bener koran TAHUN INVESTASI ok (1) - Copy
ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Siapa Pembunuh Bayi Itu?

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Kamis 23 Februari 2017, netizen di Kotamobagu memosting kabar mengejutkan terkait penemuan mayat bayi di Molinow. Tentu saja postingan itu disertai foto kejadian; sesosok mayat bayi perempuan mengapung di saluran air.

Berdasarkan caption di postingan tersebut, penemuan mayat oleh warga itu terjadi kira-kira pukul 10:00 waktu setempat. Ini tentu menghebohkan warga. Siapa sih yang tak kepo dengan kejadian seperti ini. Kejadian yang bisa dengan mudah kita tebak akan memancing sumpah serapah dan kutuk yang seliweran dimana-mana. Termasuk di lini massa facebook contohnya.

Betapa tidak, bayi unyu-unyu berjenis kelamin perempuan, yang seharusnya dijaga seperti porselin, yang damai dipelukan Ibunya semberi menetek, yang seharunya terlelap mengharukan di  dalam box dengan popok dan bungkusan pakaian bersih dan hangat  bergambar panda, yang wangi dengan bedak bayi, pagi tadi justru ditemukan di got yang kotor. Masya Allah. Beta malangnya nian bayi itu.

Pembaca, mari kita perkirakan bayi perempuan yang malang itu baru berumur 1 hari. Bayi yang masih merah segar dan harus berkahir di got. Dari kejadian tragis ini, kita mungkin menyimpulkan, bayi malang ini lahir dalam lingkungan  yang dihuni psikopat. Malaikat kecil yang  dibunuh dengan cara biadab di usianya yang baru sehari. Tapi sialnya, kita tidak tahu atau belum tahu siapa pembunuh bayi ini?

Memang, siapapun pasti akan  teriris akal pikiran dan hatinya ketika mengetahui bayi perempuan berumur sehari—atau mungkin beberapa jam—dibuang di selokan. Tenggelam dan mati di lingkungan yang seharusnya menjadi pelindung baginya. Ah, miris.

Kita mungkin berpikir, orang tua bayi itu, yang seharusnya menjadi Tuhan  bagi bayi itu,  justru menjadi  pembunuh berdarah dingin  yang sama sekali tak punya hati nurani. Demikiankah?

Lihatlah lini massa facebook. Sumpah serapah, hujatan, makian, dan kutuk,  berderet-deret menghakimi pelaku pembunuh yang sebenarnya masih dalam batas rekaan dan spekulasi. Tuduhan bahkan tertuju pula pada anak-anak kos sekitaran lokasi yang terdiri dari siswa maupun mahasiswa yang disangka hamil di luar nikah. Pendek kata pelaku pembunuhan adalah Ibu atau orang tua dari bayi malang itu.

Pembaca, apakah kita akan ikut-ikutan menghujat si pembunuh sama seperti yang sudah dilakukan netizen di facebook? Menghujat dengan dengan kata-kata kasar bahkan ancaman seperti; “biadab sekali Ibu bayi ini. Orang tua bejat tak punya otak, dasar iblis,” atau “Sungguh bajingan dan layak ditumpahkan darah si pembunuh bayi ini,”.

Semua penghujat di facebook mungkin pula kepikiran, seandainya kehidupan ini adalah film silat, maka di antara penghujat dalam kolom komen facebook pasti akan bersukarela menjadi pendekar pembela kebenaran, yang  sudah barang tentu ingin sekali  turun tangan menyiksa si pembunuh bayi malang yang mati dalam selokan. Sesuai komen-komen yang saya baca—laki-laki dan perempuan—mungkin ada pula yang berkhayal akan menyiksa secara perlahan-lahan Ibu bayi malang ini hingga mati. Seperti ingin membalaskan dendam kesumat.

Tapi apakah bayi malang itu memang butuh para pendekar yang hendak membalaskan dendam kematiannya? Saya yakin, bayi malang yang masih merah ketika dibuang itu belum mengerti apa-apa. Keyakinan saya mengatakan, bayi perempuan yang unyu-unyu itu  pasti belum memiliki dendam atau bahkan tak punya dendam kepada siapapun pembunuhnya. Apakah itu Ibunya, atau Ayahnya. Ia mungkin sudah menjadi malaikat dan sedang bermain di sorga saat ini.

Lalu siapa pembunuh bayi malang itu?

Pembaca, jika tudingan para komentator di facebook bahwa pembunuh bayi malang itu benar adalah Ibunya,  maka  saya percaya, Ibu atau Ayahnya atau siapapun itu, hanyalah seorang algojo yang terdesak. Tetapi pelaku pembunuhan yang sebenarnya adalah kita.

Ah, mengapa harus kita? Ada apa dengan kita?

Ya, kitalah pembunuh bayi itu. Kita yang tidak pernah mencari tahu, berapa harga persalinan di rumah sakit. Kita yang tidak menentang  tradisi di jaman Siti Nurbaya tentang perjodohan yang harus selalu ditentukan orang tua. Yang kekasihmu haruslah disetujui oleh orang tuamu. Kita yang merasa anak terkutuk jika kekasih kita bukanlah sosok yang didambakan dan dicita-citakan orang tua. Kita yang backstreet adalah pilihan dibanding mati digantung orang tua karena ketahuan menjalin hubungan dengan kekasih yang dibenci orang tua. Kita yang akan diusir dan dibuang orang tua dari rumah dan dianggap bukan anak lagi jika pulang larut malam dan pacaran dengan orang yang bukan pilihan orang.

Kitalah pembunuh bayi itu. Kita yang merasa begitu suci murni tak berdosa sehingga senantiasa mencibir, membenci, dan tak menerima orang-orang yang backstreet dan sedang dimabuk cinta kemudian hamil di luar nikah. Kita yang begitu kolot, konservatif, merasa paling benar, paling alim dan paling taat pada pilihan orang tua tentang hubungan percintaan. Kita yang adakah pernah menyumbang biaya persalinan Ibu yang kesusahan mencari biaya persalinan? Kita yang betapa ketakutan ketika diancam tak akan dianggap anak, tak akan dibiayai untuk meneruskan studi, tak akan mendapatkan warisan, dan akan dibuang dari list anggota keluarga jika melanggar aturan tentang hubungan percintaan. Kita yang terkekang tak diberi kebebasan untuk memilih siapa pasangan hidup kita.

Wahai pembaca, apakah kita terlalu bodoh untuk berpikir bahwa pelaku pembuangan bayi di selokan itu bukanlah manusia-manusia tertekan dan tidak dalam keadaan terpaksa ketika melakukan itu? Apakah kita begitu yakin dan percaya bahwa saat Ibu, Ayah, atau siapapun yang membuang bayi itu ke dalam selokan, mereka sedang dalam keadaan bahagia tanpa tekanan?

Ya, kalian pasti akan mengatakan, apapun alasan pembunuhan itu, pelakunya hanyalah orang keji dan betapa biadabnya. Tapi, apakah kita juga pernah berpikir, lebih keji dan biadab mana keadaan hidup kita atau keadaan hidup si pelaku?

Ah, selamat jalan bayi kecil nan malang.  Dunia yang sakit, munafik, dan penuh predator ini memang bukan tempatmu tumbuh hidup dan berkembang. Sorgalah tempat yang paling aman untukmu. Bermain dan riang gembiralah di sana. Sampaikan salam kepada Tuhan bahwa, Kotamobagu masih punya harapan menjadi tempat aman bagi bayi dan anak-anak.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap sahabat sepiring sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *