bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy banner-kpu
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Puisi Terakhir Buat Senja

Bagikan Artikel Ini:
Senja Cover
foto by Fadillaocta

orang mungkin akan menyalahkan senja
yang membenamkan semua benderang ke dalam gelap
tapi tak bisa berpaling pada warna jingga
yang tertinggal di pori ingatan
seperti musim di pelukan petani pegunungan
bersama kokok ayam dan lolongan anjing dari kejauhan
di antara semak belukar
di lorong-lorong yang riang
di gedung-gedung yang menyimpan keresahan hujan
atau di setiap benak yang tertambat pada kisah sore hari yang nelangsa
membuat dedaunan dan pucuk ilalang berbisik; dia ingin kembali ke sana
ke suatu masa sebelum ditenggelamkan senja
bersama warna jingga yang kental
dan langit yang memerah

tapi hanya daun
hanya ilalang

bagaimana dengan senja?

Ia adalah waktu. Yang pongah berjalan menuju satu benua ke benua lainnya. Ke suatu tempat yang dikira sama. Di sana ia meramu warna. Biar semarak, atau mungkin berulang. Tetapi seperti buih ombak yang pecah di pesisir; kembali ke pantai; bergulung oleh tiupan angin; lalu pecah lagi bersamaan dengan putaran waktu. Menguatkan ingatan pada kesadaran pasir, bahwa tak ada yang sama seperti senja kemarin.

***

Di punggungan sebuah bukit, seseorang baru saja melepas beban di ilalang yang rebah. Membuat ia tahu, sebelum tiba, sudah ada duluan orang ke situ. Untuk apa, ia tak mau tahu. Meski benaknya sempat bergumam; mungkin menanti senja, lalu berdoa, kemudian nelangsa.

Ia mengeluarkan buku catatan yang mulai nampak kusam. Dibukanya halaman demi halaman. Terkadang kembali ke awal, melompat ke belakang, ke tengah, tertambat pada halaman yang mungkin disukainya.

Ia tidak tersenyum. Tidak pula tertawa. Tak ada pula tangis. Kecuali wajah yang datar dan percuma.

Seekor Capung yang terbang di sekitar ia berada, memutar sayap lalu terbang menemui sahabatnya yang sepertinya sudah lama hinggap di pucuk ilalang.

“Kau lihat manusia itu?”
“Ya,kenapa,”
“Sedang apa dia?”
“Sedang membaca buku,”
“Kenapa manusia membaca buku?”
“Sebenarnya itu bukan buku,”
“Ah, kau barusan bilang kalau itu buku?”
“Maksudku kenangan,”
“Kenangan?”
“Ya, kenangan”
“Kenangan bagaimana?”
“Kenangan yang ia tulis dalam sebuah buku,”
“Apa makna kenangan bagi manusia sehingga harus ditulis? Bukankah itu pekerjaan percuma, membuang-buang waktu?”
“Karena manusia tidak sama seperti kita yang terus berjalan, terus terbang,”
“Bukankah semua manusia juga berjalan? Terus berjalan?”
“Tidak semua. Di antara mereka ada yang tertambat pada kenangan,”
“Ah, betapa meruginya,”
“Perhitungan kita begitu. Tapi tidak bagi manusia. Mereka tidak mudah meneruskan perjalanan,”
“Jadi dia ingin mati sekarang?”
“Mungkin,”
“Lalu?”
“Lalu apa?”
“Apa kita tidak perlu berbuat sesuatu? Lihat, sebentar lagi dia akan mati? atau mau mati,”
“Tidak,”
“Ah, jawaban-jawabanmu membingungkan,”
“Hidup adalah pencaharian yang membingungkan,”
“Uhh, aku malas berfilsafat. Kita ini binatang, tak perlu filsafat,”
“Filsafat telah menyelamatkan kita,”
“Hah..lagi-lagi kau,”
“Kenapa aku?”

Capung yang kesal itu terbang lagi. Begitu caranya menghindari perdebatan. Setelah berputar-putar sebentar, ia kembali.

“Eh, coba kau lihat dia sekarang. Bukankah kau baru saja berkata tadi bahwa tidak semua manusia terus berjalan? Lihatlah dia. Sepertinya dia masuk golongan itu. Dia mau mati sebentar lagi. Ya, mau mati. Aku mencium aroma kematian di sini,”
“Tidak”
“Lalu?”
“Dia hanya sedang membaca kenangan,”
“Untuk apa?”
“Untuk mengenang senja,”
“Ah, lagi-lagi senja. Coba kau ingat, ada berapa manusia mati gara-gara senja,”
“Betul”
“Nah, kalau begitu, ayo kita beritahu dia supaya pulang saja. Sebab senja tak akan hadir di sini. Senja akan pergi, dan orang ini akan mati,”
“Manusia tidak mengerti bahasa binatang,”
“Kita buat agar mereka mengerti,”
“Tidak bisa”
“Jangan putus asa,”
“Sekalipun kita melakukannya, dan mereka mencerna bahasa kita, sebagian besar dari mereka keliru,”
“Ah, percuma bicara denganmu. Kalau begitu ayo kita pulang saja, sebelum gelap datang,”

Dua pasang Capung itu pergi. Menuruni bukit dan hilang seperti ditelan pucuk ilalang.

***

Ia menengadah ke langit. Tapi tidak untuk meminta air hujan supaya tumpah lalu menyatu dengan air mukanya. Tak ada yang perlu ia sembunyikan di tengah ilalang kala itu. Tidak juga tentang kesunyian yang menekan setiap rongga di dadanya. Tidak pula tentang nyanyian yang ia rindukan. Atau amarah yang hanya menambah sunyi kian ternganga.

Angin menjatuhkan sehelai daun yang hampir kering tepat di kaki sebelah kirinya. Daun dari pohon yang berada beberapa puluh meter dari tempat ia berada. Daun yang terpisah dari ranting. Membuat ia sekonyong-konyong menemukan teman untuk bicara.

“Kenapa kamu bisa berada di sini sahabat?”
“Aku ingin menemui senja,”
“Bagaimana kau bisa kemari?”

“Tentu dengan pengorbanan yang susah dimengerti. Karena itu jangan pernah berharap ada yang bakal memahami. Sehingga tak perlu kuceritakan lagi bagaimana aku mencerabut diriku dari ranting itu. Rasanya sakit sekali. Tercerabut dari induk pohon dan dari ribuan helai daun yang masih bahagia di sana. Tetapi hanya kepada angin, yang senantiasa memberi kekuatan dan mampu memahami apa yang tak dipahami, hal itu bisa terjadi. Bersama angin, sampailah aku kesini, semata-mata demi senja,” urai sehelai daun yang kini berhadap-hadapan muka dengannya.
“Kau mengenal senja?” tanyanya kepada sehelai daun itu.

“Jika aku tak mengenalnya, kenapa aku bersusah payah mencerabut diriku hingga kemari? Bertahun aku minta persetujuan angin. Terkadang menjadi doa di setiap malam-malamku,”
“Bagaimana kau mengenal senja?” tanyanya lagi kepada daun di genggamannya.
“Aku mengenal senja seperti aku mengenal diriku sendiri. Meski memang, tak jarang ada peristiwa yang mulai membuatku merasa keliru bahwa aku benar-benar mengenalnya. Tapi aku hendak jujur kepadamu, sejak peristiwa yang aku alami, aku akhirnya memilih untuk tetap bersama senja saja,”

Ia berhenti bertanya. Lalu menyelipkan sehelai daun kering itu ke dalam buku catatan. Seolah itu dilakukan agar daun itu tak lagi meneruskan bicaranya.

“Kenapa kau menyelipkan daun itu ke dalam sebuah buku?” tanya seekor Belalang yang tiba-tiba muncul dari balik ilalang.
“Agar ia diam,” jawabnya. Merasa tak aneh ada Belalang yang bisa bicara. Rentetan-rentetan peristiwa yang telah ia alami, membuatnya mengambil kesimpulan bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Sama seperti beberapa kali ia tidak pernah menyangka kalau ada hal-hal yang menurutnya tak mungkin terjadi, ternyata bisa terjadi. Sekalipun itu sulit untuk diterima. Pengalaman telah mengajarkan dia demikian.

“Apa sebenarnya yang kau nantikan di sini?” tanya Belalang.

Ia sebenarnya enggan menjawab. Tapi akhirnya menyadari bahwa tak ada yang perlu disembunyikan.

“Aku sedang menanti senja,” jawabnya datar.
“Mengapa menantikan senja di sini? Bukankah senja hadir di pantai?”
“Senja tak hanya hadir di pantai,”
“Tapi disanalah tempat senja tenggelam. Di laut, maksudku,”
“Senja tak tenggelam di laut,”
“Lalu di mana?”
“Di benua lain,”
“Kalau begitu, kenapa menantikannya di sini?”
“Kau tidak mengerti,”
“Kalau aku tak mengerti, kenapa tiba-tiba aku akan berkata bahwa kau sedang berada di antara; yang mengharap dan yang melepas,
“Mengharap dan melepas bagaimana??”
“Bukankah senja adalah momen perpisahan? Warna jingga yang kental, siluet batu karang dan pulau, perahu nelayan, burung camar, mungkin juga elang, atau jika kau sedang beruntung, kau bisa melihat lumba-lumba melompat seperti hendak menyundul matahari yang terbenam. Lalu semuanya menjadi gelap ditenggelamkan senja. Orang pergi, yang lain pulang. Dan angin akan membawamu menghirup asin lautan lebih sendu. Sama seperti engkau merasakan buih ombak di tumitmu, sehingga pasir pantai bisa merasakan apakah engkau sedang gemetar atau tidak,”

Ia diam. Tidak cepat bicara. Samar terbayang suatu kisah dimana ia pernah membunuh ingatannya; saat buih ombak berdesir di pasir pantai yang mengingatkannya pada hewan-hewan laut, juga pada celoteh yang mengatakan; aku mencintaimu.

“Kau pergilah. Aku sedang tak ingin bicara,” pintanya kepada Belalang dengan suara gemetar. Belalang itu lantas pergi. Hilang di antara ilalang.

Matanya nanar menengadah angkasa. Menatap awan yang sebentar lagi akan memerah di belantara semesta. Ada yang sedang menggumpal dalam hatinya ketika pelan-pelan mulai menyadari apa yang telah terjadi.

Seekor Capung yang hilang di antara pucuk ilalang bersama pasangannya tadi, tiba-tiba muncul lagi. Tapi ia datang sendiri. Kedatangannya seperti hendak menyampaikan sesuatu, meski sebenarnya ragu.

“Kau hendak menantikan senja di sini?” tanyanya
“Iya,”
“Untuk apa?”
“Untuk memintanya berhenti,”
“Lalu?”
“Agar aku bisa bersamanya di sini?”
“Kau yakin itu bisa?”
“Aku sebenarnya tidak tahu. Tapi aku akan menjawab, ya,”
“Kau memang manusia keras kepala. Sadarkah kalau kau tak bisa menghentikan senja?”
“Tak ada yang tak bisa dihentikan,”
“Senja tidak bisa,”
“Kenapa tidak bisa?”
“Sebab senja layaknya sang waktu. Menghentikannya berarti membunuh waktu. Dan membunuh waktu berarti akan membunuh dirimu sendiri. Percayalah, tak ada satu kekuatanpun yang mampu menghentikan waktu. Jikapun ada maka kita semua akan mati di sini,”
“Mengapa demikian?”
“Sebab kau, aku, dan semua yang ada di sini, terikat pada waktu,”
“Tidak semuanya terikat pada waktu. Aku tidak, kau juga tidak,”
“Bahkan hantu terikat pada waktu. Aku mohon, pergilah. Lupakan senja. Atau biarkan saja dia pergi. Sebelum kita semua mati di sini,atau kau justru yang mati,”
“Tidak!”
“Sudah kuduga. Kau memang keras kepala,”

Capung itu pergi. Terbang melaju menuruni bukit lalu hilang di antara pucuk ilalang.

***

Kegemparan terjadi di dunia senja kala itu. Seisi mahluk yang hidup di sekitar ia berada, sudah tahu kalau ada manusia yang sedang menantikan senja dan berencana untuk menghentikannya. Mereka mulai berdebat dan saling protes.

“Aku tidak bisa bicara kepada daun bodoh yang membuat suasana semakin gawat. Manusia itu menyelipkannya ke dalam sebuah buku. Daun itu mungkin sudah mati terhimpit lembar demi lembar halaman buku berisi kenangan manusia itu,” kata Capung di antara puluhan Capung. Ada barisan semut juga yang ikut dalam pertemuan itu. Semacam majelis senja para binatang.

“Ini gawat. Benar-benar gawat,” ketus pimpinan semut. “Bagaimana kalau kita usir saja dia,” usulnya kepada majelis senja kala itu.
“Kita tak punya kekuatan untuk mengusirnya. Manusia keras kepala macam dia itu susah diatur. Apalagi keadaannya sedang tak baik. Mungkin ia sedang mengalami gengguan mental. Kami tak mau mati konyol bersama dia disini,” kata barisan semut secara serentak.
“Kalau begitu, saatnya bagi kita minta bantuan Burung Hantu,” usul barisan Capung.
“Hari belum malam, Burung Hantu masih malas keluar,” serentak barisan Semut.

Rapat Majelis Senja kala itu berlangsung alot. Diam-diam Pungguk yang mendengar kegemparan di sekitar dunia senja kala itu, mengambil inisiatif. Pungguk itu terbang lalu hinggap tak jauh dari tempat manusia itu berada.

“Kawan-kawanku memperdebatkan kehadiranmu,” demikian Pungguk menyapanya.

Ia menoleh. Segaris senyum tergambar dari wajahnya. Membentuk kekaguman pada Pungguk yang hinggap di pohon tak seberapa jauh darinya. Ia bahkan lupa kalau beberapa lama tidak pernah tersenyum.

“Rupanya semua yang ada disini bisa bicara ya? Ayo, teruslah bicara, aku ingin mendengar,” katanya seperti memohon pada Pungguk.
“Kawan-kawanku di sini memperdebatkan kehadiranmu. Ada apa gerangan?”
“Aku hanya mengatakan kepada mereka kalau aku sedang menantikan senja. Tidak lebih. Apakah ini mengganggu?”
“Tak usah terlalu berharap. Senja tak bisa dihentikan. Sudah jadi sifatnya begitu, senja akan terus pergi. Sebaiknya kau pulang saja,”
“Maaf. Aku tidak bisa,”
“Sudah ada yang mati disini gara-gara menantikan senja,”
“Ya, aku tahu,”
“Lalu kenapa kau tetap bersikeras.”
“Aku tidak sama dengan mereka yang mati,”
“Ya, kalian berbeda. Tapi yang jadi masalah di sini, kau hendak menghentikan senja. Itu berarti bukan hanya kau tetapi kami juga akan ikutan mati di sini,”
“Kenapa begitu takut jika aku menghentikan senja di sini?”
“Kau tidak mengerti. Benarlah kata kawan-kawan. Kau memang manusia keras kepala,”

Merasa percuma bicara, Punggung itu melesat terbang lalu hilang di balik rerimbunan pohon.

***

Langit mulai merubah warnanya. Sebagian jingga, sebagian lagi merah. Nyanyian jangkrik membuat suasana muram. Angin tidak berhembus. Suasana tenang.

Ia buka kembali buku di pangkuannya, seolah hendak membebaskan sehelai daun yang lama ia selipkan disitu. Daun itu kini basah. Sepertinya menangis sembari bicara;

“Aku membaca semua kisahmu,” matanya berkaca-kaca.
“Ya, aku tahu. Aku memang sengaja menaruhmu disitu,”
“Supaya aku bisa mengetahui semua?”
“Ya”
“Oooh..”

Daun itu menangis sekeras-kerasnya. Merasa kasihan, ia memegangnya lalu ditaruhnya helai daun itu ke atas dadanya.

“Apakah kita tetap akan menantikan senja disini?” tanyanya.
“Ya” jawab daun itu sembari terisak.
“Jika senja tiba, apakah kita akan memintanya untuk berhenti?”
“Yaa,” terus terisak
“Kenapa?”
“Sebab aku ingin menemui senja. Tentu dengan sebuah pengorbanan yang susah dimengerti. Dan ketika pengorbanan itu susah dimengerti, jangan pernah berharap ada yang bakal memahami. Sehingga tak perlu kuceritakan lagi bagaimana aku harus mencerabut diriku dari ranting itu. Rasanya sakit sekali. Tercerabut dari induk pohon dan dari ribuan helai daun yang masih di sana. Tetapi hanya kepada angin, yang senantiasa memberi kekuatan dan mampu memahami apa yang tak dipahami, hal itu bisa terjadi. Bersama angin, sampailah aku kesini, semata-mata demi senja. Tapi mereka tidak pernah tahu itu. Tidak pernah,” urai sehelai daun mengulangi apa yang sudah ia katakan sebelumnya.
“Kita memang keras kepala ya,”

“Aku tak ingin ditinggalkan senja berulang-ulang. Lebih baik aku tercerabut dari batang dan ranting pohon tempatku berada, daripada aku harus selalu menahan sakit bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh senja menemui benua baru, menyapa dedaunan yang baru mekar bertumbuhan, yang lebih hijau dariku, yang lebih terang dan meneduhkan.  Aku begitu cemburu setiap kali senja pergi ke benua yang lain. Aku merana. Layu oleh perbuatannya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya kemanapun pergi,”
“Ya, kau memang layak,”
“Angin mengabulkan doa dan semua permintaanku. Sampai akhirnya kita bertemu disini. Aku senang, aku punya kawan yang ternyata bernasib sama, hendak mengejar senja,”

Ia diam sebentar. Sejurus kemudian mengangkat tubuhnya pelan-pelan kemudian berdiri melewati ilalang. Langit memerah lalu cepat mengental membentuk warna jingga.

Senja sedang tiba. Dadanya berdetak kencang. Nafasnya sesak. Ada tangis yang ia tahan. Lidahnya kaku ketika hendak bersuara. Ia memang ingin sekali berteriak memanggil senja; menyuruhnya berhenti; memintanya mendekat; duduk menemani dirinya seperti sedia kala; sekalipun itu bisa membuatnya terbakar.

Tapi ia memang tidak gentar terbakar. Sebab seperti yang diyakini daun, ia selalu percaya bahwa angin bisa meluluskan harapan. Sebagaimana yang pernah terjadi.

Tapi senja kala itu, semua cuma jadi resah menggumpal. Bibirnya gemetar. Matanya nanar. Di langit jingga yang memerah dan pongah, ia harus memutuskan sesuatu.

“Kita sedang berhadap-hadapan dengan senja sekarang. Tapi tidak untuk mengejarnya,” katanya pada sehelai daun.
“Bukankah kita sudah berkorban untuk menantinya disini? Mengerjarnya kemudian pergi bersamanya,” kata daun merasa heran.
“Senja akan selalu meninggalkan kita. Angin juga sedang tidak bertiup untuk bisa membawa kita menuju tempat ia terbenam. Tempat ia menenggelamkan benderang disini, untuk menyapa kehidupan yang baru di mulut benua lain di ujung sana,”
“Lantas apa yang harus kita lakukan?”
“Kita tidak akan mengejarnya. Tapi kita akan menghentikannya dari sini,”
“Bagaimana caranya menghentikan senja? Apakah itu juga berarti, kau akan menghentikan senja untuk tetap bersama kita di sini?”

Ia diam. Hanya berjalan beberapa langkah melewati ilalang lalu menuruni bukit dengan dua tiga tapak langkah. Ia berhenti dan naik di atas bebatuan yang dicengkram rerumputan liar. Seolah melakukan itu agar senja bisa melihatnya dan segera datang sebagaimana yang ia harapkan.

Tapi tak ada hangat terasa di setiap jengkal tubuhnya, sebagaimana yang biasa ia rasakan tiap kali senja menghampirinya. Yang ada hanyalah rasa gigil ketika tak lama lagi gelap akan datang.

“Senja sedang datang, senja sedang datang,” teriaknya dari atas batu sembari cemas.

Ia membuka lengannya sembari menutup mata. Hal yang biasa ia lakukan ketika menyambut senja datang menghampiri. Meresapi setiap kehadiran senja di setiap pori tubuh. Membaui dan meresapi aromanya hingga ke relung terdalam. Di sebuah ruang yang belum pernah dimasuki satu setanpun. Kecuali senja.

Tapi tak ada rasa yang terbakar. Tak ada wangi aroma senja yang terendus. Tak ada lenguh nafas. Tak ada apa-apa. Kecuali warna jingga yang dibasuh awan merah di kaki langit, ketika ia membuka matanya. Senja sepertinya enggan berhenti.

Ia masih berdiri di atas batu. Memperbaiki letak kakinya lalu menoleh ke ujung langit. Tak ia temukan apa-apa, kecuali warna jingga yang merah. Ia lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Seolah yakin bahwa senja sedang menuju ke tempat ia berada. Tapi yang ia temukan hanya ilalang terhampar dalam keadaan sunyi.

Ada yang mulai sesak di dadanya. Seperti dentuman paling purba yang pernah ada. Ia masih memastikan diri, apakah senja berhenti atau tidak.

“Tolong berhenti dan datanglah kemari. Atau jika kau lelah, berhentilah agar aku yang akan ke sana, menemuimu,” bisiknya seperti pinta paling purba.

Tak ada jawaban barang sepatahpun dari senja. Tak juga isyarat. Hanya jingga merah di langit sore, dan pengetahuan bahwa gelap akan segera tiba.

Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Tak ada sakit terasa. Tak berapa lama kemudian, disekanya darah yang keluar dari bibir itu dengan jari tengahnya, lalu jari yang berdarah itu ia masukan ke dalam mulut, mengulum semua darah yang ada di jari situ, seolah mementaskan ritual kepada senja bahwa ia telah menelan semua rasa sakitnya.

Sejurus kemudian, sehelai daun yang basah dan mulai kering, dijinjingnya dengan ibu jari dan telunjuknya kuat-kuat.

“Tengoklah, senja kita telah tiba. Di sana dia akan tenggelam memberi gelap kepada kita untuk terang kepada yang lain. Tengoklah…..tengoklah…,” Ia bicara sembari mengangkat lengannya ke atas, seolah-olah ikut mempertontonkan wujud daun yang sudah berkali-kali ditinggalkan sang senja.
“Ya, aku melihatnya. Senja keparat yang pernah ada. Apakah ia melihat kita?”
“Ya, ia melihat kita. Tetapi ia tak peduli. Ia tetap akan pergi. Sengaja ia beri keindahan warna jingga dan langit yang memerah ini, untuk membuai kita lewat perpisahan yang sebenarnya menyakitkan. Banyak di antara kita yang tak menyadari ini. Ia sengaja memberi keindahan di langit dan mata kita, semata-mata untuk menghibur supaya kita senantiasa sabar apapun yang ia perbuat terhadap kita. Senja adalah sebuah kelicikan yang indah untuk perpisahan yang sendu dan menyakitkan. Tapi kali ini kita akan menghentikannya,”

Daun di genggamannya, yang ia kibar-kibarkan kepada senja sebelum siap-siap tenggelam, tiba-tiba diam tak bicara lagi. Mungkin sudah mati. Atau sedari tadi memang sudah mati. Ia lalu melayangkan daun itu ke angkasa, berharap angin akan membawanya menuju senja. Tetapi angin yang tenang kala itu, hanya membuat daun itu kembali terhuyung ke tanah, menemui takdirnya di sore yang mulai dingin. Daun itu tak bicara lagi.

Demikianlah adanya. Daun itu memang tak bicara. Sebab sesungguhnya, pada senja kala itu, ia tidak sedang bicara dengan siapa-siapa. Tidak kepada Daun, Capung, Belalang, atau kepada Pungguk. Ia hanya bicara dengan dirinya sendiri dan kepada bayangan kesunyian yang lebih sepi dari sunyi.

Di tengah sunyi dan hening yang mulai mengerikan, tatkala langit merah membasuh warna jingga yang kental, ia turun dari atas batu yang dijalari rerumputan liar, lalu pergi entah kemana setelah meninggalkan secarik puisi;

kau tahu,
tanganku pernah terbakar saat menggapaimu kembali
ketika aku begitu ketakutan
membayangkan bara dan cahaya yang kau benamkan ke dalam kelam

ya, kau mengetahuinya
tapi kau tak merasakan perihnya
sebab kau adalah senja
tugasmu adalah menyapa kemudian membakar benua berikutnya dengan air mukamu
sesaat setelah gelap kau tinggalkan
ke lubuk nafas manusia yang terkapar di pori karang

kau tahu,
tubuhku pernah tenggelam
saat sampan di sore jingga itu kau pecahkan
menjadi gelisah paling mengerikan

dan dari pecahan itu, kupanggil angin dengan mantra yang tersisa
serpihan itu kukumpul lalu kuubah menjadi kertas
kujadikan perahu layar untuk bisa kembali bersama angin
bahkan ke pangkuanmu senja

ya, kau mengetahuinya
tapi kau tak merasakannya
sebab kau adalah senja
tugasmu adalah menenggelamkan benua disini menjadi gelap
untuk tiba di benua berikutnya

kau tahu,
ada berapa untai doa kupanjatkan ke tingkap semesta?
adalah seuntaian nafas yang senantiasa mengeja namamu

tapi kau tidak pernah mengetahuinya
sebab doaku adalah bisik paling rahasia
kepada semesta
supaya kau akan selalu ada di sepanjang waktu tanpa perpisahan,
tidak sebagaimana benderang yang kau benamkan ke dalam gelap

untuk tiba di pagi benua lain yang basah

kau tahu,
aroma apa yang kuendus ketika pagi yang jadi siang membangunkan kita?
ya, kau tahu itu
tapi sepertinya tak tahu aroma apa yang kuhirup ketika engkau menghilang;
adalah aroma sunyi paling hitam yang wanginya lebih sepi dari hening bernama senyap yang purba
menyeruakkan aroma kematian perlahan-lahan
sehingga aku harus menjadi binatang malam untuk sekadar berlari dari kematian

kau tahu,
suatu malam yang sepi kala itu?
oh, tidak
kau tak tahu bagian ini
kau tak tahu kalau mulut beracun dan petaka itu sudah mati
dengan kain berwarna ungu
ketika ia menggelepar kesakitan, minta ampun, berteriak minta tolong
aku enggan peduli
sebagaimana engkau tak mempedulikan benderang yang menggelepar dan terkapar
saat kau benamkan ke dalam kegelapan

selain padamu
aku akhirnya belajar pada dunia binatang
dan sekelumit bisik ilalang, juga pada nafas yang kumatikan di danau
untuk tak akan menghentikanmu
sebab hewan-hewan juga sepakat
tak ada yang bisa menghentikan senja

kecuali waktu
kecuali waktu
tempatku kini berdamai
bersama sunyi yang mengerikan
dan puisi terkahir untukmu

Penulis : Uwin Mokodongan
ARTIKEL TERKAIT : Tangis di Pantai

Uwin Mokodongan
susah senang tetap kawan sepiring dan sebotol
Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *