ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Selamat Berpisah Onal

Bagikan Artikel Ini:

Onang in Memoriam

RONALD Mokodompit alias Onang alias Onal alias Bonenk—kata beberapa kawan—adalah salah satu sahabat di RPM (Rumah Pemuda Merdeka), tempat para pemuda dan pemudi berkumpul di kampung Passi atau di Eropassi, untuk merdeka menjadi diri sendiri.

Saya biasa menyapanya Onang. Belakangan berubah menjadi Onal. Semua anak-anak RPM memang punya banyak nama. Semacam nick name yang disematkan dari hasil pergumulan hidup.

Minggu 04 September 2016, kira-kira pukul 16:30 sore tadi, Onal akhirnya menyusul Bedewin, sesama sahabat di RPM yang berpulang, Jumat 10 Juni 2016 silam, atau 74 hari yang lalu sebelum Onal pergi meninggalkan kita hari ini.

Onal dan Bedewin, adalah kawan sepertongkrongan kami di RPM. Keduanya kini bebas merdeka selama-lamanya dalam cerita dan babak kehidupan yang masih kita jalani saat ini.

Apakah mereka bertemu di alam sana? Entahlah. Belum ada pengetahuan yang saya sesap untuk menjawab pertanyaan itu. Namun seandainyapun mereka ternyata punya peluang bertemu di alam sana, saya bisa membayangkan bagaimana pertemuan itu terjadi dan apa yang akan mereka lakukan.

Tapi membayangkan hal itu, justru melahirkan rasa lucu sekaligus ‘horror’ tersendiri dalam benak saya. Siapa mengira, dua sahabat ini usil bertanya-tanya sama malaikat di sana; kapan giliran teman-temannya tiba.

Sudah pasti mereka merindukan kami. Dan jika mereka tak sabar menanti, keusilan mereka bisa memutuskan hal-hal yang dianggap ‘melanggar’. Sekadar contoh saja, siapa mengira dua sahabat ini mengendap-endap menuju ruang arsip berisi nama-nama orang lengkap dengan perhitungan; kapan berpulang atau bagaimana cara berpulang.

Onal dan Bedewin yang sama-sama paham administrasi dan punya skill di bidang kearsipan, pasti tidak perlu saling berbantahan untuk mengorek keterangan paling rahasia di alam sana.

Tapi yang paling mengerikan sekaligus lucu adalah, mereka membuka folder atau arsip yang tersusun rapi disana, tidak dimulai dari wilayah negara misalnya Amerika, Portugal, Spanyol, atau mungkin Bangladesh. Pasti mereka membuka arsip dengan kode negara Indonesia, lalu mempersempit penelusuran ke region terkecil.

Sudah pasti mereka tidak tertarik membuka file soal kapan Presiden Obama meninggal, kapan giliran Angelina Jolie, bagaimana Felix Xiau menemui ajalnya, atau bagaimana para pemain Real Madrid menemu takdir.

Jikapun Bedewin penggila Real Madrid sempat tertarik untuk membuka file dengan kode negara Spanyol lalu ke sub terkecil dengan pencaharian kategori pemain sepak bola, Onal pasti akan mencegahnya. Paling-paling terjadi perdebatan sebentar, tapi Onal tahu bagaimana cara agar Bedewin mengalah. Misalnya dia berkata begini; “Jangan buang-buang waktu. Ini wilayah terlarang. Kita cek saja file orang-orang di Eropassi. Kita periksa kapan mereka menyusul kemari,”

Bedewin pasti tertarik. Maka saya bisa membayangkan bagaimana mimik kedua orang ini membuka file orang-orang Eropassi, lalu mulai memelototinya satu persatu. Mereka pasti cekikikan lalu ada tawa meledak hingga keduanya terpingkal-pingkal sembari nyeletuk; “Yo olat don monimu na’a au Atol….” (Atol adalah sapaan lain kedua sahabat ini kepada Sigidad). Begitu kira-kira.

Tapi sudahlah. Itu hanya khayalan semata. Tak usah dibawa ke hati. Pada kesempatan ini saya hendak berbagi secuil tentang Onal dan sepotong kisah tentangnya.

Melihat Onal, yang pertama kali tergambar di kepala adalah seperangkat komputer lengkap printer, tumpukan kertas berisi laporan, atau bahan ketikan yang siap diprint. Kartu remi adalah yang kedua. Sebab kami sering larut bermain kartu saat mengisi kekosongan. Supaya tak bosan, kami bahkan menyebutnya Rapat Komisi IV. Lebih dari itu adalah segudang cerita tentang perjalanan dan kisah-kisah lucu yang pernah kami lewati bersama.

Onal memang bekerja di belakang meja. Ia ahli dalam urusan di depan laptop dan komputer. Ia tak perlu menatap keyboard ketika mengetik laporan. Sebab 10 jarinya semua berfungsi dan lincah menari sembari matanya fokus di layar. Makanya dia juga pernah menjadi tenaga admin di program PNPM penempatan Bolsel.

Setelah resign sebagai tenaga admin di program PNMP Bolsel, Onal yang selalu di RPM tiap cuti kerja, memberi banyak waktunya bersama kami.

Ini adalah perjalanan panjang saya terakhir dengan Onal, sebelum ia hijrah kembali ke Manado dan bekerja di depan laptop.

Empat hari sesudah Idul Fitri tahun 2013, kami melancong ke Boltim. Ketika hendak berangkat, celana panjang saya tiba-tiba robek saat turun beli rokok di warung. Karena masih di Eropassi dan malas balik ke rumah—kebetulan kami berhenti di pertigaan lapangan tak jauh dari rumah Onal—saya lantas bertanya kepada teman-teman RPM di dalam mobil; siapa yang punya celana bersih di rumah. Onal adalah yang pertama menyahut. Ia lalu turun dan selang 5 menit kemudian kembali ke mobil membawa celana pendek warna hitam.

“Bersih ini?” tanya saya.
“Itu ceper andalan. Coba cium, masih bau pewangi. Itu mau dipakai besok malam. Tapi biarlah, pakailah,” katanya.

Saya yang sudah malas kembali ke Ikayang di kediaman saya, langsung memakai ceper warna hitam yang masih bau pewangi pakaian. Mobil distater, kami tancap gas menuju Boltim.

Cerita lantas terjalin di Tutuyan,  Tombolikat, Bulawan, kemudian menggema di dermaga Kotabunan.

“Itu cahaya matahari,” kata Onal sembari menunjuk Pulau Kumeke.
“Cahaya matahari??” sontak kami berlima keheranan. Ketika itu malam sudah lama membentang.
“Maksudnya cahaya lampu,” kata Onal
“Lampu?” bersamaan pula kami berlima
“Lantas apa?” tanyanya dengan kening mengkerut.
“Itu pulau,” serentak kami berlima (Saya, Yha, Didin, Wiro, dan Buyung).
“Pulau??” Onal lalu mengucak matanya. Tak lama kemudian tertawa sembari bicara “Ya, ampun qt pe kira itu cahaya,”

Semua orang tertawa. Kami sedang dijamu minum Bir malam itu oleh teman-teman di Bulawan dan Kotabunan.

Pulau Kumeke memang seperti tebing yang terpancang di laut Boltim, di depan Dermaga. Warna tanah dan batu di Pulau Kumeke, ketika malam, membuat Onal melihatnya seperti warna senja. Makanya, ia mengira di depan Dermaga malam itu bukan pulau, tetapi pantulan cahaya matahari (sisa-sisa warna Jingga maskudnya), meski sempat ia ralat sebagai pancaran cahaya lampu dari pesisir dan perahu nelayan.

Onal

Esok hari adalah acara mancing di kolam ikan milik teman dari teman di Desa Paret, yang kedua orang tuanya berbaik hati dengan memberikan keleluasaan dan kemerdekaan kepada kami untuk berbuat apa saja di rumah. Anak perempuannya ditinggalkan, lalu kedua orang tua itu pergi. Katanya bertamu di rumah keluarga. Kami dipersilakan untuk berbuat “semau-maunya” dan melayani diri masing-masing.

Kebaikan, kesempatan, dan kepercayaan itu jelas saja tak bisa kami tolak. Sesudah minta izin sama anak perempuan pewaris rumah hari itu, saya dan Onal membuka isi kulkas. Semua yang bisa dimasak kami keluarkan. Sedangkan teman lainnya tak menyia-nyiakan kesempatan memancing di kolam yang letaknya di belakang dapur.

Jadilah makan siang kami menjadi makan siang besar dengan menu-menu segar. Saya dan Onal yang bersukarela menjadi koki. Membuat teman-teman yang tertinggal di RPM Eropassi, teragitasi dengan propaganda yang dilancarkan Sigidad via Display Picture BBM, yang hampir tiap menit melintas di Recent Updates. Membuat mereka datang.

Foto kenangan : Onal (kaos hitam tulisan merah) bersama kawan-kawan RPM di Pantai baret Tutuyan
Foto kenangan : Onal (kaos hitam tulisan merah) bersama kawan-kawan RPM di Pantai Baret Tutuyan

Butuh banyak ruang untuk sekadar mengais kembali kenangan bersama Onal disini. Seperti Bedewin, Onal adalah kawan RPM yang tidak pernah bersinggungan konflik dengan saya. Sosok yang simpel dan mudah mengulurkan tangan ketika sesama sahabat membutuhkan.

Saya ingat, ketika Onal sedang mengerjakan orderan, ada kawan tiba-tiba datang lalu meminta agar orderan itu biar dia saja yang mengerjakan. Jika Onal memberikannya, itu berarti rupiah akan berpindah tangan. Tapi demikianlah Onal. Ia memberikan orderan yang tinggal separuh selesai itu kepada teman yang lebih membutuhkan.

Sesaat setelah memberikan itu, Onal mengambil rokok, memasangnya, lalu duduk berselonjor di kursi. Sejenak mata kami beradu. Ia tersenyum dan saya menangkap ada rasa bahagia terpancar dari situ.

Onal juga mengingatkan saya pada suatu waktu yang telah lampau, di tahun 2005. Saya baru saja mengalami kecelakaan di kampung. Mobil Toyota Kijang milik Ayah terpaksa harus saya tabrakan ke bukit, ketika sepersekian detik baru menyadari kalau rem blong. Itu saya lakukan dibanding harus menyambar 3 kendaraan Bentor yang masing-masing berpenumpang Ibu-ibu dari posisi berlawanan.

Tiga penumpang di mobil yang saya kendarai mengalami luka ringan, meski saya tetap menyarankan mereka ke rumah sakit. Sedangkan 1 lagi korban yang tak lain adalah paman saya, mengalami patah tangan. Saya sendiri tidak mengalami luka gores barang secuilpun. Sedangkan kondisi mobil bagian depannya ringsek berat, kaca berhamburan, roda-roda patah.

Setelah menderek mobil ke bengkel, saya yang akan segera masuk kerja di Pulau Gangga, segera balik ke Manado hari itu juga. Sekalian ketemu Ayah untuk melaporkan kalau mobilnya kecelakaan. Sebuah pemberitahuan yang tentu bukan perkara gampang.

Setelah ketemu Ayah di rumah kontrakan, lega rasanya ketika apa yang saya laporkan tidak dijadikan masalah. Saya yakin, sebelum saya tiba di Manado, bantuan Ibu dari kampung sudah duluan meneror kuping Ayah. Maka dari itu beliau hanya berkata; “Makanya lain kali kalau ngurus SIM, ikuti prosedur. Jangan main tembak pake jalur instan,”.

Saya tentu membantah itu. Perdebatan tipis terjadi. Ayah menutupnya dengan kalimat begini, “Lain kali kalau mabuk jangan bawa mobil. Satu kali lagi kau kecelakaan, saya sendiri yang akan merobek SIM-mu itu,” pungkas beliau lalu memindah chanel ke saluran berita.

Merasa tak enak duduk nonton tivi bersama Ayah, saya yang esok harinya akan segera ke Pulau, keluar cari angin. Entah kenapa saya tiba-tiba mengontak Onal. Dari seberang ponsel, ia menyarankan saya merepat ke kediaman Abang Ferdy di Asrama Polisi Militer, tak jauh dari Terminal Karombasan Manado.

Sesampainya di sana, Abang Ferdy yang memang kami kenal, dan merupakan tetangga Onal di Eropassi, menyambut kedatangan saya. Onal lantas mempersilakan masuk. Ketika itu saya melihat ada tamu lain di dalam sedang nonton tivi; 3 orang perempuan. Dua di antaranya, adalah ponakan Ayah dan Ibu angkat Abang Ferdy. Sedang yang seorang lagi entah siapa. Onal mengaku mereka sudah lama bersahabat.

Malam itu, saya tidur di ruang tamu bersama Onal. Sedangkan 3 tamu lainnya menginap di lantai atas. Malam itu Abang Ferdy tidak menginap di rumah. Ia kembali ke kantor untuk piket. Pagi hari, setelah bangun, saya yang sudah tidak berkenalan dengan ketiga orang yang sedang berkemas pulang itu, bertanya kepada Onal, “Siapa salah satu dari mereka itu,?” tanya saya.

Onal tersenyum lalu menjawab, “Mereka sudah mau pulang Kotamobagu. Nanti saya kasih nomor handphone-nya,”

Onal lantas memasukan nomor orang yang saya tanyakan itu ke handphone saya. Di hari-hari selanjutnya, saya yang lupa kalau nomor itu sudah diberi Onal, ketemu Sigidad. Ini sudah di Eropassi. Sigidad yang ternyata sudah berteman juga dengan orang yang saya tanyakan, tertawa ketika saya menceritakan ketemu seseorang ketika mampir di tempat Onal menetap di Manado.

“Saya mengenalnya. Kalau benar tertarik, saya siap jadi mak comblang,” kata Sigidad yang memang sudah beberapa kali jadi biro jodoh. “Tapi handphone saya baru saja dijual. Semua nomor ada di dalam. Coba tanya Onal, pasti ada,” katanya kemudian.

Saya mengontak Onal, yang tentu mengatakan kalau ia sudah memasukan nomor itu ke handphone saya.

Waktu berjalan. Singkat cerita, dari Onal ke Sigidad, berlanjut ke apel malam minggu hingga ke pelaminan. Saya menikah dengan seorang perempuan yang pertama kali bertemu ketika saya mampir di tempat Onal.

Dari pernikahan itu, lahirlah seorang putri yang pintar dan kini sedang duduk di bangku kelas 3 SD. Meski di tahun-tahun yang berjalan selanjutnya, saya dan istri saya memutuskan untuk berpisah dan melanjutkan cerita hidup masing-masing.

Hari ini, Minggu 04 September 2016, Onal akhirnya memilih juga untuk berpisah tak hanya dengan keluarga dan orang-orang yang ia cintai, tapi termasuk dengan kami para sahabatnya. Sakit yang ia derita tinggalah cerita sebagai media untuk kembali ke asal.

Onal, kamu sudah pernah mengisi hari-hari yang menyenangkan. Dari RPM, Eropassi, kelokan Atoga, pesisir Pantai Baret Tutuyan, Bulawan, Tombolikat, dan Dermaga Kotabunan di Ujung Timur Mongondow, adalah kisah yang senantiasa punya tempat. Selamat berpisah Onal. Tersenyumlah di surga bersama Bedewin. Maaf jika saya punya salah. Terima kasih pernah menjemput seseorang di kampus Budi Mulia 4 tahun silam.

Perpisahan memang bukan perkara yang tak menyakitkan. Tapi belajar merelakan dan ikhlas menerima adalah babak baru yang harus dijalani setiap insan. Semoga keluarga diberi ketabahan. Rest in Peace brotherhood..

ARTIKEL TERKAIT :

1. Tempat Terbaik Untukmu Bedew
2. Selamat Jalan Yayang

Penulis : Uwin Mokodongan

Uwin Mokodongan

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *