ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Hantu Pilkada dan 5 Alasan Kenapa Money Politik Tetap Jaya

Bagikan Artikel Ini:

Selalu ada hantu yang gentayangan setiap kali hajatan Pilkada tiba. Kehadirannya bahkan bisa bikin resah dan gelisah, melahirkan baper mendalam, terstruktur, sistematis dan masif, terlebih ketika mulai memasuki H minus 3 atau H minus 1 pencoblosan.

Money politik. Ya, demikian namanya. Ia adalah hantu. Sebagai hantu, ia tidak bisa dilihat atau diraba oleh semua batang orang sekalipun orang itu punya indra lengkap. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa. Oleh sebab itu jangan herman heran kalau Panwaslu atau apapun namanya yang punya kuasa dan wewenang menjadi pulisi pemilu, tidak pernah atau tidak mampu mendeteksi kehadiran hantu gentayangan bernama money politik.

Tapi jangan suudzon dulu. Bukan berarti Panwaslu tidak pernah menyentuh atau melihat keberadaan money politik. Terutama semalam sebelum pencoblosan—atau terkenal dengan istilah serangan fajar—karena sebagai hantu, money politik tahu betul bagaimana cara menghindar dari endusan hidung dan sorot mata Panwaslu yang dikenal tajam dan tak kenal kompromi. (ralat kalau salah).

Tapi toh, karena money politik adalah hantu yang eksistensinya selalu berada pada pusaran debatable dan telah melahirkan istilah; antara ada dan tiada, maka jangan heran kalau hantu jenis ini selalu luput bahkan lolos di meja persidangan sudah paling tinggi sekalipun.

Di momen Pilkada, tak usahlah Timsuslon (Tim Sukses Calon) kita tanyai, tapi hampir semua yang mengantongi undangan ke TPS, pernah melihat, meraba, bahkan merasakan langsung hantu money politik di tangan mereka yang diberikan dengan berbagai modus. Bahkan dalam kisah yang diceritakan, ada yang diserahkan dengan cara seperti menyelundupkan tembakau Gorila, atau yang terang-terangan.

Kita tidak sedang membahas bagaimana money politik dipilih sebagai strategi pemenangan atau yang diedarkan sebagai sogok massal kepada kelompok pemilih agar terpengaruh. Tapi pada kesempatan ini kita akan membahas soal kenapa money politik selalu laku dan Panwaslu selalu kalah.

Berdasarkan hasil penerawangan di leput, berikut ini 5 alasannya;

  1. Ke-kere-an

Awalnya teman saya mendebat ini dengan lusinan teori yang ia dapat dari beragam daftar pustaka. Tapi saya tetap pada pendirian berdasarkan khayalan sewenang-wenang yang sudah pada kesimpulan final yakni; karena banyak pemilih di Mongondow yang lagi kere, maka uang suap mana lagi yang harus ditolak? Sederhana bukan; Saya kere maka saya perlu uang. Saya kere maka money politik adalah jawaban.

Sebelumnya saya juga sudah menjelaskan kepada teman saya bahwa, kemiskinan dan kekerean itu punya muka yang berbeda. Teman saya ini lantas bertanya, di mana bedanya? Jawaban simpel yang saya beri adalah begini; jika engkau melihat di rumah permanen mentereng milik si A terparkir mobil sedan terbaru, dan di rumah balai bambu milik si B tak ada apa-apa yang terparkir kecuali gambaran kemiskinan, maka yang membedakan adalah isi kantong.

Artinya begini, dari segi bangunan rumah, si B memang nampak lebih miskin dari si A. Tetapi apakah ada yang tahu kalau kantong si A sedang berisi atau punya masalah kekeringan? Dibanding si B pemilik balai bambu tetapi kantongnya berisi rupiah?

Maka jangan heran jika kelompok pemilih seperti si A yang dari segi bangunan rumah dan kepemilikan harta tergolong orang kaya, tetap akan menerima sogok money politik. Sampai disini bisa paham kan?

  1. Hobi

Coba cari, siapa orang Mongondow yang tak punya hobi pegang uang. Percayalah, manusia Mongondow mana yang meski sedang terbaring sakit, akan rela meninggalkan hobi yang satu ini. Dan karena hobi adalah fardhu ain yang harus dikedepankan, maka hobi mana lagi yang hendak didustakakan ketika amplop berisi uang ada di hadapan. Sederhana bukan? Jadi jangan heran jika membasmi money politik sama hal dengan membasmi narkoba.

  1. Pesta Valentine

Lha, apa hubungannya dengan Valentine? Sebelum kita jawab, coba pikir-pikir kenapa Pilkada serentak memilih tanggal 15 Februari 2017? Nah, karena Hari Valentine biasa diperingati dedew dan kakaw-kakaw se-dunia tanggal 14 Februari, maka alasan kenapa money politik tetap laku (meski para Timseslon dan barisan peduli demokrasi endonesya sudah berbusa-busa menghimbau pemilih jangan terpengaruh money politik), jawabannya adalah; karena Valentine jatuh tanggal 14 Februari atau sehari sebelum pencoblosan.

Nah, bagi kelompok pemilih yang punya agenda nembak pasangan, tentu tanggal 14 Februari adalah momen yang pas dan unyu-unyu. Tapi yang mengganjal di hati, terutama bagi barisan pemilih jomblower adalah; ketiadaan uang, minimal untuk beli sebatang coklat dan sebotol Pertalite, adalah masalah yang harus diatasi. Dan menerima sogok money politik adalah jawaban. Ia adalah Mesias yang menelusup di kantong-kantong kering saat Valentine tiba.

  1. Kebencian

Jangan pikir kebencian tidak menjadi faktor penting dalam lakunya sogok atau money politik. Kebencian adalah salah-satu foktor. Sedangkan salah-duanya adalah dendam dan tipu-tipu.

Kenapa? Simaklah penjelasan ini; ada orang atau kelompok pemilih yang memang tidak mau memilih calon A. Orang ini lantas didekati peluncur kiriman Timseslon A dengan iming-iming money politik agar mau memilih calon A. Disini, calon penerima money politik tetap akan menerima sogok dari Timseslon calon A. Tetapi orientasinya beda. Meski terbakar faktor kebencian atau keengganan memilih calon si A, ia tetap akan menerima sogok dari calon A, akan tetapi di TPS ia akan memilih calon B. Ini dilakukan dan ia merasa menang 2 kali, yakni berhasil menipu si pemberi money politik, dan tetap berhasil mencoblos jagoannya sendiri. Secara ekonomi, ia untung dua kali. Dapat duit dan dapat menambah suara untuk calonnya sendiri, ketimbang calon lawan.

Pemilih kategori ini, memang sangat berbahaya. Sayangnya mereka sedikit. Jika keberadaan mereka banyak, maka kapoklah para calon yang menyuap pemilih kategori ini. Namun karena konteks yang kita bahas adalah kenapa money politik tetap laku, maka pemilih kelompok ini tetap masuk dalam hitungan penyebab tetap lakunya money politik. Sebab mereka tetap mengambil, meski tidak memilih sesuai arahan money politik.

  1. Desakan Mertua

Ini alasan yang sebenarnya sedikit memalukan jika diangkat. Namun penerawangan di Leput, membuat faktor yang satu ini tak bisa tidak jika tak kita masukan dalam daftar mengapa strategi money politik tetap jaya lestari.

Pembaca, menantu mana yang berani melawan mertua (apalagi calon mertua). Alasannya sebenarnya simpel namun sulit dipatahkan. Salah-salah ambil resiko meninggalkan istri atau calon istri ketika berani berseberangan secara politik dengan mertua. Jikapun ada yang berani ambil risiko tak segerbong dengan mertua, maka bagaimanakah nasib mereka sekarang? Ah, betapa pahitnya memang jika dipecat jadi menantu seumur hidup.

Demikian 5 alasan kenapa strategi money politik masih senantiasa laku nan jaya lestari di negeri yang penuh dengan manusia-manusia cerdas ini. Ada yang mau menambahkan? disilakan 😉

Penulis : Uwin Mokodongan

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *