ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Ibu Bumi

Bagikan Artikel Ini:

ibu

MEREKA sudah lama bicara di ruang makan. Kala itu hujan sudah reda. Mereka adalah Ibu, Ayah, dan seorang putra sebagai anak dari kedua orang tua yang mulai mudah menemukan seutas demi seutas uban di kepala mereka.

Setelah memberi tak hanya sekapur sirih omongan dalam bentuk uraian, penjelasan, dan gambaran yang di dalamnya mengandung sedikit skeptis berselubung keprihatinan yang resah, seorang Ayah yang paham terhadap putranya sengaja memberi ruang. Ia tinggalkan Ibu dan anak itu di ruang makan.

Suasana sempat hening  ketika sang Ayah pergi masuk kamar. Tapi sosok Ibu yang kala itu sekonyong-konyong menemukan putranya adalah sepotong bocah beberapa puluh tahun silam, cepat memecah suasana. Meski Ibu itu juga tahu, apa yang akan ditanyakannya kemudian, hanya akan menambah suasana sentimentil kian mengental.

Tapi Ibu itu juga sadar. Berkomunikasi dari hati ke hati, adalah satu-satunya cara agar apa yang ia cemaskan, bisa teratasi. Sehingga Ibu itu harus percaya bahwa, ia sedang berhadap-hadapan dengan putranya yang sudah lama dewasa. Dan itu juga berarti, ia harus percaya bahwa, dalam cuaca dan suasana yang agak lembab siang itu, si Ibu harus menjadi seorang teman dari putranya.

“Apa betul kau sangat mencintainya?”

Suara itu renyah dan dalam. Seperti air pancuran yang tumpah menukik bebatuan. Diungkapkan ketika Ayah dari putranya masuk kamar. Ibu itu memang selalu tahu saat yang tepat untuk bertanya. Ia tak ingin, putranya nampak seperti bocah ingusan di hadapan Ayahnya. Seperti beberapa puluh tahun lalu, saat sang Ibu bisa dengan leluasa menyuruh putranya tidur siang.

“Ibu ingin mendengar jawabanmu nak. Apakah kau benar-benar menyayanginya?” tanya Ibu itu lagi.

Putranya diam. Meski itu bukan pertanda sebuah keengganan untuk tidak menjawab apa yang ditanyakan. Putranya hanya sedang berusaha agar tak ada gambar apapun yang bisa ditangkap sang Ibu dari wajahnya. Tidak juga rasa haru yang nampak bersungut-sungut di wajahnya.

Tapi siang itu, saat hujan sudah lama reda, Ibu itu memang merasa sedang bersama putranya dengan keadaan seperti beberapa puluh tahun silam. Sebuah gambaran wajah bocah bandel yang bisa jadi sendu dan penuh tuntutan ini-itu. Suatu masa dimana deretan pinta dari sang bocah adalah yang tak mengenal kata tidak.

Ibu itu bicara lagi.

“Ibu ingin tahu nak. Apakah kau benar-benar menyayanginya?” tanya sang Ibu sembari melepas kerudung lalu mengais sebentar rambut kepalanya yang mudah bagi dia  menemukan seutas demi seutas uban.

Putranya belum juga menjawab. Suasana basah terasa dari dalam ruang makan. Putranya lalu menumpah air ke dalam gelas. Seolah punya kekuatan jika minum banyak air.  Atau merasa perlu mengisi kekosongan yang hampanya kian menekan. Setelah meminumnya, sebongkah jawaban menyusur seperti angin meniup permukaan danau.

“Ya. Aku sangat mencintainya Ibu,”

Suara itu keluar seperti letupan yang lama tertahan. Sang Ibu tahu apa yang sedang terjadi. Tapi keluasan batinnya, mampu memahami apa yang sedang dirasakan putranya. Ibu itu malah tersenyum. Senyumnya seperti punggungan bukit hijau yang diterpa angin sepoi. Manis sekali. Membuat putranya enggan menatap. Mungkin karena ingat sebuah ungkapan yang ia sendiri lupa membacanya di mana; ujung tombak atau bahkan keras batu sekalipun, terkadang bisa luluh oleh senyuman seorang Ibu.

“Baiklah nak,”

Ibu itu lalu berdiri sembari mengambil remote tv. Menyalakan kembali ketika sempat dimatikan saat mereka bicara. Sedangkan putranya, tetap duduk di kursi sembari bersikeras untuk tidak menaruh pandang ke wajah Ibunya.

Pelan-pelan Ibunya melangkah menuju kamar. Di tengah jalan, entah kenapa Ibu ini terus saja tersenyum. Mungkin merasa bahagia dapat mengulang kembali suatu masa yang telah lama berlalu. Ibu ini tahu, putranya sudah bukan kanak lagi. Tapi siang itu, saat hujan sudah lama reda, ia seperti sedang menemukan kembali gambaran bocah nakal berwajah sendu yang pintanya tak bisa ditawar. Sebuah kenangan yang tentu sudah lama hilang seiring waktu berjalan mendewasakan apa yang hidup dan berkembang. Tapi sepertinya Ibu ini suka. Semacam mendapat kesempatan reuni kembali. Sebuah reuni yang langka dan tak sengaja. Diputarnya kembali gambar dan rentetan peristiwa yang dialami putranya saat menjadi dewasa. Sebuah perkembangan dipenuhi peristiwa yang justru menghapus rona bocah dahulu kalanya. Sehingga hari itu, tak ada lagi alasan bagi Ibu untuk tidak tersenyum, bahagia, meski harus meredam sementara pokok soal yang ada di hadapan.

Sebenarnya Ibu ini ingin sekali memeluk putranya kala itu. Memeluk saat ia mendengar jawaban putranya, sebelum Ibu itu beranjak dari kursi menuju kamar untuk berkemas. Ia memang kepalang senang dengan apa yang disampaikan putranya secara terus terang. Sebuah jawaban dan pernyataan yang dapat ia rasakan sendiri. Tapi, Ibu yang merasa sedang menjaga suasana agar tidak tambah berat, mampu menahan egonya. Oleh sebab itu, melangkah masuk kamar untuk berkemas, adalah pilihan bijak demi kebahagiaan putranya. Dan kebahagiaan putranya, sudah barang tentu merupakan pula kebahagiaan dari Ibu itu sendiri juga suaminya, Ayah dari putranya. Sebuah kebahagiaan seisi rumah.

Dari ruang makan, sayup putranya mendengar secuil percakapan yang datangnya dari dalam kamar. Percakapan yang tentu akan dimenangkan Ibunya bilamana terjadi perdebatan. Ayahnya memang selalu kalah, atau karena selalu mengalah.

Sejurus kemudian, dada sang putra terasa penuh. Tangannya sontak dingin dan gemetar. Ia tumpah lagi air ke dalam gelas lalu meminumnya habis. Sudah itu berjalan menuju kamar mandi. Tapi bukan untuk apa-apa. Melainkan diam mematung. Seperti menunggu, gerangan apa selanjutnya.

Tak lama berselang, aroma bedak dan parfum khas Ibunya menyebar di seluruh ruangan. Termasuk dari celah ventilasi kamar mandi. Ia tahu Ibunya sudah selesai berkemas. Dadanya kian berdetak kencang.

Pelan-pelan terdengar suara.

“Ibu sempat buatkan menu kesukaanmu. Tapi kau tidak pulang sejak kemarin hingga menjelang malam. Ayahmu bahkan tak berani menyentuh makanan itu. Sengaja harus menunggu sampai kau pulang. Tapi kau tak juga datang. Jadi Ibu menaruhnya di kulkas. Kalau belum basi, nanti bisa dipanasin lagi. Atau nanti Ibu buatkan yang baru,”

Suara itu ditujukan buat putranya yang diam seribu bahasa dari dalam kamar mandi. Rasa haru cuma semakin menggunung.

“Eh, di mana kau nak,”

Nanti setelah Ibunya memanggil, baru ia keluar sembari bicara.

“Nantilah, kalau Ibu sudah pulang, aku akan segera makan,” kata sang putra, lalu kembali mengambil tempat di kursi ruang makan.
“Baiklah. Ibu akan segera pergi ya nak,”
“Iya, terima kasih, bu,”
“Iya. Baik-baiklah disini. Oh,ya apa kau akan menantikan Ibu hingga pulang?”
“Iya, Ibu,”
“Oh, baik. Jangan lupa makan ya, nak,”
“Iya”

Ibunya keluar, menyusuri halaman, lalu berdiri di tepi jalan menanti kendaraan lewat.

Saat itu Ayahnya keluar kamar.

“Ibu mau ke mana, nak?”

Sang putra tidak menjawab. Hanya memasang rokok.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Ayahnya
“Ya,?”
“Kau menyuruh Ibumu, nak?” tanya Ayahnya kemudian sembari melongo ke luar pintu, hendak melihat Ibu.
“Ibu mau kemana?” tanya sang Ayah lagi, merasa risau

“Bukankah Ibu bicara sama Ayah tadi?” jawab sang putra.

Ayahnya diam. Cuma kembali melongo keluar jendela. Seolah punya kemampuan untuk mencegah, meski akhirnya harus pasrah ketika deru kendaraan sudah meraung. Ibu itu pergi.

“Sebenarnya Ibu mau kemana, nak?”
“Entahlah, Ayah,”
“Kau menyuruhnya?
“Iya,”
“Lha, kemana?”

Putranya diam.

“Hm,kau terlalu lama di luar sana, nak. Sebaiknya mulai besok, atau setelah urusan-urusanmu selesai, bercumbulah kembali dengan ladang di sini. Itu lebih baik untuk otot-ototmu yang sepertinya mulai kendur,”

Sang putra diam. Meski sebenarnya ia juga masih punya kehendak mendebat Ayahnya. Berbantahan menjelaskan apa yang menyesak di dadanya. Berharap Ayahnya juga mengerti. Meski sebenarnya ia juga tahu kalau Ayahnya itu sebenarnya mengerti dan bisa memaklumi apa yang menjadi keresahan dan pinta sang putranya. Dan untuk menyatakan itu, ia harus membuang rasa malu dan membunuh rasa gengsi paling purba sebagaimana yang dikenal Ayah maupun Ibunya selama ini. Sebuah lompatan revolusi diri yang langka.

Ayahnya lalu berjalan ke gudang. Mengambil aneka perkakas kemudian keluar seperti prajurit siap mengemban tugas rutin yang sebenarnya adalah hobi sang Ayah. Itu juga mungkin yang dilakukan untuk menghindari penjelasan atau perdebatan yang selalu minta upah permakluman.

***

Gerimis tiba-tiba jatuh. Seperti embun yang terurai dari kelopak-kelopak bunga yang digugur angin. Ia berdiri di tepi jendela. Sudah 30 menit lebih berlalu. Gambar sesosok Ibu yang kehujanan tiba-tiba menari di matanya. Ia tengadahkan pandangan ke langit. Seperti hendak membumbungkan gumpalan permohonan maaf. Ragam tugas dan urusan-urusan lain yang belum diselesaikannya, ikut membayang. Tumpuk-menumpuk, membuatnya semakin tertekan. Tapi semua memang harus diselesaikan. Dan ia begitu butuh jawaban. Semacam harapan dan kepastian.

Dering ponsel berbunyi di saku celananya. Itu panggilan Ibu. Di ujung percakapan yang agak singkat, terdengar suaranya.

“Ya, benar di situ,” jawabnya “Terima kasih, ya Bu,” lalu ia masukan lagi ponsel itu ke saku celananya. 

***

Putra itu berdiri di tepi jendela. Sontak dadanya bergoyang. Tubuhnya gemetar. Hari mulai menuju sore. Gerimis kecil lantas turun di tingkap. Gerimis yang tercipta dari embun di gumpal-gumpal awan yang diterjang badai. Membias di kaca jendela rumah. Menutupi setengahnya, bersama aroma lembab yang dinginnya sampai ke dada. Hanya dia dan Ibunya yang tahu.

Setelah berusaha semampunya berdamai dengan segala kecamuk sore itu, giliran sang putra yang kini lebih banyak memberi senyum kepada Ibunya. Sedangkan si Ibu, betapa omongan bahwa Bumi adalah Ibu dan Ibu adalah Bumi ternyata bukan isapan jempol belaka.

Sekali ini sang putra melihat sekaligus merasakan, bagaimana sang Ibu menjadi Bumi sore itu. Bumi yang mampu menampung segalanya. Mulai dari taman kupu-kupu, perak, nikel,intan, emas, tembaga, permata, kilang-kilang minyak, laut, sungai, ikan-ikan, buaya, paus, ular, jangkrik, cacing, badak, domba, serigala, binatang buas, binatang melata, gunung-gunung, pulau, nyiur melambai, nelayan, danau, semuanya.

“Kau sangat mencintainya?” tanya sang Ibu beberapa saat setelah kembali. Mereka duduk di bawah rindang pohon halaman rumah. Mata Ibunya berkaca-kaca.

Kali ini sang putra tidak diam. Ia menjawab begitu cepat. Wajah pucatnya berhias senyum berseri-seri. Entah bagaimana ia memerankan semua senyum itu. Sedangkan Ibunya seperti Bumi.

“Ya, Ibu. Aku sangat mencintainya,” jawab putranya.

“Ibu tahu. Ibu bisa merasakannya. Kamu memang anak Ibu,”
“Iya,”
“Siapa saja yang tahu?”
“Yang tahu apa bu?”
“Yang tahu bahwa kau benar-benar mencintainya?”
“Banyak orang. Tapi sekarang aku sadar kalau sebenarnya hanya  kita berdua yang tahu bu,”
“Kau sangat menyayanginya?”
“Iya. Aku sangat menyayanginya,”
“Kau sering menatap wajahnya ketika ia tertidur?”
Putranya menoleh;
“Ibu sering melakukan itu padaku dulu?”
“Ya. Selalu. Tiap kali kau lelap nak. Dan setiap kali kau bangun,”
“Aku juga melakukan itu padanya, bu,”
“Siapa saja yang tahu?”
“Hanya kita berdua, Bu. Hanya Ibu dan aku,”
“Biarlah dia pergi nak,”
“Ya, Ibu. Tak apa,”
“Ibu minta maaf ya tak bisa berbuat banyak,”  air mata sang Ibu melelh tak bisa ditahan
“Ah, tak mengapa bu,” jawab putranya. Ia beri seutas senyum termanis buat Ibunya. “Saya seharusnya yang minta maaf, sudah merepotkan Ibu,”

Sore hampir selesai bertugas. Senja tak kelihatan dari situ. Pepohonan menghalanginya. Lamat-lamat suara azan Magrib dari Ayahnya terdengar. Ibu dan putranya berpelukan. Sore itu begitu damai, begitu khusuk, begitu basah.

Sebelum mereka masuk kamar setelah mengambil wudhu di keran air mancur depan rumah, sang Ibu berbisik kepada putranya;

“Berjanjilah untuk hanya mencintai orang yang selalu kau pandangi ketika ia tertidur,”
“Aku berjanji, bu”

Sore itu, ia merasa Ibunya adalah Bumi. Tempat menampung, berbagi, dan berdamai dengan segalanya.

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *