P. Bukan ongkang-ongkang kaki sambil pegang b*ji di kantor.

Oke, lanjut. Sekarang kita masuk pada pokok tulisan ini. Tentu saja soal Kak Ending, yang pada momen HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71 kemarin, mendapat penghargaan dari Penjabat Bupati Bolmong Andrianus Nixon Watung, sebagai Pemerhati Lingkungan Hidup mewakili unsur LSM.

Jujur, saya takjub dengan penobatan dan penghargaan tersebut; pemerhati lingkungan hidup coy. Apalagi yang memberikan penghargaan itu adalah Penjabat Bupati Bolmong, Andrianus Nixon Watung, yang tempo hari rencana kedatangannya ke Mongondow setelah ditunjuk Gubernur Olly dan Kemendagri sebagai Penjabat Bupati Bolmong, pernah ditolak Kak Ending sendiri. Mau bukti? Bacalah sebagaimana yang diberitakan Kontrasnews.com berjudul; Puluhan Warga Bolmong Tolak Pjs Bupati Diluar Putra BMR.

Tetapi, Kak Ending yang tak hanya cerdas namun pintar memainkan peran dan membaca tanda-tanda zaman, akhirnya mendapat wangsit dan pencerahan yang mendesis ditelinganya, bahwa; Andrianus Nixon Watung ternyata merupakan sosok Penjabat Bupati yang mampu membawa perubahan lebih baik untuk Bolaang Mongondow, sehingga lupakanlah perkara tolak-menolak berkoar-koar di barisan aksi massa yang turun demo melakukan aksi penolakan. Saatnya untuk mendukung kepemimpinan Pak Watung, sebagaimana yang disampaikan beliau pada Pilarsulut.com (beritanya bisa klik; di sini), 6 hari kemudian setelah ia baru menolak keras kedatangan Pak Watung.

Lantas apa kata publik Mongondow, terutama para jamaah fesbukiyah atau kalangan netizen di situs jejaring fesbuk lewat grup terhangat yang bisa Anda klik di sini : Sahabat DeMo Dari BolMong Raya terkait Penghargaan Pemerhati Lingkungan Hidup bagi Kak Ending?

Pembaca, para jamaah fesbukiyah memberi banyak ucapan selamat dan pujian kepada Kak Ending atas kerja dan tugas-tugasnya yang berat selaku pemantau kinerja eksekutif dan legisliatif. Meski memang ada pula sebagian orang yang nyinyir terhadap beliau karena (mungkin) iri atas keberhasilan Kak Ending menerima penghargaan selaku Pemerhati Lingkungan Hidup dari unsur LSM.

Sungguh mengharukan dan bikin baper karena penghargaan yang diterima itu tak hanya menampar pipi kiri plus pipi kanan para penggiat LSM di Mongondow, utamanya yang bergerak dalam pelestarian alam dan lingkungan hidup, seperti LSM Rimbawan, Forum Peduli Kelestarian Alam dan Lingkungan – Bolaang Mongondow (FPKAL-Bolmong) yang sudah lama mati suri, Dewan Mitra Taman Nasional BNWB, Mapala Wallacea, atau Komunitas Pecinta Alam (KPA) yang sudah lama eksis dan bertumbuhan bak jamur di musim dingin.

Terbukti sudah bahwa semua lembaga dan komunitas yang disebutkan di atas, ternyata tak ada apa-apanya dibanding program kerja LPKEL (Lembaga Pemantau Kinerja Eksekutif dan Legislatif) Reformasi Bolmong, yang ternyata tak hanya jago bikin pantat pihak eksekutif dan legislatif seperti duduk di atas tungku, karena selalu kena pantau LPKEL, tetapi diam-diam LSM Kak Ending ini ternyata punya segudang program bidang pelestarian lingkungan hidup.

Ini bukan hoax atau cirita putar bale sebab lihatlah bukti; berdasarkan penelitian dan penilaian Pemkab Bolmong dibawah kepemimpinan Pak Watung, Tim Juri dan Tim Penilai yang tentu punya data akurat dan tak bisa diganggu gugat sebab keputusan juri itu mutlak, akhirnya menobatkan Kak Ending sebagai tokoh LSM yang paling pantas menerima penghargaan sebagai Pemerhati Lingkungan Hidup. Sehingga layaklah beliau membawa pulang piala, sertifikat atau piagam penghargaan, dan (maaf ini cuma kata isu) sejumlah uang tunai untuk pembinaan bagi yang mendapat juara.

Kak Ending yang cerdas mungkin kalah mendaki gunung dengan Mapala atau KPA yang tak gentar bijinya gonone reno ketika melakukan program penghijauan di cagar Alam Gunung Ambang atau penangkaran dan penyelamatan satwa dan telur Maleo di Tambun, Muara Pusian, atau di Tanjung Binerean. Bisa juga kita simpulkan kalau Kak Ending kalah gesit dengan kaum Rimbawan yang masuk keluar hutan melakukan pengukuran tingkat vegetasi dan populasi. Begitu pula dirinya yang kemungkinan besar tak sehebat para ranger atau Polhut yang tak gentar dengan lintah darat hitam ketika menempel dan menyedot darah segar dari betis mereka, padahal para ranger ini sedang menjalankan tugas mengejar para pembalak liar.

Tetapi, Kak Ending yang cerdas dan pintar membaca tanda-tanda zaman, plus punya akses jangkauan jejaring tak hanya dengan kaum jurnalis, pasti memegang teguh motto hidup; jika otot tak kuat, maka gunakanlah otak.

Sungguh briliant memang. Orang pasti berpikir, Kak Ending selain lincah dalam urusan perjuangan dan semacam pimpinan strategi perang, bisa jadi adalah  pemain catur klas ulung yang terkenal dengan kombinasi serangan Kuda dengan langkah paling mematikan; sekali lompat, dua perwira terancam is dead.

Maka dari itu, diam-diam LPKEL Reformasi Bolmong ternyata punya program cemerlang bidang Lingkungan Hidup, yang membuatnya mampu meraih penghargaan sesuai apa yang sudah dikerjakannya dalam penyelamatan lingkungan hidup di Bolaang Mongondow Raya. Terbukti, pak Watung dan Tim Juri takluk.

Lalu kenapa kita harus iri dan nyinyir terhadap segudang prestasi yang sudah diraih Kak Ending? Jangan sampai ada Dedew Adew di Mongondow yang biasa bonceng tiga baku pacal di motor metik, membuli kita begini; Hai au’ pa kakaw dang eh. Jang mangiri kwa dari iri itu tanda tak mampu! Kalo suka ba iko.

Nah, tak enak kan digituin? Oleh sebab itu, dari pada nyinyir, bukankah lebih baik berkarya dan raih prestasi sendiri?

Nasi sudah menjadi bubur. Poko tenang dan minum susu. Tak usah memelihara rasa ketidak-sepakatan dan sikap nyinyir, sehingga selalu menggugat dengan urat dan mata yang melotot mempertanyakan; sejak kapan lembaga pemantau kinerja eksekutif dan legislatif, punya fokus perhatian terhadap persoalan lingkungan hidup??

Lha, emang gak boleh? Jangan terlalu kepo urusan orang dong. Nanti biji jatuh, ale bilang beta jahat juga nanti. Jadi soal program kerja bidang lingkungan hidup dari LPKEL, biarlah hanya Tuhan, Kak Ending, dan Pak Watung yang tahu bersama Tim Juri.

Sesama anak Mongondow, bukankah saling mendukung lebih mulia dibanding saling baku cungkel? Tak ada salahnya kita berbangga karna, di Mongondow, ada kader pemerhati lingkungan hidup sehebat Kak Ending, ketimbang tak ada sama sekali. Masih untung Pak Watung memberi penobatan dan penghargaan itu kepada putra daerah. Coba kalau beliau kasih sama putra luar daerah? Ribut to? Seperti kemaren itu; menggelar spanduk dan bikin aksi protes karena Penjabat Bupati Bolmong bukan berasal dari putra daerah. Betul toh? Awas jang sampe dapa ramas di ….

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol

  

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *